{KyuHeyna_Story} HOPE #2 Twin’s? What Should I Do?

Pic Part 2-fix

 

Title                             : {KyuHeyna_Story} HOPE #2Twin’s? What Should I Do?

Author                         : Sazshika_DeVya

Main Cast                    : Cho Kyuhyun

: Lee Heyna

Another Cast               :Lee Eunji (oc), Hwang jihyo (oc), Oh Jihoo (oc), Lee Shin (oc),Kang Minhyuk (oc), Kang Jinwoon (oc)

Genre                          : Romance, Friendship and Family

Rating                         : PG 15

Leght                           : Continue

 

Just like a moon. Tampak besar dan berkilauan di mata setiap makhluk yang menatapnya dari kejauhan. Tapi, pada kenyataannya segalanya hanyalah sebuah kamuflase. Bersinar karena pantulan cahaya sang matahari dan berlindung pada kegelapan malam untuk menyembunyikan lubang-lubang dalam disetiap bagian tubuhnya.”Lee Heyna.

Saudara kembar, ya? Memangnya apa yang salah jika kita kembar? Bukankah itu hal yang menyenangkan? Dengan begitu aku bisa mengerjaimu, memperolokmu ataupun mendiskriminasi ruang gerakmu lebih sering daripada yang sebelumnya dapat kulakukan. Tapi, entah mengapa sekarang separuh hatiku berkata yang sebaliknya. Apa yang terjadi denganku. . .”Cho Kyuhyun.

December, 17th 2014 at Heyna House. . .

*Author Pov*

“Aku dan Heyna adalah. . .”

“Kembar?”

Raut terkejut terukir jelas diwajah dua makhluk yang masih dibawah umur tersebut. Seperti memiliki telepati, kedua siswa Jeju International Highschool yang mengikrarkan sebagai rival abadi masing-masing tersebut saling bertemu pandang dan terdiam, seakan mencoba mencari kebenaran dikedua bola mata satu sama lain.

Ne, kalian adalah saudara kembar!” ucap Cho Jaeha. Dokter sekaligus peneliti tersohor yang kini tengah mengadakan penelitian kanker di Yongjin Medical, rumah sakit swasta terkemuka milik keluarga Lee.

Aboeji, apa maksudmu? Bagaimana mungkin kami kembar, bukankah aku adalah anak aboeji dan eomma?”

Seulas senyum hampa terlukis dikedua sudut bibir Jaeha. “Ne, secara hukum kami berdua adalah orang tuamu. Tapi, pada kenyataanya darah yang mengalir dalam tubuhmu bukanlah milik kami, melainkan milik dua sahabat terbaikku. Lee Shin dan Lee Eunji. Orang tua kandungmu.” jawab Jaeha seraya menatap dua sosok dewasa yang berdiri tak jauh darinya.

“Jaeha-ya, ada baiknya kita duduk terlebih dahulu.” ucap Lee Shin, raut datar serta berwibawa terpancar jelas pada sosok profesor serta pemilik tunggal Yongjin Medical tersebut. Seakan teramat mengetahui sifat ayahnya yang sangat tidak ada gunanya jika ditentang, Heyna segera beranjak dari tempatnya berdiri dan duduk disalah satu sofa dalam ruang keluarga Lee tersebut.

“Aku tahu jika apa yang hari ini kami katakan tentulah membuat kalian berdua terkejut dan merasa sulit untuk mempercayainya, tapi seperti yang sebelumnya telah diucapkan Jaeha. Kami bertiga tidak sedikitpun memiliki maksud buruk pada kalian.”

Appa, jeongmalyo? Apakah benar kami kembar?” ucap Heyna pelan seraya menatap sayu sosok ayahnya. Lee Shin mengangguk pelan merespon pertanyaan putri tunggalnya.

“Na-ya, kau tahu seperti apa sifat appa bukan? Karena itu, appa yakin jika kau akan bersikap lebih dewasa dalam menghadapi hal ini seperti bagaimana mestinya. Dan tentu saja, kau tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.”

Kepala Heyna segera tertunduk saat mendengar jawaban yang keluar dari mulut ayahnya. Raut pucat mendadak menyerbu wajah manisnya.

“Apa yang kalian bicarakan? Mendadak mengatakan bahwa kami berdua kembar? Bersikeras jika apa yang kalian lakukan sama sekali tidak memiliki maksud yang buruk?” sahut Kyuhyun seraya menatap sosok Heyna yang kini masih tertunduk diam. Dalam hati serta fikiran namja berumur 17 tahun tersebut tengah berkecamuk berbagai pertanyaan yang seakan-akan hampir meledak keluar.

“17 tahun lalu, baik mendiang eomma-mu dan ibu Heyna, Eunji tengah mengandung. Dan seperti yang baru saja kalian ketahui, mendiang eomma-mu, aboeji dan Eunji adalah sahabat karib. Kami bertiga selalu bersama dan berbagi layaknya saudara.” ucap Jaeha mengawali cerita.

“Saat itu eomma-mu tengah mengandung anak pertama setelah 6 tahun kami menikah, sedang Eunji tengah mengandung anak keduanya setelah 2 tahun kelahiran Heyjin, kakak Heyna. Bisa kau bayangan seperti apa kebahagian mendiang eomma-mu saat tengah mengandung. Ia sangat berhati-hati terhadap kandungannya, memasakan diri memakan semua makanan yang dianjurkan dokter meskipun hal tersebut membuatnya mual. Tapi, semua akan ia lakukan demi kesehatan bayi yang selama ini ia nantikan.” untuk sejenak Jaeha terdiam seraya menatap nanar lantai dibawahnya.

“Tepat ketika usia kandungan eomma-mu dan Eunji memasuki bulan ketujuh, kami berempat berencana mengadakan makan malam bersama untuk merayakan keberhasilanku menemukan metode kemoterapi terbaru bagi penderita kanker. Tapi, kecelakaan naas itu terjadi. Mobil yang kami tumpangi berempat terlempar dari ruas jalan saat sebuah truk yang kehilangan kontrol menabrak dari belakang. Jadi, seperti yang bisa kalian bayangkan. Kami berempat segera dilarikan ke rumah sakit dengan tubuh penuh cedera. Dan tentu saja, baik eomma-mu dan Eunji terpaksa harus melahirkan kalian lebih awal dari waktu yang ditentukan karena pendarahan parah serta demi keselamatan nyawa bayi dalam kandungan mereka.”

Hela nafas panjang terhembus berat dari mulut Jaeha. Ditatapnya wajah Heyna dan Kyuhyun secara bergantian.

“Setelah selama 2 hari kami berempat tak sadarkan diri, pada akhirnya satu persatu dari kami kembali dapat membuka mata. Baik eomma-mu dan Eunji segera bersikeras untuk mengetahui keadaan bayi yang sudah lenyap dari kandungan mereka disaat mereka sadar. Aku masih ingat sekali bagaimana wajah dokter serta perawat yang tengah membantu proses persalinan eomma-mu dan Eunji pada saat itu. Dengan raut bersalah dan wajah tertunduk mereka mengucapkan sebuah hal yang dengan segera membuat eomma-mu terdiam dengan bulir air mata yang mengalir tanpa henti dikedua pipinya yang pucat. Bayi yang sudah 6 tahun kami nantikan kehadirannya, anak pertamaku telah meninggal bahkan sebelum kami sempat mendengar jerit tangisnya. Belum cukup dengan pukulan akan meninggalnya bayi kami, dokter tersebut mengatakan jika eomma-mu tidak akan bisa memiliki anak lagi karena rahimnya terpaksa harus ikut diangkat akibat pendarahan hebat karena benturan saat kecelakaan.”

Jaeha terdiam sejenak seraya kembali menghela nafas berat.

“Sedangkan Eunji, bayi yang telah ia lahirkan selamat meskipun harus menjalani perawatan di inkubator karena beratnya yang masih terlalu kecil. Dua bayi kembar mungil laki-laki dan perempuan yang hanya memiliki berat 2,3 kg. Yaitu kau dan Heyna.

Rona terkejut serta pedih kini terpancar baik diwajah Kyuhyun maupun Heyna. Dalam diam, segala uraian maupun kesimpulan dengan hasil yang sama menyeruak dalam kepala mereka. Namun, tak sedikitpun baik Heyna maupun Kyuhyun mencoba saling menatap, seakan-akan berusaha untuk menyembunyikan perasaan mereka masing-masing dan ketakutan yang tak bisa dijelaskan yang akan mereka rasakan jika kedua bola mata mereka bertemu.

“Setelah kenyataan pahit yang menimpa eomma-mu, seperti layaknya pasien koma, memang kedua bola mata eomma-mu terbuka namun tak sedikitpun sebuah kata terucap dari bibirnya. Yang ia lakukan hanyalah diam dan menatap kosong disatu titik. Segala upaya kulakukan untuk membuatnya menerima kenyataan dan kembali bersemangat, namun segalanya sia-sia sampai dihari dimana kau dan Heyna sudah diperbolehkan keluar dari inkubator, Eunji dan Lee Shin mendatangi kami dengan bayi dalam gendongan tangan mereka masing-masing. Dan kemudian Eunji duduk disamping eomma-mu dan meletakan bayi yang sebelumnya ia gendong kedalam pangkuan eomma-mu. Ia lalu berkata, Jaerim-ah, bukankah kita saudara? Kau akan selalu datang disaat aku membutuhkanmu, dan kau akan selalu memberikan sebagian milikmu disaat aku membutuhkannya namun tidak sanggup memiliknya. Jadi, jagalah bayi ini baik-baik seperti layaknya anak yang kau lahirkan dari rahimmu. Dan anak itu, adalah kau Kyuhyun-ah.”

Kepala Kyuhyun segera tertunduk, dalam benaknya ia sama sekali tidak tahu harus mengatakan atau melakukan apa saat ini? Disatu sisi ia merasa sedih karena ternyata ia bukanlah anak kandung dari ayah serta mendiang eomma yang sangat disayanginya. Namun, disisi lainnya ia merasakan sedikit perasaan bahagia karena kenyataan bahwa ia masih memiliki seorang ibu meskipun jika ibu itu adalah seseorang yang sama sekali belum ia kenal. Tapi setidaknya ia merasa memiliki kembali keluarganya yang sudah 4 tahun ini tidak lengkap karena kepergian mendiang eomma-nya. Dan setidaknya ia tahu jika alasan ia terpisah dengan orang tua kandungnya bukanlah demi keburukan seperti yang telah diungkapkan 3 orang dewasa dalam ruangan ini sebelumnya. Bahkan, justru Kyuhyun merasa tindakan orang tua kandungnya sangat mulia. Namun, bagaimana dengan Heyna? Benarkah mereka kembar? Suatu kenyataan yang sangat sulit untuk sedikit diterima. Ya, sedikit. Entah mengapa perasaan kesal Kyuhyun pada Heyna mendadak berkurang setelah beberapa saat lalu ditatapnya wajah Heyna yang tengah tertunduk sayu.

“Kyuhyun-ah, aboeji mohon demi mendiang eomma-mu kau bisa menerima hal ini. Kami sama sekali tidak bermaksud membuangmu, memisahkanmu dari saudara kembarmu ataupun berbuat buruk padamu. Karena itu, aboeji mohon padamu untuk tidak membenci ataupun menyalahkan tindakan kedua orang tua kandungmu. Bagi mendiang eomma-mu dan aboeji, apa yang telah mereka berdua lakukan seperti sebuah mukjizat yang menolong dan menghidupkan kembali jiwa eomma-mu hingga ia mampu kembali bangkit dan tersenyum kembali.” lanjut Jaeha.

Dengan gerakan perlahan, sosok wanita dalam balutan gaun biru bangkit dan melangkah menghampiri Kyuhyun setelah sedari tadi terduduk diam mendengar cerita masa lalunya. Eunji segera bersimpuh dihadapan Kyuhyun yang masih terduduk dengan wajah tertunduk. Dengan perlahan ditegakkannya kepala Kyuhyun seraya mengusap lembut puncak kepalanya.

“Kyuhyun-ah, putraku. Eomma, tidak pernah sekalipun melupakanmu. Selalu dan selalu eomma memantau perkembanganmu tanpa sepengetahuanmu. Menangis disaat kau sakit, tersenyum dan menangis bahagia disaat kau berhasil mengendarai sepeda roda dua pertamamu. Eomma, sangat menyayangimu seperti mendiang Jaerim. Karena itu, kumohon kembalilah padaku. Kami tidak akan melarangmu untuk bertemu dan sesekali menginap bersama Jaeha, kau juga boleh tetap mengangapnya sebagai ayahmu. Karena seperti yang pernah eomma katakan pada mendiang Jaerim, anakku adalah anakmu, dan anakmu adalah anakku. Karena itu, kumohon mulai saat ini pandanglah dan simpanlah kami dalam ingatan serta didalam benakmu sebagai sosok orang tua bagimu. Sebagai seorang eomma dan appa.” ucap Eunji. Ditatapnya lekat-lekat sosok Kyuhyun yang kini masih tertegun ditempatnya.

Jeongmalyo?” lirih Kyuhyun setelah beberapa saat terdiam. Ditatapnya sosok wanita dewasa yang kini masih bersimpuh dihadapannya seraya mengenggam erat kedua telapak tangannya.

Jeongmalyo? Apakah aku anak kandung kalian?” lanjut Kyuhyun. Eunji segera mengangguk menjawab pertanyaan Kyuhyun.

         “Jeongmal?” ucap Kyuhyun kembali meyakinkan.

Ne, Kyuhyun-ah. Kami, adalah orang tua kandungmu. Karena itu, seperti apa yang dikatakan eomma-mu beberapa saat lalu. Kumohon, kembalilah pada kami dan hidup bersama kami sebagai keluarga.” sahut Lee Shin.

Secara bergantian Kyuhyun menatap sosok orang tua kandungnya yang kini masih terdiam menunggu jawaban darinya. Seakan mencari sebuah kekuatan, ia beralih menatap sosok Jaeha yang selama ini ia yakini sebagai ayah kandungnya. Seulas senyum lembut dan anggukan diberikan Jaeha sebagai jawaban atas tatapan Kyuhyun.

Na, aku bukanlah anak yang baik. Aku juga bukanlah siswa penurut disekolah dan sering berulah. Apakah kalian masih menginginkanku kembali?” ucap Kyuhyun perlahan.

“Tentu saja, seburuk apapun dirimu kau tetaplah anak kami, bayi yang kukandung dalam rahimku, dan karena itu kedua tangan kami akan selalu terbuka lebar untuk merengkuhmu.” jawab Eunji. Detik berikutnya, wanita berusia 38 tahun tersebut merengkuh sosok Kyuhyun dan memeluknya dengan erat.

“Kyuhyun-ah, anakku, uri aegi. Eomma-neun jeongmal bogoshippo.” sebutir air mata menetes perlahan dikedua pipi Eunji. Sedangkan Kyuhyun masih tetap terdiam dalam pelukan ibu kandungnya. Namun, kedua bola matanya segera mencari sosok yeoja yang sedari tadi sama sekali tidak bersuara. Ditatapanya sosok Heyna yang kini juga tengah menatapnya. Bukan sebuah senyuman namun bukan pula sebuah tatapan sinis yang tampak terpancar diwajah Heyna. Melainkan sebuah ekspresi yang Kyuhyun sendiri sama sekali tidak bisa menafsirkannya. Namun, detik berikutnya, seolah tidak ingin membagi apa yang tengah mereka fikirkan masing-masing, Heyna segera bangkit dan melangkah keluar dalam diam.

************

Masih dengan kepala tertunduk, Heyna melangkah pelan mengikuti gerakan kakinya yang bergerak secara alamiah. Dibukanya pintu sebuah kamar dihadapannya. Heyna segera duduk dilantai karpet dalam ruangan tersebut dan menatap sebuah figura besar yang menampilkan sosok dirinya dan Heyjin.

pic

Oppa, apakah kau tadi mendengarnya? Na, aku ternyata memiliki seorang saudara kembar. Apakah oppa senang? Apa yang akan oppa lakukan jika saat ini oppa masih berada disini? Dan. . .oppa bagaimana denganku?”

*Tok. .tok. .tok . .

Ketukan pelan yang sangat familier ditelinga Heyna segera menyadarkan yeoja tersebut. “Masuklah. .” ucap Heyna pelan tanpa sedikitpun memalingkan pandangannya dari figura besar dalam kamar bernuansa biru langit milik Heyjin.

“Ahgashi, kenapa anda per. . “

“Jinwoon ahjusshi, apakah kau juga sudah mengetahuinya selama ini?” potong Heyna, ditatapnya sosok laki-laki tua yang merupakan pengasuhnya tersebut.

“Apakah kau mengetahui jika aku memiliki saudara kembar selama ini?” ulang Heyna. Raut bersalah terpancar jelas diwajah laki-laki berusia 50 tahun-an tersebut.

Ahgashhi, jeongmal mianhamnida, saya tidak bermak. . .”

Arasseo, gwenchana. Aku tidak bertanya ini untuk menyalahkanmu atau memarahimu. Aku hanya. . .” untuk sejenak ucapan Heyna terhenti. Ditatapnya kembali potretnya bersama Heyjin.

“Aku hanya tidak tahu dengan apa yang harus kulakukan. Apakah aku harus senang? Apakah harus marah? Atau apakah aku harus sedih? Aku sama sekali tidak tahu, dan kurasa apa yang kurasakan sama sekali tidak akan dianggap penting.” lanjut Heyna.

Ahgasshi. . .”

“Menurutmu, apa yang akan dilakukan Heyjin oppa jika saat ini ia masih disini?” potong Heyna kembali saat dirasakannya bulir air matanya hampir menetes. Namun terlambat, sekeras apapun ia menahannya, buliran air mata yang semenjak tadi ditahannya segera mengalir lembut dikedua pipi merahnya.

          “Ahgasshi. . .”

“Jinwoon ahjusshi, lalu bagaimana denganku? Apa yang harus kulakukan? Bisakah kau memberitahuku? Na. . .” ucapan Heyna segera terhenti saat dengan lembut Jinwoon mengusap puncak Heyna.

Ahgasshi, yang harus ahgasshi lakukan adalah tetap tersenyum. Karena saya selalu yakin jika senyuman ahgasshi pada akhirnya akan membawa sebuah cahaya terang dalam kehidupan ahgasshi.” ucap Jinwoon.

Ahgasshi, berjanjilah padaku anda akan tetap berdiri dan tidak pernah menyerah. Kumohon, lakukanlah semua demi Tuan Heyjin dan demi seorang laki-laki tua tak berharga seperti saya. Karena dengan begitu, saya akan merasa tenang jika pada suatu saat nanti saya harus pergi dari samping ahgasshi.

“Apa maksudmu?”

         “Animida, saya harap ahgasshi dapat bertahan dan tetap tabah menghadapi apapun yang akan terjadi didepan. Jangan khawatir, saya akan selalu ada disaat ahgasshi membutuhkan saya, karena itu berjuanglah.” seulas senyum terbentuk diwajah Jinwoon sebagai usaha menenangkan perasaan majikan kecilnya tersebut.

“Sekarang, segera hapus air mata ahgasshi dan kembalilah menghadapi apa yang semestinya ahgasshi hadapi.”

Mengikuti saran pengasuhnya, Heyna segera mengusap air mata dan bangkit dari duduknya.

        “Na, aku pasti mampu menghadapinya. Benar begitu bukan, Jinwoon ahjusshi?”

Seulas senyum lembut kembali menghiasi wajah Jinwoon tatkala mendengar kalimat optimis yang baru saja meluncur dari mulut majikannya.

Ne, anda pasti mampu menghadapinya. Bukankah anda adalah, Lee Heyna?”

Ne, Na Lee Heyna!” sahut Heyna, seulas senyum perlahan terbentuk diwajah manisnya. Dengan mantap, ia segera melangkahkan kedua kakinya.

“Jinwoon ahjusshi, kajja!”

*Author Pov End*

 

*Heyna Pov*

            Dalam diam, kulangkahkan kembali kakiku menyusuri lorong rumah yang akan membawaku kembali keruang keluarga.

“Hegh. . .kembar. . .Ahjusshi, tapi kurasa bukan itu saja yang kupermasalahkan. Maksudku, kenapa harus setan narsis berkepala besar itu yang harus menjadi kembarank. . .ARRRRRRRRRRGGGGGGGGHHH!” teriakku saat sebuah tangan tiba-tiba menarik rambutku dengan kencang.

“YAK! Cho Kyuhyun, neo michesseo? Kau mau mati ya!” umpatku seraya melempar death glare pada namja yang kini tengah tersenyum sinis seraya menyilangkan kedua lengannya didepan dada dan bersandar pada dinding.

“Kau tidak akan bisa membunuhku, Nona labil! Karena jika kau membunuhku berarti kaupun akan mati. Wae? Because, we are twins!”

Mwo?” Aku bergidik ngeri saat melihat seulas senyum evil merekah diwajah setan kembarku tersebut.

“Ah, aku lupa jika kau memiliki masalah pendengaran. Kurasa kedepannya aku harus sering memaksamu untuk berkonsultasi ke klinik THT. Cih, apa yang terjadi padaku, kenapa harus yeoja pendek berdahi lebar dengan kelainan pendengaran ini yang menjadi saudara kembarku? Aigoo, apakah ini hukuman karena aku tidak pernah pergi ke gereja kecuali di malam natal dan paskah?”

“Mworago?”

Wae? Apakah kau terpesona dengan rencana kebaikanku?”

“Mwo?” ulangku. Tanpa mengubris pertanyaanku, setan bernama Cho Kyuhyun tersebut terus menyambung deklarasi narsis-nya. “Tuhan apakah kau belum cukup menghukumku dengan apa yang sudah kualami sampai saat ini? Kenapa pula sekarang kau mengirimkan setan berotak narsis ini dihadapanku. Sebagai kembaranku pula? Kurasa kehidupanku akan semakin kacau setelah ini!”

“Aish, sudahlah yang penting sekarang apa yang akan kita lakukan? Tidak mungkinkan jika aku harus mengaku dihadapan seluruh anak disekolah jika kita adalah saudara kembar? Mau kutaruh dimana muka dan harga diriku? Apa yang akan mereka katakan jika yeoja labil berdahi lebar sepertimu ternyata bersaudara denganku? Whoa, kurasa keberuntungan benar-benar tengah hinggap dipundakmu hingga bisa mendapatkan seorang saudara kembar yang super tampan dan keren sepertiku.”

Whoaaaa neo jeongmal daebak, Cho Kyuhyun!” balasku pada akhirnya.

         “Of course! Apakah sekarang kau baru menyadarinya?”

         “Ne, aku memang baru menyadarinya. Beberapa hari lalu aku masih hanya sekedar menebak-nebak apakah kepalamu yang super besar itu hanya kau isi dengan halusinasi menjijikan disetiap lipatannya. Tapi, sekarang aku benar-benar yakin jika apa yang kutebak kemarin 100% benar. Kau benar-benar hebat, Tuan narsis! Baru kali ini aku bertemu dengan setan narsis akut berkepala besar sepertimu!” balasku seraya ikut menyilangkan kedua lengan didepan dada. Jangan kira aku hanya akan diam saja menghadapi setan sepertimu. Kau yang mulai maka jangan salahkan aku jika aku bertindak seperti yang kaulakukan!

“Ya, siapa yang kau sebut setan narsis berkepala besar, hah?”

“Tentu saja kau, pabo! Apakah ada orang lain disini yang pantas menyandang gelar itu selain dirimu? Sebuah keberuntungan katamu? Apakah bola basket yang kulempar kembali padamu tempo hari melukai otakmu?”

           “Mwo?”

Ah..ahgasshi..lebih baik kita segera kem. . .”

“Kau kembali saja terlebih dahulu, ahjusshi! Jangan sampai kau terkena virus gila dari setan berkepala besar ini!” potongku pada sosok pengasuhku tersebut yang kini tampak khawatir ditengah perdebatanku dengan Kyuhyun.

Mworago?” ucap Kyuhyun yang kini kentara sekali sudah berhasil kubangkitkan amarahnya.

“Kau tuli ya? Bukankah aku sudah jelas mengatakannya? Seharusnya kaulah yang harus pergi ke klinik THT, Tuan labil! Dan sebagai saran sebaiknya kau mampir juga ke psikiater jiwa setelahnya. Penyakit narsis pada dirimu kurasa sudah sampai pada stadium akhir. Kau harus segera mengobatinya, karena tentu saja memalukan sekali bukan jika aku harus memiliki seorang saudara kembar yang memiliki kelainan jiwa sepertimu! Apalagi. . .”

“YAK, LEE HEYNA!”

“MWO!”.

          “Neo, kau sudah menguji kesabaranku! Lihat saja, aku ti. . .”

         “Mwo, apa yang akan kaulakukan? Memukulku? Mencakarku? Mejambakku? Menenda. . .”

“Memelukmu!” ucap Kyuhyun seraya merengkuh tubuhku dan secepat kilat melingkarkan kedua lengannya dipingangku dengan erat.

“YAK, CHO KYUHYUN NEO MICHESSEO! CEPAT LEPASKAN AK. .”

         “Wae, apakah tidak boleh jika aku memeluk saudara kembarku?”

          “A..ahgasshi, Tuan muda kumohon berhen. . .”

“Yak, Cho Kyuhyun kuberi waktu tiga detik bagimu. Jika kau tidak melepaskanku maka aku ak. .”

Mwo? Menjambak dan mengigitku kembali? Kau tidak akan bisa melakukannya selama kedua lenganku berada dalam dekapanku, Nona lab ARRRRRRRRRRRGGGGGGGGGHHHHHHHHHH!” TERIAK Kyuhyun kesakitan saat dengan sekuat tenaga kuinjak kakinya. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, secepat kilat kedua tanganku segera menyambar rambut hitam Kyuhyun.

“Kau fikir aku terlalu lemah untuk bisa mengalahkanmu, hah! Kau fikir karena kau saudara kembarku lantas kau bisa seenaknya berlaku sesukamu! Termasuk memelukku!” umpatku seraya menarik kuat-kuat gumpalan rambut Kyuhyun dalam gengamanku.

“AAAAAARRRRRGGGGHHHH! YAK LEE HEYNA SINGKIRKAN TANGANMU DARI RAMBUTKU ATAU AKU AK. …..AAAAAARRRRGGGHHHHH!”

A..ahgasshi, Tuan muda! Kumohon jangan berkelahi, jika Tuan dan Nyonya ta. . .”

“MWO, APA YANG AKAN KAU LAKUKAN HAH! KAU KIRA AKU TAKUT DEN. .ARRRGGGGGHHHHHHHHHHHHHH! CHO KYUHYUN BERHENTI MENARIK RAMBUTKU! ARRRRGGGGGGGHHHHHH”

“SHIREO! RASAKAN PEMBALASANKU! LEE HEYNA TAMATLAH RIWA…. ARRRRRRRRRRRGGGHHHHHHHHHHHHHHHH! KEPALAKU! JANGAN GIGIT KEPALAKU AARRRRRRRGGGGGGGGGGGGGGGHHHHH!”

Ahgasshi, Tuan muda to. . .”

“NA-YA!”

Aku segera menghentikan aksi balas dendamku saat sebuah seruan tegas menampar daun telingaku. Tampak eomma, appa dan Jaeha ahjusshi tengah berjalan menghampiriku dan Kyuhyun dengan wajah terkejut.

“Apa yang kau lakukan? Tidak bisakah kau bertingkah lebih dewasa selayaknya seorang kakak pada adikmu?” ucap eomma seraya menatap heran padaku.

          “E..eomma..ini tidak seper. . .”

Mwo? Adik? Nugu? Apakah yang dimaksud adik adalah….?” sahut Kyuhyun memotong ucapanku.

“Aku? Adik?” lanjutnya.

Ne, secara urutan kelahiran dan informasi yang kami peoleh dari dokter yang membantu proses persalinan mengatakan jika kau adalah adik dan Heyna adalah kakak kembarmu.” jelas eomma. Kutatap sosok Kyuhyun yang saat ini tampak sangat syok. Cih, berlebihan sekali!

         “Waeyo?” tanya eomma pada Kyuhyun.

A…ani. .”

“Kyuhyun-ah, apa yang baru saja kau lakukan? Apakah kau sebegitu senangnya memiliki saudara kembar hingga tak tahan untuk segera bercanda dengannya?” sahut Jaeha ahjusshi seraya tersenyum geli pada Kyuhyun, dan detik berikutnya ia mengedipkan mata kirinya padaku. Kutarik sudut-sudut bibirku hingga membentuk senyuman untuk membalas kedipan mata Jaeha ahjusshi.

“Sudahlah, lebih baik kita lanjutkan obrolan kita dimeja makan.” ucap appa seraya menepuk pundak Jaeha ahjusshi. Detik berikutnya kami segera berbalik dan melangkah menuju tempat dimana malam ini kami akan menyelengarakan makan malam bersama setelah lebih dari 2 tahun hal tersebut tidak pernah terjadi lagi dirumah ini.

“Na-ya, ikut eomma sebentar?”

Kembali kubalikkan tubuhku, saat suara pelan eomma menerobos lubang telingaku. Tanpa mengungkapkan persetujuanku, segera kuikuti langkah kaki tegas dihadapanku.

******************

“Apa yang kau lakukan?” ucap eomma begitu pintu kayu besar dibelakangku tertutup.

“E..eomma aku hanya. . .”

“Sudahlah, eomma tidak akan mempermasalahkan perilaku kekanakanmu beberapa saat lalu. Sekarang dengarkan baik-baik. Eomma harap kau bisa bersikap lebih dewasa. Bertingkahlah selayaknya seorang kakak dan menjaga adikmu. Buang jauh-jauh sikap egoismu dan pastikan kau tidak mengulang kesalahan yang sama.”

Aku hanya bisa berdiri dengan kepala tertunduk dan diam mendengar segala kalimat yang terlontar dari mulut ibu kandungku.

Eomma mohon, jangan mengacaukan segala rencana serta harapan eomma dan appa dengan keegoisanmu seperti dahulu. Kau tahu, sebuah keajaiban bagi eomma dan appa karena kami masih memiliki Kyuhyun. Karena itu, bertingkahlah seperti seharusnya dan jangan mencari masalah. Karena dengan begitu paling tidak kau dapat menebus sedikit kesalahanmu.”

Kugigit ujung bibirku sekuat tenaga untuk menahan air mata dan rasa sakit dalam dadaku.

Eomma, naega. . .”

“Sudahlah, kurasa tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi. Instropeksi dirimu sejenak dan segera menyusulah ke kebun untuk makan malam.” potong eomma. Tanpa berkata apapun lagi, sosok wanita yang sudah melahirkanku tersebut segera melangkah keluar.

Kutatap pintu kayu besar dihadapanku yang baru saja tertutup. Seperti sebuah jawaban dari apa yang hampir saja kulontarkan dari mulutku.

Eomma, naega aniya. . .jeongmal naega aniya. Bukan aku. . .bukan aku yang melakukannya. .mengapa kalian tidak mempercayaiku?” lirihku. Kembali kugigit ujung bibirku untuk menahan air mata yang hampir merebak keluar dari kedua bola mataku, namun percuma dapat kurasakan aliran air pelan yang tumpah di kedua pipiku.

Oppa, what should I do. . . .”

*************

 

Kutatap sosok eomma dan appa yang kini tengah tertawa bahagia dari jendela kamarku. Untuk pertama kalinya, setelah 2 tahun lamanya hari ini aku bisa melihat gelak tawa kembali mewarnai bangunan besar yang sudah kuhuni hampir 18 tahun ini.

Tok. . .tok. . .

“Masuklah!” ucapku merespon ketukan di pintu kamarku.

Ahgasshi, Tuan dan Nyonya menyuruh anda untuk segera turun dan makan malam bersama di kebun.”

Untuk beberapa saat aku hanya terdiam dan tetap berdiri menatap sosok kedua orang tuaku yang kini tengah bercanda dengan namja yang mereka katakan sebagai adik kembarku.

“Ahgasshi. . .”

“Jinwoon ahjusshi, kau tahu rasanya aku merasa seperti melihat ramalan masa depan.” potongku.

“Maksud anda?”

“Lihatlah disana, eomma, appa mereka tersenyum bahagia dengan Kyuhyun yang mampu mengundang gelak tawa mereka dengan segala aksi bodohnya. Dan tentu saja, aku tidak termasuk didalamnya.”

Ahgasshi, anda jangan berkata seperti itu. Saya yakin an. . .”

Aniyo, jangan membohongiku. Na, aku tahu apa yang terjadi pada diriku ahjusshi. Dan apa yang kulihat sekarang adalah potret masa depan keluarga ini. Segalanya akan kembali berjalan normal. Tidak akan lagi ada pandangan kebencian ataupun perasaan bersalah. Dan, tentu saja tidak akan ada lagi seorang gadis pembawa sial sepertiku.”

“Ahgasshi, kumohon jangan berfikir seperti itu! Anda bukan lah pembawa si. .”

Arasseo, aku sudah hapal dengan apa yang akan kau katakan. Kekekekkeeke. . .”

“Ahgasshi. . .”

“Tapi, kurasa hari ini Tuhan mengabulkan salah satu harapanku. Harapan dimana aku bisa melihat senyum dan gelak tawa eomma dan appa, meskipun bukan karena aku. Tapi, paling tidak aku bisa merasa tenang karena kini mereka sudah mendapatkan kembali mimpi serta harapan mereka.” ucapku.

“Ahgasshi. . .”

“Ne? Kenapa dari tadi kau memangilku terus menerus? Apakah baterai di tubuh ahjusshi sudah hampir habis hingga ahjusshi tidak mampu mengeluarkan kosa kata lain selain ahgasshi?” balasku seraya tersenyum nakal pada sosok pengasuh merangkap pengawal pribadiku tersebut.

“Kau tak perlu khawatir, ahjusshi! Na, gwenchana! Understand?”

Seulas senyum segera merekah diwajah laki-laki dihadapanku. Seakan mengerti dengan sinyal yang kuberikan padanya untuk tidak mengatakan apapun lagi karena jika ia mengatakan sesuatu maka aku tidak akan sanggup lagi menahan air mata yang hampir menetes dari kedua bola mataku.

“Ne, algesumnida!”

Aigooo, kurasa aku sudah merasa lapar. Kajja, ahjusshi!”

***************

 

December, 18th 2014 at Jeju International Highschool. . .

“YAK, LEE HEYNAAAAAAAAAAAA!”

Aku segera terlonjak dari posisiku saat teriakan keras menerpa gendang telingaku.

“YAK, HWANG JIHYO! NEO MICHIESSO? KAU MAU MEMBUAT SAHABATMU YANG PALING CANTIK INI TULI?” seruku seraya mengosok-gosok lubang telingaku yang terasa sakit akibat serangan mendadak dari miss paparazzi disekolahku tersebut.

“Ya, apakah karena selalu berdebat dengan setan narsis itu maka sebagian virus narsisnya berpindah dikepalamu? Sejak kapan kau mendeklarasikan dirimu sebagai yeoja yang paling cantik, hah?”

“Aish, tidak bisakah kau sedikit memuji sahabatmu?”

“Aku wartawan sekolah, Na-ya. Dari situ seharusnya kau tahu bahwa pendapat serta ungkapan yang keluar dari mulutku haruslah sesuai fakta. Jadi, mana mungkin jika aku harus mengatakan bahwa sahabatku, sang queen of evil adalah yeoja tercantik disaat fakta mengatakan bahwa kau sama sekali tidak can. .. . “

*Pletakkkk. . .

“Yak, kenapa kau memukulku!” rintih Jihyo seraya mengusap-usap puncak kepalanya.

“Sudah jelaskan, untuk mengembalikan jiwamu yang beberapa saat lalu terbang entah kemana.” jawabku seraya melangkah menuju bangkuku. Kuedarkan pandanganku ke sekeliling ruang kelasku yang saat ini hanya berisi dua siswi. Aku dan Jihyo.

“Ya, bukan jiwaku yang sedang terbang entah kemana. Justru kau, Na-ya! Kau fikir sudah berapa kali tadi aku memangilmu?”

“Kau memanggilku?”

“Ya, sebenarnya apa yang terjadi padamu? Kenapa sejak pagi kau tampak lesu dan sering melamun? Apakah kau sedang memiliki masalah?” tanya Jihyo yang kini sudah duduk berhadapan denganku dengan sebuah meja sebagai pemisahnya.

Aniyo, aku tidak memiliki masalah.”

“Ck, kau tidak bisa membohongi sahabat baikmu ini chingu-ya! Ppali katakan saja, aku pasti akan mendengarkanmu.” paksa Jihyo. Kutarik kedua sudut bibirku merespon pertanyaan sahabat baikku tersebut.

Jeongmal aniyo uri chingu, ah kecuali masalah dimana aku bisa membuat setan narsis berkepala besar itu bertekuk lutut padaku!”

“Ck it’s okay jika kau belum mau menceritakannya, aku tidak akan memaksamu lagi. Dan ngomong-ngomong bukankah sebentar lagi natal? Apakah kau sudah membeli bingkisan natal?”

“Belum, apakah kau sudah membelinya? Ah, benar hampir saja aku lupa. Apakah kau melihat pohon natal besar didepan Jeju’s Mall?” jawabku.

“Ah, maksudmu pohon natal raksasa pengabul harapan itu?” balas Jihyo. Kuanggukan kepalaku dengan antusias.

“Ne, kau melihatnya?”

Keuromyo, aku juga sudah ikut berpartisipasi dengan mengantungkan kartu harapanku. Apakah kau juga ikut mengantungkan harapanmu disana?”

Ne, beberapa hari lalu setelah kita berpisah di kedai ddokbokki Misun ahjumma. Lalu harapan apa yang kau gantungkan disana?” tanyaku.

“Pertama-tama aku meminta agar appa-ku bisa segera mendapatkan promosi dikantornya, lalu aku juga memohon agar toko kue eomma sukses, dan kemudian aku meminta agar tahun depan aku bisa pergi berlibur ke hokaido, lalu…”

“Yak, kenapa kau meminta banyak sekali!” potongku seraya tersenyum geli.

“Ah, benar aku juga meminta agar sahabatku yang galak ini dan aku sendiri bisa segera bertemu dengan siapapun namja yang ditakdirkan bagi kita, dan setelah itu maka kita bisa mengadakan double date. Bagaimana? Harapan yang kutulis benar-benar keren bukan? Kau tahu ak. . . .”

Aku hanya terdiam menatap sosok sahabat baikku tersebut yang kini tampak bahagia dan bebas. Gelak tawa dan senyum ramah selalu terpancar dari sosok mungilnya. Dia akan segera berlagak seperti badut jika dirasanya aku tengah memerlukan suatu penghiburan, dan akan berlagak seperti seorang nenek-nenek cerewet saat dirasanya aku telah melangkah pada jalan yang salah. Bagiku, dia adalah salah satu hal yang paling berharga didalam hidupku, dan karena itu hingga saat ini aku selalu tampak baik-baik saja dihadapannya dan menyembunyikan rapat-rapat apa yang kualami dan kurasakan semenjak kepergian Heyjin oppa. Karena tentu saja, aku tidak mau jika orang yang sudah sangat baik padaku harus ikut menangung beban serta penderitaanku. Bagiku, cukup hanya aku mengetahui keberadaannya yang akan selalu tersenyum dan mengengam jemari-jemariku, karena dengan begitu aku merasa bahwa didunia ini masih ada sosok yang menyadari keberadaanku.

“Ah, lalu bagaimana denganmu? Apa yang kau tulis dikartu harapanmu?”

Na? Aku hanya menulis agar kedua bola mataku bisa terbuka setiap pagi dan bisa selalu tersenyum.” ucapku singkat. Dapat kulihat kedua bola mata Jihyo menyipit.

“Ya, kenapa harapanmu sederhana sekali?”

Wae? Apanya yang sederhana? Apakah kau tidak ingin bisa membuka kedua bola matamu setiap hari?” balasku.

“Ani, tapi..aish bagaimana mengatakannya. Ah sudahlah, kurasa memang harapan seperti itulah yang patut kau minta karena tentu saja, segala hal yang kau inginkan pastilah dapat kau miliki mengingat seperti apa status keluargamu.”

“Ya, nona Hwang apa yang kau katakan?”

“Sudah jelas bukan, kau adalah putri satu-satunya konglomerat kaya di Jeju ini. Dan bukan hanya itu, kau bahkan adalah ahli waris mereka. Jadi, bukan hal sulit bagimu untuk mendapatkan setiap hal ataupun materi yang kau inginkan. Termasuk seorang namja. Kurasa banyak namja yang akan mengantri untuk menjadi pacarmu. Sedangkan bagiku, aku selalu harus selalu bersabar dan mengalah dari adik-adikku dan harus berusaha sendiri jika menginginkan sesuatu.”

Aku tersenyum melihat sosok Jihyo yang kini tampak manyun.

“Jihyo-ya, apakah menurutmu segala hal yang besar dan tampak hebat serta berkilau saat kau memandangnya adalah hal yang bagus?”

Aniyo, tapi tidak untuk keluargamu Na-ya. Bukankah semua orang di Jeju tahu jika keluargamu adalah keluarga besar yang memiliki reputasi baik dimata masyarakat selama ini. Dari kakekmu hingga appa dan eomma-mu mereka semua adalah seorang dermawan dan sangat ramah meskipun mereka menutup diri dari asumsi publik. Bagi kebanyakan orang, sosok kakek serta kedua orang tuamu selalu menjadi panutan bagi setiap orang di Jeju yang mengetahuinya. Dan aku tidak akan menyangkalnya karena aku bisa melihat dengan jelas keturunan seperti apa yang mereka hasilkan melalui dirimu dan Heyjin oppa. Kau, tidak seperti anak konglomerat lainnya. Kau mau bergaul dengan siapa saja dan sama sekali tidak pernah memamerkan kekayaanmu. Bahkan, kau selalu aktif membantu acara sosial dan sama sekali tidak malu jika harus bergumul dengan sampah, ataupun air sungai yang kotor, Kau berbeda Na-ya. Kau dan keluargamu memang berbeda.”

Kembali aku tersenyum mendengar celoteh yeoja dengan kepang dua dihadapanku.

“Berbeda? Ne, kami memang berbeda. Apakah kau tahu dimana letak perbedaan keluargaku dengan keluargamu? Bagiku, kau dan keluargamu tampak seperti bintang. Meskipun kalian tampak kecil, tapi kalian dapat memancarkan sendiri cahaya terang dari tubuh kalian yang mampu menerangi kalian disaat kegelapan menyerang.” ucapku. Kutatap sejenak raut Jihyo yang tampak binggung mendengar penjelasanku tersebut.

“Sedangkan keluargaku, tampak seperti sebuah bulan.” lanjutku. “Just like a moon. Tampak besar dan berkilauan di mata setiap makhluk yang menatapnya dari kejauhan. Tapi, pada kenyataannya segalanya hanyalah sebuah kamuflase. Bersinar karena pantulan cahaya sang matahari dan berlindung pada kegelapan malam untuk menyembunyikan lubang-lubang dalam disetiap bagian tubuhnya.”

Kembali kutarik sudut-sudut bibirku dan tersenyum simpul seraya menatap sosok Jihyo yang masih terlihat binggung mencerna kalimat yang baru saja terlontar dari mulutku.

“Apa maksudmu? Kenapa aku bintang dan kau bulan? Dan apa maksudmu dengan.. .”

“Maksudku, saat ini cacing-cacing dalam perutku sudah mulai berdemo karena dari tadi pagi aku belum memberi makan mereka! Kajja, menu kantin hari ini ramen neraka spesial Dongjun ahjusshi! Jangan sampai setan narsis berkepala besar itu mengambil alih semua kursi dikantin!” ucapku seraya melangkah keluar dan meninggalkan sosok Jihyo yang masih tampak kebingungan.

“Ya, Lee Heyna tunggu aku!”

*Heyna Pov End*

 

December, 20th 2014 at Heyna House. . .

*Kyuhyun Pov*

            “Ini kamarmu, apakah kau suka? Apakah cocok dengan seleramu? Jika merasa kurang nyaman eomma akan menyuruh pelayan meng. . .”

Animida. Ini sudah sangat bagus.” potongku pada sosok wanita dewasa yang beberapa hari lalu kuketahui sebagai ibu kandungku.

“Baguslah, dan barang-barangmu sudah eomma pindahkan pagi tadi.”

Aku hanya bisa tersenyum merespon ucapan ibu kandungku tersebut. Jujur saja, rasanya terlalu cepat bagiku untuk masuk kedalam keluarga asliku. Dan tentu saja, masih terlalu dini bagiku untuk bisa beradaptasi dengan kehidupan baruku ini. Jika bukan karena Jaeha aboeji akan mengadakan penelitian di Inggris maka kurasa aku akan meminta tinggal dengannya lebih lama sedikit.

“Ah, eommonim dimana Heyna? Kenapa aku tidak melihatnya?” ucapku untuk mencairkan kesunyian diantara kami beberapa detik lalu.

“Entahlah, anak itu baru akan pulang kerumah setiap pukul 5 sore sesuai aturan kedisiplinan yang eomma dan appa-mu tanamkan dirumah ini. Tapi, jika sesuatu hal mengaharuskanmu pulang terlambat kau bisa memberitahu eomma. Eomma pasti akan mempertimbangkannya. Aratchi?

Kembali aku hanya mengangguk dan tersenyum merespon penjelasan ibuku.

“Kyuhyun-ah, ada yang ingin eomma tanyakan padamu.”

Waeyo?”

“Apakah kau merasa tidak senang tinggal bersama kami? Apakah. .”

A..animida. Aku bukannya merasa tidak senang, aku hanya merasa perlu beradaptasi. Bukankah selalu ada waktu penyesuaian disetiap lingkungan yang baru?”

Senyum lembut terpatri jelas diwajah ibu kandungku tersebut. Sebuah senyuman lembut yang entah mengapa segera mengingatkanku akan kehangatan mendiang eomma-ku.

“Ne, eomma tahu. Karena itu, eomma akan berusaha lebih sabar lagi untuk menunggumu. Hingga suatu saat nanti kau bisa memanggilku dengan sebutan eomma. Bukan eommonim.”

“Ah, mianhamnida. .”

“Aniyo, kau tidak perlu meminta maaf Kyuhyun-ah. Eomma tahu, pasti sulit bagimu untuk menganggapku sebagai ibu kandungmu seperti sosok Jaerim. Tapi, eomma selalu tahu jika hatimu pasti akan segera terbuka bagiku karena aku bisa melihat sinar mata serta kebaikan hati Jaerim yang terpancar pada dirimu. Sinar mata serta kenaikan hati yang selalu merengkuhku disaat aku membutuhkan bantuan yang sekarang ada pada dirimu.”

“Apakah eommonim sangat mengenal eomma-ku?”

“Ne, tentu saja. Kami berdua seperti saudara kandung. Karena itulah dulu eomma memberikanmu padanya untuk mengobati rasa kehilangannya dan ketidakmampuan-nya untuk memiliki keturunan lagi. Dan karena eomma juga yakin bahwa kau akan aman dan tumbuh baik jika bersamanya.” jelas wanita dihadapanku.

“Kyuhyun-ah, kami..maksudku eomma dan appa sangat bersyukur karena kami masih memilikimu. Bagi kami, kau adalah harapan terakhir kami. Harapan yang muncul kembali setelah hampir 2 tahun lamanya kami terpuruk. Karena itu, jangan pernah mengecewakan kami. Hanya dikedua pundakmu inilah kami menaruh harapan serta cita-cita kami. Jadi, kumohon tetaplah berada disisi eomma dan appa. Aratchi?”

Aku terdiam mendengar kalimat yang baru saja terlontar dari mulut ibu kandungku tersebut. Apa maksudnya? Mengapa aku adalah harapan terakhirnya? Bukankah mereka juga memiliki Heyna?

“Baiklah, eomma harus pergi kedapur sekarang. Malam ini untuk merayakan kedatanganmu ke rumah ini, eomma akan memasakan makanan kesuakaanmu. Jajangmyun spesial seperti yang biasa dibuatkan Jaerim untukmu, ne?”

Ne, gomapseumnida!” jawabku singkat.

“Baiklah, eomma akan segera memangilmu begitu semuanya sudah siap. Ah, dan jangan lupa periksa kembali barang-barang milikmu jika ada yang tidak sesuai atau kau memerlukan hal lainnya. Kau tinggal suruh saja pelayan. Aratchi?

Kembali kuanggukan kepalaku. Setelah mengacak singkat puncak kepalaku, eommonim segera beranjak dari hadapanku dan melangkah keluar.

“Whoa, besar sekali. .dan ini..daebak psp keluaran terbaru. Padahal aku baru saja akan memintanya pada Jaeha aboeji. Benar-benar, segala hal selalu datang padaku bahkan sebelum aku memintanya seakan kata harapan benar-benar tidak akan pernah ada dalam kamus hidupku.”

Kurebahkan tubuhku diatas ranjang bersprei biru dalam ruang yang mulai hari ini menjadi kamarku. Kukeluarkan Iphone putih milikku dan segera mengetikan beberapa kalimat diatas layarnya.

To: Jaeha_Aboeji

            Aboeji, apa yang sedang kau lakukan? Apakah kau masih dirumah sakit?

Baru beberapa detik pesanku terkirim. Iphone dalam genggamanku bergetar dua kali sebagai tanda jika ada sebuah pesan yang masuk.

From: Jaeha_Aboeji

            Apakah kau merindukan aboeji? Kekkekeke

To: Jaeha_Aboeji

Ck, apakah kau senang berpisah denganku? Jadi apakah kau masih dirumah sakit dan berusaha mencuri pandang dokter ahli bedah jantung yang kau bicarakan tempo hari lalu? Dan kapan kau akan berangkat ke inggris?

From: Jaeha_Aboeji

Ne, aku masih dirumah sakit. Dan jangan sembarangan bicara anak nakal! Bukan aboeji yang mencuri pandang, tapi Nona Kim lah yang berusaha mencuri pandang padaku! Dan bicara soal Inggris, 2 hari lagi aboeji akan terbang kesana. Jadi, jaga dirimu baik-baik dan jangan mencari masalah, aratchi? Ah dan satu hal lagi, bisakah kau berjanji satu hal padaku?

To: Jaeha_Aboeji.

            Wae? Apa yang aboeji mau?

            From: Jaeha_Aboeji  

Kyuhyun-ah, apapun yang terjadi jaga dan lindungi Heyna. Karena kurasa hanya kaulah yang dapat mengubah keadaan saat ini. Aratchi, berjanjilah bahwa aboeji bisa mengandalkanmu

Kedua alisku sgeera mengernyit setelah membaca pesan yang baru saja kuterima.” Apa maksud aboeji? Kenapa aku harus menjaga Heyna? Dan apa maksudnya dengan hanya aku yang bisa mengubah keadaan? Dan kenapa pula ia sangat mengkhawatirkan Heyna?”

Kembali kugerakan jemariku diatas layar ponsel.

To: Jaeha_Aboeji.

Apa maksud aboeji? Kenapa aku harus melindunginya? Dan apa maksud aboeji dengan hanya aku yang bisa mengubah keadaan?

            From: Jaeha_Aboeji  

Cepat atau lambat kau pasti akan segera mengetahuinya, karena itu berjanjilah pada aboeji jika kau akan melakukan apa yang kuminta tadi pada saat itu. Baiklah, aboeji harus pergi ke ruang operasi. Baik-baiklah dan jangan selalu mencari masalah di sekolah! Aratchi!”

“Aneh sekali.” gumamku. “Kurasa banyak hal yang tidak kuketahui dikeluarga ini.” lanjutku seraya mengedarkan pandanganku keseluruh sudut kamar.

“Membosankan sekali, apa yang harus kulakukan? Kenapa juga yeoja pendek berdahi lebar itu belum pulang? Paling tidak jika ia ada aku bisa mengerjainya.” gumamku kembali. Detik berikutnya, aku segera bangkit dan melangkah keluar.

Kembali kuedarkan pandanganku ke setiap sudut bangunan yang kini menjadi rumah bagiku. Dapat kulihat kemewahan tersaji disetiap sudutnya. Tepat ketika kakiku hendak beranjak dari depan pintu kamar, sudut kanan bibirku terangkat saat kedua bola mataku menangkap sosok yeoja yang kini tengah melangkah dengan wajah tertunduk dan jemari yang bergerak lincah diatas layar ponselnya.

Annyeong, nae sista!” sapaku yang tentu saja membuat yeoja berdahi lebar dihadapanku mendongak dan tampak terkejut.

“YAK, apa yang kau lakukan disini?” seru Heyna seraya menyipitkan matanya.

“Pabo, tentu saja melakukan apa yang setiap hari selalu kau lakukan! “

“Apa maksudmu?”

“Apa maksudku? Tentu saja pulang kerumahku untuk makan, tidur dan beraktivitas! Apakah kau benar-benar sebegitu bodohnya hingga tidak bisa menyimpulkan sendiri setiap ucapan yang dilontarkan oleh orang lain?” jelasku seraya mengeleng-gelengkan kepalaku.

Mworago? YAK!”

“Mwo? Apakah kau terlalu senang karena mulai sekarang akan tinggal serumah dengan namja super tampan dan keren sepertiku hingga sedari tadi kau berteriak-teriak kegirangan seperti itu? Kekekekeke!” potongku segera, dapat kulihat rona marah segera menyembul dikedua pipi yeoja yang tak lain adalah saudara kembarku tersebut.

Mworago? Kyuhyun-ah, apakah kau tahu sampai sekarang aku masih terkagum-kagum denganmu? Bagaimana mungkin ada makhluk bumi yang memiliki kadar narsis pangkat tak terhingga sepertimu? Apakah mungkin karena kepalamu yang super besar itu hingga kau memiliki ruang yang lebih banyak untuk merekam halusinasi gila lebih banyak daripada kepala manusia selayaknya? Kau tahu, kenarsisanmu ini kurasa pantas tercatat di buku rekor hal luar biasa sedunia!” ucap Heyna seraya ikut mengeleng-gelengkan kepalanya. Ck, yeoja ini benar-benar pantang menyerah dan selalu membalik kata-kataku. Benar-benar rival yang kuat. Tapi bukan namaku Cho Kyuhyun jika aku harus kalah dengan yeoja berdahi lebar sepertimu meskipun kau adalah saudara kembarku.

“Begitukah? Dan asal kau tahu, sama sepertimu, sampai sekarang aku juga masih terkagum-kagum kenapa ada makhluk bumi yang dahinya sangat lebar sepertimu? Ckkckckc, kurasa lebar dahimu ini juga pantas dicatat di buku rekor dunia sebagai dahi terlebar dan teraneh yang pernah dimiliki manusia!” balasku yang tentu saja segera membuat yeoja dihadapanku berseru kesal.

“YAK, apa katamu! Neo. . .”

Ahgasshi, kenapa anda belum berganti pakaian? Waktu kita tinggal 30 menit lagi.” potong seorang laki-laki dewasa yang kuketahui selalu mengikuti Heyna.

Jinwoon ahjusshi kenapa kau tidak memberitahuku jika setan narsis berkepala besar ini mulai hari ini tinggal disini? Jika aku tahu terlebih dahulu tentu saja tadi aku akan lebih berhati-hati agar tidak berpapasan dengannya.” sembur Heyna yang hanya dibalas senyuman lembut sosok disampingnya.

“Ya, siapa yang kau sebut setan narsis berkepala besar, hah? Dan maaf mengecewakanmu, kurasa meskipun kau sudah berhati-hati kau tidak akan bisa lepas dariku, Nona labil. Kau lihat, kamarku tepat berada disebelahmu.” ucapku yang segera membuat kedua bola mata Heyna membulat.

“Mworago? Ahjusshi, kenapa setan itu harus tidur disamping kamarku?” tanya Heyna dengan ekspresi kesal pada Jinwoon.

Mianhamnida ahgasshi, semuanya atas perintah Nyonya Eunji.”

Mwo? Aish, kenapa eomma membiarkan setan itu menempati kamar disampingku. Aish!” gerutu Heyna.

Wae, apakah kau takut jika aku mendengar dengkuranmu? Atau bahkan suara kentutmu? ”

“YAK! CHO KYUHYUN!”

“Mwo?” balasku tak mau kalah. Kutatap yeoja yang kini tengah megepalkan kedua jemarinya.

“Awas saja jika kau mengintipku atau melakukan hal kurang ajar lainnya! Kupastikan semua rambut dikepalamu akan lenyap tanpa sisa!” rutuk Heyna seraya memutar kenop pintu kamarnya.

“Hanya dalam mimpimu, Nona labil!” balasku seraya terkekeh.

“Jinwoon ahjusshi, jangan pergi kemana-mana dan tunggu aku diluar! Pastikan jika setan narsis itu tidak berusaha melubangi pintu kamarku!”

Algeseumnida, ahgasshi.” ucap Jinwoon seraya membungkuk pelan. Setelah sekali lagi memelototiku, Heyna segera menutup keras pintu kamarnya.

“Apakah dia selalu seperti itu?” ucapku pada sosok laki-laki dihadapanku.

Senyum lembut segera terbentuk diwajah laki-laki yang beberapa rambutnya mulai memutih tersebut.

Animida, Heyna ahgasshi adalah gadis yang menyenangkan jika anda sudah mengenalnya dekat. Dan saya rasa ada baiknya jika anda berdua mulai bersahabat. Bukankah kalian adalah saudara kembar?”

“Menyenangkan? Kau benar dia memang menyenangkan sampai-sampai dia menghadiahkan semangkuk ramen dikepalaku saat pertama kali menyapaku! Dan untuk masalah kembar ini, kau tahu aku sama sekali belum bisa mempercayainya.” balasku.

“Meskipun begitu tidak ada salahnya jika anda berdua mencoba untuk lebih dekat satu sama lain. Entah mengapa saya yakin jika Tuan muda mampu membuat Heyna ahgasshi kembali bersemangat dari keterpurukannya.”

Mwo? Apa maksudmu?”

Animida, saya harap Tuan muda dan ahgasshi dapat bersahabat. Karena. . .”

“YAK, kenapa setan ini masih disini! Ahjusshi apa kau tidak takut tertular virus narsisnya?” potong Heyna yang baru saja muncul dari balik pintu kamarnya.

“Mwo?”

“Aish, kajja ahjusshi lebih baik kita jauh-jauh darinya atau kita terpaksa harus pergi ke psikiater jiwa untuk membersihkan virus narsis yang ia tularkan!” potong heyna kembali seraya menarik Jinwoon dan melangkah meninggalkanku setelah menjulurkan lidahnya padaku.

“YAK, LEE HEYNA MATI KAUUUUUUUU!”

*******************

December, 23th 2014 at Jeju International Highschool . . .

            “YAK CHO KYUHYUN BERHENTI DAN KEMBALIKAN TASKU!”

Tanpa mengubris teriakan ganas dibelakangku, aku segera berlari kencang menuju kebun belakang sekolah seraya melambai-lambaikan ransel putih dalam gengamanku.

“Ambil saja jika kau bisa, Nona labil!” balasku.Dan tanpa menunggu lama, segera kulemparkan ransel dalam gengamanku kedalam danau dikebun belakang sekolah.

“Tasku…YAK APA YANG KAU LAKUKAN! APAKAH KAU TAHU DIDALAMNYA ADA. . .AISH! AKU TIDAK AKAN MELEPASKANMU!”

“Ups, sorry, aku tidak sengaja. Kurasa tanganku licin.” Jawabku santai seraya tersenyum evil. Raut merah terpatri jelas diwajah Heyna. “Rasakan pembalasanku, nona labil! Siapa suruh kau berani mengusik singa sepertiku!” rutukku dalam hati.

Kuamati yeoja yang kini tampak mengedarkan pandangannya ke segala arah. Seakan mencari alat atau bantuan yang dapat ia gunakan untuk mengambil kembali ranselnya yang kini tengah mengapung ditengah danau.

Beberapa detik kemudian, ia segera berlari dan menarik perahu karet dipinggir danau yang memang disediakan pihak sekolah untuk dipergunakan bagi siswa. Tanpa berucap sedikitpun, ia segera melangkah ke atas perahu dengan hati-hati. Mendadak sebuah ide melintas dikepalaku. Perlahan aku masuk kedalam danau tanpa sepengetahuan yeoja labil tesebut dan menyelam mendekati perahunya.

“Tinggal sedikit lagi..kemarilah ransel!” gumam yeoja labil tersebut seraya mengapai-gapai ransel miliknya. Tepat disaat jemarinya berhasil meraih ransel miliknya. Aku segera keluar dari dalam air dan berteriak sangat kencang!

“WHOOOOOOOOOOOAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!”

“KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!”

*BYURRRRRR. . .

“HAHAHAAHHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA PABOOOOO! DASAR PENAKUT! AHAHAHAHAHAHAHAHAH!” tawaku meledak saat menyaksikan Heyna yang kini tercebur kedalam danau karena terkejut akan aksiku barusan.

“Kyu…bbllllppppppp……k..kyu…bbblllppppp…to………..”

Namun detik berikutnya kuhentikan tawaku saat kulihat kedua tangan Heyna tampak mengapai-gapai liar.

“Yak, apa yang kau lakukan? Apa kau sedang berakting dengan berpura-puRa tidak bisa berenang untuk menjebakku? Kau tidak bisa membohongiku, Nona labil! Aku tahu jika kau ahli dalam pelajaran olahraga jadi mana mung. . .”

“NA-YA! YAK APA YANG KAU LAKUKAN? KAU MAU MEMBUNUHNYA!”

Teriakan kencang segera memotong ucapanku. Tampak Jihyo berlari kencang dan segera menceburkan diri ke danau. Seakan mengerti dengan maksud perkataan Jihyo barusan, aku segera berenang menghampiri Heyna yang kini masih berusaha mengapai-gapaikan tangannya.

Kurengkuh segera tubuh saudara kembarku tersebut dan kembali berenang ke daratan.

“Uhuk..uhuk….uhuk…”

“YAK, NEO MICHISSEO! APA YANG KAU LAKUKAN DIDALAM DANAU?” seru Jihyo seraya memeriksa keadaan Heyna.

“DAN KAU, APA YANG KAU LAKUKAN? APAKAH SEBEGITU BENCINYA KAU PADA HEYNA HINGGA KAU BERENCANA MEMBUNUHNYA? APA KAU TAHU HEYNA TIDAK BISA BERENANG?”

“Yak, apa maksudmu? Aku tidak tahu jika ia tidak bisa berenang. Dan lagi. . .”

“Uhuk..uhuk…ranselku. .” ucap Heyna seraya mengedarkan pandangannya dengan nafas terengah-engah.

Mengikuti pandangannya, aku segera bangkit dan kembali berenag kedalam danau untuk mengambil ransel putih miliknya yang beberapa saat lalu kulemparkan.

“Ini!” ucapku singkat. Dengan raut serta kedua bola mata yang memerah. Heyna segera menyambar ransel miliknya dan mengeluarkan seluruh isi ranselnya yang tentu saja kini tampak basah. Diraihnya sebuah buku berwarna kuning yang tampak seperti diary.

“Basah. . .”

“Tentu saja semua barangmu basah, bukankah mereka baru saja ikut berenang didanau! Pabo!” timpalku. Entah mengapa kalimat kasar serta ejekan selalu keluar dari mulutku saat aku berhadapan dengan Heyna meskipun aku tahu tidak seharusnya aku bertindak demikian. Hanya saja, entah mengapa kurasa dengan cara berkomunikasi seperti itulah yang dapat membuat sosok yeoja dihadapanku tersebut terlihat hidup. Selama 3 hari tinggal bersamanya, ia selalu terlihat diam dan tidak banyak bicara ketika kami berada bersama kedua orang tua kami. Ia akan segera menghilang begitu makan malam selesai, dan sudah berangkat ketika aku hendak menyantap sarapan pagiku. Selain itu, ia selalu pulang pukul 5 sore padahal sekolah berakhir pukul 2 siang. Dan setahuku, ia sama sekali tidak mengikuti kegiatan ekstrakurikuler lainnya.

“Yak, Cho Kyhyun apakah kau benar-benar manusia? Tidak bisakah kau meminta maaf pada Heyna atas kelakuanmu dan malah mengatainya? Neo, jeongmal!”

“Jihyo-ya! Biarkan saja, lebih baik kita segera pergi dari sini!” potong Heyna seraya memasukan kembali semua barang miliknya kedalam ransel.

Waeyo, kenapa aku harus meminta maaf padanya. Bukankah teman pendekmu itu juga selalu membalas perbuatanku pada akhirnya. Dan lagi, Bukankah ia selamat dan barang-barangnya hanya basah.”

Mwo? Hanya basah katamu? Cho Kyuhyun, neo jinjja daebak!” ucap Heyna. Bukan tatapan marah yang kali ini tersirat diwajahnya, tapi entahlah aku merasa sepertinya yeoja dihadapanku hampir menangis. Tanpa berucap apapun lagi, Heyna dan Jihyo segera melangkah meninggalkanku.

*************

Kulangkahkan kakiku menyusuri jalanan Jeju, tanpa memperhatikan hiruk pikuk dihadapanku. Kedua bola mataku hanya terfokus pada satu titik. Pada sosok yeoja yang kini tengah berjalan dihadapanku. Tanpa sepengetahuan Heyna, aku mengikutinya setelah pulang sekolah.

Entah mengapa aku merasa penasaran dengan sosok saudara kembarku tersebut. Aku merasa apa yang kulihat pada dirinya selama ini bukanlah sosoknya yang sebenarnya. Pernah beberapa kali aku melihatnya tengah termenung seorang diri disekolah ataupun dirumah. Ia lebih sering menghabiskan harinya didalam kamar yang kuketahui sebagai kamar Lee Heyjin, kakakku dan Heyna.

Beberapa saat kemudian langkah kakiku terhenti saat kulihat sosok Heyna yang kini tampak menghentikan kakinya dan menatap suatu obyek yang lewat dihadapannya.

tumblr_lyz3hs5nwN1qijksmo1_500_thumb

Tampak dua orang anak kembar dengan baju sejenis melintas dihadapannya dengan bergandengan tangan.

Kulangkahkan kakiku mendekati sosok Heyna yang kini sudah beralih menuju taman dan duduk disalah satu bangku. Kedua bola matanya masih mengikuti gerakan obyek kembar yang kini tengah berlarian ditaman dengan ceria. Seulas senyum simpul merekah dikedua sudut bibirnya yang entah mengapa membuat jantungku berdebar dengan cara yang aneh.

Min_Hyo_Rin_070011

“Kenapa dengan jantungku? Aish. .” gerutuku seraya memukul dadaku. “Hegh…sebenarnya apa yang terjadi padamu dan apa yang tengah kau hadapi saat ini? Kenapa eommonim berkata bahwa aku adalah harapan terakhir mereka disaat mereka juga masih memilikimu. Dan kenapa Jaeha aboeji menyuruhku untuk menjagamu? Dan…kenapa kau selalu tampak seperti seseorang yang lain saat tengah sendiri? Apakah kau tahu kau benar-benar banyak memiliki misteri?”

Mengikuti tatapan matanya, kembali kuarahkan pandanganku menuju dua sosok bocah kembar yang kini tampak bermain ayunan.

“Saudara kembar ya, kenapa aku harus memiliki seorang saudara kembar?” gumam Heyna yang kini tampak tertunduk seraya menatap nanar sebuah buku kuning yang masih tampak basah dalam genggamannya.

“Nappeun namja, sekarang apa yang harus kulakukan dengan buku ini? Hampir semua tulisan didalamnya hilang karena terkena air.” rintih Heyna.

“Memangnya kenapa jika kita kembar?” ucapku seraya duduk disebelah Heyna. Raut terkejut segera menghiasi wajahnya.

“Annyeong, nae sista! Apakah kau masih menangisi bukumu yang basah? Cih kekanakan sekali, biar kutebak buku itu pasti berisi kumpulan puisi cinta konyolmu seperti yang pernah kau gantungkan di pohon natal di depan Jeju’s mall bukan? I’m I right?”

“Apa yang kau lakukan disini? Dan bagaimana kau tahu jika aku mengantungkan kartu harapan di pohon natal itu? Apakah kau mengikutiku?”

“Apa maksudmu, aku hanya kebetulan lewat dan tiba-tiba kedua bola mataku menangkap sosok yeoja yang sedang terpuruk dan karena merasa penasaran ku ambil saja kartu yang kau gantung. Dan, whoaaaa ternyata didalamnya berisi pesan cinta kekeekekek.” jawabku.

Mwo? Kau mengambilnya? Yak, Cho Kyuhyun cepat kembalikan kartu harapanku!”

Waeyo apakah aku tidak boleh melihat harapan apa yang ditulis saudara kembarku? Siapa tahu aku bisa membantumu agar harapan tersebut terkabul.”

Mworago? Yak, cepat kembalikan kartu harapan itu!”

“Ah mian, kurasa aku lupa dimana menaruhnya. Atau mungkin sudah ikut basah dan hancur saat seragamku masuk kedalam mesin cuc. . .”

*PLAKKKK. . .”

Kedua bola mataku segera membulat saat sebuah tamparan mendarat dipipi kananku.

Neo. . . Mworago? Saudara kembarku? Apakah sekarang kau bermaksud mengakuiku sebagai saudara kembarmu dan mengumumkan pada semua orang jika kau adalah putra Lee Shin setelah beberapa saat lalu kau merasa jijik karena harus memiliki ikatan darah denganku? Neo jeongmal daebak, Cho Kyuhyun!” sahut Heyna.

“Apakah bagimu kenyataan bahwa kita adalah saudara kembar suatu hal yang lucu? Dengan alasan tersebut berulang kali kau memperolokku. Mengambil dan merusak segala hal semaumu hanya karena kau adalah saudara kembarku tanpa memikirkan seberapa berartinya benda itu bagi seseorang yang kau katakan sebagai saudara kembarmu? Kau fikir kau siapa? Kenapa kau muncul dalam hidupku dan merusak segalanya?” lanjut Heyna. Entah mengapa aku hanya terdiam dan sama sekali tidak membalas tamparan dan ucapannya seperti biasa. Dapat kulihat semburat merah mulai bermunculan dikedua bola matanya.

“Kau tahu, selama hidupku aku selalu membuat harapan setiap hari. Dan dari sekian ratus harapan tersebut, aku sama sekali tidak pernah membuat harapan yang buruk. Tapi, kurasa tidak kali ini. Na, kuharap aku tidak pernah memiliki seorang saudara kembar! Neo, jangan pernah kembali muncul dihadapanku!”

Tanpa mengucapkan apapun lagi, Heyna segera bangkit dan melangkah meningalkanku. Kutatap punggung yeoja yang baru saja menghadiahiku dengan sebuah tamparan untuk pertama kalinya. Entah mengapa sebuah perasaan bersalah muncul dalam benakku.

Saudara kembar, ya? Memangnya apa yang salah jika kita kembar? Bukankah itu hal yang menyenangkan? Dengan begitu aku bisa mengerjaimu, memperolokmu ataupun mendiskriminasi ruang gerakmu lebih sering daripada yang sebelumnya dapat kulakukan. Tapi, entah mengapa sekarang separuh hatiku berkata yang sebaliknya. Apa yang terjadi denganku. . .” gumamku dalam hati.

Kembali kutatap sosok Heyna. Namun, detik berikutnya kedua bola mataku kembali membulat saat kulihat sosok Heyna yang kini tengah jatuh tersungkur diatas tanah.

“NA-YA!”

 

TBC.

 

 

 

Advertisements

40 thoughts on “{KyuHeyna_Story} HOPE #2 Twin’s? What Should I Do?

  1. heyna sabar yaa kau pasti kuat mengadapi segala cobaan ini, kyuhyun pasti bisa bantu mslh mu dan akan mungubah keterpurukan dan kesedihan menjadi harapan dan kebahagiaan.
    jadi sedih heynanya ga bs apa2, kalo aku jd dia pasti ga bakal sekuat itu. apa jgn2 heyna yg bukan anak kandungnya keluarga lee, masa dia diperlakuin kyk gitu? apa keluarganya emng lebih mengharapkan keturunan laki2 mangkanya heyna diperlakuin kyk gitu?

  2. huaaa…. butuh tisu
    Eomma nya kenapa jahat banget
    Kasian hyena nya
    ahhhhh makin penasarannnnn……

  3. Sumpah, aku benci, jengkel banget sama kyuhyun disini
    G punya prasaan banget ngrusak barang Heyna tanpa minta maaf,,
    Aku tunggu crita slanjutnya, jangan lama lama eonnie!!!
    Keep Writing!!

  4. Annyeonggg..
    Whoaaaa.. Thor Daebak..
    Ceritanya Penuh Misteri.. Bukan Cuma Kyuhyun Yang Dibuat Penasaran Tentang Heyna..
    Tapi Reader Jg Penasaran.. 😛

    Gak Sabar buat Next Story Minggu Ini..

    Thorrr..
    Gomapseumnida.. ^^

  5. Bingung mo comen apa v yg pasti bc part ni bikin nyesek
    T_T
    D part ni jg crtnya blm trgambar jls jd q g bsa tbak apa ug akn tjd slnjutnya
    (>_<)
    D tunggu next part n author fighting
    └(^o^)┘
    Btw author, kpn publish after story my perfect rival or girlfriend part 7!?

    • gomawooo^^
      unk after story di usahakan minggu ini jadi…di binggung mau mana dulu yang author kerjain…hope part 3 ato after story part 7 heheheheheheh

      • Saran Aku Ya Thor..
        Thor Buat Jadwal Publish Adjah..
        Kalo New Kyuheyna Story Setiap Minggu do Minggu Malem..
        Mungkin Yg Kyuheyna After Story’a Publish 2 Minggu Sekali.. Setiap Hari Apa Gitu Thorrr..

        Hehehe 😛

        Saran Ngaco..
        *bingung sendiri guling-guling*
        wkwkwkwkwk 😀

      • Hahahahahah,itu semua gak bs ak janjiin coz pada dasarnya aku dah bekerja jd wkt unk berkarya tuh terbatas,tapi sebisa mgkn selalu daku usahakan biar cepat publish..but thanks ya buat sarannya^^

  6. Kakak ini cerita apa siich -,- asli bete,..ada ap in sebernanya!!terlalu bnyak pertanyaan bermunclan di otak saya yg minim ni eonni –,..
    Dtnggu kelanunya kakak^^

  7. entah kenapa masih ga rela mereka kembar, kalo kembar kan mereka ga bisa jadi pasangan..sebenernya orang tua heyna kenapa sih ? apa mereka nyalahin heyna atas meninggalnya heyjin ? kyuhyun rada gimana gitu disini..kasian heyna nya..part selanjutnya ditunggu sekali eonni..

  8. kyaaa…fell.nya dapet bget eon..
    DEABEKK..DEABEKK..DEABEKK..
    nyesek rasanya baca part ini…
    aihh…kyuhyun evil, bisakah kau mengurangi evilmu sdikit???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s