{KyuHeyna_Story} HOPE # 1 WHEN EVIL’S MEET

Pic Part 1 fix compres

Title                             : {KyuHeyna_Story} HOPE #1When Evil’s Meet

Author                         : Sazshika_DeVya

Main Cast                   : Cho Kyuhyun

: Lee Heyna

Another Cast              :Lee Eunji (oc), Hwang jihyo (oc), Oh Jihoo (oc), Kang Mnhyuk (oc), Lee Shin (oc), Kang Jinwoon (oc)

Genre                          : Romance, Friendship and Family

Rating                         : PG 15

Leght                           : Continue

 

“Harapan? Ah, tentu saja aku memilikinya, bukan hanya satu ataupun dua, melainkan beratus-ratus hingga aku tak sanggup menghitungnya. Tapi, aku tidak akan menjadi orang yang tamak agar Tuhan mengabulkan semua harapanku tersebut, paling tidak aku ingin Tuhan mengabulkan satu harapanku. Harapan dimana aku bisa tersenyum dan membuka mataku lebih lama dari yang seharusnya kumiliki.” Lee Heyna.

 

“Harapan? Aku tidak memilikinya. Kenapa? Karena segala hal yang kuinginkan selalu datang kepadaku bahkan sebelum aku memintanya. Tapi, terlebih dari itu karena aku tidak mempercayainya, mempercayai sebuah tindakan kekanakan yang dinamakan berharap, yang akan membuatmu tampak seperti seseorang yang lemah.” Cho Kyuhyun

 

December, 13th 2014 at Jeju International Highschool. . .

*Author Pov*

            “Kau lihat itu? Apakah kau masih akan tetap disini dan membiarkannya bertingkah seperti penguasa disekolah kita?” ucap seorang yeoja muda seraya melempar tatapan benci pada namja yang duduk tak jauh dari tempatnya.

“Memangnya siapa dia? Apa karena kaya dan berasal dari Seoul lantas dia berfikir lebih hebat dalam segala hal daripada kita? Dengan seenaknya dia menjadikan siswa lemah sebagai bahan hiburan baginya!” lanjut yeoja berkepang dua tersebut. Dengan kesal ia segera berbalik dan menatap sosok dihadapannya yang sama sekali belum memberikan respon atas ucapannya beberapa detik lalu, dan tetap asik dengan PSP dalam gengamannya.

“YAK, LEE HEYNA tidak bisakah kau mendengarkan saat sahabatmu sedang berbicara!”

Yeoja yang dipanggil Lee Heyna tersebut hanya melirik sekilas yeoja dihadapannya dan kemudian kembali menatap antusias layar PSP miliknya.

“Aish, dasar maniak game! YAK!” dengan geram siswi Jeju International Highschool tersebut segera menyambar PSP dalam genggaman yeoja dihadapannya dan menekan tombol off.

“YAK, HWANG JIHYO NEO MICHISSEO!”seru Heyna seraya merebut PSP miliknya. “Mati? Yak, kau mematikannya? Aish, jinjja! Yak, tak tahukah kau aku hampir menyelesaikan level terakhir game ini setelah hampir 1 minggu aku selalu gagal?”

Molla,siapa suruh kau tidak mendengarkan sahabatmu!”

“Aish, neo! Aish, aku harus mengulangnya lagi dari awal, ARRRRGGGGGGGGHHHHHHHHHHHH ANDWAEEEEEEEEEEEEE!”

*Pletak. . . .

“YAK, KENAPA KAU MEMUKULKU? KAU MA. . .”

“Yak, Nona Lee apa kau hidup hanya untuk bermain game? Lihat disana, seharusnya kau menggunakan hidupmu untuk menjadi pahlawan dalam lingkunganmu! Bukannya menjadi pahlawan dalam dunia game khayalanmu!”

Dengan tatapan kesal, Heyna melayangkan pandangannya sekilas kearah dimana telunjuk sahabat baiknya tersebut menunjuk.

“Biarkan saja, lebih baik kau acuhkan saja!”

“Mworago? Yak, apakah kau benar Lee Heyna? Ah, ani apakah kau gila? Sejak kapan kau diam saja melihat tindakan semena-mena?”

“Aish, biarkan saja! Dengar, aku sudah tidak berminat mempertahankan peringkat pertamaku di sekolah kita sebagai siswa yang paling banyak membuat masalah. Dan lagi, aku sudah berjanji pada Jinwoon ahjusshi untuk melewati masa terakhirku di SMA dengan damai. Aku tidak mau jika ia harus menerima amarah kedua orangtuaku karena tingkah lakuku.” balas Heyna seraya meraih mangkuk ramen dihadapannya.

“Aish, tapi. . .”

“Sudahlah, lebih baik sekarang kita makan sebelum bel masuk berbunyi.”

Untuk beberapa saat Jihyo terdiam seraya menyipitkan mata kearah yeoja dihadapannya yang kini tengah asik melahap ramen. Namun, detik berikutnya seulas senyum evil merekah dibibir yeoja berumur 17 tahun tersebut.

“Tapi, apakah benar kau akan membiarkannya menguasai sekolah kita begitu saja? Dengar, apakah kau tahu selain pandai dalam pelajaran dia juga seorang maniak game?” ucap Jihyo.

“Memangnya kenapa, bukankah itu wajar mengingat bagaimana menariknya sebuah game, tidak mengherankan jika banyak orang akan menyukainya. Termasuk dia.”

“Itu memang benar, tapi bukan disitu point utamanya. Dengar, 2 hari lalu saat aku milintasi ruang klub judo tanpa sengaja aku mendengar namamu disebut disana. Karena penasaran, aku segera mencuri dengar. Dan tahukah kau apa yang sedang dibicarakan segerombolan bocah tengik diruangan itu?” ucap Jihyo dengan nada pelan.

“Wae? Apa yang mereka bicarakan?” sahut Heyna yang sudah jelas kini tengah berhasil masuk kedalam pengaruh Jihyo.

“Mereka pada saat itu memuji kehebatan setan dari Seoul itu dalam bermain game. Tapi, salah satu dari bocah tengik itu berkata jika di sekolah kita ada lagi seseorang yang hebat dalam permainan game dan seringkali menang. Dan kemudian ia menyebut namamu. Dan tahukah apa yang kemudian dikatakan setan Seoul kurang ajar itu?”

Wae,wae?”

“Ia bilang jika kau tidak ada apa-apanya dengan dia. Wanita sepertimu paling-paling hanya bisa memainkan game level rendah yang biasa dimainkan anak SD. Jadi pantas saja jika kau selalu menang.”

“MWORAGO?” seru Heyna seraya meletakan sumpitnya dengan keras diatas meja. “Tidak ada apa-apanya? Wanita sepertiku? Game level rendah yang dimainkan anak SD? Whoa, apakah setan Seoul itu tidak tahu siapa yang telah ia remehkan?”

“Karena itu, apakah kau masih tetap akan diam saja dan. . .”

“Sudah cukup, kurasa sudah saatnya aku menyapa setan pindahan dari Seoul itu.” potong Heyna seraya bangkit dari kursi. “Ah, bukankah aku tidak boleh menyapa seseorang untuk pertama kali tanpa membawa buah tangan? Kemarikan ramenmu!”

“Ya, apa yang akan kau lakukan pada makan siangku? Aku belum memakannya sediki. . .YAK, LEE HEYNA!”

Tanpa mengubris protes sahabatnya, Heyna segera menyambar nampan makan siang Jihyo dan membawanya menuju meja yang kini tengah ramai oleh hiruk-pikuk beberapa makhluk yang tengah memperolok seorang siswa berkacamata tebal.

Heyna terus melangkah santai dengan wajah datar hingga kini hanya berjarak setengah meter didepan meja yang ingin ia hampiri. Detik berikutnya, yeoja berambut panjang tersebut dengan sengaja menabrakkan dirinya pada salah satu punggung kursi dihadapannya yang serta merta membuat nampan berisi ramen dalam genggaman tangannya terjatuh dan tumpah tepat dikepala namja yang duduk diatas kursi yang ia tabrak.

“Prakkkkkkkkkkkkk. . . .

“YAK, APA-APAAN INI!”

Omo, bagaimana ini? Ah, mianhae aku tidak sengaja, aneh sekali seingatku dihadapanku tadi tidak ada satupun makhluk bumi?Eotthokeh?” ucap Heyna seraya memasang raut binggung.

“Mwo? Kau fikir aku ini makhluk dari mana? Planet Saturnus?” sembur namja dihadapan Heyna.

Omo, jinjjayo? Benarkah kau makhluk dari saturnus? Ah, pantas saja kau terlihat aneh.” balas Heyna dengan raut tanpa dosa.

Mwo? YAK!”

“Ya, Kyuhyun-ah kau tidak apa-apa?” ucap seorang namja seraya meraih mangkuk ramen yang masih tertelengkup diatas kepala namja bernama Kyuhyun tersebut.

Aigoo, eotthokeh jeongmal mianhae aku tidak sengaja.” ucap Heyna kembali seraya membersihkan seragam Kyuhyun yang basah karena kuah ramen.

“Yak, singkirkan tanganmu dari seragamku, ahjumma!”

Mwo..mworago?Ahjumma?”

Ne, ahjumma! Apakah kau memiliki kelainan pada indera pendegaranmu?” jawab Kyuhyun geram seraya melayangkan death glare pada yeoja dihadapannya.

“Ya, apakah itu tidak keterlaluan? Bukankah aku sudah minta maaf padamu?” ucap Heyna dengan nada suara yang sudah berubah.

“Apakah kau fikir dengan minta maaf berarti kau telah menyelesaikan masalah? Apakah selain memiliki kelainan pendengaran kau juga memiliki kelainan otak?”

“Whoa,setan ini benar-benar. . .apa dia tidak tahu siapa yang tengah ia ajak bicara saat ini?“

“Ya, Kyuhyun-ah sudahlah! Tidak usah mencari masalah dengannya karena itu akan sangat merepotkan. Dia Lee Heyna, yeoja yang beberapa hari lalu kuceritakan.” ucap seorang namja dengan topi hitam yang menghiasi kepalanya.

“Ah, jadi inikah Lee Heyna. Siswa yang menduduki peringkat pertama sebagai pembuat onar? Yang membuat siapapun akan membeku karena kalimat dan tatapan tajamnya? Apakah kau tidak salah, Minyuk-ah?” tanya Kyuhyun seraya menyilangkan kedua lengannya didepan dada dan menatap Heyna dari ujung kepala hingga ujung kaki. Namja bernama Minhyuk tersebut hanya mengangguk merespon pertanyaan Kyuhyun.

“Jinjjayo? Apakah kalian tidak salah? Apakah mungkin yeoja berdahi lebar dan bermata besar ini adalah Lee Heyna yang kalian ceritakan? Apakah kalian tidak salah, coba lihat apakah mungkin ahjumma pendek seperti ini dapat membuat kalian membeku dengan kalimat dan tatapan tajamnya? Jangan membuatku tertawa Hyuk-ah! Benar begitu bukan, ahjumma?”

Omo, ini sudah keterlaluan! Yak, neo kau fikir kau si.. .” ucapan Jihyo segera terhenti saat telapak kiri Heyna terangkat.

“Ya, kenapa semua kalimat yang keluar dari mulutmu sangat tidak berbobot? Apakah orang tuamu tidak pernah mengajarkan sopan-santun padamu? Pertama kau mengataiku ahjumma, setelah itu kau mendiagnosisku mengidap kelainan pendegaran dan otak, dan sekarang kau menyebutku yeoja berdahi lebar dan bermata besar yang hanya bisa membuatmu tertawa?” potong Heyna dengan sengit. Dengan tatapan mematikan, siswi peringkat pertama di Jeju International Highschool tersebut melangkah mendekati namja bertubuh tinggi dihadapannya.

“Kau tahu, ada satu hal yang sangat membuatku penasaran semenjak aku melihatmu. Apakah setiap lipatan di otakmu hanya dikhususkan untuk merekam kalimat makian dan bagaimana menjadi seorang pengecut labil yang hanya bisa mengerjai seseorang yang lebih lemah darimu? Menjijikkan sekali!” lanjut Heyna.

Kedua bola mata Kyuhyun membelalak seketika mendengar kalimat yang baru saja terlontar dari mulut yeoja dihadapannya. Baru kali ini ia menerima penghinaan seperti ini, terlebih lagi dari seorang yeoja.

“Mworago? Pengecut? Ya, jaga ucapanmu ahjumma! Kuberi waktu padamu untuk segera menarik ucapanmu atau kau akan. . .”

“Mwo, apa yang akan kau lakukan? Mendeklarasikan pada seluruh dunia bahwa kau adalah seorang pengecut sejati yang hanya berani memukul seorang wanita? Lakukan saja, kau fikir aku akan kalah darimu, Tuan Labil?” sembur Heyna sebelum Kyuhyun menyelesaikan ucapannya.

Rona merah sekarang terlihat jelas diwajah Kyuhyun sebagai tanda jika amarah dari namja berumur 17 tahun itu tengah sampai pada puncaknya.

          “Neo, aku sudah memberimu waktu Lee Heyna, tapi tampaknya kau begitu bodoh untuk dapat memanfaatkan kesempatan yang ada dan justru menguji kesabaranku. Karena itu aku tidak akan segan-segan lagi pa. . .”

Mwo? Lakukan saja aku sama sekali tidak takut padamu. Kuberitahu satu hal padamu, kau salah memilih musuh Tu. . .”

         *Cup.

Ucapan Heyna segera terhenti saat tiba-tiba kedua lengan kekar Kyuhyun merengkuh tubuhnya dan tanpa basa-basi mencium yeoja berambut sebahu tersebut tepat dibibir mungilnya.

“OMO!” pekik terkejut terdengar dari segala sudut kantin saat kedua bola mata setiap makhluk yang semenjak tadi menyaksikan adu mulut dari dua makhluk tidak peka tersebut kini tengah disuguhi pemandangan yang mengejutkan.

“Yak! Apa yang kau lakukan!” teriak Heyna seketika seraya mendorong keras tubuh Kyuhyun. Senyum evil segera terlukis sempurna diwajah tampan Kyuhyun saat menyaksikan wajah yeoja dihadapannya yang kini tampak merah padam.

“Apa yang kulakukan? Tentu saja mengajari yeoja labil sepertimu agar sadar pada kedudukanmu!” sahut Kyuhyun ketus seraya melipat kedua lengannya didepan dada dengan angkuh.

See, kuberitahu kalian semua beginilah cara untuk menakhlukan yeoja yang kalian bilang menakutkan ini.” lanjut Kyuhyun.

Mworago?” ucap Heyna seraya melemparkan tatapan ganas pada namja dihadapannya.

Kembali Kyuhyun melangkah mendekati Heyna.

“Nona labil, untuk kedua kalinya kutanya padamu, apakah kau yakin tidak memiliki masalah pendengaran? Bukankah kalimat yang terlontar dari mulutku tadi sudah sangat jelas? Ah, atau mungkin otakmu sedang kegirangan karena baru sekali ini ada namja tampan menciummu sehingga membuat semua indera milikmu lumpuh?”

Mwo?

Waeyo, apakah kau terkejut? Ah, atau jangan-jangan kau benar-benar menyukainya? Bukan sesuatu yang mengejutkan sih jika kau justru tiba-tiba jatuh cinta padaku. Siapa suruh wajahku ini begitu tampan.”

“Ya, geumanhae. . .” lirih Heyna.

         “Mworago? Aku tidak bisa mendengarnya, Nona pendek. Ah, biar kutebak, kau mau aku menciumu lagi kan?” sahut Kyuhyun yang diikuti dengan kekehan memuakkan yang membuat beberapa namja pengikutnya ikut terkekeh.

“Ya, Cho Kyuhyun kau sudah keterla. . .”kembali ucapan Jihyo terhenti saat lengan kiri Heyna terangkat.

“Keterlaluan? Memangnya apa yang sudah kulakukan? Aku hanya membantu sahabat pendekmu ini membersihkan bibirnya yang belepotan kuah ramen. Kau fikir ak. . .”

“Ya, geumanhae. . .” lirih Heyna untuk kedua kalinya.

“Asal kau tahu, justru suatu kehormatan bagi sahabat pendekmu ini bisa mendapatkan perlakuan mahal dariku seperti ta. . .”

“Kubilang berhenti Cho Kyuhyun. . .”

“Jadi, jangan pernah berfikir jika aku menyukaimu ataupun. . .”

“YAKKKKKKKK, CHO KYUHYUN DASAR AHJUSSHI MESUM MATIIII KAUUUUUUUUUUUU!” teriak Heyna saat pada akhirnya amarah yang semenjak tadi ia tahan memuncak. Tanpa mengindahkan puluhan pasang mata disekelilingnya, yeoja bertubuh mungil tersebut segera menerjang namja dihadapannya dan melancarkan jurus andalannya. Menjambak!

“ARRRRRRRRGGGGGGGGGGGHHHHHHH, YAK MENYINGKIR KAU WANITA GILA!” teriak Kyuhyun dalam usahanya mendorong tubuh Heyna dari atas tubuhnya.

“MWORAGO? BUKAN AKU YANG SEHARUSNYA SADAR AKAN KEDUDUKANKU AHJUSSHI LABIL! JUSTRU KAULAH YANG SEHARUSNYA SADAR! NAMJA TAMPAN? SUATU KEHORMATAN BAGIKU KARENA MENDAPATKAN CIUMAN DARIMU? NEO MICHISSEO? APAKAH SELAIN MEREKAM KALIMAT MAKIAN DAN BAGAIMANA CARA MENJADI SEORANG PENGECUT KAU MENGISI SETIAP LIPATAN DALAM OTAKMU DENGAN HALUSINASI GILA DAN NARSIS? KUBERITAHU PADAMU, KAU SALAH MENCARI MUSUH. MATI KAU CHO KYUHYUN!” lanjut Heyna yang kini tak hanya menjambaki rambut Kyuhyun dengan ganas melainkan juga mengeluarkan jurus andalan keduanya. Mengigit!

“ARGGGGGGGGGGGGHHHHHHHHHHHH, YAK LEE HEYNA BERHENTI MENJAMBAK DAN MENGIGITKU! ARRGGGGGGGGGHHHHHHHHHHHH!” raung Kyuhyun seraya berusaha menggulingkan tubuh Heyna dari atas tubuhnya. Tepat disaat pada akhirnya Kyuhyun berhasil membalik keadaan dan mengunci kedua tangan Heyna, tiupan sirene disusul suara mengelegar mengerikan menampar daun telinga setiap makhluk dikantin.

“YAK APA YANG KALIAN BERDUA LAKUKAN! CHO KYUHYUN, LEE HEYNA BERHENTI BERKELAHI DAN IKUT AKU KE KANTOR SEKARANGGGGGGGG!”

“Ups!”

*Author Pov End*

****************

At Jeju International Highschool Teacher’s Office. . .

*Heyna Pov*

Kulirik kembali namja yang berdiri tepat disampingku, raut menyebalkan masih terpampang jelas diwajahnya yang benar-benar membuatku ingin mencakar seluruh bagian wajahnya dengan kesepuluh kuku-ku.

“Jadi, kali ini apa lagi? Apakah kau bisa memberi penjelasan yang masuk akal padaku, Nona Lee?” segera kualihkan pandangan mataku saat suara tegas Sukbin sonsaengnim mulai berdendang.

“Wae? Kenapa sonsaengnim bertanya padaku? Jika sonsaengnim ingin mengetahui sebab terjadinya insiden tadi, kenapa sonsaengnim tidak menanyai saja setan narsis disampingku.”

Mworago? Siapa yang kau sebut setan narsis, Nona labil?” sahut Kyuhyun. “Sonsaengnim, kufikir anda pasti bisa menebak siapa penyebab insiden tadi? Apakah bekas gigitan mengerikan dibeberapa bagian lenganku ini serta rambutku yang acak-acakan dan rontok diberbagai tempat belum cukup menjelaskannya?”

“Yak, kalian berdua berhenti, aish!” lerai Sukbin sonsaengnim. “Kutanya sekali lagi padamu, Nona Lee jadi kali ini debat persahabatan manis apa lagi yang tengah kau lakukan?” lanjut Sukbin sonsaengnim yang sudah jelas sangat hapal dengan setiap pembelaan yang kuberikan jika aku tertangkap basah tengah berkelahi dengan siapapun makhluk disekolah ini. Debat persahabatan manis!

Wae sonsaengnim? Kenapa kau terlihat sekali menyalahkanku? Apakah karena aku sering terlibat dalam debat persahabatan lantas kali ini pun kau menuduhku sebagai otak dalam debat kali ini? Tidak bisakah kau mempercayai anak didikmu yang lugu ini?” sanggahku seraya memasang wajah polos.

*Pletakkkk. . .

“Kau fikir sudah berapa tahun aku mengenalmu dan menunggumu menyelesaikan setiap hukumanmu diakhir jam sekolah? 2 tahun 1 bulan. 395 hari. Apakah waktu selama itu belum cukup memberi gambaran jelas bagiku bagaimana sifat anak didikku yang lugu ini? Lee Heyna, tidak bisakah kau membiarkanku hidup tenang dan menyelesaikan tugasku sebagai wali kelas dengan normal?” ucap Sukbin sonsaengnim. Aku hanya bisa nyengir seraya mengelus-elus puncak kepalaku yang baru saja terkena jitakan maut wali kelas sekaligus guru bahasa inggris kesayanganku tersebut.

“Kekkeekekekeke. . .”

Kutatap ganas setan disampingku yang baru saja terkekeh. “Tertawa? Tertawalah dan bersiaplah menerima pembalasanku! Dasar setan narsis!”

            *Pletakkkk!

“Yak, siapa yang memberimu ijin untuk tertawa, Cho Kyuhyun? Jangan kira aku akan membebaskanmu dari tuduhan!” lanjut Sukbin sonsaengnim setelah menjatuhkan pula jitakan mautnya di atas kepala besar Kyuhyun . Rasakan itu, setan!

“Cho Kyuhyun, kau sama saja dengan Heyna, mengingat seperti apa catatan serta rekor kelakuanmu disekolahmu sebelumnya. Hah, kenapa aku begitu sial? Kenapa 2 siswa paling bermasalah berada dibawah naunganku.”

“Ya, sonsaengnim apakah itu tidak keterlaluan dengan menyebutku sebagai siswa paling bermasalah. Na, Lee Heyna siswa kesayanganmu.” tuturku seraya melancarkan aegyo andalanku.

“Cih, menjijikkan sekali! Kau kira kau pantas bertingkah seperti itu!” bisik Kyuhyun yang serta merta membuat darahku kembali mendidih.

“Yak, mworago? Kau mau mati!”

Mwo? Kau fikir aku takut padaku, Nona Labil? Justru kaulah yang akan ma. . .”

“YAK KALIAN BERDUA BERHENTI!” teriak Sukbin sonsaengnim yang kali ini membuat beberapa orang guru yang sadang berada di kantor mengangkat kepala mereka sejenak dari buku apapun yang tengah mereka periksa.

“Aku tidak mau lagi mendengar debat persahabatan manis diantara kalian berdua! Sekarang, cepat katakan padaku apa penyebab insiden memalukan tadi? Bagaimana bisa seorang yeoja bergumul dengan namja? Kau ini yeoja Lee Heyna!”

“Aniyo, kubilang bukan aku yang memulainya, sonsaengnim! Kenapa kau tidak mempercayaiku. Setan itu yang memulainya!” belaku seraya melempar death glare pada setan disebelahku.

“Kalau kau tidak mau mengaku, maka aku tidak memiliki pilihan lain selain menelepon, Tuan Kim!”

Andwae! Sonsaengnim, kumohon jangan memeberitahu Jinwoon ahjusshi, ne?”

“Kalau begitu cepat katakan apa yang terjadi?” kuhela nafas panjangku seraya mengaruk kesal kepalaku yang tentu saja sama sekali tidak gatal.

“Aish, kenapa kau tidak mempercayaiku? Bukan aku. Jinjja aniya sonsaengnim, justru akulah yang menjadi korban dalam insiden kali ini. Setan itu yang mengangguku, justru aku adalah korban dari penyakit narsis pangkat tak terhingganya!” ucapku dengan nada memelas sebagai usaha terakhirku untuk meyakinkan sosok wanita dewasa yang tengah duduk dihadapanku.

“Menjadi korban? Memangnya apa yang Kyuhyun lakukan padamu?”

Kembali kuhela nafas panjangku sebelum aku melontarkan kalimat memalukan yang sudah hampir tersembur dari mulutku.

“Pertama, setan narsis pangkat tak terhingga ini sudah berani-berani mengataiku yeoja pendek berdahi lebar. Asal kalian tahu, tinggiku 160 cm dan itu adalah tinggi ideal bagi seorang yeoja! Dan dahiku tidak lebar!” ucapku mengawali pembelaan.

“Kedua, setelah menyebutku yeoja pendek berdahi lebar, alien dari planet saturnus ini juga mendiagnosisku memiliki kelainan pendengaran dan otak, dan paling parah dia menciumku dihadapan siswa lainnya serta mendeklarasikan dirinya sebagai namja yang super tampan! Apakah dia tidak pernah mengenal kaca selama hidupnya? Memangnya dia siapa? Do Min Joon-ssi? Alien super tampan dan keren dari serial My Love From Another Star? Apakah seluruh hal itu belum cukup untuk membuat sonsaengnim menrontokkan setiap helai rambut diatas kepala besarnya jika sonsaengnim berada didalam posisiku?” lanjutku. Dapat kulihat Sukbin sonsaengnim tengah tercengang dengan mulut mengangga begitu mendengar pengakuan panjang lebarku.

“Yak, mworago? Setan narsis pangkat tak terhingga? Alien dari planet saturnus?” sahut Kyuhyun seraya melempar death glare-nya padaku.

Ne, apakah aku kurang jelas mengatakannya? Setan narsis pangkat tak terhingga! Alien dari planet saturnus! Ah, apakah gelar itu masih belum cukup bagimu? Bagiamana jika kutambahkan dengan ahjusshi mesum berkepala besar dengan kelainan pendengaran dan otak? Bagaimana, apakah sudah cukup?”

“YAK, NEO! KAU MAU MATI YA!”

“MWO, KAU FIKIR AKU TA. . .”

“YAK, SUDAH CUKUP! KALIAN BERDUA BERSIHKAN TOILET DI KEBUN BELAKANG SEKOLAH SEKARANG JUGA DAN JANGAN BERHARAP BISA PULANG JIKA MASIH KUTEMUKAN NODA DI KLOSET!”

*Heyna Pov End*

 

*Author Pov*

“Na-ya!”

Heyna segera berlari menuju dari mana datangnya suara yang meneriakkan namanya beberapa detik lalu. Tampak Jihyo, sahabat dekat Heyna tengah berdiri didepan ruang kelas seraya memeluk ransel putih milik Heyna.

“Apa yang terjadi?” tanya Jihyo seraya menyerahkan ransel putih milik sahabatnya tersebut. “Apakah, Sukbin sonsaengnim menghukum kalian?” Heyna mengangguk singkat merespon pertanyaan sahabatnya tersebut.

“Kuberitahu satu hal yang pasti padamu, Hyo-ya.” jawab Heyna seraya menatap tajam sosok namja yang kini tengah bermain basket dilapangan dengan sorakan riuh yeoja labil yang mengidolakannya.

Wae?”

“Cho Kyuhyun, ani setan narsis berotak labil itu adalah musuh abadiku mulai saat ini. Berani-beraninya dia mencuri ciuman pertamaku yang seharusnya dimiliki suami dimasa depanku! Aish, dasar ahjusshi mesum gila! Apapun yang terjadi, aku tidak akan pernah membiarkannya bertindak semena-mena terhadap siswa lain ataupun mengangguku.” ucap Heyna seraya mengepalkan kedua telapak tangannya.

“Cho Kyuhyun, tamatlah riwayatmu!”

“Aish, kita sudahi saja hari ini! Lebih baik kita pergi mengunjungi toko ddokbokki misun ahjumma, otte!”

That’s nice idea! Kajja!”

Dengan kedua lengan saling berkaitan, kedua yeoja yang sudah bersahabat semenjak bangku pertama di Jeju International Middle School tersebut melangkah riang menuju gerbang sekolah.

****************

Ah, ne eomma. Aku akan segera kembali.” ucap Jihyo pada seorang wanita diujung sambungan teleponnya.

“Ne, arrasseo!” Klik.

Waeyo?” tanya Heyna seraya menyeruput orange juice dihadapannya.

“Ah, Na-ya mianhae kurasa aku harus segera pulang. Eomma memintaku untuk membantunya berbelanja keperluan rumah.”

“Ah, ne gwenchana.”

“Kalau begitu, aku pulang sekarang. See you Queen of Evil!” ucap Jihyo seraya melangkah keluar. “Ah, ne jangan terlalu memikirkan setan tengik itu dan kirim pesan padaku segera begitu kau menemukan ide keren untuk mengerjai setan itu!” lanjut Jihyo seraya melambai dari pintu kedai ddokbokki.

Heyna segera ikut melambaikan tangannya dan tersenyum simpul merespon teriakan sahabatnya tersebut.

“Heghhh. . .” hela nafas panjang segera terhembus dari mulut yeoja berumur 17 tahun 10 bulan itu begitu sosok sahabatnya sudah tidak berada dalam jangkauan penglihatannya.

“Pukul 15.46 menit. Sekarang apa yang harus kulakukan?” lirih Heyna. Diedarkannya pandangannya kesegala arah. Tampak beberapa kelompok siswa, keluarga ataupun pasangan tengah menyantap ddokbokki pedas dihadapan mereka dengan riang. Mendadak kilasan kejadian di masa lampau menyeruak dalam ingatannya.

“Jinjjayo, oppa?”

            “Ne, tentu saja. Apakah oppa pernah berbohong padamu selama ini?”

            “Ah, ani. Tapi bukankah kita tidak boleh memelihara binatang dirumah? Bagaimana jika eomma dan appa marah?

            “Bukankah kubilang ini istimewa. Seperti kata oppa tadi, jika dalam pertandingan skating minggu depan kau berhasil menjadi         juara pertama. Maka oppa akan membelikanmu seekor anak anjing. Dan jangan khawatir, oppa akan memohon pada eomma dan appa agar mengijinkanmu memeliharanya dirumah.”

            “Jinjja?”

            “Keuromyo, jadi apapun yang terjadi kau harus berlatih dengan serius dan membawakan oppa medali emas. Aratchi?”

            “Assa! Aku pasti akan mendapatkannya! Tenang saja, aku pasti akan membuat oppa, eomma dan appa bangga padaku! Dan pada saat itu aku akan me. . .”

           “Na-ya, mianhae. . .”

           “Mwo?”

           “Ah, aniyo. Oppa tadi berkata bahwa tentu saja kau pasti bisa membuat oppa, eomma dan appa bahagia. Bukankah kau adalah adik oppa yang hebat? Cepat makan ddokbokimu!”

             “Ne!”

“Hegh. .” hela nafas panjang kembali terhembus dari mulutnya. Dengan mata sayu, ditatapnya potret dirinya bersama seorang namja 4 tahun silam yang menghiasi layar Iphone putih miliknya.

ulzzang edit 2

Setelah menghabiskan sisa juice-nya, yeoja berparas manis tersebut segera meraih ranselnya dan melangkah keluar.

Suasana padat di pinggir jalan raya utama Jeju tampaknya tak mengusik sedikitpun langkah kaki Heyna. Tanpa melirik sedikitpun kearah hiruk pikuk pedagang ataupun para salesman yang tengah membagi-bagikan brosur produk rumah tangga, yeoja yang masih mengenakan seragam sekolahnya tersebut terus melangkah sembari mendengarkan alunan nada yang mengalun dari earphone yang terhubung dengan IPhone putih miliknya.

Sudah menjadi kebiasaan bagi yeoja yang 2 bulan lagi akan genap berusia 18 tahun tersebut menyusuri jalanan Jeju seusai jam sekolah. Bermain seharian bersama Jihyo, duduk sendirian dibangku taman seraya membidik setiap objek yang dianggapnya menarik dengan kamera LSR-nya, membantu pekerja sosial membagikan makanan gratis, dan tak jarang pula menjahili orang yang ia kenal. Setiap hari akan ia lakukan, karena dengan begitu ia dapat mempersingkat waktunya didalam bangunan yang selama ini ia jadikan sebagai tempat berteduh.

“Apa itu?” gumam Heyna saat tanpa sengaja kedua bola matanya menangkap pemandangan ramai tak jauh dari tempatnya berdiri saat ini. Dengan langkah cepat, yeoja tersebut segera menghampiri kerumunan orang yang tengah berdiri didepan sebuah pohon natal raksasa dengan hiasan bola-bola kristal dan pita berwarna-warni.

“Permisi, kalian sedang melakukan apa?” tanya Heyna pada seorang perempuan yang tengah membagi-bagikan kartu ucapan.

“Ah, apakah kau juga mau mengantungkan harapanmu?”

Mwo?”

“Harapan, kau pasti memiliki harapan bukan?Apalagi sebentar lagi adalah hari natal. Jika kau mau, kau bisa mengambil satu kartu harapan ini dan menuliskan harapanmu. Kau boleh menunjukan isi harapan untuk dirimu sendiri ataupun orang lain. Dan setelah itu, kau bisa mengantungkannya di pohon natal raksasa itu dan ucapkan harapan yang kau tulis tepat dibawah pohon natal setelah kau mengantungkannya. Dan jangan lupa untuk datang kemari di malam natal untuk mengikuti perayaan natal jalanan bersama kami.”

Heyna hanya terdiam sembari menatap selembar kartu berwarna biru yang tengah disodorkan padanya.

Ahgasshi, apakah anda ingin ikut berpartisipasi?” ucapan panitia acara natal jalanan Jeju tersebut segera mengembalikan kesadaran Heyna.

“Ah, ne. Kamsahamnida.” ucap Heyna seraya meraih kartu berwarna biru tersebut. “Ah, bisakah aku menulisnya dirumah?” lanjutnya.

“Ah, ne tentu saja. Kau bisa menulisnya dirumah dan kembali kemari sebelum natal untuk mengantungkannya di pohon natal.”

“Ah, ne! Kamsahamnida.”

Setelah mengucapkan terima kasih, Heyna kembali menatap selembar kartu berwarna biru dalam genggamannya. “Harapan ya. Tentu saja aku memilikinya. Bahkan mungkin aku adalah salah satu orang yang terlalu sering berharap di bumi ini.”

Detik berikutnya, ia segera berbalik dan kembali melangkah menyusuri jalanan ramai Jeju.

Hampir 30 menit lamanya, kedua kaki Heyna melangkah menyusuri jalan petak dengan pohon maple yang menjulang tinggi sebagai apitnya. Hingga pada akhirnya ia berlari kecil menghampiri sebuah pohon maple dan berhenti tepat didepannya. Ditatapnya, goresan-goresan kata tak beraturan dibeberapa bagian batang utama pohon maple tersebut.

“Bagaimana kabarmu? Apakah kau baik-baik saja? Hujan badai 4 hari lalu tidak menggugurkan semua daunmu dan mematahkan ranting-rantingmu bukan?” setelah mengusap lembut batang pohon maple miliknya yang ia tanam 10 tahun lalu bersama kakaknya, Heyna segera duduk bersandar pada pohon tersebut seraya memeluk kedua lututnya.

Untuk beberapa saat ia tampak memejamkan matanya dan menyandarkan kepalanya diatas lutut seraya mendengarkan alunan lembut musik dari earphone yang tersambung pada IPhone putih miliknya. Hingga tanpa ia sadari, seseorang dengan setelan jas rapi tengah melangkah mendekatinya.

Tampak seorang laki-laki berumur sekitar 50 tahun tersebut membungkukkan tubuhnya singkat begitu berada didepan yeoja yang kini masih belum menyadari kedatangannya.

“Heyna ahgasshi, sudah waktunya anda untuk pulang.” ucap laki-laki berjas hitam tersebut yang sontak membuat kedua bola mata Heyna terbuka.

“Ah, Jinwoon ahjusshi.” gumam Heyna seraya mengangkat kepalanya dari atas lutut dan melirik jam tangan putih yang melirik dilengan kirinya.

“Pukul 5 sore, kenapa waktu cepat sekali berjalan? Kukira ini baru pukul 4.” gumam Heyna kembali yang segera direspon dengan senyuman lembut dari laki-laki yang ia panggil dengan sebutan Jinwoon ahjusshi tersebut.

“Itu mungkin karena ahgasshi memiliki banyak energi hari ini sehingga selalu merasa waktu cepat sekali berlalu.” jawab Jinwoon.

“Bagaimana kau bisa tahu aku disini?Apakah, jangan-jangan ahjusshi dan trio ahjusshi disana masih mengikutiku setiap hari?” selidik Heyna dengan mata menyipit. Namun, tak urung kekehan ringan keluar dari bibir mungilnya.

Animida, seperti perintah ahgasshi. Saya dan ketiga ahjusshi lainnya sama sekali tidak membuntuti ahgasshi kecuali jika ahgasshi belum sampai dirumah pada pukul 5 seperti kesepakatan kita.” jawab Jinwoon. “Tapi, karena saya selalu tahu kemana ahgasshi akan pergi saat ahgasshi merasa baterai dipunggung ahgasshi mulai melemah.” lanjut laki-laki yang tak lain adalah kepala pengurus dikediaman keluarga Lee tersebut merangkap pengasuh Heyna.

           “Ahgasshi, apakah anda masih memikirkan kejadian kemarin?”

Heyna kembali tersenyum merespon pertanyaan pengasuhnya tersebut.

“Jinwoon ahjusshi, kau tak perlu khawatir. Na, Lee Heyna. Aratchi?” balas Heyna.

“Tapi. . .”

Ahjusshi, na gwenchana.”potong Heyna sebelum laki-laki dihadapannya menyelesaikan kalimatnya. “Tapi, bisakah kau memberiku waktu 15 menit lagi? Kurasa, baterai di punggungku belum penuh.” lanjut Heyna. Seulas senyum kini berganti merekah diwajah ramah Jinwoon.

          “Ne, tapi hanya 15 menit saja. Saya tidak mau anda mengalami kejadian seperti 2 minggu lalu.” tutur Jinwoon seraya kembali membungkukkan tubuhnya dan kemudian berbalik melangkah menuju sebuah Hyundai putih yang terparkir tak jauh dari tempatnya berpijak.

Ahjusshi. .” belum genap 6 langkah kaki Jinwoon menapaki bukit maple, kembali ia membalikkan tubuhnya dan mendekati sosok yeoja yang kini nampak tertunduk menatap selembar kertas berwarna biru.

Ne, ahgasshi!”

“Kau tahu, beberapa saat lalu ada seseorang memberikanku kartu ucapan ini. Ia bertanya padaku apakah aku memiliki sebuah harapan? Jadi, aku bisa menuliskannya diatas kartu ucapan ini dan mengantungkannya dipohon natal raksasa yang akan dipasang dipusat jalan raya Jeju.” ucap Heyna pelan. Masih dengan kedua bola mata yang terpaku pada objek tipis dalam genggamannya, yeoja tersebut kembali melanjutkan ucapannya.

“Pada saat itu aku terlalu binggung untuk menuliskan salah satu harapan dari beratus-ratus harapan yang kumiliki. Karena itu aku meminta panitia acara tersebut untuk menulis harapanku dirumah. Dan beberapa saat lalu segelintir kalimat terlintas dalam kepalaku. Harapan? Ah, tentu saja aku memilikinya, bukan hanya satu ataupun dua, melainkan beratus-ratus hingga aku tak sanggup menghitungnya. Tapi, aku tidak akan menjadi orang yang tamak agar Tuhan mengabulkan semua harapanku tersebut, paling tidak aku ingin Tuhan mengabulkan satu harapanku. Harapan dimana aku bisa tersenyum dan membuka mataku lebih lama dari yang seharusnya kumiliki.”

Hela nafas panjang terhembus dari bibir mungil Heyna, sedangkan Jinwoon masih berdiri diam mendengarkan curahan hati putri majikannya tersebut.

“Tapi, kurasa harapan tersebut pun tidak pantas kuminta setelah apa yang terjadi pada Heyjin-oppa. Aku berfikir bukankah aku terlalu egois untuk meminta hal itu disaat sampai saat ini aku masih bisa membuka mataku dan tersenyum? Na, apa yang harus kulakukan? Bisakah ahjusshi memberitahuku?” lirih Heyna. Raut sedih terpancar jelas diwajah manisnya.

            “Ahgasshi, bukankah ahgasshi adalah Lee Heyna? Yeoja yang pantang menyerah? Seseorang yang akan tetap tersenyum meskipun berdiri ditengah pusaran gelombang? Seorang anak yang akan segera kembali bangkit dan kembali melangkah meskipun berulangkali rintangan menghempaskan anda kedalam lubang yang dalam? Ahgasshi, yang anda harus lakukan adalah melakukan apa yang anda inginkan, terbang bebas mengapai mimpi serta harapan anda.” ucap Jinwoon.

“Dan, jangan pernah berfikir jika anda tidak pantas meminta harapan seperti yang anda sebutkan tadi. Ahgasshi, berhentilah menghukum diri anda sendiri. Terseyumlah, tertawlah, dan ajukanlah beratus-ratus harapan yang ada dalam benak anda. Anda pantas memilikinya. Dan saya yakin, kalimat inilah yang akan diucapkan Tuan muda Heyjin jika saat ini ia bersama kita.” lanjut Jinwoon seraya kembali mengangkat kedua sudut bibirnya dan membentuk sebuah senyum lembut.

Untuk beberapa detik Heyna tampak tertegun, namun tak lama kemudian seulas senyum lembut ikut merekah diwajahnya.

“Whoaa, ahjusshi jangan bilang jika kemarin malam ahjusshi begadang menonton siaran motivasi? I’m I right?” ucap Heyna dengan nada riang. Detik berikutnya, yeoja tersebut segera bangkit dan berlari riang menuju Hyundai putih miliknya.

Ahjusshi kajja! Apa yang kau lakukan disana? Bukankah katamu kita akan pulang?” teriak Heyna seraya melambaikan tangannya.

“Ah, benar tapi sebelumnya kau harus mengantarku kesuatu tempat terlebih dahulu. Otte?” lanjut Heyna seraya kembali berbalik dan berlari riang menyongsong tiga laki-laki paruh baya yang kini tampak melambai-lambai membalas lambaian riang dari putri majikan mereka.

            “Ahgasshi, bertahanlah. Dan kurasa sebentar lagi rintangan yang akan anda hadapi akan lebih berat. Tapi, saya selalu yakin jika anda pasti bisa tetap berdiri dan tersenyum seperti biasa. Dan jika suatu saat nanti kenyataan itu pada akhirnya muncul dan terbongkar, kumohon maafkanlah laki-laki tua ini. Mianhae ahgasshi, jeongmal mianhae.” lirih Jinwoon dalam hati seraya menatap sayu punggung Heyna.

Jinwoon ahjusshi, come on!” teriak Heyna dari dalam Hyundai.

Ne, ahgasshi! I’m coming!”

**************

 

“Menuliskan harapan yang kuinginkan. Yang kuinginkan saat ini. . .” gumam Heyna yang kini tengah berdiri didepan pohon natal raksasa ditengah pusat jalan raya Jeju dengan selembar kartu berwarna biru dan bolpoint dalam genggaman tangannya.

Beberapa detik kemudian, jemari lentiknya mulai menari diatas kertas berwana biru tersebut.

Done!” gumam Heyna. Ditatapnya kembali rangkaian kalimat yang baru saja ia goreskan diatas kertas berwarna biru tersebut.

Setelah selesai memeriksa tulisannya, ia segera mengantungkan kartu harapan birunya pada pohon natal raksasa dihadapannya. Detik berikutnya, mantan athlete skating tersebut tampak menangkupkan kedua telapak tangannya dengan mata terpejam dan mengumamkan harapannya seperti yang di instruksikan kembali wanita pembagi kartu harapan beberapa menit lalu.

           “To Heyjin Oppa. Oppa, bagaimana kabarmu? Kuharap, kau baik-baik saja. Dan selalu tersenyum seperti biasanya. Dan. . .oppa mianhae, jeongmal mianhae. . .Na, mulai hari ini aku akan menjadi Lee Heyna yang lebih kuat dari yang kemarin. Karena itu, oppa harus tetap tersenyum. Ne? I promise.”

Beberapa detik kemudian, kedua bola mata Heyna kembali terbuka. Ditatapanya kembali kartu harapan biru miliknya.

“Kau, kumohon sampaikan harapanku padanya. Aratchi?” dengan seulas senyum lembut yang kini mengembang diwajahnya, Heyna segera berbalik dan melangkah menuju laki-laki yang tengah menantinya didepan Hyundai putih dengan senyum lembut khas miliknya.

“Jinwoon ahjusshi, kajja!”

*Author Pov End*

 

December, 17th 2014 at Jeju International Highschool . . .

*Kyuhyun Pov*

            “Ya, kenapa kau bertanya seluk beluk Heyna?” ucap Minhyuk membalas pertanyaanku beberapa detik lalu. “ Bukankah katamu kau sangat muak padanya dan ingin membalas penghinaannya padamu?”

“Aish, neo paboya! Justru itu, bukankah kita harus mempersiapkan taktik perang terlebih dahulu sebelum berangkat menyerang? Karena itu aku harus tahu seluk beluk yeoja labil berdahi lebar itu sehingga aku bisa mengetahui dimana titik kelemahannya.” balasku seraya meneguk juice jeruk.

“Berbicara tentang taktik perang dan menyerang, kau sama sekali tampak tidak cool dengan sekaleng juice jeruk dalam gengamanmu, kyuhyun-ah.” ucap Oh Jihoo, salah satu siswa berprestasi di Jeju international highschool tersebut yang kini ikut duduk bergabung disampingku.

Wae? Memangnya apa yang salah dengan juice jeruk? Kuberitahu satu hal pada kalian, bukan dari apa yang kita pakai, kita makan ataupun kita miliki yang membuat kita tampak cool. Tapi dari tatapan mata kita, wajah kita, dan tindakan kita chingu. Aratchi?” sombongku seraya menepuk-nepuk bahu Jihoo dan mengedipkan mata kiriku.

“Wah, kurasa gelar Setan narsis yang dianugerahkan Heyna kepadamu kemarin memang tepat.” ejek Jihoo yang tentu saja segera kubalas dengan jitakan maut.

“YAK NEO! Aish, semua ini karena setan perempuan berdahi lebar itu yang memiliki kelainan otak! Bisa-bisanya dia mengatai namja tampan sepertiku sebagai setan narsis! Apakah aku salah jika aku memang tampan?” sahutku yang tentu saja segera dianugrahi lemparan kaleng kosong oleh 2 namja dihadapanku.

“Yak, aish hentikan dan cepat katakan padaku semua yang kalian ketahui tentang Lee Heyna!”

“Ya, Kyuhyun-ah apakah kau tidak berlebihan?” sahut Jihoo.

“Mwo? Keterlaluan? Memangnya apa yang kulakukan?” balasku.

“Pertama, 3 hari lalu kau mempermalukannya di hadapan siswa lainnya dengan meniciumnya dan memperoloknya bahkan berkelahi dengannya. Kedua, keesokan harinya kau menaruh seember sampah didalam ransel dan laci meja Heyna. Kemudian, kemarin kau berulangkali melemparkan bola basket ke kepalanya dengan sengaja saat pelajaran olahraga. Belum cukup dengan itu, kau melemparkan seragamnya keatas pohon. Dan 2 jam lalu, dengan alibi tidak melihat jika tengah ada makhluk bumi dihadapanmu, kau menabrak tubuh Heyna dari belakang sekuat tenaga hingga menyebabkannya terjun bebas kedalam kolam ikan. Apakah itu tidak keterlaluan? Apakah kau masih belum puas mengerjainya? Dia hanya seorang yeoja Kyuhyun-ah!” ucap Jihoo.

“Ckckckckckckckck, kau salah Jihoo-ya. Ini sama sekali tidak keterlaluan, melainkan sangat menyenangkan! Apakah kau tidak melihat tampang bodoh yeoja labil berdahi lebar itu saat terjebur kedalam kolam tadi? Benar-benar bodoh!”

“Ya. . .”

Mwo?” potongku segera saat namja dihadapanku bersiap mengeluarkan protesnya kembali. Heran sekali, bocah satu ini selalu saja menghalangiku melancarkan aksi balas dendam pada Heyna. Kurasa pasti ia menyukainya.

“Jihoo-ya, jika semua yang kulakukan itu kutunjukkan pada yeoja lain disekolah ini maka kau bisa menyebutnya keterlaluan. Tapi, tidak bagi yeoja labil berdahi lebar itu.Ingat,dia itu iblis perempuan! Jika aku tidak menjatuhkannya maka akulah yang akan dijatuhkannya. Aku yakin dalam otak kecilnya juga tengah menyusun taktik untuk membalas dendam dan mengerjaiku. Karena itu, aku tidak akan mengalah padanya. Arasseo?” jelasku seraya tersenyum penuh kemenangan.

“Dan lagi, kenapa sih kau selalu membelanya? Jangan bilang jika kau menyukai yeoja labil berdahi lebar itu? Aigoo, seleramu benar-benar payah Jihoo-ya!”

“Ya, jangan membuat kesimpulan sembarangan. Aku mengatakan semuanya bukan karena aku menyukainya, tapi terlebih karena secara pribadi aku menghormatinya” balas Jihoo. Aku segera berbalik dan kembali menatap namja yang kini tengah duduk bersila dengan laptop dipangkuannya.

“Apa maksudmu? Kau menghormatinya?”

“Ne, Heyna bukanlah yeoja seperti yang kau fikirkan. Dia, adalah sosok yeoja yang mungkin hanya ada 1 diantara 10.000.”

Mwo? Yak, Oh Jihoo kau tak bisa membohongiku! Kau pasti menyukai yeoja labil berdahi lebar itu kan?”

Aniyo, kubilang aku menghormatinya. Bukan menyukainya.” protes Jihoo.            “Heyna, dia adalah yeoja yang benar-benar baik. Seorang siswi peringkat atas disekolah kita, kepribadiannya sangat menarik kecuali jika sudah berkelahi dengan seseorang sepertimu. Pada dasarnya ia berkelahi ataupun mencari masalah semata-mata untuk membantu seseorang yang dirasanya membutuhkan bantuan. Selain itu, ia selalu tampak sederhana meskipun kenyataannya ia berasal dari salah satu keluarga kaya raya di pulau Jeju.”

“Keluarga kaya raya?”

Ne, Heyna adalah anak kedua dari profesor Lee Shin. Konglomerat sekaligus dokter terkenal pemilik Yongjin Medical. Dan bisa dipastikan jika ia merupakan pewaris tunggal seluruh kekayaan orang tuanya mengingat kakak laki-lakinya telah meninggal 2 tahun lalu karena kecelakaan.”

“Apa yang barusan kau bilang? Profesor Lee Shin? Yongjin Medical?” ulangku.

“Ne, profesor Lee Shin. Konglomerat serta dokter terkenal pemilik Yongjin Medical.”

“Aish, sial! Bagaimana bisa yeoja labil berdahi lebar itu adalah putri Lee Shin pemilik Yongjin Medical tempat aboeji bekerja dan melakukan riset penelitian? Cih!”

Waeyo?” tanya Jihoo saat mendapatiku tengah melamun.

“Ah, aniyo! Jadi, kakak yeoja itu sudah meninggal 2 tahun lalu sehingga menjadikannya pewaris utama. Lalu selain itu hal apa lagi yang kau ketahui tentangnya.”

“Secara garis besar hanya itu yang kami ketahui mengingat Keluarga Lee sangat tertutup. Dan kurasa setelah meningalnya putra pertama mereka, kakak Heyna, mereka tidak pernah mengunjungi sekolah jika ada kunjungan atau rapat orang tua murid. Dan satu hal lagi, tentu saja ia bersahabat erat dengan yeoja bernama Hwang Jihyo.” lanjut Jihoo.

“Ah, tapi ada yang aneh dengannya.” sambung Minhyuk yang semenjak tadi diam mendengarkan celotehku dan Jihoo.

“Apa itu?”

“Jihoo-ya, bukankah Heyna selalu mengambil ijin selama 3 hari setiap diakhir bulan?” tanya Minhyuk yang segera direspon dengan anggukan menyetujui dari Jihoo.

Ne, Heyna selalu meminta ijin untuk tidak masuk sekolah selama 3 hari setiap bulan semenjak kami masih duduk dikelas 2 Jeju International Middle School. Dan sampai saat ini tidak ada yang mengetahui alasan dari setiap absennya. Beberapa rumor mengatakan jika ia pergi ke Jepang untuk mengunjungi kakeknya, profesor Lee Yongjin yang membangun rumah sakit disana untuk mempelajari ketrampilan kedokteran yang sudah turun temurun dimiliki Keluarga Lee. Tapi, kurasa hal itu hanya rumor. Coba bayangkan, mana mungkin yeoja yang pada saat itu berumur 14 tahun mempelajari ilmu kedokteran.” jelas Jihoo.

Ne, kurasa apa yang kau katakan benar.” ucap Minhyuk. “Dan ada pula yang mengatakan jika ia memang mendapat perlakuan khusus dari pihak sekolah karena prestasinya yang bagus dan tidak pernah turun serta kenyataan bahwa orang tua Heyna banyak menyumbangkan uang untuk pembangunan sekolah.” lanjut Minhyuk.

Mwo?” ucapku yang segera direspon kibasan tangan Minho.

Ani, kurasa itu juga tidak benar. Kau tahu sendiri sistem disekolah kita sangat ketat dan sama sekali tidak membeda-bedakan siswa. Kecuali jika. . .”

“Jika apa?” desakku.

“Entahlah, kufikir Heyna memiliki alasan tertentu yang membuatnya benar-benar harus meninggalkan sekolah selama 3 hari setiap bulan.”

Aku hanya bisa mengangguk mendengar penjelasan dua sahabat baruku tersebut. Sejauh ini sama sekali belum ada informasi yang dapat kujadikan untuk membalas kekurangajaran yeoja labil berdahi lebar tersebut. Tapi, anehnya justru aku tengelam dalam cerita tentang seorang yeoja pendek berama Lee Heyna itu.

“Ah, dan satu hal lagi!” ucap Minhyuk mendadak.

“Wae, wae apa itu? Apakah bisa kujadikan untuk membuat yeoja labil berdahi lebar itu bertekuk lutut padaku?” responku segera.

“Ani!” jawab Minhyuk seraya mengeleng-gelengkan kepalanya dengan jijik.

“Lantas apa?”

“Heyna, ia juga tidak pernah ikut dalam piknik ataupun kegiatan diluar gedung sekolah yang mengharuskan kita menginap. Dan anak-anak lain berkata jika ia tidak mengikutinya karena orang tuanya tidak mengijinkannya.”

Untuk sejenak aku tertegun mendengar penjelasan kedua sahabatku tersebut. Aneh sekali, pertama ia selalu meminta ijin 3 hari untuk tidak masuk setiap bulan. Ia juga tidak mengikuti kegiatan diluar sekolah jika mengharuskan siswa menginap.

“Tunggu, apakah kalian tidak berfikir jika yeoja labil berdahi lebar itu sakit?” simpulku yang serentak direspon dengan gelengan kepala dan lambaian tangan dari Jihoo dan Minhyuk.

“Kurasa itu tidak mungkin. Heyna selalu tampak sehat bahkan terlewat aktif. Apa kau lupa bagaimana ia bergumul denganmu kemarin? Dan lagi ia selalu mendapat nilai bagus dalam pelajaran olahraga dan juga ia adalah athlete skating sebelum akhirnya ia berhenti setelah kakaknya meninggal?”

Mwo? Athlete skating?”

“Ne! Heyna, dia sangat ahli meluncur di atas es. Dan beberapa kali dia menjuarai kejuaraan junior. Karena itu sangat disayangkan sekali dia tiba-tiba berhenti.” jelas Jihoo.

“Tapi, Kyuhyun-ah, kenapa kau tampak manyun seperti itu? Apakah kau merasa kalah telak dengan Heyna?” sambung Minhyuk.

*Pletakk. . .

“YAK, kenapa kau menjitakku!” sembur Minhyuk seraya mengusap-usap puncak kepalanya yang baru saja kuhadiahi jitakan maut.

“Tentu saja untuk mencairkan otakmu yang tampaknya saat ini tengah membeku! Siapa yang kau sangka kalah telak, hah? Naega, Cho Kyuhyun! King Of Evil! Mana mungkin aku akan kalah dengan yeoja labil berdahi lebar itu! Mulutku manyun karena semua yang kalian jelaskan panjang lebar tidak ada satupun yang menyebutkan kelemahan yeoja itu! Bukankah tujuanku tadi sudah jelas? Mencari tahu seluk beluk Heyna untuk menyusun taktik jitu untuk mengerjainya? Kenapa kalian malah menceritakan kisah hidupnya? Bukan urusanku apakah orang tuanya mau datang ke pertemuan orang tua murid ataupun dia berhenti menari norak diatas es!” rutukku yang hanya direspon dengan aksi mengangga berjamaah dua sahabatku tersebut.

“Aish, sudahlah! Akan kucari sendiri taktik jitu untuk membuat yeoja gila itu berlutut dihadapanku! Kajja, aku harus segera pulang!” sambungku seraya berbalik dan melangkah.

**************

 

“YAK, APA YANG KAU LAKUKAN!” teriakku pada seorang yeoja yang tampak tengah berjongkok didekat motor milikku. Dengan senyum penuh kemenangan, Heyna segera berlari seraya menjulurkan lidahnya.

“SELAMAT MENDORONG MOTORMU, SETAN LABIL!” teriak Heyna dari gerbang sekolah dan segera menghilang setelah kembali menyulurkan lidahnya kearahku bersama Jihyo.

“Kempes? Aish, sial!” umpatku seraya menendang kesal ban motorku. “Lee Heyna, kupastikan hidupmu tidak akan tenang besok. Kau salah mencari masalah dengan orang, yeoja labil!” rutukku seraya melangkah menuju gerbang sekolah.

“Kurasa lebih baik aku pulang naik bus. Biar Hyeonsong ahjusshi yang mengurus motorku.” ucapku seraya melangkah menuju gerbang. Namun belum genap 4 langkah, kakiku kembali berhenti saat kurasakan ponsel dalam saku celanaku bergetar.

Drrrrrrrrrrrrrrrrtttttttttttttttttttttt. . . . ddddddrrrrrtttt. . .

From : Aboeji

Kyuhyun-ah, jangan lupa dengan acara makan malam pukul 7 malam nanti. Aboeji akan menjemputmu langsung dari rumah sakit. Bersiaplah.

“Sebenarnya, kemana aboeji ingin mengajakku? Aneh sekali, selama ini ia tidak pernah merahasiakan apapun padaku.” gumamku. Detik berikutnya segera kumainkan jemari tanganku diatas layar IPhone dalam genggamanku.

To: Aboeji

Ne, arrasseo aboeji. Aku akan siap sebelum pukul 7 jika kau ingin menjemputku lebih awal.

Setelah menekan tombol sent, kembali kulangkahkan kakiku menuju dunia diluar gerbang Jeju International Highschool.

***********

 

Kedua kakiku masih melangkah menyusuri jalanan Jeju. Untuk sejenak, aku ingin merasakan udara serta pemandangan jalanan Jeju yang selama ini selalu kulalui dengan motor.

“Anak muda, apakah kau ingin berpartisipasi?” langkahku segera terhenti saat sebuah sapaan serta tepukan hinggap dibahu kananku. Kubalikkan tubuhku dan menatap binggung sosok wanita paruh baya dihadapanku.

“Maaf?”

“Maksudku apakah kau ingin ikut berpartisipasi dalam acara natal jalanan bersama? Kau bisa mengambil kartu ucapan ini dan menuliskan harapanmu yang nantinya bisa kau gantungkan dipohon natal raksasa itu.” jelas wanita dihadapanku seraya menunjuk pada sebuah pohon natal raksasa didepan gedung pertunjukan Jeju.

“Harapan?”

“Ne, harapan! Kau pasti memilikinya bukan? Apalagi sebentar lagi hari natal.” jawab wanita tersebut. Dengan wajah antusias ia kembali menyodorkan sebuah kartu berwarna biru padaku. Merasa tidak bisa menolak, segera kuraih kartu tersebut.

“Jangan lupa untuk mengucapkan harapanmu sesuai yang kau tulis dikartu ini didepan pohon natal setelah kau mengantungkan kartu harapanmu. Dan jangan lupa pula untuk datang kemari pukul 7 malam di malam natal.” kuanggukan kepalaku merespon ucapan wanita dihadapanku.

Kutatap selembar kertas berwarna biru dihadapanku dengan wajah bingung. “Harapan ya? Aku tidak memilikinya. Karena segala hal yang kuinginkan selalu datang kepadaku bahkan sebelum aku memintanya. Tapi, terlebih dari itu karena aku tidak mempercayainya, mempercayai sebuah tindakan kekanakan yang dinamakan berharap, yang akan membuatmu tampak seperti seseorang yang lemah.” fikirku.

“Lalu sekarang apa yang harus kutulis?” gumamku seraya berganti menatap pohon natal raksasa dihadapanku. Dan ajaibnya, sebuah ide hebat tiba-tiba hinggap diotak jeniusku!     “Kurasa, untuk pertama kalinya kini aku akan mengajukan sebuah harapan, kekekekeke!” dengan antusias segera kukeluarkan bolpoint dari dalam ranselku dan segera mengoreskan beberapa kalimat atau lebih tepatnya mantra kutukan.

“Kekekekekekeke, selesai! Baiklah sekarang aku hanya perlu mengantungkannya.” kulangkahkan kakiku kembali menuju sebuah objek raksasa yang tak jauh dari tempatku berpijak.

“Baiklah, tahap berikutnya aku harus mengucapkan harapanku.” ucapku setelah selesai mengantungkan kartu harapan berwarna biru milikku. Detik berikutnya, kutangkupkan kedua telapak tanganku didepan dada dengan kedua bola mata terpejam seraya mengucapkan harapanku.

“Tuhan, aku tahu kau ada! Karena itu, turunkanlah semua dewa-dewa perang milikmu dan bantu aku membuat yeoja labil berdahi lebar itu bertekuk lutut padaku. Dan satu lagi, buat yeoja labil itu mengalami kesialan setiap hari!”

Dengan senyum merekah, kubuka kedua bola mataku. “Lee Heyna, tamatlah riwayatmu!”

Kubalikkan tubuhku dan segera melangkah. Namun, langkahku segera berhenti saat kedua bola mataku menangkap objek yang kini tampak berlari tak jauh dari tempatku berdiri. Dengan gerakan cepat kembali kubalikan tubuhku dan menatap takjub pohon natal serta kartu harapan milikku.

“Whoaa, daebak! Pohon ini benar-benar ajaib! Baru beberapa detik aku mengajukan permohonan, sekarang permohonan itu sudah terwujud.” ucapku kegirangan. Kutatap yeoja yang kini tengah melangkah pelan hingga pada akhirnya berhenti didepan pohon natal tak jauh dari tempatku berdiri.

“Lee Heyna, bagus sekali kau datang kemari. Dengan begitu aku bisa melancarkan pembalasan dendamku atas kempesnya ban motorku lebih awal dari yang telah kurencanakan! Tamatlah riwayatmu, yeoja labil!” dengan langakah pelan, kuhampiri yeoja yang kini tengah berdiri menatap pohon natal dihadapannya.

“Baikalah, ini saatnya Cho Kyuhyun! Tarik rambutnya sekuat tenaga dan segera berlari! Hana…dul…set!” tepat ketika aku hendak berlari menerjang Heyna. Kedua kakiku mendadak membeku ditempat saat kedua bola mataku menangkap sosok Heyna yang kini tengah berdoa dengan kedua bola mata terpejam. Raut sayu terlihat jelas diwajahnya. Tanpa mengubris keadaan sekelilingnya yang teramat ramai, ia tetap memejamkan kedua bola matanya untuk waktu yang cukup lama.

“Apa yang kulakukan? Kenapa aku berhenti? Dan apa sih yang diminta yeoja labil berdahi lebar itu? Kenapa ia lama sekali berdoa? Aish!” tanyaku dalam hati. Namun, detik berikutnya aku segera membalikan tubuhku saat pada akhirnya kedua bola mata Heyna terbuka.

Kulirik yeoja yang sekarang tampak meraih sebuah kartu harapan berwarna biru yang sama persis dengan milikku. Raut sayu masih terpancar diwajahnya yang selama ini hanya sering menampakkan ekpresi mengesalkan dihadapanku.

PDVD_137

 

Beberapa saat kemudian ia tampak berbalik dan melangkah pergi.

“Aish, sial! Bodoh sekali kenapa aku malah membiarkannya lolos!” umpatku seraya merutuki kepalaku dengan gemas. Seraya merutuki kebodohanku, kulangkahkan kembali kakiku. Namun, detik berikutnya aku kembali berhenti seraya menatap sebuah kartu harapan berwarna biru yang tergantung di pohon natal, yang beberapa saat lalu dipegang oleh Heyna.

“Aku jadi penasaran dengan apa yang ditulis oleh yeoja labil itu!” ucapku seraya mendekati sisi pohon natal tempat dimana Heyna mengantungkan kartu harapannya. Kuraih kartu berwarna biru dihadapanku dan segera membaca tulisan tangan rapi diselembar kertas tersebut.

“Apa ini? To Heyjin Oppa. Oppa, bagaimana kabarmu? Kuharap, kau baik-baik saja. Dan selalu tersenyum seperti biasanya. Dan. . .oppa mianhae, jeongmal mianhae. . .Na, mulai hari ini aku akan menjadi Lee Heyna yang lebih kuat dari yang kemarin. Karena itu, oppa harus tetap tersenyum. Ne? I promise.” bacaku.

“Apakah ini surat cinta?” gumamku. “Aish, masa bodoh! Lebih baik kusimpan saja kartu harapan miliknya, siapa tahu akan mendatangkan manfaat padaku.” Lanjutku seraya memasukan kartu harapan milik Heyna kedalam saku mantelku.

************

 

“Rumah siapa ini?” tanyaku pada sosok laki-laki disampingku. Aboeji hanya mengendikkan kepalanya padaku dan segera mematikan mesin mobil.

Aboeji, jangan bilang padaku bahwa aboeji akan menikah lagi dan menghianati mendiang eomm. . .”

             *Pletakkk. . .

“Yak, jangan berbicara sembarangan, Kyuhyun-ah! Ini bukan rumah seseorang seperti yang kau fikirkan, melainkan rumah sahabat terbaik mendiang ibumu dan aboeji.

Kuanggukan kepalaku seraya melepas sabuk pengaman. Namun, gerakan tanganku segera terhenti saat tiba-tiba aboeji meraih lenganku.

“Kyuhyun-ah, dengar apapun yang terjadi dan nanti kau dengar didalam, aboeji mohon kau bisa menggunakan akal sehatmu dan bersikap tenang.”

“Apa maksud aboeji?”

“Dengar, apapun yang akan kau dengar setelah ini mungkin akan membingungkanmu dan sulit untuk kau terima. Tapi, percayalah aboeji, mendiang eomma-mu dan seseorang yang akan kau temui didalam tidak pernah bermaksud buruk padamu.” jelas ayahku. Entah mengapa aku merasakan firasat aneh pada penjelasannya.

Aboeji ap. . .”

“Kami akan menjelaskannya didalam! Lebih baik kita segera masuk, kurasa saat ini mereka pasti sudah menunggu kita. Dan ingat, kau adalah Cho Kyuhyun, anak laki-laki kebangaanku. Karena itu kau pasti akan bersikap baik didalam. Aratchi?”

Kembali aku hanya bisa mengangguk pasrah dan melangkah keluar dari dalam audi hitam yang kutumpangi.

Kulangkahkan kakiku kedalam bangunan besar dihadapanku saat seorang pelayan mempersilahkanku dan ayahku masuk. Dalam diam, kami berjalan mengikuti sang pelayan menuju entah kemana.

“Silahkan masuk, Tuan. Nyonya dan Tuan akan segera datang.”

Berdua, aku dan aboeji segera melangkah kedalam sebuah ruangan besar yang terlihat rapi dan hangat. Sebuah potret besar mengantung tegak didinding tengah bagian ruangan tersebut. Potret sebuah keluarga dengan pakaian adat Korea yang kuyakini pastilah sosok pemilik bangunan besar ini.

Korean-Family-psd20130724

Dan disudut dinding lainnya tergantung dua potret yang berukuran lebih kecil. Potret pertama adalah potret sorang namja yang kukira pasti adalah sosok bocah laki-laki dalam foto keluarga sebelumnya yang kini sudah tumbuh dewasa.

tumblr_m77rx0NNvX1qjegdjo1_500

Sedang potret disebelahnya sudah pasti adalah sosok bocah perempuan kecil dipotret sebelumnya yang tentunya adalah adik dari sosok namja dalam potret di sebelah…

Fikiranku segera terhenti dan tanpa basa-basi segera kuhampiri potret seorang yeoja yang tengah tertawa lepas yang tergantung disamping potret kedua.

jiyoo blur

“Dia. . .”

“Kyuhyun-ah, waegurae?”

“Aboeji, sebenarnya rumah siapa ini? Kenapa foto yeoja labil ini bisa berada di sin. . “

Ahjusshi, memangnya siapa yang bertamu? Kenapa aku harus ikut menyambutnya?”

Kubalikkan tubuhku segera saat sebuah suara yang tak asing hinggap didaun telingaku. Detik berikutnya, kedua bola mataku segera bertemu dengan sosok nyata yeoja didalam potret disebelahku.

“Yak! Apa yang kau lakukan disini!” seru Heyna seraya memasang wajah garangnya.        “Na-ya!” seru aboeji seraya melangkah menghampiri Heyna dengan wajah berseri-seri.

“Jaeha ahjusshi! Ada apa ini? Kenapa namja labil pengidap sindrom narsis akut itu bisa bersamamu?” balas Heyna seraya mengapit lengan ayahku.

“Yak, jaga mulutmu nona labil berdahi lebar! Siapa yang kau sebut namja labil dengan sindrom narsis akut, hah? Dan satu hal lagi, singkarkan tanganmu dari lengan ayahku!”

Mwo? Ayahmu?” ucap Heyna seraya menatapku dan aboeji secara bergantian.

Aigoo, ternyata kalian sudah mengenal seakrab ini sampai-sampai kalian memiliki panggilan kesayangan masing-masing. Baguslah, dengan begitu tidak akan terasa canggung lagi jika kalian tinggal bersama nantinya.”

“MWO!” sruku berjamaah bersama Heyna.

“Aboeji apa maksudmu?” tanyaku.

“Jinwoon ahjusshi, sebenarnya apa yang terjadi? Apa maksud eomma dan appa memintaku ikut menyambut yang kalian katakan sebagai tamu hari ini? Dan apa pula maksud dari perkataan Jaeha ahjusshi?” ucap Heyna seraya menatap laki-laki tua disampingnya dengan ekspresi menuntut.

“Aboeji, jangan mengerjaiku! Katamu ini bukan rumah wanita yang mungkin akan kau nikahi. .”

“MWO? Yak, siapa yang akan dinikahi Jaeha ahjusshi? Eomma-ku? Yak, kau jangan berkata sembarangan, Tuan Labil!”

“Yak, apakah sampai saat ini kau belum memperiksakan telingamu ke dokter THT? Aku tidak mengatakan jika ayahku akan menikahi eomm . . .”

“Jaeha-ya!”

Ucapanku segera terhenti saat sebuah seruan terdengar dari ujung pintu. Tampak seorang wanita dewasa berparas cantik dan seorang laki-laki dengan wajah serius masuk kedalam ruangan.

“Jadi, inikah Kyuhyun?” lanjut wanita tersebut yang kurasa pastilah adalah ibu dari yeoja labil itu.

“Ah, ne! Dia Kyuhyun.” jawab aboeji. “Kyuhyun-ah, cepat berikan salammu!” mengikuti perintah ayahku, segera kubungkukkan tubuhku kepada dua sosok dewasa dihadapanku.

“Annyeonghaseyo, Cho Kyuhyun imdida! Bangapseumnida.” ucapku seraya memaksakan seulas senyum ditengah keterkejutan serta kebingunganku. Sebenarnya ada maksud apa hari ini kami bertemu.

“Manis sekali, kau pasti sudah mengasuhnya dengan baik selama ini.” ucap wanita dihadapanku seraya membelai lembut puncak kepalaku. Dapat kulihat raut wajah Heyna berubah murung seketika saat melihat ibunya tengah membelaiku.

Eomma, apakah kau juga mengenal Kyuhyun?” wanita dihadapanku segera berbalik dan menatap Heyna.

“Ah, kau ternyata sudah disini, Na-ya. Kebetulan sekali jadi kau bisa menyapa Kyuhyun.”

“Eunji-ah, mereka berdua sudah saling mengenal akrab. Bahkan sangking akrabnya mereka sudah memiliki panggilan kesayangan masing-masing.” sambung aboeji.

“Benarkah? Bagus sekali jika begitu. Dengan begitu tidak ada masalah jika nantinya mereka tinggal bersama.” ucap laki-laki dewasa dihadapanku yang tentulah adalah ayah Heyna. Profesor Lee Shin.

Lagi, apa maksud mereka berdua dengan tinggal bersama? Jika bukan ayahku yang akan menikahi ibu Heyna, berarti. . .

Aku sgeera berbalik dan menghampiri ayahku. “Aboeji kau bilang bukan kau yang akan menikah, lantas apa maksudmu dengan aku dan Heyna akan tinggal bersama?” tanyaku tanpa memperdulikan segerombolan makhluk dibelakangku.

“Jangan bilang kau bermaksud. . .” lanjutku. Kulirik sekilas sosok Heyna yang kini tampak menatap serius kearahku. Dapat kutebak yeoja tersebut pasti tengah memikirkan hal yang sama denganku.

“Aboeji, kau tidak berencana menjodohkanku dengan yeoja labil itu bukan?” ucapku pada akhirnya.

“Menjodohkan? Maksudmu menikah? Bagaimana mungkin, itu tidak akan pernah terjadi, Kyuhyun-ah. Kalian berdua adalah saudara kembar!”

“MWO!” teriakku serentak bersama Heyna.

“Aku dan Heyna adalah. . .”

“Kembar?”

TBC.

 

Annyeong^^

Sazshi kembali lagi dengan kisah baru. Seperti yang sebelumnya pernah sazshi sebutkan, dalam kisah “HOPE” sazshi menggunakan karakter Lee Heyna dan Cho Kyuhyun seperti yang sudah kalian kenal dalam FF “ My Perfect Girlfriend Or Rival” namun baik isi maupun setting cerita merupakan ide baru dan bukan lanjutan dari kisah “My Perfect Girlfriend Or Rival”. Dan untuk part pertama ini sazshi sudah memberikan gambaran cukup banyak tentang tokoh Lee Heyna meskipun masih banyak misteri yang tersembunyi didalamnya. Nah karena itu silahkan menebak-nebak sendiri ya bagaimana sazshi akan membawa kisah duo labil kita kali ini.

Dan untuk kedepannya sazshi akan berusaha untuk bisa kembali aktif dan mem-posting lanjutan cerita setiap minggu malam seperti dahulu.

And the last, thank you for read my story^^ #deep bow

 

 

 

 

 

 

Advertisements

46 thoughts on “{KyuHeyna_Story} HOPE # 1 WHEN EVIL’S MEET

  1. Thoorrr Annyeong..
    Apakah Saya Yang Pertama???!!

    Ceritanya Seru Banget..
    Padahal Baru Awal Cerita..

    KyuHeyna Couple Berpasangan Kembali Di New Story.. ^^

    Tapi thoorr..
    Kenapa Bisa Mereka Saudara Kembar..???
    Kalo Mereka Saudara.. Berarti Dicerita Kali Ini, Mereka Gak Akan Jadi Couple..??

    Hemmmm..
    Penasaran Next Story’a.. \^^/ #fighting

  2. Aigooo kaka aku suka ceritanya..jeongmal mereka kembar??kejutan yg sangant keren…
    Seperti biasa dkhpn heyna selalu bnyak hal misterius..ciri khas dri eoni..hahahahaha
    eon pas dialog mrka bertengkar kyay nafsu bngetnya..hehehe
    dtnggu kelnjtnya…penasarang sma anak kembar..hahhhaha

    • udah gak nafsu ntu mereka, emang niat tu berentemnya heheheheheh
      Apakah mereka kembar? maybe yes, maybe no.yang jelas, ni cerita bakal eon bikin supaya tebakan kalian semua salah heheheheheehhe#plak
      ditunggu ne^^

  3. Shireo!!! Andwae!!! Kyuhyun pasti bukan saudara kembar Heyna!!! Shireo!!! Shireo!!!!!!! *narik rambut frustasi*

    BTW, FF nya daebak eonni ^_^
    Fighting!! Fighting!!!! 🙂 🙂

  4. eonni, eonni,,,
    #tarik ujung baju sazshi eonni

    boleh bilang sesuatu ga ??
    KEREEEN !!!
    aku suka dengan latar FF ini yang mengambil setting di Jeju, lebih bagus nuansanya.

    dan~ kalo duo evil ini kembar, gimana kisah cintanya ?
    jadi kesel sendiri mikirnya,
    tapi mereka berdua cocok kok kembar, sama sama evil gituu..
    dan yang terakhir, jangan lama lama nge post lanjutannya, sazshi eonni, ne ??
    #bow

  5. Yah ko mereka saudaraan
    T_T
    V terlepas dari tu crtnya keren,, feel nya dpt bgt. Q serasa brada d dunia mereka pas bcnya.
    D tunggu next part n author fighting
    └(^o^)┘

  6. disini kyu-hyena gak akurnya parah bgt yaa kalo kmrn2 ga akurnya msh bau2 bumbu cinta skrg musuhannya bnran hahaha
    what kembar??? sumpah2 ini crtanya bikin penasaran bgttt!!!!
    pokoknya aku ngguin bgt crtnya,semangaaat nulisnya biar lancar cpt keluar lanjutnya!!!

  7. Hhaaahhhh…. OMG!! Beneran mreka kembar??? Kok bisa?? Sumpah penasaran banget cerita slanjutnya, cepetan publish ya eonnie!!!

    Keep Writing!!!

  8. hai eonni…
    cerita baru yang tentunya fresh..tetap dengan cast utama nae namja cho kyuhyun *kekeke
    endingnya asli bikin kaget, aku kira mereka dijodohin tapi kenapa kembar ? kalo kembar ga bisa jadi pasangan dooongg ? hadeeehh..
    awalnya aku pengen banget cerita sebelumnya dilanjutin karna penasaran gimana kelanjutan pernikahan pasangan labil itu.. tapi baca ini suka jugaaa, ditunggu lah lanjutan semuanyaa..

    • cerita sebelumnya tetep lanjut kok, tenang saja sudah ada dikepala eonni ide ceritanya, cuma ini eon keluarin cerita baru buat selingan n biar gak bosen heheehehhe
      ne, ditunggu yach^^

  9. 친구 안녕~ aq suka ceritanya. Penasaran dgn part selanjutnya.. Tetap semangat utk melanjutkan kisah Kyu-Hyena.. ^^ 화이팅~!!!

  10. Annyeong,, ini prtama kalinya aku komen di blog chingu ^^
    Bru bca part 1 nya udh bkn mnarik 🙂
    Kyu- heyna saudara kembar ??
    Apa ini mksd jinwoon ahjusshi yg tdi meminta maaf sm heyna yah..
    Yg saudranya heyna bknnya heyjin yah ?
    #mkin keras 😀
    Slm kenal yah 🙂

  11. Saszhiiii… Biasanya aku baca note di fb, akunku Desney Pratiwi yaa.. tp mulai sekarang aku maen ke sini aja, biar ga kepotong2 bacanya, hehe

    Mereka kembar? Kok kayaknya ga mungkin ya? Engga kan? Engga kan?

    Heyjin, kakaknya Heyna kenapa? Kecelakaan? Sakit?
    Trus, apa rahasia yg disembunyiin Jinwoon ahjussi?

    Oiya, ada typo dikit, td dtulisnya “I’m I right?” Seharusnya “Am I right?”
    Udah segitu doang…
    Mo lanjut baca ah, udah ketinggalan banyak nih ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s