{KyuHeyna_Story} HOPE #3 Closer

Pic Part 3

 

Title                             : {KyuHeyna_Story} HOPE #3 Closer

Author                         : Sazshika_DeVya

Main Cast                    : Cho Kyuhyun

: Lee Heyna

Another Cast               :Lee Eunji (oc), Hwang jihyo (oc), Oh Jihoo (oc), Lee Shin (oc),Kang Minhyuk (oc), Kang Jinwoon (oc)

Genre                          : Romance, Friendship and Family

Rating                         : PG 15

Leght                           : Continue

 

“Bisakah kita mulai belajar menyadari keberadaan satu sama lain? Mungkin bukan sebagai saudara kembar ataupun sebagai sahabat. Hanya sebatas mengetahui bahwa kita berdiri bersama ditempat yang sama. Dengan begitu paling tidak kita mencoba untuk tidak menyakiti satu sama lain. Mianhae. . .Na-ya. .” Cho Kyuhyun.

 

“Dan bisakah kau menyisihkan sedikit tempat bagiku? Kau boleh memiliki segalanya,semua yang kau inginkan. Tapi, biarkan aku berdiri ditempat yang kumimpikan, tempat dimana aku bisa memperoleh kembali senyum hangat mereka yang selalu kuharapkan. . .”Lee Heyna.

December, 23th at Heyna room. . .

*Author Pov*

Suasana hening masih tampak dalam ruangan bercorak biru langit tersebut. Hanya hembusan nafas dari seorang yeoja yang masih terpejam dengan wajah pucat mengalun lemahmengisi kekosongan.

Meskipun tampak pucat, anehnya kedua sudut yeoja tersebut membentuk seulas senyum dalam tidurnya. Sebuah senyum khas miliknya yang selalu terbentuk disaat ia merasakan sebuah kehangatan dari orang-orang yang ia sayangi. Dengan kata lain, yeoja tersebut tengah mengarungi mimpi indah saat ini. Mimpi yang selalu ia harapkan dapat menjadi kenyataan ketika kedua bola matanya terbuka.

Beberapa jam kemudian, tampak seorang wanita dengan penampilan elegan melangkah pelan memasuki kamar bernuansa biru langit tersebut. Kedua bola matanya terlihat sayu saat mendapati sosok yeoja yang tak lain adalah anaknya kini terbaring pucat dengan jarum infus menusuk lengan kanannya.

Untuk beberapa saat wanita tersebut hanya berdiri terdiam didepan ranjang seraya meremas jemarinya, sebagai usaha untuk mengendalikan perasaannya. Perasaan dimana ia ingin merengkuh sosok lemah dihadapannya, namun disisi lain ia takut jika hal tersebut membuatnya teringat akan sosok putra pertamanya yang telah tiada jika ia berada didekat sosok yeoja dihadapannya.

“Jika saja saat itu kau bisa menahan sedikit rasa ingin tahu dan egoismu, pasti saat ini eomma tidak akan sesakit ini saat menatapmu.” lirih Lee Eunji seraya menatap nanar sosok Heyna yang masih terbaring lemah dihadapannya.

“Na-ya, eomma tahu jika kau tersiksa dengan semua kondisi ini, tapi asal kau tahu eomma dan appa juga merasakan hal yang sama. Kami merasa tersiksa saat harus menatap kedua matamu, saat harus melihatmu tersenyum, saat harus melihatmu berlari dengan bebas melakukan segala hal yang seharusnya bisa Heyjin lakukan jika saat ini ia masih hidup.” Butiran air mata kini tampak mengalir pelan dari kelopak mata Eunji. Dalam benak ibu 3 anak tersebut berkecamuk segala emosi serta perasaan sakit yang sudah hampir 3 tahun ia rasakan karena kepergian mendadak putra tertuanya. Dan hal tersebut terasa semakin sakit saat ia mengetahui penyebab dari kematian putra kebangaannya tersebut.

“Na-ya, kenapa kau melakukannya dan menghancurkan semua mimpi kami. . .”lanjut Eunji tertahan ditengah derai air matanya. Namun, detik berikutnya ia segera menghapus tetesan air mata dikedua pipinya saat kenop pintu kamar yang tengah dipijaknya berderit pelan. Nampak Jinwoon tengah melangkah masuk ke dalam.

“Nyonya Eunji.” ucap Jinwoon seraya membungkukkan tubuhnya pada sosok majikannya tersebut.

“Maafkan atas kelancangan saya. Saya tidak tahu jika anda sedang didalam. Saya akan kembali ke. . .”

Aniyo, kau tidak perlu kembali keluar. Aku sudah akan pergi.” potong Eunji dengan suaranya yang telah kembali normal. Dengan raut tegas, ia membalikkan tubuhnya dan menatap sosok Jinwoon.

“Aku kemari untuk melihat kondisinya, Kyuhyun memberitahuku jika Heyna jatuh pingsan. “

“Ah, ne. Untung saja saya sudah ada didepan taman untuk menjemput Heyna ahgasshi saat ia jatuh pingsan.” jelas Jinwoon.

“Baiklah, kurasa tidak ada yang perlu ku khawatirkan.” ucap Eunji seraya melangkah keluar.

“Nyonya Eunji. . .” sapa Jinwoon yang segera membuat langkah Eunji terhenti tepat didepan pintu kamar Heyna.

“Bisakah anda tinggal lebih lama disini? Saya rasa Heyna ahgasshi pasti akan senang sekali jika ia tahu anda mendatanginya untuk mengetahui kondisinya. Dan juga, saya rasa Heyna ahgasshi pasti akan. . .”

“Jinwoon ahjusshi, bukankah aku sudah mengatakan jika aku hanya kemari untuk melihat kondisinya?” jawab Eunji tanpa membalikan tubuhnya.

Mianhamnida jika saya sudah lancang pada anda Nyonya, tapi. . .”

“Dan aku sudah mengatakan pula padamu jika tidak ada yang perlu kukhawatirkan dari Heyna.” potong Eunji kembali sebelum Jinwoon menyelesaikan kalimatnya.

“Aku harus segera kembali ke rumah sakit, pastikan Kyuhyun menyantap makan malamnya tepat waktu dan Heyna. . .lakukanlah seperti biasanya.” perintah Eunji tanpa berbalik dan menatap Jinwoon. Detik berikutnya, ia segera memutar kenop pintu dihadapannya dan melangkah keluar.

Hela nafas panjang terhembus dari mulut Jinwoon. Dengan tatapan nanar ia menatap pintu bercat putih yang beberapa detik lalu tertutup.Selang beberapa detik ia melangkah pelan dan berdiri disamping ranjang tempat dimana Heyna masih tertidur lelap.

Ahgasshi, bertahanlah. . .” ucap Jinwoon seraya menatap sedih sosok Heyna. Dirapatkannya letak selimut yang menutup tubuh Heyna dengan lembut.

“Selamat tidur ahgasshi kecilku.” gumam Jinwoon, detik berikutnya laki-laki tua tersebut segera berbalik dan melangkah keluar.

Tepat disaat pintu kamar bernuansa biru langit tersebut tertutup, kedua bola mata yeoja yang semenjak tadi terbaring lelap diatas satu-satunya ranjang dalam kamar tersebut terbuka. Semburat merah terlihat jelas dikedua bola matanya yang semenjak tadi berusaha menahan agar buliran air yang mendesak ingin keluar tidak tumpah keluar saat kedua telinganya menangkap kalimat pedih yang terlontar dari mulut ibunya.

Dalam diam, Heyna segera menarik keluar liontin berbentuk bintang miliknya, sebuah liontin pemberian Heyjin yang selama ini selalu melingkar dilehernya.

Eomma, tidak bisakah eomma mempercayaiku?” lirih Heyna seraya mengenggam erat-erat liontin bintang miliknya. Butiran air mata yang semenjak tadi ditahannya kini mengalir deras membasahi kedua pipinya yang masih terlihat pucat.

Eomma, na. . .aku bukan pembunuh. . .”

Kini butiran air mata tersebut semakin deras ditengah isak tangis yeoja berusia 17 tahun itu. Jika ia bisa dan jika ia diijinkan, ia akan menjerit sekeras-kerasnya meluapkan segala rasa sakit yang selama ini menghujamnya. Namun, segalanya selalu ia tahan, selalu ia sembunyikan dari orang-orang disekelilingnya, dan hanya akan selalu ia pendam.

 

“Heyjin-oppa, kenapa oppa meninggalkanku. . .”

*Author Pov End*

 

December, 24th 2013 at Jeju’s International Highschool. . .

*Kyuhyun Pov*

“YAK, CHO KYUHYUN!”

Aku segera tersadar dari lamunanku saat suara keras Minhyuk mengema tepat dilubang telinga kananku.

“YAK! Kenapa kau berteriak? Apa kau iri padaku? Karena itu kau bermaksud membuat citraku sebagai namja tampan dan berkharisma ini turun karena tuli?” semburku pada namja yang kini tengah mengeleng-gelengkan kepalanya.

“Cih, pertama aku sama sekali tidak iri padamu? Dan kedua, menurut kamus ketampanan dan kharisma namja, aku lebih baik dalam dua hal tersebut dibandingkan dirimu karena buktinya aku sudah memiliki yeoja chingu sedangkan kau sama sekali tidak. Dan ketiga, aku sudah berkali-kali memangilmu dengan cara beradab Cho Kyuhyun, tapi kau sama sekali tidak bergeming dari pertapaanmu! Memangnya apa yang sedang kau fikirkan?”

“Heyna.” ucapku secara spontan.

Mwo? Yak, kenapa kau memikirkannya sampai melamun seperti itu? Apakah jangan-jangan kau. . .”

“Yak, jangan berfikir macam-macam Kang Minhyuk! Maksudku, maksudku. . .”

“Mwo? Apa maksudmu, hah? Ya, Cho Kyuhyun jangan bilang jika sekarang rasa bencimu sudah berubah menjadi cin. . .”

“Aish, YAK! Maksudku tentu saja aku sedang memikirkan bagaimana cara membuat yeoja pendek berdahi lebar itu berlutut dan mengaku kalah padaku!” potongku segera sebelum namja playboy disampingku tersebut curiga.

“Benarkah?” sahut Jihoo seraya menutup laptop dipangkuannya dan menyilangkan kedua lengannya didepan dada. “Benarkah kau hanya memikirkan bagaimana cara untuk membuat Heyna mengaku kalah?”

“Yak, Oh Jihoo apa maksudmu, hah?”

“Maksudku kau sudah jatuh cinta pada Lee Heyna.” jelas Jihoo singkat yang segera membuat kedua bola mataku membelalak.

“MWO? Yak, neo micchiseo! Mana mungkin aku jatuh cinta pada yeoja pendek berdahi lebar itu! Jangan membuatku tertawa Jihoo-ya! Kubilang aku hanya. . .”

“Hanya berfikir kenapa hari ini yeoja pendek berdahi lebar itu tidak masuk sekolah. Jangan membohongi kami Kyuhyun-ah, kau mencarinya bukan? Apakah sekarang kau tengah mengkhawatirkannya?” potong Minho seraya tersenyum evil padaku.

“Aish, bahaya namja jenius satu ini pandai sekali menebak fikiran orang! Apakah jangan-jangan Jihoo keturunan peramal?” gumamku dalam hati. Memang untuk beberapa saat lalu, ani, lebih tepatnya semenjak kemarin fikiranku tidak bisa lepas dari sosok yeoja labil yang tak lain adalah saudara kembarku tersebut. Sejak insiden pertengkaran kami ditaman hingga Heyna jatuh pingsan, aku sama sekali belum melihatnya keluar dari kamar. Bahkan hingga pagi ini.

“Yak, jangan membuat kesimpulan tidak berdasar Jihoo-ssi! Kuberitahu satu hal padamu, dalam kamus hidup Cho Kyuhyun tidak akan pernah ada kata jatuh cinta pada ratu setan seperti yeoja pendek berdahi lebar itu! Aratchi?” balasku.

“Kyuhyun-ah jangan sampai kau termakan kata-katamu sendiri. Kau tahu, banyak sekali pasangan yang lahir dari sebuah pertengkaran atau permusuhan.”

“Tapi tidak bagi kami, Jihoo-ssi! Hal itu tidak akan pernah terjadi. Tidak akan pernah ada cerita bahwa Cho Kyuhyun jatuh cinta pada Lee Heyna. Never! Dan selebihnya hal tersebut teramat mustahil mengingat bahwa kami berdua adalah sau. . .” dengan cepat segera kubekap mulutku saat tanpa sengaja aku hampir membocorkan bahwa aku dan Heyna adalah saudara kembar.

“Kami berdua adalah apa?” tanya Minhyuk.

“A..apa lagi ten..tentu saja kami adalah musuh bebuyutan. Memangnya ada hubungan lain antara aku dan yeoja labil itu?”gagapku. Tampak Minhyuk dan Jihoo mengernyitkan alis mereka.

“Jeongmalyo?” ucap Minhyuk dan Jihoo serentak.

“Ya, apa yang kalian lihat? Kalian tidak mempercayaiku? Aish, sudahlah aku tidak perduli dengan apa yang kalian fikirkan! Aku lebih perduli dengan pemikiran kepala sekolah kita, apa yang ia fikirkan dengan membuat kita tetap masuk sekolah dan belajar disaat seharusnya kita mempersiapkan perayaan natal? Cih, aku lapar! Aku mau ke kantin! Annyeong!” ucapku. Tanpa menunggu lama aku segera berlari meninggalkan dua kroniku tersebut.

“Yak, Cho Kyuhyun kau mau kemana? Jangan kabur!”

************

 

“Aish, pabo! Hampir saja aku membocorkan fakta bahwa aku dan Heyna adalah saudara kembar.” gumamku seraya menghenyakkan tubuhku dibawah pohon dikebun belakang sekolah. Kutatap genangan air tenang yang menghampar cukup luas dihadapanku.

“Na-ya, apakah kau baik-baik saja? Apakah sakitmu parah?”

Kuedarkan pandanganku saat tiba-tiba sebuah suara tertangkap kedua daun telingaku. Tampak seorang yeoja tengah berjalan pelan ke arah danau dengan ponsel menempel pada telinga kanannya.

“Begitukah? Jadi, karena itu nanti malam kau tidak bisa datang ke perayaan natal jalanan di pusat kota?”

Ucap Jihyo pada seseorang diujung sambungan teleponnya.

Ehm, jadi setelah ini kau akan langsung mengambil ijin untuk tidak masuk selama 3 hari seperti biasanya di akhir bulan untuk mengunjungi kakekmu di Jepang?”

. . . . . . ..

“Ehm, ne. Baiklah, sekarang lebih baik kau istirahat! See you, chingu-ya!” ucap Jihyo mengakhiri sambungan teleponnya.

Tanpa menunggu lama segera kuhampiri sahabat baik saudara kembarku tersebut.

“Apakah kau baru saja menelepon Heyna?” tanyaku. Tanpa mengubris keberadaanku, yeoja yang mendapat julukan sebagai miss paparazzi di Jeju’s International Highschool tersebut membalikkan tubuhnya dan melangkah meninggalkanku.

“Aish, neo yeoja! Dasar kaki tangan ratu setan! YAK, HWANG JIHYO!” seruku seraya berlari mengahampiri yeoja berkepang dua tersebut.

“Yak, apakah orang tuamu tidak pernah mengajarimu sopan santun? Apakah mereka tidak pernah mengajarkan padamu untuk menjawab jika ada seseorang yang bertanya padamu?” semburku seraya melipat kedua lenganku didepan dada.

Escuse me, are you talking with me?” ucap Jihyo seraya ikut melipat kedua lengannya didepan dada. Raut kesal terpancar jelas diwajah cantiknya.

“Yes! Kau fikir siapa lagi bukankah sudah jelas aku bertanya padamu? Jadi, apakah kau baru saja menelepon yeoja berdahi lebar itu? Bagaimana keadaannya? Apakah ia benar-benar sakit?”

“Maaf sebelumnya, pertama orang tuaku selalu mengajarkan tata krama dan sopan santun padaku kecuali pada makhluk dunia lain! Kedua, apa maumu bertanya bagaimana keadaan Heyna? Apakah kau menyesal karena telah hampir membuatnya mati tenggelam didanau kemarin?” jawab Jihyo dengan sinis.

“Apakah dia berkata padamu bahwa ia sakit karena hal itu?”

“Tentu saja tidak, kau fikir Heyna manusia kurang ajar sepertimu yang suka menumpahkan kesalahan pada orang lain! Sudah, jangan menghalangi jalanku!”

“Yak, aku belum selesai berbicara denganmu Nona kepang dua!”

“Aish, apa lagi? Kuberitahu satu hal padamu Kyuhyun-ssi! Berhenti menganggu Heyna, kau fikir kau siapa? Apa kau belum puas setelah merusak benda berharga miliknya? Membuatnya hampir mati tenggelam! Dan lagi, karena ulahmu hari ini Heyna jadi tidak bisa ikut ke acara natal jalanan di pusat kota, padahal ia sangat menantikannya mengingat jarang sekali kedua orang tuanya memberinya ijin untuk pergi keluar di malam hari.”

Mwo?”

“Aish, kau ini tuli ya? Minggir, aku mau lewat! Malas sekali aku berbicara pada makhluk dunia lain sepertimu!” sahut Jihyo, tanpa berkata sepatah katapun lagi, yeoja berkepang dua tersebut segera melangkah meninggalkanku.

“Aish, dasar yeoja gila!” rutukku. “Tapi, apakah yeoja labil berdahi lebar itu sakit karena kemarin aku menceburkannya kedalam danau?”

“Hegh. . .” kuhembuskan nafasku dalam-dalam untuk kesekian kalinya dihari ini. Entah mengapa semenjak kemarin fikiranku tak pernah lepas dari sosok Heyna. Ucapan serta sinar kebencian dikedua bola matanya yang ia lontarkan padaku ditaman kemarin sama sekali tidak bisa hilang dalam ingatanku.

Neo. . . Mworago? Saudara kembarku? Apakah sekarang kau bermaksud mengakuiku sebagai saudara kembarmu dan mengumumkan pada semua orang jika kau adalah putra Lee Shin setelah beberapa saat lalu kau merasa jijik karena harus memiliki ikatan darah denganku? Neo jeongmal daebak, Cho Kyuhyun. . .

“Apakah bagimu kenyataan bahwa kita adalah saudara kembar suatu hal yang lucu? Dengan alasan tersebut berulang kali kau memperolokku. Mengambil dan merusak segala hal semaumu hanya karena kau adalah saudara kembarku tanpa memikirkan seberapa berartinya benda itu bagi seseorang yang kau katakan sebagai saudara kembarmu? Kau fikir kau siapa? Kenapa kau muncul dalam hidupku dan merusak segalanya. . . .

“Kau tahu, selama hidupku aku selalu membuat harapan setiap hari. Dan dari sekian ratus harapan tersebut, aku sama sekali tidak pernah membuat harapan yang buruk. Tapi, kurasa tidak kali ini. Na, kuharap aku tidak pernah memiliki seorang saudara kembar! Neo, jangan pernah kembali muncul dihadapanku!”

 

“Hegh. . .” kembali kuhembuskan nafasku. “Apa salahnya jika kita adalah saudara kembar? Apakah dibenakmu sama sekali tidak ada perasaan senang sedikitpun saat mengetahui bahwa kita adalah saudara kembar? Kenapa kau mengangapku sebagai perusak segalanya hanya karena kita adalah saudara kembar?” gumamku pelan.

“Kau tahu, jauh dibenakku sebenarnya aku merasa senang saat mengetahui fakta bahwa aku memiliki seorang saudara kembar didunia ini, meskipun saudara kembar tersebut adalah yeoja labil berdahi lebar sepertimu. Karena dengan begitu, setidaknya aku bisa merasakan hal yang sejak kecil ingin kurasakan.” lanjutku. Kutatap butiran salju yang sekarang mulai turun dihadapanku. Butiran salju yang sama putihnya yang selalu kusambut dengan gembira saat aku masih kecil.

 

“Eomma, kenapa aku tidak memiliki saudara?”

“Saudara?”

“Ehm, saudara.”

“Wae Kyuhyun-ah? Kenapa kau ingin memiliki saudara?”

“Ah, itu karena di sekolah semua teman sekelasku memiliki saudara. Eunhyuk dan Donghae bilang mereka memiliki adik perempuan yang setiap hari dapat diganggu dan membuat mereka senang. Dan Shindong memiliki adik laki-laki yang setiap hari dapat ia rampas makanannya, lalu Siwon. . .”

“Jadi, kau ingin memiliki saudara agar kau bisa menganggunya ataupun merampas makanannya?”

“Ani.”

“Lantas, kenapa kau tiba-tiba ingin memiliki seorang saudara? Coba jelaskan pada eomma.”

“Ehm..molla pokoknya aku juga ingin memiliki saudara, eomma. Aku mau saudara, jadi berikan aku saudara,ne? Aku janji aku tidak akan nakal lagi jika eomma memberikanku saudara, ne?”

“Kyuhyun-ah, mianhae eomma tidak bisa.”

“Waeyo?”

“Karena Tuhan hanya memberikan satu anak pada eomma. Dan eomma sangat menyayanginya. Karena itu bagi eomma sudah cukup hanya memilikimu.”

“Shireo, aku juga mau saudara eomma! Pokoknya aku mau saudara! Aku tidak mau sendiri, aku juga ingin bermain bersama adik atau kakak!”

“Begitukah? Apakah kau sangat menginginkannya?”

“Ne!”

“Keurae, kalau begitu ayo ikut eomma keluar!”

. . . . . . . . . . . . . . . .. . . . . . .

“Boneka salju?”

“Ne, mulai hari ini boneka salju ini adalah saudaramu.”

“Shireo! Aku tidak mau eomma! Aku tidak mau boneka salju, aku mau adik eomma!”

“Kyuhyun-ah, apakah kau tahu darimana salju berasal?

“Eoddi?”

“Mereka berasal dari langit, Tuhan membuatnya dan meghadiahkannya pada kita. Putih dan bersih, seperti seorang anak saat mereka terlahir didunia ini. “Jeongmalyo?”

“Ehm…karena itu eomma membuatkanmu boneka salju ini. Kau tahu, zaman dahulu jika kita menginginkan seorang adik maka kita harus membuat boneka salju dan berdoa memohon agar Tuhan memberikan pada kita.”

“Jinjja?”

“Ne, bukankah Tuhan akan selalu mendengar doa kita?”

“Ne, kalau begitu sekarang aku akan berdoa. Hana, dul, set!”

. . . . . . . . . . . . . . . . .

“Boleh eomma tahu seperti apa doa yang kau ucapkan tadi?”

“Ehm, Kyunie berdoa supaya Kyunie mendapatkan adik perempuan yang lucu.”

“Adik perempuan?”

“Ehm..adik perempuan! Tapi, apakah Tuhan benar-benar akan mengabulkan doa Kyunie, eomma?”

“Pasti, asalkan kau berdoa sepenuh hati pasti Tuhan akan mengabulkannya. Dan ingat, jika Tuhan sudah mengabulkan doamu dan memberikan seorang adik padamu, maka kau tidak boleh menyakitinya. Kau harus selalu menjaga dan menyayanginya, jika tidak Tuhan akan mengambil lagi adikmu. Aratchi?”

“Ehm, arasseo eomma!”

“Baiklah, sekarang bagaimana jika kita memberikan nama pada adik boneka saljumu ini.”

“Nama?”

“Ehm, nama. Bukankah seorang adik harus memiliki sebuah nama?”

“Ah, ne. . .kalau begitu. . .nama. . .ehm. . .”

“Heyna. Bagaimana jika kita menamai adik boneka saljumu ini dengan nama Heyna?”

“Heyna?”

“Ehm, Heyna. Bukankah nama itu terdengar cantik?”

“Ah, ne. Baiklah jika begitu namamu adalah Heyna!”

“Heyna, annyeong! Na, aku adalah kakakmu. Cho Kyuhyun, imnida!

 

Aku tersenyum simpul mengingat kenangan masa kecilku. Sekarang aku tahu alasan lain kenapa eomma menyuruhku memberi nama boneka salju yang kubuat disetiap salju turun dengan nama Heyna dan melarangku menganti namanya.

Eomma, na. . .sekarang aku sudah memiliki seorang saudara. Heyna, ia benar-benar ada didunia ini. Tapi, sayangnya ia membenciku.” gumamku pelan.

Kuulurkan tangan kananku dan menangkap butiran lembut salju dingin yang turun menghujaniku.

Eomma, apa yang harus kulakukan. . . ”

 

***************

 

4 Hours Later at Lee House. . .

“Apakah sebaiknya aku masuk saja?” gumamku untuk ketiga kalinya. Kutatap pintu putih yang berdiri tegak dihadapanku. Kuulurkan jemai-jemari kananku pada tubuh pintu tersebut.

“Tapi, bagaimana jika nanti ia jadi besar kepala, atau lebih parahnya ia malah mengusirku? Aish, na eotthokeh?”

Tepat disaat aku tengah merutuki kepalaku dengan kesal, pintu dihadapanku terbuka.

“Tuan Muda, apa yang anda lakukan disini?”

“Ah, jinwoon ahjusshi! A..aku tidak melakukan apapun. Aku…aku sedang dalam perjalanan menuju kamarku.” jawabku seraya menunjuk pintu kamar yang berdiri tepat disamping kamar Heyna.

“Ah, begitukah?”

Ne, memangnya ada apa?” tanyaku saat mendapati sosok pengasuh Heyna tersebut terlihat kecewa.

“Animida, saya kira anda bermaksud menjenguk Heyna ahgasshi.” jawab Jinwoon. Seulas senyum simpul tampak merekah diwajah tuanya.

“Apakah dia baik-baik saja? Apakah sakitnya parah?”

“Animida, Heyna ahgasshi baik-baik saja. Hanya masih sedikit demam.”

“Begitukah? Baguslah kalau begitu.” gumamku.

“Kenapa tuan muda tidak masuk saja ke dalam?”

“Apa? Aku? Aniyo, kurasa aku hanya akan menganggu istirahatnya. Dan lagi . . .” ucapku terputus.

“Dan lagi, kurasa Heyna tidak ingin bertemu denganku.” sambungku dengan suara pelan.

“Kenapa Heyna ahgasshi tidak ingin menemui anda? Saya rasa justru sebaliknya, Heyna ahgasshi pasti akan sangat senang jika anda menjenguknya. Bukankah anda berdua adalah saudara?”

“Kami berdua memang saudara, tapi kurasa Heyna tidak menyukainya. Apalagi, karena salahku-lah saat ini ia sakit. Kau tahu, kemarin aku menceburkannya ke dalam danau dan aku sama sekali tidak tahu jika ia tidak bisa berenang. Jadi, saat ini ia pasti semakin membenciku.” jelasku. Untuk beberapa saat Jinwoon ahjusshi tampak mengernyitkan kedua alisnya, namun tak lama kemudian seulas senyum lembut kembali merekah diwajahnya.

“Tuan muda, bolehkah saya berpendapat?” kuanggukkan kepalaku sebagai tanda persetujuan.

“Heyna ahgasshi tidak pernah membenci anda, meskipun diluar ahgasshi terlihat tidak suka ataupun kesal pada anda, tapi tidak pernah sedikitpun ia menyimpan rasa benci pada anda. Karena bagi Heyna ahgasshi, keluarga, sahabat adalah hal yang sangat disayanginya. Hal yang akan dijaganya selama ia masih bernafas, dan hal yang akan selalu ia sebut dalam setiap harapan yang diucapkannya. Jadi, mana mungkin Heyna ahgasshi membenci anda.”

“Jeongmalyo, tapi kenapa ia selalu memisahkan diri jika didalam rumah? Ia hanya akan muncul saat makan malam bersama, dan saat itupun ia hanya akan menyantap makan malamnya dalam diam, dan segera pergi begitu selesai. Bagaimana mungkin orang yang seperti itu adalah orang yang sangat menganggap keluarganya adalah hal yang paling berharga?”

“Tuan muda, anda hanya harus berusaha mengenal lebih baik sosok Heyna ahgasshi. Suatu saat anda pasti akan mengetahuinya, dan pada saat itu saya mohon pada anda, jangan pernah meninggalkannya. Jangan pernah merampas hal yang seharusnya menjadi miliknya, dan jangan pernah mendorongnya jatuh dari tempatnya berdiri.”

“Apa maksudmu, ahjusshi?”

Animida, maaf atas ucapan melantur saya. Baiklah ijinkan saya untuk undur diri.” Setelah membungkukkan tubuhnya, pengasuh Heyna tersebut melangkah meningalkanku dalam kebingungan.

“Sebenarnya apa yang terjadi dalam keluarga ini?” gumamku pelan. Kembali kutatap pintu putih dihadapanku.

“Dan apa yang telah terjadi padamu? Kenapa aku tidak boleh meninggalkanmu?”

Bersama dengan hembusan nafas panjangku, kubalikkan tubuhku dan kembali melangkah.

******************

 

2 Hours later. . . .

“Aish, kenapa pula sih mereka meletakkan pot bunga disini!” gerutuku pelan seraya menurunkan 3 buah pot yang ditata berjajar diatas tembok sebatas pingangku yang memisahkan balkon kamarku dan Heyna.

“Baiklah, kau hanya tinggal memanjatnya dan mengintip bagaimana kondisi yeoja labil berdahi lebar itu.” gumamku kembali. Beberapa saat lalu, kuputuskan untuk mengendap diam-diam ke balkon kamar Heyna yang terletak disamping kamarku. Tepat disaat aku akan memanjat tembok dihadapanku, pintu balkon kamar Heyna terbuka.

“Aish, kenapa yeoja labil itu keluar? Hampir saja aku ketahuan!” tanpa menimbulkan suara aku segera merangkak menuju pintu kamarku.

“Sayang sekali, kufikir pohon natal raksasa itu dapat terlihat dari balkon, dengan begitu paling tidak aku bisa membuat permohonan dari sini.”

Gerakanku segera terhenti saat kedua daun telingaku menangkap suara Heyna.

“Hegh, kurasa saat ini perayaannya sudah berlangsung. Pasti menyenangkan sekali jika kita bisa kesana, benar begitu bukan Heyjin-oppa? Tapi tidak masalah, bukankah permohonan natal tidak harus dilakukan didepan pohon natal ataupun digereja? Seperti yang selalu oppa katakan dahulu, dimanapun dan kapanpun kita boleh mengajukan harapan kita, karena Tuhan akan selalu mendengar harapan setiap makhluknya.”

Aku masih terdiam dalam posisiku, sebuah perasaan bersalah tiba-tiba muncul dalam benakku. Karena ulahku-lah hari ini Heyna tidak bisa pergi ke perayaan natal, dan lebih parahnya aku telah mengambil kartu harapannya dan menghilangkannya.

Untuk beberapa saat keadaan kembali sunyi, hanya hembusan angin yang terdengar pelan membelai daun telingaku. Kuberanikan diri untuk berdiri dan mengintip keadaan dibalik dinding penyekat antara balkon kamarku dan Heyna. Tampak sosok Heyna yang tengah berdiri diam dengan kedua mata terpejam. Rambut panjangnya tergerai bebas dan berayun mengikuti hembusan angin.

wishing10

Seulas senyum terbentuk diwajah cantiknya yang spontan membuat jantungku berdetak aneh. Detak jantung yang sama seperti saat aku menatap sosok Heyna yang tengah duduk di taman sendiri tempo hari.

“Ada apa denganku? Kenapa jantungku tiba-tiba berdetak dengan cepat? Dan kenapa tiba-tiba aku merasa panas?” tanyaku dalam hati seraya mengosok-gosok kedua pipiku yang entah mengapa terasa panas saat ini.

Disaat aku masih sibuk bertanya dalam hati tentang apa yang terjadi dalam diriku, tampak sosok Heyna yang mendadak memanjat pagar balkon.

“YAKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKK, APA YANG KAU LAKUKAN!” teriakku spontan yang sudah pasti membuat sosok kembaranku tersebut berbalik dan jatuh dengan pendarataan sempurna dilantai balkon karena terkejut.

“YAK, KENAPA KAU BERTERIAK! DAN APA YANG KAU LAKUKAN DISITU, HAH? APA KAU MENGINTIPKU?” balas Heyna dengan suara yang tak kalah kerasnya dengan teriakanku beberapa detik lalu.

“Justru aku yang seharusnya bertanya padamu? Apa yang kau lakukan? Apakah sebegitu frustasinya kau karena bertemu dengan manusia sempurna sepertiku yang jauh lebih hebat darimu lantas kau memutuskan untuk melompat dari balkon?” cerocosku. Dapat kulihat kedua alis Heyna mengernyit seketika setelah mendengar pernyataanku.

            “Mworago? Escuse me Tuan narsis pangkat tak terhingga, pertama kapan dan dimana aku mengakui bahwa kau lebih hebat dalam segala hal dariku. Dan kedua, siapa yang kau maksud akan melompat dari balkon, hah?”

“Tentu saja kau! Bukankah sudah jelas beberapa saat lalu kau mau memanjat pagar balkon?”

“Aku bukannya mau melompati pagar seperti yang kau harapkan, pabo! Aku hanya bermaksud duduk diatas pagar!” timpal Heyna seraya bangkit dari lantai balkon.

“Aish , pabo kenapa aku malah mempermalukan diriku sendiri?” rutukku dalam hati.

“Sekarang jawab pertanyaanku, apa yang kau lakukan disana? Dan sejak kapan kau disana? Apakah kau sedang memata-mataiku dan mencari kesempatan untuk mengerjaiku seperti yang selalu kau lakukan sampai kau puas?”

“Ani, aku hanya. . .”

“Aish, sudahlah! Aku tidak mau dengar pembelaanmu! Dan lagi, bukankah aku sudah mengatakan padamu untuk tidak muncul lagi dihadapanku? Nappuen namja!” ucap Heyna sinis. Tanpa menatapku ia segera berbalik dan melangkah kedalam kamarnya.

“Ne, memang aku bermaksud memata-mataimu.” ucapku segera tepat sebelum jemari Heyna memutar kenop pintu dihadapannya. Dengan cepat ia membalikkan tubuhnya dan menatap sengit padaku.

“Tapi bukan karena aku ingin mengerjaimu. Aku hanya. . .aku hanya ingin mengetahui kondisimu.” lanjutku. Raut terkejut terpatri jelas diwajah Heyna.

Mwo? Apakah aku tidak salah dengar? Cho Kyuhyun sebenarnya skenario apa yang tengah kau mainkan saat ini? Jangan membohongiku, aku tidak akan tertipu dengan perhatian palsumu!”

Aniyo, mungkin saat ini kau mengagapku tengah membohongimu, dan aku bisa maklum dengan hal tersebut mengingat bagaimana sikapku padamu selama ini. Tapi, semua itu adalah hal yang akan dilakukan oleh seorang Cho Kyuhyun, saat ia memposisikan dirinya sebagai rival kuatmu di sekolah. Tapi, tidak untuk saat ini, aku bertanya padamu sebagai sosok saudara kembarmu. Bukankah hal yang wajar jika aku ingin mengetahu bagaimana keadaan saudara kembarku?” lanjutku. Kutatap lekat-lekat sosok Heyna yang masih berdiri dengan wajah terkejutnya.

Mworago? Sebagai saudara kembarku? Cho Kyuhyun sebenarnya apa maksudmu? Kenapa bagimu mudah sekali untuk membalik ucapanmu sendiri? Bukankah kau bilang kau merasa jijik dan sial karena harus memiliki saudara kembar sepertiku? Bukankah kemarin kau bil. . .”

“Mianhae. . .” potongku segera sebelum Heyna sempat menyelesaikan ucapannya.

“Jeongmal mianhae, karena telah membuatmu sakit dan merusak benda berharga milikmu. Na, aku benar-benar menyesal akan hal itu. Dan, jika boleh jujur aku sama sekali tidak pernah merasa jijik ataupun sial karena telah terlahir sebagai saudara kembarmu. Justru sebaliknya, na. .aku merasa senang. . .aku sangat senang karena kembali memiliki keluarga yang utuh setelah kepergian eomma-ku. Bahkan, lebih dari hal tersebut aku memiliki seorang saudara kembar. Seakan-akan Tuhan selalu mengetahui apa yang kuinginkan, ia selalu memberikan segalanya padaku dan menganti hal yang telah hilang dalam hidupku sebelum aku memintanya atau memanjatkan harapan seperti yang sering kau lakukan. Karena hal itulah aku selalu bertingkah arogan dan tidak perduli apakah hal yang kulakukan akan menyakiti orang lain demi kesenanganku semata. Tapi sekarang aku sadar, tidak seharusnya aku bersikap demikian. Dan semuanya karena kau. Yeoja yang selalu tak pernah mau kalah meskipun berulang kali aku mengerjainya, yang selalu berusaha membalas tingkahku tanpa mengenal rasa takut, dan yeoja yang terlahir dan bernafas untuk pertama kalinya didunia ini besamaku.”

Gurat kebencian perlahan mulai memudar diwajah Heyna. Untuk beberapa saat kami hanya berdiri dan saling memandang satu sama lain dalam diam. Entah dorongan dari mana, dengan cepat aku memanjat dinding penyekat diantara balkon kamar kami dan menghampiri sosok Heyna yang masih berdiri dalam diam.

“Aku tahu sulit bagimu untuk mempercayai ucapanku saat ini dan menerimaku sebagai kembaranmu. Tapi, bisakah kita mulai belajar menyadari keberadaan satu sama lain? Mungkin bukan sebagai saudara kembar ataupun sebagai sahabat. Hanya sebatas mengetahui bahwa kita berdiri bersama ditempat yang sama. Dengan begitu paling tidak kita mencoba untuk tidak menyakiti satu sama lain. Mianhae. . .Na-ya. .” ucapku.

Dengan mantap, kuulurkan telapak tanganku dan menyungingkan sebuah senyuman. Sebuah senyuman lembut yang untuk pertama kalinya kubagi dengan sosok yeoja yang sudah hampir 2 bulan ini kuanggap sebagai musuh bebuyutanku di sekolah. Dan sebuah senyum lembut, yang untuk pertama kalinya kubagi untuk saudara kembarku.

“Annyeong, Heyna. Na, Cho Kyuhyun imnida!”

*Kyuhyun Pov End*

 

*Heyna Pov*

“Aku tahu sulit bagimu untuk mempercayai ucapanku saat ini dan menerimaku sebagai kembaranmu. Tapi, bisakah kita mulai belajar menyadari keberadaan satu sama lain? Mungkin bukan sebagai saudara kembar ataupun sebagai sahabat. Hanya sebatas mengetahui bahwa kita berdiri bersama ditempat yang sama. Dengan begitu paling tidak kita mencoba untuk tidak menyakiti satu sama lain. Mianhae. . .Na-ya. .”

Aku hanya bisa terdiam mendengar rangkaian kalimat yang terlontar dari mulut namja dihadapanku. Apa yang sebenarnya telah dilakukan namja ini? Apakah dia benar-benar tulus mengatakan semua ini? Kenapa dia tiba-tiba berubah? Dan benarkah ia merasa senang karena terlahir sebagai saudara kembarku?

Tepat disaat aku masih sibuk mencari jawaban atas semua pertanyaan yang menyerbu dalam fikiranku. Kyuhyun mengulurkan telapak tangannya dan menarik kedua sudut bibirnya hingga membentuk sebuah senyuman lembut. Sebuah senyum simpul yang entah mengapa terlihat mirip sekali dengan senyuman khas milik Heyjin-oppa. Sebuah senyuman yang selalu mampu membuatku merasakan hangat dan tenang seketika, sebuah senyuman yang dahulu selalu menyambutku tanpa pernah aku memintanya.

“Annyeong, Heyna. Na, Cho Kyuhyun imnida!”

Kutatap lekat-lekat sosok Kyuhyun dihadapanku. “Tuhan, apakah ini adalah jawaban atas harapan yang kuminta padamu beberapa saat lalu. Harapan dimana agar kau mengirimkan seorang malaikat padaku, seseorang yang akan selalu tersenyum lembut dan mengulurkan tangannya untuk merengkuhku? Seperti sosok Heyjin oppa, sosok yang telah kau ambil dari hidupku?”

            “Ya, kenapa kau hanya diam saja dan menatap takjub padaku seperti itu? Keuraeyo, aku tahu kalau aku ini sangat tampan. Ah, jangan katakan jika sekarang kau baru menyadarinya hingga membuat matamu tidak berkedip sama sekali, Nona labil?”

Aku segera tersadar dan spontan mendengus sebal saat kedua daun telingaku menangkap deklarasi narsis namja dihadapanku.

“Cih, mworago? Neo micchisseo? Kapan dan dimana aku menatap takjub padamu, hah? Dan kau sama sekali tidak tampan, Tuan labil!” timpalku. Diluar dugaan, bukannya balasan sengit yang seperti biasanya akan Kyuhyun lontarkan saat tengah berdebat denganku, namja itu kini terkekeh.

“Yak, apa yang kau tertawakan?”

“Ani, aku hanya merasa senang dan lega. Kurasa, ratu setan yang kukenal kini sudah kembali. Kau tahu, aku lebih menyukai sosokmu yang tampak ganas dan evil seperti ini. Karena paling tidak, bukanlah sinar kepedihan yang terpancar dimatamu, sinar kepedihan yang selalu terpancar dikedua bola matamu saat kau memasuki bangunan rumah ini, yang sama sekali tidak kuketahui penyebabnya.”

Neo. . .” ucapku terputus. Saat mendadak Kyuhyun mengengam tanganku. Dapat kurasakan jantungku berdetak dengan cepat saat ini.

“Jadi, bisakah kita belajar menerima keberadaan kita?” ucap Kyuhyun.

Kembali aku terdiam dan menatap sosok namja dihadapanku. Dapat kurasakan gengaman tangannya yang secara ajaib membuat tubuhku merasa hangat ditengah cuaca dingin saat ini karena hujan salju. Dan kini kehangatan tersebut telah menjalar dikedua sudut-sudut bibirku, hingga membuatnya membentuk sebuah senyuman tulus yang untuk pertama kalinya kubagi dengan sosok namja dihadapanku. Namja setan yang hampir 2 bulan ini kuanggap sebagai musuh bebuyutanku disekolah. Namja dengan penyakit narsis tak terhingga yang selalu membuatku kesal dan tak jarang membuatku ingin menendangnya jauh-jauh. Dan, namja yang terlahir dan bernafas untuk pertama kalinya didunia ini bersamaku, adik kembarku, Cho Kyuhyun.

“Boleh saja, tapi dengan satu syarat.” balasku pada akhirya setelah beberapa saat terdiam.

Mwo? Ya, kenapa harus ada syarat?”

“Itu sebagai hukuman untukmu karena telah menceburkanku dan merusak barang berharga milikku!”

“Aish, neo yeoja! Lantas apa syaratmu, hah? Jangan macam-macam, Nona labil! Jangan harap kau bisa memaksaku melakukan tindakan mustahil yang akan membuatku mempermalukan diriku sendiri!” timpal Kyuhyun seraya melepas gengaman tangannya pada jemariku dan kini berganti dengan menyilangkan kedua lengannya didepan dada.

Aniyo, aku tidak akan membuatmu mempermalukan dirimu. Aku tidak selicik dirimu, Tuan labil!”

“Lalu, apa maumu, hah?”

Menganti senyuman lembut yang beberapa saat lalu terbentuk diwajahku, kini kusungingkan sebuah senyum evil kebangaanku.

“Mudah saja, kau hanya perlu memangilku dengan sebutan Noona ketika kita dirumah. Bagaimana, mudah bukan Nae dong-saeng?”ucapku dengan penekanan yang kuperjelas yang spontan membuat kedua bola mata namja dihadapanku tampak hampir keluar.

Mwo? Apa katamu? Noona? Shireo, aku tidak mau!”

“Waeyo? Bukankah menurut aturan aku adalah kakak dan kau adiknya? Jangan merubah kodratmu, Kyuhyun-ah!” timpalku yang kini membuat Kyuhyun bergidik ngeri. Lucu sekali.

Maldo andwae, sampai kapanpun aku tdak akan memangilmu dengan sebutan noona! Umur kita sama, Nona labil! Shireo!” balas Kyuhyun seraya mengoyangkan jari telunjuknya didepan wajahku.

Mwo? Yak, neo. . .” ucapanku segera terhenti saat mendadak telapak tangan Kyuhyun menyentuh lembut keningku.

“YAK, apa yang kau lakukan?” seruku seraya mengibaskan telapak tangan Kyuhyun namun gagal karena dengan cepat lengan kiri-nya menghentikan gerakan tanganku.

“Kurasa kau sudah sembuh, suhu kita sama kok.” gumam Kyuhyun seraya ikut meraba keningnya.

“Yak, apa yang. . .”

“Baiklah, apapun yang terjadi aku tidak akan mau memanggilmu dengan sebutan noona. It’s non sense! Tapi, sebagai gantinya aku akan menebus permintaan maafku. Kajja!”

Dengan cepat, ia segera menarik tanganku dan menyeretku mengikutinya.

“Mwo? Yak, Cho Kyuhyun apa yang kau lakukan, kau mau membawaku kemana, hah? YAK CHO KYUHYUN BERHENTI!”

***************

Tanpa mengubris protesku, setan narsis dihadapanku tersebut terus berlari dan menyeretku mengikutinya.

“Na-ya, Kyuhyun apa yang kalian lakukan? Kenapa kailan berdua berlarian ditangga?”

Langkah kami segera terhenti saat sosok eomma tiba-tiba mencul dari pintu rumah.

Eomma…”

“Ah, eommonim!” sahut Kyuhyun ceria. Kembali ia berlari dan menyeretku menuruni tangga.

“Bolehkah kami berdua keluar sebentar?”

“Keluar?” ucap eomma seraya bergantian menatapku dan Kyuhyun.

“Ne, dipusat kota sedang ada perayaan natal. Dan kelas kami membuat janji untuk bersama-sama menghadirinya dan merayakan malam natal kami bersama disana. Benar begitu bukan, Na-ya?” jawab Kyuhyun seraya menatapku dan secara bersamaan meremas jemariku sebagai tanda agar aku mengikuti skenarionya.

“Ah. .ne. .” ucapku pelan.

“Begitukah? Keurae, kau boleh pergi tapi tidak untuk Heyna.”

Aku segera menundukan kepalaku begitu mendengar jawaban yang sudah kuprediksi akan terlontar dari mulut ibuku tersebut.

Wae eommonim? Kenapa Heyna tidak boleh pergi? Dia kan juga berada satu kelas denganku, beberapa teman pasti akan kecewa dan mengangapnya tidak kompak jika ia tidak bisa hadir.” sahut Kyuhyun yang segera membuat kepalaku kembali tegak dan menatapnya terkejut. Dengan senyum kekanakan yang memperlihatkan deretan gigi putihnya, membuatku kembali merasakan Heyjin oppa seolah hidup kembali dalam dirinya. Senyuman lembutnya, perasaan hangat yang ia salurkan dan cara ia membelaku sama persis seperti yang akan Heyjin oppa lakukan ketika dulu aku tertangkap berbuat nakal.

“Bukankah kau sedang demam?” tanya eomma seraya menatap lurus padaku.

“Aku. . .”

“Heyna sudah sembuh! Aku sudah mengeceknya tadi, suhu tubuhnya sudah sama normalnya denganku, benar begitu bukan, Na-ya?”

“Ah. .ne. . .”

“Jadi, bisakah kami berdua pergi? Jebal, ini adalah malam natal pertama kami sabagai saudara kembar. Ne, eommonim?” desak Kyuhyun. Untuk beberapa saat eomma tampak terdiam menimang-nimang keputusan.

“Baiklah, kalian boleh pergi. Tapi sebelumnya, Na-ya kau ikut eomma sebentar ke ruang kerja!”

Tepat ketika aku hendak melangkah dan memisahkan diri dari Kyuhyun. Gengaman tangannya bertambah erat seolah-olah ia berkata padaku untuk tidak pergi.

Eommonim, kami harus segera pergi. Teman-teman sekelas sudah menunggu kami. Bisakah aku dan Heyna pergi sekarang?” jelas Kyuhyun.

Keurae, tapi ingat jangan pulang terlampau malam dan cepat hubungi eomma jika terjadi apa-apa.” balas eomma seraya tersenyum lembut pada sosok Kyuhyun.

“Dan Na-ya, jangan melakukan hal bodoh dan membuat masalah. Jaga adikmu. Aratchi?” kembali aku hanya menundukan kepalaku dan menyembunyikan perasaanku.

“Kenapa Heyna yang harus menjagaku? Shireo, aku laki-laki eommonim. Jadi akulah yang akan menjaganya. Eommonim tenang saja, kami tidak akan membuat ulah dan akan segera kembali setelah acara selesai.” sahut Kyuhun yang kembali membuat seulas senyum lembut merekah diwajah eomma. Sebuah senyum yang sudah lama sekali tidak kumiliki dan kini telah dimiliki oleh namja yang tak lain adalah saudara kembarku.

“Anak baik, eomma sangat bangga padamu. Baiklah, kalian berdua berhati-hatilah.”

Ne!” seru Kyuhyun dan detik berikutnya ia kembali berlari dan menyeretku menuju pintu keluar.

*************

“Pakai ini!” perintah Kyuhyun seraya mengangsurkan sebuah helm padaku. Tanpa berkata apapun, segera kuraih helm tersebut dan memakaikannya di kepalaku.

“Ah, tunggu sebentar!”

“Waeyo?” jawabku binggung. Kyuhyun segera turun dari motor hitam miliknya dan menggulurkan jemarinya kearahku yang sontak membuatku mundur ke belakang.

“Ya, apa yang mau kau lakukan?” tukasku seraya menyilangkan kedua lenganku didepan dada. “Jangan kira karena kau adalah saudara kembarku lantas kau bisa ber. . . .” ucapanku segera terhenti saat dengan hati-hati Kyuhyun meraih ujung-ujung rambutku yang tergerai bebas dikedua bahuku dan memasukkannya dibalik mantel hitam yang kukenakan.

“Rambutmu akan berantakan dan berterbangan menampar wajahmu jika kau membiarkannya tergerai bebas saat mengemudi motor! Kau fikir aku mau apa, hah? Pabo!” gerutunya seraya kembali menaiki motor. Untuk sejenak aku tertegun diam menatap sosoknya. Tak kusangka namja setan sepertinya bisa juga berlaku baik dan perhatian pada yeoja.

“Yak, mau sampai kapan kau mengagumi ketampananku, hah? Cepat naik!”

“Kapan dan dimana aku mengagumi ketampananmu, hah! Dasar narsis!” balasku. Namun tak urung kedua sudut bibirku membentuk sebuah senyum simpul. Mengikuti perintahnya, segera kunaiki motor hitam dihadapanku dan duduk dibelakang Kyuhyun.

“Cepat pegangan!”

Mwo? Apa katamu? Pe..pegangan?”

“Aish, apa begitu girangnya kau karena bisa naik motor bersama namja tampan sepertiku hingga membuat indra dan kemampuan otakmu melemah? Kau ini tu. . .”

            *Pletakkkkkk…..!

“YAK, KENAPA KAU MEMUKULKU!”

“Tentu saja untuk membuat otakmu kembali encer! Kau bilang pegangan? Shireo, kenapa aku harus pegangan?”

“Aish, neo yeoja! Terserah kau saja! Tapi jangan salahkan aku jika kau terjatuh!” gerutu Kyuhyun. Dan detik berikutnya, dengan cekatan ia segera menghidupkan mesin motornya.

“Okay, kajja!” seru Kyuhyun. Detik berikutnya tubuhku segera menubruk keras punggung namja setan dihadapanku saat ia menginjak pedal motornya dengan keras.

“YAK, CHO KYUHYUN SIALAN! KAU MAU MEMBUNUH….. .KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!” ucapanku segera tengelam oleh teriakanku saat tanpa basa-basi ia menjalankan motor hitamnya dengan kecepatan tinggi. Dan tanpa memiliki pilihan lain, aku terpaksa merendahkan diriku dengan memeluk pinggangnya erat-erat karena tentu saja itu adalah cara terakhir jika aku masih ingin bernafas setelah ini.

Untuk beberapa saat jantungku berpacu sangat cepat saat dengan kecepatan tinggi Kyuhyun menerobos setiap celah dijalan. Dapat kurasakan keringat dingin menetes di pelipis keningku saat ia berkelit ke kanan dan ke kiri seperti seorang pembalap. Namun, perlahan tapi pasti detak jantungku mulai kembali normal dan perasaan takut dalam benakmu perlahan memudar saat hembusan angin dingin berulang kali menampar kulitku dan memberikan kesegaran yang entah mengapa membuatku merasa seolah mereka mencoba membangunkanku dari rasa takut, dan sekaligus dari segala kegelisahan serta kepedihan yang selama ini kupendam dan menerbangkannya dari benak dan fikiranku.

Seperti sebuah jiwa yang bebas, kini tubuhku terasa ringan. Seperti sebuah bulu yang setiap saat mampu terbang mengikuti hembusan angin tanpa adanya penghalang, tanpa adanya beban yang akan membuatnya tidak bisa terbang. Senyumku merekah tanpa bisa kutahan, bahkan pelukan eratku dipinggang Kyuhyun kini terasa sangat menyenangkan dan membuatku enggan untuk melepaskannya. Seandainya, dan jika bisa aku ingin menghentikan waktu saat ini. Dengan begitu, segalanya akan terasa indah bagiku, akan terasa mudah dan akan terasa lebih baik dari yang selama ini kumiliki.

“Kyuhyun-ah, gomawo. .”seruku ditengah deru mesin serta angin yang memonopoli jalanan raya Jeju.

Mwo? Apa yang kau katakan? Aku tidak bisa mendengarmu? Apakah aku terlalu cepat? Apakah kau ta. . .”

Aniyo, ppali kajja!”

*************

“Whoaaaaaaa, lihat itu! Jinjja daebak!” seruku begitu kami tiba dilokasi acara natal jalanan diadakan. Tepat dipusat Jantung Pulau Jeju tersebut, berdiri tegak sebuah Pohon natal raksasa dengan hiasan beratus-ratus kartu harapan berwarna-warni yang kini tampak berkilauan karena tertimpa bola-bola lampu natal yang ikut melingkari dan mempercantik pohon natal tersebut.

“Kau tahu, dulu kami juga selalu merayakan natal yang sangat hebat. Appa selalu mengajak kami pergi ke Jepang untuk merayakannya bersama haraboeji dan haelmoni. Dan disana, mereka selalu memasang pohon natal yang besar, meskipun tidak sebesar yang kita lihat sekarang. Tapi, bagiku hal tersebut sangat indah dan luar biasa. Sepanjang malam natal, aku dan Heyjin oppa akan selalu duduk dan memainkan apapun didepan pohon natal hingga akhirnya kami tertidur. Dan saat terbangun, tumpukan hadiah sudah mengelilingi tubuh kami.” ucapku spontan. Entah mengapa hari ini aku ingin sedikit berbagi kenangan masa laluku dengan Kyuhyun, masa lalu yang selama ini kusimpan sendiri baik-baik didalam benak dan ingatanku.

“Heyjin-oppa?”

Kutatap sosok Kyuhyun yang kini tengah berdiri disampingku. Wajahnya tampak memerah karena udara dingin bercampur serpihan salju yang kini menguyur lembut tubuh kami.

“Ne, Heyjin-oppa. Kakak pertama kita.” balasku.

“Lalu, bagaimana dengan sekarang? Kenapa kita tidak pergi untuk merayakan natal di Jepang?” secepat kilat segera kutolehkan kepalaku dan kembali menatap pohon natal raksasa dihadapanku.

“Aku tidak tahu, tapi kurasa. . .kurasa karena eomma dan appa sangat sibuk dengan pekerjaan mereka. Apakah kau tahu eomma dan appa adalah pasangan dokter yang hebat? Mereka sangat mengagumkan ketika berada dimeja operasi. Banyak sekali nyawa yang telah mereka selamatkan.” jawabku segera.

“Ah, lihat mereka menyalakan kembang api!” lanjutku untuk mengalihkan perhatian. Bagaimanapun, aku tidak ingin Kyuhyun mengetahui apa yang selama ini terjadi dalam keluarga yang baru saja ia temukan kembali. Dan terlebihnya, aku tidak ingin menambah daftar anggota keluarga yang membenciku karena apa yang sudah terjadi. Meskipun hanya Kyuhyun, setidaknya aku memiliki seseorang dirumah yang dapat membuatku merasa diterima dan dianggap.

“Whoa ramai sekali.” gumamku seraya menyusup diantara ratusan pengunjung. “Kyuhyun-ah, lihat mereka. . .” ucapanku segera terhenti saat kedua bola mataku tidak menemukan sosok setan narsis tersebut. Kuedarkan pandanganku ke segala arah mencari keberadaannya.

“Dimana dia?”

Tepat ketika aku hendak berbalik dan kembali melangkah keluar dari kerumunan pengunjung yang kini tengah bersorak-sorai menatap takjub buncahan kembang api sebuah tangan menarik jemariku.

“Na-ya! Lihat, banyak boneka salju! Lihat disana mereka banyak sekali membuat boneka salju dan menjajarkannya mengelilingi pohon natal.” ucap Kyuhyun ditengah nafasnya yang terengah-engah.

“Boneka salju?”

“Ne, kajja!” mengikuti keinginannya aku segera berjalan menerobos kerumunan pengunjung menuju tempat yang beberapa detik lalu ia tunjuk.

Kutatap sosok Kyuhyun yang kini tengah duduk bersimpuh dihadapan sebuah boneka salju seraya menepuk-nepuk bagian kepala boneka tersebut dengan senyum mengembang.

“Aneh sekali, sebegitu suka-kah dia dengan boneka salju? Bukankah ia seorang namja?” gumamku seraya berjalan mendekati sosok Kyuhyun.

“Lihat, mereka lucu sekali. Bagaimana mereka bisa membuat boneka salju dengan bentuk-bentuk selucu ini?” ucap Kyuhyun dengan tatapan kagum.

“Kau menyukai boneka salju?” tanyaku. Kyuhyun segera menganggukan kepalanya dengan antusias. Benar-benar sosok Kyuhyun yang kulihat saat ini berbeda jauh dengan sosoknya yang selama ini ku ketahui. Bukan setan berkepala besar dengan sindrom narsis pangkat tak terhingga yang kini tampak dihadapanku. Melainkan sosok anak laki-laki yang tampak bersinar dengan senyum dan sinar mata cemerlang yang menghiasi wajahnya.

Ne, bagiku boneka salju lebih menyenangkan daripada pohon natal. Saat aku kecil, disaat semua teman-temanku tengah mengagumi pohon natal dan berdoa mengelilinginya, aku lebih memilih keluar ruangan untuk membuat boneka salju dan kemudian berdoa dihadapannya.” jelas Kyuhyun tanpa menatapku dan lebih asyik mengagumi boneka salju dihadapannya.

“Mwo? Kenapa bisa begitu?”

“Kau tahu, dulu aku sangat menginginkan seorang adik. Teman-teman sekelasku setiap hari selalu bercerita bahwa mereka menganggu ataupun berbagi dengan adik ataupun kakak mereka. Dan disaat itu, aku merasa terkucil karena tidak ada yang bisa kuceritakan pada mereka. Karena aku tidak memiliki kakak ataupun adik. Jadi, aku meminta eomma untuk memberikanku seorang saudara. Tapi, eomma bilang tidak bisa memberikannya, dan sebagai gantinya ia membuatkanku boneka salju. Kata eomma, salju adalah hadiah indah yang diberikan Tuhan pada manusia. Putih dan bersih seperti seorang anak yang baru saja terlahir didunia ini. Dan ia juga bilang padaku, zaman dahulu jika seorang anak menginginkan adik maka ia hanya perlu berdoa didepan boneka salju dengan sungguh-sunnguh. Dan selama Tuhan belum memberikan kita adik, maka kita bisa menganggap boneka salju tersebut sebagai adik kita. Karena itulah setiap musim salju dan setiap hari natal aku lebih memilih membuat boneka salju dan berdoa dihadapannya daripada berdoa didepan pohon natal ataupun digereja.” jelas Kyuhyun. Jadi atas dasar inikah ia berkata bahwa ia merasa senang karena ia ternyata memiliki saudara kembar? Kutatap lekat-lekat sosok namja yang kini tengah memejamkan kedua bola matanya dan berdoa didepan boneka salju.

tumblr_moo7m5j6FQ1ra34aqo1_500

“Kyuhyun-ah, benarkah kau merasa senang karena terlahir sebagai saudara kembarku? Apakah suatu saat nanti kau juga akan tetap merasa senang karena terlahir sebagai saudara kembarku jika kau mengetahui segalanya? Bagaimana jika tidak? Apakah kau akan membenciku juga dan mengangapku sebagai makhluk pembawa sial? Kuharap, jika suatu saat hal itu terjadi bisakah kau tetap memperlakukanku seprti sekarang? Dan bisakah kau menyisihkan sedikit tempat bagiku? Kau boleh memiliki segalanya,semua yang kau inginkan. Tapi, biarkan aku berdiri ditempat yang kumimpikan, tempat dimana aku bisa memperoleh kembali senyum hangat mereka yang selalu kuharapkan. . .”ucapku dalam hati. Kini, kedua bola mata Kyuhyun telah kembali terbuka dan menampakkan sinar cemerlang.

“Dan kurasa, sekarang Tuhan telah mengabulkan doa yang dulu setiap hari kupanjatku didepan boneka salju saat musim salju. Kini aku benar-benar memiliki saudara kandung, meskipun bukan seorang adik, tapi itu tidak masalah karena aku tetap bisa menganggunya.” lanjut Kyuhyun dan detik berikutnya, dengan cepat ia melemparkan sebongkah salju tepat diwajahku.

“YAKKKKKKKKKKK CHO KYUHYUN MATI KAU!”

*Heyna Pov End*

 

*Author Pov*

Untuk beberapa saat gelak tawa serta ejekan saling bersahutan dari dua makhluk kembar tersebut. Tanpa memperdulikan hiruk-pikuk perayaan disekeliling mereka, kedua makhluk tersebut saling berperang bola salju.

“Ah lihat, mereka menjual beraneka souvenir natal! Kajja!” seru Kyuhyun seraya berlari menuju seberang jalan. Mengikuti gerakannya, Heyna segera berlari menuju sebuah stand dipinggir jalan yang menjual berbagai souvenIr natal dengan antusias.

Namun tepat disaat Heyna hampir menyeberang jalan menyusul sosok Kyuhyun yang sudah berlari hingga ditengah jalan, tampak sebuah mobil melintas dengan kecepatan tinggi kearah Kyuhyun. Seperti menembus mesin waku, kilasan kejadian dimasa lalu yang pernah dialami Heyna menyeruak dalam ingatannya. Sebuah kejadian yang menjadi penyebab terengutnya segala kasih sayang serta hal yang berharga dalam hidupnya.

“KYUHYUN-AH AWAS! CHO KYUHYUN ANDWAE! KYUHYUN-AH AWAAAAAASSSSSSSS. . ……”

*Diiiiiiinnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnn. . .BRUK!

“OPPA!”

Heyna segera jatuh terduduk. Tangan kananya terulur kedepan seperti hendak mengapai sesuatu. Tubuhnya gemetar hebat sedang kedua bola matanya membulat dengan semburat merah saat menatap pemandangan dihadapannya. Tampak sebuah mobil berwarna silver berhenti tepat didepan sosok namja yang kini sama halnya dengannya, tengah terduduk lemas ditengah jalan dengan nafas terengah-engah. Sebuah keajaiban, mobil yang hampir saja menabrak Kyuhyun berhenti tepat didepan tubuhnya.

“YAK, APA YANG KAU LAKUKAN! PAKAI MATAMU JIKA KAU HENDAK MENYEBERANG JALAN, ANAK MUDA!” umpat pengemudi mobil tersebut. Beberapa orang segera mendatangi Kyuhyun dan membantunya berdiri.

“YAK, AHJUSSHI! KENAPA KAU MENYALAHKANKU! BUKANKAH LAMPU LALU LINTAS MENUNJUKAN WARNA HIJAU! SEHARUSNYA KAULAH YANG BERHATI-HATI! APA KAU TIDAK MEMAKAI MATAMU, HAH!” balas Kyuhyun. Seolah tidak ingin memperpanjang masalah, pengemudi mobil tersebut segera masuk kembali kedalam mobil setelah melemparkan death glare kepada Kyuhyun.

Tepat disaat mobil silver yang hampir menabrak Kyuhyun kembali melaju, Heyna segera bangkit dan berjalan menghampiri Kyuhyun.

“Dasar pengecut! Awas saja jika suatu saat kita bertemu! Ah Na-ya, apa kau tadi melihatnya, apa ka. . .”

*PLAKKKKKKKK. . .!

“Yak, kenapa kau menampar. . .”

“Apa yang sebenarnya sedang kau rencanakan? Hal apa yang ingin kau coba lakukan padaku?” ucap Heyna dingin. Raut marah serta tatapan tajam terpatri jelas diwajahnya.

“Apa maksudmu? Kau ini kenapa sih? Apakah kau tidak bisa melihat situasi? Aku hampir saja tertabrak dan kau malah. . .”

“KATAKAN PADAKU! APA YANG SEBENARNYA SEDANG KAU RENCANAKAN!”

“YAK, KENAPA KAU BERTERIAK! Kau ini kena. . .”

“MENAWARKAN PERSABATAN DENGANKU, MENGAJAKKU MELIHAT HAL YANG KUINGINKAN, LALU KAU BERMAIN DENGAN MAUT DIHADAPANKU? APAKAH KAU BERNIAT MEMBUATKU DIANGGAP SEBAGAI PEMBUNUH UNTUK KEDUA KALINYA!”

“MWO? Pembunuh? Apa maksud. . .”

“Hentikan, aku tidak ingin mendengar apapun lagi darimu.” potong Heyna. Tanpa berucap apapun lagi, yeoja berambut hitam tersebut segera membalikan tubuhnya dan berlari menerobos hiruk pikuk jalanan.

“NA-YA!”

 

TBC.

 

 

 

 

Advertisements

28 thoughts on “{KyuHeyna_Story} HOPE #3 Closer

  1. Thor ceritanya knp angst gini deh aku sedih, kesian heyna masa org tuanya smpe segitunya ngejauhinnya😢😢
    Kyuu jaga heyna dgn baik jgn disia2in yaa apa yg kau harapkan selama ini..
    Thor lanjuuut~~

  2. aku baru baca langsg part 3 belum mengerti alurnya,soalnya blum baca part 1,2nya,hyena kasihan sekali,knpa oemmanya tega ya,hyena kasihan di cap pembawa sial,apa benar kyu sm hyena saudara kandung,yaah sayang sekali,,sdih liat hyena,pokonya kyu harus ngejaga hyena,baru juga hyena sm kyu baikan ga saling musuhan,eeekh udah marah lagi,mungkin hyena trauma,,

  3. Sbnrnya situasi spt pa hingga mmbuat heyna d perlakukn spt skrg!? Lalu heyna skt pa!? Author sbnrnya q tuh msh g rela klo kyuna tu saudara kembar!! Q jg msh blm bsa mnebak mau gmn crt ni!! Author bikin lbh jls lg dong,, d 3 part awal ini slalu bkin brtanya2.
    Author d tunggu next part n fighting
    Ps kpny perfect girl friend n rival d publish!?

    • sabar-sabar heheheheheh….kan bagus juga tu kalau otak evil kembar hehehehe, tar yach part 4 author bikin lebih jelas heheheheheheh
      My perfect Girlfriend Or Rivalnya menyusul…minggu mgkn publish^^

  4. kak, kayak nya disini kurang kata deh.
    “Meskipun tampak pucat, anehnya kedua sudut yeoja tersebut membentuk seulas senyum dalam tidurnya”
    atau mungkin aku yang ga paham ya ? XD
    pokonya FF ini aku tunggu loh kelanjutannya.. suka banget !
    oya, tadi ada typo satu. tapi aku lupa dimana XD
    mian ne eonni, reader mu yang satu ini cerewetnya minta ampun XD
    pokoknya fighting ne !! ^_^

  5. ya ampun thor, sbenernya masi blum percaya dan ga rela klo kyu-heyna itu kembar.
    FF mu keren bgt thor. Susah ditebak. Cepet lanjut ya thor..
    Semangat

  6. aku selalu suka ga penulisan Sazshika…. rasanya kata-kata yg dirangkai pas bgt ngebuat ga mau berhenti buat baca….
    penesaran dengan lanjutannya :)… next chap 🙂

  7. knapa segitunya eomma.ny naya..??
    sbenarnya dl ap yg diperbuat naya..??
    aih eonnie bnyak sekali pertanyaan berkecamuk..
    ditnggu next part.nya eon…

  8. Thorrrrrr..
    Lama Banget Part 3 nya Publish..?? 😦

    Tapi, Makasih Ya Thorrr Udah Di Publish Part 3 nya Today.. 🙂
    Aku Ikut Spott Jantung Pas Kyu Hampir Ketabtak.. Dan Baru Dapet Klimaks Feeling’a Pas Ending..
    Sedih Banget Liat Heyna Yg Traumanya Balik Gara.Gara Kyu Hampir Ketabrak..

    Next Part di Tunggu Ya Thorrrrrr..

    빨리 !! #fighting ^^

    • ini sebenarnya udah kelar dari hari minggu n siap publish…tapi..tapi..tapi….provider sedang kagak bersahabat, tiap malam pasti lemottt padahal daku bisanya publish kalau malam coz kalo pagi mpek jam 7 kerja heheheeheh alhasil..kemarin maksa2in dech publish jam 1 malam…coz pas jam segetu sinyalnya dah balik bagus T_T

  9. Kakak oenni kenapa lg enak-enak bca malah tbc –…
    Ya kakak ceritanya semakan bkin aku berfikir keras,.terlalu banyak hal misterius dalam khdpan nona labil…
    Dtnggu kelanjtnya kakak…
    Eonni mianhe kagak ngajak nntn asia dream cup 2014 kemarin..hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s