{My Perfect Girlfriend Or My Perfect Rival?!} The Last Part # PROMISE YOU

PIC PART 18

 

Title                             : {My Perfect Girlfriend Or My Perfect Rival?!}

( Part 18-Last Part)  #  PROMISE YOU

Author                         : Sazshi

Main Cast                    : Cho Kyuhyun

: Lee Heyna

Another Cast               : All member Suju Lainnya, Lee Eunji (oc), Park Jia (oc), Shin Heera (oc),  Go Minji (oc), Hwang Jihyo (oc), Cho Minhye (oc), Kim Nana, (oc), Jung Minho (oc), Han Sora(oc)

Genre                          : Romance, Comedy and Family

Rating                         : PG 15

Leght                           : Continue

 

Recommended Song

Forever #By. Girls Generation

A Thousand Years Part 2 # By. Cristhina Perry Ft Steve Kazee

Breakaway # By. Kelly Clarkson

Promise You # By. Super Junior KRY

 

“Mungkin dalam sebuah penantian akan membutuhkan waktu yang lama. Membuat kita tersiksa bahkan tak jarang menghempaskan kita kedalam lubang yang gelap. Tapi, bukankah sebuah lubang tetap memiliki jalan keluar? Segalanya akan dapat kita raih dengan sebuah keyakinan dan ketegaran. Ketegaran akan selalu menyokong tubuh kita untuk tetap berdiri dan melangkah kedepan. Sedangkan keyakinan akan menghantarkan kita pada jalan keluar dari lubang yang gelap tersebut hingga pada akhirnya kita mampu meraih apa yang kita nantikan.-Lee Heyna.

 “Mungkin segalanya akan terasa berkali lipat lebih berat saat ini, beratus-ratus lebih menekan kita. Dan beribu-ribu membuat kita berdua merasa sakit. Tapi, bukankah memang seperti itu aturan permainan takdir? Memberi kesempatan pada kita untuk bertemu,menguji keyakinan kita dan tak jarang membuat kita jatuh pada lubang yang gelap. Dan segalanya akan terus berulang selama kita tidak mampu menyelesaikannya. Karena itu, mari kita selesaikan permainan tersebut dan keluar sebagai pemenang!”-Cho Kyuhyun.

 

May, 6th 2013 at  Lee Yongjin House. . .

*Author Pov*

Sajjangnim, bisakah saya berbicara dengan anda sebentar didalam?”  bisik Jinwoon pada majikannya yang kini tengah berbincang dengan Jung Jaeha. Sorot curiga segera terpancara jelas dikedua bola mata Lee Yongjin saat mendengar bisikan sekertaris pribadinya tersebut. Firasat buruk mendadak memenuhi benak pemilik Yongjin Medical dan Yongjin Medical University itu.

“Jaeha-shi, mohon maaf saya harus masuk sebentar ke dalam. Ada telepon penting dari universitas. Saya benar-benar minta maaf untuk ketidakyamanan ini.” ucap Yongjin pada sosok dihadapannya yang segera tersenyum simpul yang sangat kontras dengan raut namja muda dibelakangnya yang kini tampak gelisah seraya memutar-mutar ponsel dalam genggaman tangannya.

Ne, silahkan anda menerimanya Tuan Lee!” balas Jung Jaeha segera. Setelah menganggukan kepalanya singkat, Yongjin segera berbalik dan melangkah menuju pintu yang akan membawanya ke bagian yang lebih pribadi dalam kediamannya.

Aboeji, kurasa aboeji tidak perlu mendengarnya dari Jinwoon! Aku akan mengatakannya secara langsung pada aboeji!” tubuh Yongjin segera berbalik saat mendengar sebuah suara yang amat dikenalnya tersebut. Raut amarah mendadak terpancar jelas diwajah Lee Yongjin saat mendapati sosok putrinya yang berdiri tepat dihadapannya saat ini.

“Eunji-ya, apa yang kau lakukan? Dimana Na-ya?” tanya Yongjin segera dengan tatapan tajam saat kedua bola matanya tidak menangkap sosok yang tengah ditunggu oleh semua orang dalam ruangan tersebut.

“Na-ya, saat ini anak itu berada ditempat seharusnya dia berada untuk menemukan kebahagiannya! Dan jangan berusaha melakukan apapun yang memaksaku untuk berbuat hal yang sama seperti apa yang akan aboeji lakukan!” jawab Eunji yang sukses membuat wajah laki-laki tua dihadapannya tampak merah dengan kedua mata yang  membelalak tajam karena menahan amarah. Tanpa menggubris pemandangan dihadapannya sama sekali, Lee Eunji segera berbalik dan melangkah mendekati keluarga Jung yang tampak terlihat kebinggungan saat ini.

“Sebelumnya saya minta maaf karena belum pernah menyapa anda secara pribadi. Lee Eunji imnida, saya ibu dari Heyna. Dan kurasa saya harus minta maaf panda kalian sekali lagi karena putri saya tidak bisa melanjutkan rencana pertunangannya dengan putra anda!”

“LEE EUNJI!” teriak Yongjin segera saat mendengar ucapan yang baru saja terlontar dari bibir anak perempuannya! Segera suasana dalam ruang tamu dikediaman Yongjin tersebut menjadi panas. Terlihat jelas raut terkejut diwajah masing-masing anggota keluarga Jung.

Wae, apakah aboeji masih akan berusaha menutupi kenyataan? Aboeji, apapun yang terjadi Na-ya tidak akan hadir dan melanjutkan perintahmu! Dan tidak ada alasan lain lagi untuk menutupi segalanya! Mereka berhak tahu apa yang terjadi saat ini!” balas Eunji yang kini kembali membalikkan tubuhnya dan menatap tajam sosok dihadapannya.

“Tuan Lee, apa yang terjadi? Apakah anda bisa menjelaskan pada kami?” ucap seorang wanita yang kini melangkah mendekati sosok Eunji.

“Maaf, mungkin hal ini sangat mengejutkan anda sekeluarga. Dan sekali lagi saya minta maaf, kami sekeluarga tidak bermaksud mempermalukan keluarga anda. Tapi, hari ini putri saya tidak akan..”

“EUNJI!”

“ABOEJI, geumanhae jebal..!” sanggah Eunji tak mau kalah. “ Nyonya Jung, mianhamnida. Saya rasa pertunangan Heyna dan Minho tidak akan terjadi. Na-ya, putriku ia tidak akan datang hari ini.” kedua bola mata sosok wanita dihadapan Eunji segera membelalak begitu mendengar penjelasan yang baru saja diberikan padanya.

“Apa maksud anda? Kenapa Heyna tidak akan datang?”

“Mianhamnida,mungkin anda sekeluarga sebelumnya tidak pernah tahu jika Na-ya melakukan segalanya sampai saat ini karena paksaan dari kakekknya. Dan saya rasa, putra anda bisa menjelaskan hal tersebut lebih detail. Bukankah mereka bersahabat baik?” jawab Eunji seraya menatap sosok namja yang kini tampak menunduk menahan amarahnya. “Ho-ya, kau pasti mengerti apa yang eomma maksud. Bukankah kau juga anak eomma?” lanjut Eunji yang segera membuat kepala namja tersebut terangkat dan menatap miris sosok ibu sahabatnya yang selama ini sudah ia anggap seperti ibu kandungnya sendiri. Detik berikutnya namja tersebut segera bangkit dan melangkah keluar tanpa sepatah katapun.

 

Minho segera menghampiri audy hitam milik keluarganya yang terparkir dihalaman luas kediaman Yongjin. Dengan kasar ia merebut kunci dari sopir pribadi keluarganya yang tengah menghampirinya dengan wajah kebingungan.

“Apa yang akan kau lakukan?” ucap seorang yeoja yang tiba-tiba berada disampingnya dan menghentikan gerakan tangan Minho yang hendak membuka pintu mobil.

“Tanpa aku harus menjelaskan kau pasti mengerti, Hyo-ya!” jawab Minho dengan dingin sembari menyingkirkan tangan sahabatnya tersebut dengan kasar. Namun, segera Jihyo kembali menahan tangan namja dihadapannya yang hendak membuka pintu mobil. Detik berikutnya, kedua mata makhluk tersebut segera membelalak satu sama lain.

“Ho-ya, sampai kapan kau mau menyiksa Na-ya!”

“Menyiksa? Kau bilang aku menyiksanya?Lalu bagaimana dengannya? Apa yang dilakukannya saat ini?” balas Minho. Baru kali ini ia bertengkar dengan Jihyo selama mereka bersahabat. “Singkirkan tanganmu sekarang juga! Hyo-ya, jangan memaksaku berbuat kasar padamu!” lanjut Minho seraya menyingkirkan kembali tangan Jihyo dengan kasar. Namun dengan cepat Jihyo segera merebut kunci dalam genggaman Minho dan melemparkannya jauh-jauh dari jangkauan mereka.

“HWANG JIHYO!” teriak Minho meluapkan segala emosinya yang sedari tadi ia tahan. Semburat merah terpatri jelas diwajah serta kedua bola matanya.

Wae, apa yang akan kau lakukan? Mengataiku? Membenciku? Atau bahkan kau ingin memukulku? Lakukan jika kau ingin melakukannya, Tuan Jung! Aku lebih memilih menerima segala hal tersebut daripada sekali lagi aku harus melihat sahabat baikku jatuh dan kehilangan sinarnya! Ho-ya, apakah kau sama sekali tidak pernah bisa melihat bagaimana tersiksanya Heyna? Apakah kau sama sekali tidak pernah bisa melihat bagaimana menderitanya dia? KAU TAHU SEMUA ITU DAN KAU SELALU BERPURA-PURA TIDAK PERNAH MELIHATNYA! APAKAH SEORANG SAHABAT AKAN MELAKUKAN HAL TERSEBUT? MEMAKSAKAN EGONYA DEMI KEBAHAGIANNYA SEMATA? APAKAH KAU MENGERTI BAGAIMANA BERATNYA HEYNA MENJALANI SEMUA INI!” teriak Jihyo yang segera membuat namja dihadapannya tampak terkejut. Namun detik berikutnya tatapan dingin kembali terpampang dikedua bola mata Minho.

“Hyo-ya, apakah selama ini Heyna juga mengerti bagaimana perasaanku? Kau tahu akulah yang mengenalnya terlebih dahulu! Aku juga yang menyukainya terlebih dahulu! Bertahun-tahun aku selalu menahan perasaanku tersebut. Menunggu dan terus menunggunya agar suatu saat ia menyadari perasaanku dan mau melihat kepadaku. Apakah aku salah jika aku ingin memperjuangkan perasaanku? APAKAH AKU SALAH JIKA AKU INGIN MERAIH HAL YANG SELAMA INI KUTUNGGU?APAKAH AKU SALAH JIKA AKU INGIN MENDAPATKAN KEBAHAGIANKU?KAU BILANG TIDAK MENGAPA BAGI KITA UNTUK MERAIH APA YANG KITA HARAPKAN SELAMA HAL TERSEBUT DILAKUKAN DENGAN CARA YANG JUJUR! TAPI SEKARANG APA YANG TERJADI?” teriak Minho seraya memukul keras audy hitam disampingnya. Sebutir air mata segera menetes dipipi Jihyo saat mendapati sahabatnya yang kini tampak frustasi. Hal yang amat sulit baginya saat harus berusaha keras menempatkan dirinya sebagai sosok sahabat yang berusaha ingin menengahi pertikaian diantara kedua sahabatnya, dan sebagai sosok yeoja yang harus mengabaikan dan menahan perasaanya yang amat sakit saat harus mendengar pengakuan bahwa namja yang amat disukainya sangat mencintai yeoja lain.

“Hyo-ya, kenapa kau hanya mementingkan perasaan Heyna. Apakah dimatamu perasaanku sama sekali tidak berarti? Apakah kau tahu bagaimana sakitnya saat kau harus selalu menunggu seseorang agar suatu saat menatapmu? Apakah kau tahu bagaimana rasanya harus selalu berdiri disamping orang yang kau sukai dan melihatnya memandang orang lain? Mengesampingkan segala perasaan demi keutuhan sebuah arti persahabatan, menahan segala keinginanmu agar sosok tersebut bisa terus berada disampingmu walaupun ia sama sekali tidak memberikan ruang dihatinya? APAKAH KAU TAHU BAGAIMANA SEMUA RASA SAKIT ITU? APAKAH SEMUA HAL ITU ADIL BAGIKU? ”

Ara, nan ara!” lirih Jihyo yang segera membuat namja dihadapannya terdiam saat dilihatnya bulir-bulir air mata mulai menetes deras dikedua pipi sahabatnya. “Bagaimana aku tidak bisa mengetahui rasa sakit yang kau rasakan saat ini? Kau salah, aku sangat mengetahui rasa sakit tersebut. Selalu menunggu orang yang kau sukai agar suatu saat memandangmu. Menahan perasaan saat orang yang kusukai memilih menatap orang lain. Menahan rasa sakit saat harus mendengar pengakuan orang yang kusukai bahwa ia mencintai orang lain. Melihatnya setiap hari menatap orang yang disukainya bahkan mengesampingkan perasaanku sendiri dan memilih mendukung orang tersebut agar bisa tersenyum bahagia.” lanjut Jihyo seraya menatap miris namja dihadapannya. “Bahkan sampai akhir usahaku, namja tersebut tidak pernah sekalipun menyadari perasaanku. Apakah kau bisa melihatnya? Apakah sampai saat ini kau bisa menyadari segalanya? Apakah kau juga akan memandangku suatu hari nanti?” raut terkejut segera  terpatri jelas diwajah Minho saat mendengar pengakuan yeoja dihadapannya. Segala amarah yang semenjak tadi berkecamuk dalam benaknya seakan melebur menjadi satu bersama keterkejutannya dan membuatnya hanya bisa berdiri mematung ditempatnya.

“Apakah yang terjadi padaku juga bisa dikatakan adil? Walaupun aku bukanlah orang pertama yang bertemu denganmu. Walaupun aku bukanlah orang pertama yang menyukaimu. Tapi aku bisa membuktikan bahwa aku menyukaimu lebih dari yang kau kira. Tapi, seperti hal-nya dirimu. Aku selalu menahan segala perasaanku demi keutuhan arti sebuah persahabatan. Selalu menahan perasaanku agar kau bisa tetap berdiri disampingku sebagai seorang sahabat. Dan selalu berharap agar suatu saat kau bisa memberikan sedikit ruang dihatimu. Jika bisa, aku akan berbuat egois seperti halnya dirimu. Tapi, aku tidak akan bisa melakukannya. Mengenal Heyna membuatku banyak belajar tentang sebuah arti pengorbanan. Apakah kau tahu bagaimana sakitnya ia saat harus mengatakan padaku bahwa ia akan memilih mematuhi perintah kakeknya untuk menyetujui pertunangan denganmu? Apakah kau tahu bagaimana perasaannya saat harus memilih apakah ia akan menyakitiku dan Kyuhyun-oppa ataukah mengabaikan perintah haraboeji-nya dan menyakitimu? Apakah kau tahu bagaimana tertekannya ia saat itu? Na-ya, tanpa memperhatikan penampilannya ia mendatangiku dan berlutut memohon maaf padaku. Memohon maaf karena harus menjadi sahabat yang buruk bagiku. Memohon maaf karena harus merampas seseorang yang sangat berarti bagiku. NA-YA, DIA MENGETAHUI SEGALANYA SEJAK AWAL! APAKAH KAU BISA MEMBAYANGKAN BAGAIMANA PERASAANKU DAN NA-YA SAAT ITU? Hancur, kata itulah yang tepat mewakili perasaan kami. Hancur karena aku harus merelakan seseorang yang kusukai berdiri disamping orang lain yang tak lain adalah sahabatku. Hancur karena aku harus melihat sahabat baikku kehilangan kebahagiannya dan berlutut memohon maaf padaku. Dan Na-ya, dialah yang paling menderita. Selalu menganggap dirinya sebagai sahabat yang buruk karena telah merampas harta berharga sahabatnya. Merelakan kebahagiannya demi hal yang dianggapnya baik bagi bersama. Kufikir segalanya akan membaik asalkan kaulah yang berdiri disampingnya. Kufikir segala luka dihatinya akan segera sembuh karena kau akan selalu menjadi sandarannya? Namun, aku salah. Suatu kesalahan bodoh yang kulakukan karena aku memaksa Kyuhyun-oppa untuk melepaskannya. Na-ya, ia sangat menyukai Kyuhyun-oppa. Ia amat menyukainya lebih dari yang kita tahu. Bisakah kau membayangkan bagaimana perasaanya? Seakan segala hal yang terjadi dalam hidupnya belumlah cukup menekannya dan sekarang kau berniat mendorongnya kedalam lubang yang lebih dalam dan gelap! APAKAH SEMUA ITU JUGA ADIL BAGINYA?” tatapan miris yang sebelumnya tersirat dikedua bola mata Jihyo mendadak lenyap dan berganti menjadi sorot tajam yang membuat namja dihadapannya semakin terkejut.

“Hyo-ya, aku..” lirih Minho yang segera terhenti saat ditatapnya sebelah tangan Jihyo terangkat sebagai tanda baginya agar tidak melanjutkan kata-katanya.

“Ara, kau tidak perlu menjelaskan apapun padaku. Saat ini aku sama sekali tidak menginginkannya. Dan aku sama sekali tidak mengharapkan belas kasihan darimu. Aku kemari hanya ingin membuka hatimu. Membukanya agar kau bisa melihat bagaimana sakitnya Na-ya jika ia harus berdiri disampingmu. Dan karena aku masih menganggapmu sebagai seorang sahabat yang amat sayang jika  hanya kubiarkannya terperosok pada sebuah lubang kesalahan. Dan satu hal lagi, aku ingin kau tahu bahwa Heyna sangat menyukaimu. Sangat menyayangimu sebagai sosok pengganti kakak kembarnya. Teramat menyayangimu sehingga membuatnya merasa takut jika kau membencinya.” ucap Jihyo seraya mengusap dengan cepat tetesan air mata dikedua pipinya. “Ambil ini dan renungkan semuanya! Jangan melakukan hal yang justru akan membuatmu menyesal dikemudian hari!” lanjut Jihyo seraya mengulurkan selembar foto yang diambilnya dari dalam saku jaketnya. Minho menatap binggung benda yang tengah disodorkan padanya saat ini, namun perlahan ia menggulurkan tangannya dan meraih benda tersebut dalam diam.  Tanpa sepatah katapun , Jihyo segera membalikkan tubuhnya dan segera melangkah meninggalkan sosok namja yang kini hanya bisa menatap punggungnya dengan miris.

 

Minho menatap lekat-lekat selembar foto dalam genggamannya tersebut. Sebuah kenangan yang pernah diabadikan Heyna satu tahun silam.

Pic Part 12-2

Dalam benaknya saat ini dipenuhi dengan berbagai macam pertanyaan serta amarah dan kebingungan yang tertahan. Ia sama sekali tidak tahu apa yang harus dilakukannya saat ini. Di lain sisi ia ingin sekali segera pergi dan mencari keberadaan Heyna, namun disisi lainnya sebuah suara menyerukan padanya agar tidak melakukan hal tersebut. Menyuruhnya untuk menerima segalanya dan memikirkan perasaan dua orang yang akan tersakiti dengan tindakannya tersebut.  Sebuah kebodohan baginya karena selama ini sama sekali tidak pernah menyadari perasaan Jihyo. Selalu berkeluh kesah padanya tentang perasaan yang ia pendam pada Heyna dan tak jarang menyuruhnya untuk membantu agar ia bisa mendapatkan hati Na-ya. Dan dengan senyum, Jihyo selalu mengacungkan ibu jarinya dan mengangguk tulus sebagai jawaban dari segala permintaanya.

Lamunan namja yang masih berdiri dihalaman kediaman Lee Yongjin tersebut segera hilang saat sebuah angin menerpa tubuhnya dan menerbangkan benda yang tengah ia genggam. Dengan cepat Minho segera melangkah dan memunggut selembar foto yang terjatuh tak jauh dari tempatnya. Namun, detik berikutnya kedua alis namja tersebut segera mengernyit saat mendapati sebuah tulisan tangan rapi yang amat dikenalnya dibalik selembar foto yang diberikan oleh Jihyo barusan.

 

To: Master Of Playboy & Miss Paparazzi^^

“Ho-ya, Hyo-ya SARANGHAE! JEONGMAL SARANGHAE chingu-ya. . .

Aku tidak akan pernah lelah memberitahu kalian seberapa besar aku menyayangi kalian berdua. Bagiku, kalian adalah harta berharga yang kumiliki. Harta yang teramat berharga dan tidak akan kubiarkan hilang dari pandanganku. Karena itu, tetaplah berdiri disampingku, tersenyum bersamaku dan saling mengenggam erat tangan kita masing-masing. Apapun yang terjadi aku akan selalu membuat kalian tersenyum dan bahagia. Tidak akan kubiarkan apapun menyakiti kalian dan menjatuhkan kalian. I Promise^^

SARANGHAE JEOGMAL SARANGHAE. . .

                                                                                                            -Lee Heyna-

 

“Apakah aku benar-banar telah menjadi seorang sahabat yang buruk? Bagaimana bisa aku menyakiti dua orang yang selama ini selalu membuatku tersenyum dan meraih tanganku? Heyna, Jihyo, mereka berdua sama sekali tidak pernah sekalipun menuntutku. Bahkan, mereka akan tetap tersenyum dihadapanku disaat mereka harus menahan sakit karena ulahku.” lirih Minho dalam hati. Perlahan pewaris Jung’s Corporation tersebut menegadahkan wajahnya hingga kini dapat dilihatnya dengan jelas langit senja yang terbentang luas diatasnya. Hela nafas berat terhembus keluar dari mulutnya bersama dengan segala amarah yang sebelumnya tengah berkecamuk dalam benaknya. Perlahan namun pasti kedua sudut bibir namja tersebut membentuk sebuah senyuman. Sebuah isyarat menyerah yang seharusnya sejak lama ia lakukan. Sebuah hasil dari segala yang selama ini tanpa langsung selalu diajarkan oleh kedua sahabatnya. Bukan sebuah kepasrahan akan keadaan maupun pengorbanan. Namun, sebuah ketegaran dan ketulusan. Tetap berdiri dan tersenyum meskipun segala hal terasa amat berat dan tak jarang membuatmu merasa hancur berkeping-keping. Tetap meraih tangan seseorang disekelilingmu dan mengenggamnya meskipun kau merasakan sakit yang teramat saat hal tersebut kau lakukan. Seperti yang selama ini selalu diperlihatkan oleh kedua sahabatnya. Tetap tersenyum tulus dan meraih tangannya meskipun berkali-kali ia menyakiti perasaan mereka.

Hela nafas panjang kembali terhembus dari mulut Minho. Perlahan namun pasti, namja tersebut mulai melangkahkan kedua kakinya memasuki bangunan megah dihadapannya. Memasuki sebuah dunia yang telah diajarkan oleh kedua sahabatnya. Dan memasuki sebuah pintu yang akan membawanya pada sebuah tanggung jawab yang harus diselesaikannya sejak ia memulainya.

“Hyo-ya, Na-ya mianhae, jeongmal mianhae chingu-ya!”

*Author Pov End*

 

17:42 KST at Sment Building 2nd floor. . .

*Kyuhyun Pov*

“ Apa yang kau fikirkan! Apakah kau sama sekali tidak bisa menggunakan kepalamu? Memeluk seorang gadis ditempat umum! Kau tahu, aku sama sekali tidak bisa menjamin jika fotomu bersama gadis itu tidak akan tersebar di internet dan menjadi berita utama di berbagai infotainment maupun majalah!” aku hanya bisa terdiam seraya menatap lurus sebuah topi hitam yang kini berada dalam genggamanku. Aku tahu pasti jika tindakanku barusan akan berdampak buruk bagi kelangsungan karirku bahkan karir member Suju lainnya.

“ Apakah ketenaran yang selama ini kau dapat belum cukup bagimu hingga kau mencoba membuat dirimu menjadi headline diseluruh surat kabar dengan kelakukanku tersebut! Apakah kau tidak memikirkan apa akibat dari kelakuanmu? JAWAB AKU!” aku tersenyum miris merespon teriakan pemilik manajement tempatku bekerja saat ini. Kutatap sosok Lee Sooman sonsaengnim yang kini terlihat amat murka padaku.

Ara, nan ara. Tapi, aku bukan robot. Aku juga manusia seperti halnya sonsaengnim. Aku juga memiliki perasaan. Dan aku tahu pasti dengan hasil perbuatanku. Karena itu, jangan  khawatir aku pasti akan mempertanggung jawabkannya.” jawabku yang segera membuat kedua bola mata sosok dihadapanku semakin membelalak karena teramat marah.

“Mempertanggung jawabkannya? Hal apa yang bisa kau lakukan untuk mempertanggung jawabkannya? Mengatakan pada semua orang jika Cho Kyuhyun juga seorang manusia biasa yang tentunya tidak bisa hidup sendiri tanpa pendamping? Tanpa cinta? Apa kau fikir para pengemarmu akan memberikan tepuk tangan meriah padamu dan memujimu karena keberanianmu mengungkapkan segalanya di depan publik? Kuberitahu satu hal anak muda, dunia tempat kita berpijak tidaklah semurah hati yang kau kira. Segala hal yang kau lakukan harus ditebus dengan harga yang mahal. Dan apakah kau sanggup? Apakah kau sanggup melepaskan mimpi serta cita-citamu?”

“Sonsaengnim, bukankah anda selalu mengajarkan pada kami untuk selalu menjadi pribadi yang kuat dan pantang menyerah? Bukankah segala hal yang anda ajarkan selama ini semata demi membangun pribadi kami agar mampu menerjang dan menapaki dunia yang anda katakan tidak murah hati tersebut? Aku percaya bahwa aku sanggup menghadapinya. Karena itu, kumohon jangan pernah menyuruhku untuk melepaskan seseorang yang amat berarti bagiku! balasku seraya menatap sosok dihadapanku yang tampak sedikit terkejut dengan rangkaian kalimat yang kuucapkan.

“Neo..!”

*BRAKKKK. . .

Aku hanya terdiam dan sama sekali tidak bergeming dari tempatku duduk saat melihat laki-laki yang kuanggap sebagai guruku tersebut memukulkan tangan kanannya dengan keras diatas meja kerjanya.

“Kyuhyun-ah!” seru Leeteuk yang tiba-tiba menerobos masuk diruangan pribadi Lee Sooman sonsaengnim dan diikuti dengan member lainnya yang terlihat jelas tampak khawatir saat ini.

“Apa yang kau ajarkan pada magnae kalian hingga membuatnya menjadi penentang seperti ini!” seru Lee Sooman sonsaengnim seraya mengacungkan jari telunjuknya dengan kasar kearahku. Kutatap sosok hyung-deul yang kini hanya bisa terdiam ditempatnya.

Sonsaengnim, mianhamnida! Maaf karena aku tidak mampu menjadi seorang leader yang bisa membimbing mereka dengan bijaksana seperti yang selalu anda ajarkan pada kami. Aku tahu jika apa yang terjadi pada Kyuhyun akan membawa dampak yang tentunya dapat mempenggaruhi kedudukan kami di dunia hiburan. Mungkin, aku memang tidak bisa menjadi leader seperti apa yang anda kehendaki. Tapi, setidaknya aku mampu menjadi seorang kakak yang dapat melindungi senyuman adik-adikku.” ucap Leeteuk seraya melangkah kesampingku hingga kini berhadapan dengan Lee Sooman sonsaengnim. Sejak awal kami memulai segalanya, sejak itulah kami selalu berjanji untuk selalu mengenggam tangan masing-masing dan tidak akan pernah membiarkan salah satu diantara kami jatuh seorang diri. Seperti segala hal yang selama ini selalu anda ajarkan pada kami. Sebuah kerjasama dan kekompakkan. Persaudaraan dan pengorbanan. Karena itu, percayalah pada kami. Percayalah bahwa kami mampu mempertahankan segalanya. Apapun yang terjadi tidak akan pernah ada yang dapat membuat kami jatuh terpuruk dan menyerah kalah.” lanjut Teuki hyung seraya membunggukkan tubuhnya sedemikian rupa yang membuat hatiku terasa teriris saat melihatnya. Detik berikutnya, hal serupa dilakukan oleh member lainnya yang semakin membuat dadaku terasa sesak.

Aku segera bangkit dari kursi yang kududuki dan menatap sosok dihadapanku. “Sonsaengnim, mimpi, cita-cita yang kami bangun dan kami raih tidak akan semudah itu terlepas dan melayang dari genggaman kami. Seperti apa yang anda ajarkan, aku akan tetap berusaha berdiri dan menerjang  dunia tersebut. Tetap melangkah dan berdiri tegar hingga suatu saat aku dan mereka akan  keluar sebagai pemenang. Kumohon, berikan aku kesempatan untuk membuktikannya.“ ucapku dan segera membunggkukan tubuhku.

“Kurasa tidak ada lagi hal yang bisa kita bicarakan saat ini! Tidak disaat fikiran kalian tengah terisi oleh hal-hal gila dan mustahil!” ucap Sooman sonsaengnim dengan suara dingin sembari melangkah melewati kami yang masih membungkukkan tubuh. “Dan kau, kembali temui aku besok pagi untuk membahas konferensi pers untuk mengklarifikasi kesalahanmu!” lanjut Lee Sooman sonsaengnim dengan tatapan tajam padaku.

 

Hyung, bagaimana ini?” ucap Ryewook segera begitu pintu dibelakang kami telah tertutup dengan suara keras.  Kutegakkan kembali tubuhku dan menatap sosok namja disampingku yang kini terlihat tengah berfikir.

Hyung, mianhae. . Jeongmal mianhae, nan..” ucapanku segera terhenti saat kurasakan sebuah tangan tengah meremas pundakku dengan cukup keras. Kutatap sang leader dalam grup kami yang kini tampak berusaha menyunggingkan senyumnya untuk menutupi kekhawatiran dalam benaknya yang dapat kuketahui dengan pasti lewat remasan yang ia berikan dipundakku saat ini. Aku tahu, aku selalu tahu jika sosok dihadapanku ini selalu berusaha tampak tegar agar hal tersebut tidak membuat khawatir member lainnya. Selalu tersenyum sehingga dapat memberikan sedikit kelegaan bagi kami dan menyakinkan kami bahwa segalanya akan segera membaik.

“Tenanglah, sekarang lebih baik kau segera menemui Na-ya. Kasihan anak itu pasti saat ini sangat khawatir menunggumu.” gumam Leeteuk sembari melepaskan gengamannya dibahu kananku dan berganti menepuknya. “Jangan khawatir, aku akan mencoba menemui sonsaengnim kembali dan membujuknya.” lanjut Leeteuk hyung seraya menganggukan kepalanya.

“Teuk-hyung benar, lebih baik sekarang kau segera menemui Heyna. Ia menunggumu didorm. Aku meminta bantuan Yoona untuk mengeluarkannya dari sini dengan menyamarkannya sebagai coordi.” sambung Donghae.

“Bagaimana dengan schedule kita 2 jam lagi?”

“Aku akan mengaturnya. Sekarang, lebih baik kau segera menemui Na-ya. Aku khawatir jika suruhan kakekknya berhasil menemukannya dan membuat segalanya semakin gempar mengingat masih banyak paparazzi diluar gedung yang menunggumu saat ini.” jawab Leeteuk.

Hyung, mianhae..Jeongmal mianhae karena telah membuat kalian harus susah karenaku. Aku tahu jika apa yang aku lakukan akan membuat posisi kita terancam. Aku tahu pasti akan hal tersebut, dan aku benar-benar bodoh karena tidak bisa menahan perasaanku dan berfikir lebih logis! Dan sekarang, kalian dan Heyna harus ikut menanggung akibat dari perbuatanku.” lirihku dengan kepala tertunduk karena tak kuasa menatap sosok dihadapanku karena perasaan bersalahku saat ini. Segalanya mendadak membuatku merasa takut dan khawatir dengan hal yang akan menyambutku setelah ini. Bagaimana jika Sooman sonsaengnim tetap bersikukuh memaksaku memutuskan hubungan dengan Heyna. Aku yakin ia akan menekanku dengan pilihan yang amat sulit. Dan Heyna, aku amat takut membayangkan apa yang akan dilakukan kakekknya padanya setelah ini, dan apa yang akan diterimanya dari para netizen yang mungkin akan menerornya dan menekannya.

Waegurae? Bukankah sebelumnya kau dengan jelas mengatakan bahwa kau akan tetap berusaha dan pantang menyerah melawan segala hal yang terjadi kedepan dan keluar sebagai pemenang? Lantas apa yang kau takuti saat ini?” ucap Sungmin yang kini tengah bersandar didinding sembari melipat kedua tangannya didepan dada. “Apakah sekarang kau berniat menyerah sebelum perang?” lanjut Sungmin yang segera membuatku tertegun karena mendengar sindirannya. “ Bukankah dari awal kita tahu bahwa hal seperti ini pasti akan terjadi suatu saat nanti? Dan satu hal yang pasti, kita tetaplah manusia biasa. Kita tidak akan mampu bisa hidup tanpa cinta dari seorang yang bersedia berdiri disamping kita dan mengenggam tangan kita. Segalanya hanya tinggal menunggu waktu. Dan jika saat itu tiba, keyakinan serta ketegaranlah yang harus kita pergunankan sebagai tameng untuk menghadapai segala kesulitan yang akan menyambut kita. Dan disaat itu pula, kebersamaan diantara kita yang akan menjadi peghibur dan penguat jiwa kita masing-masing. Seperti janji yang pernah kita ucapkan. Selalu mengenggam tangan masing-masing dan tidak akan pernah membiarkan salah satu diantara kita terjatuh. Melangkah bersama dan mengapai mimpi kita. Bersinar terang diantara ribuan sinar lainnya.”

Keheningan mendadak memenuhi ruangan tempat kami berdiri saat ini. Perlahan namun pasti, sebuah senyum simpul mulai menghiasi wajah-wajah dihadapanku yang membuatku semakin tak kuasa menahan perasaanku.

Hyung, aku pasti akan mempertahankan segalanya. Mimpi kita, harapan kita, dan sinar yang kita miliki. Aku pasti akan mempertahankannya.” ucapku sembari membungkukkan tubuhku yang terhenti saat beberapa tangan menghentikan gerakanku dan kemudian menepuk bahuku dengan singkat.

“Lakukan, lakukan segalanya dan selesaikanlah. Selesaikan segalanya sejak kau memulainya dan keluarlah sebagai pemenang! Jangan takut, kau tidak sendiri.” ucap Leeteuk yang segera kurespon dengan anggukan.

Hyung, gomawo jeongmal gomawo.”

 

“Kyunhyun-ah, waeyo? Apa yang terjadi, fotomu dengan seorang yeoja beredar banyak sekali di internet dan jejaring sosial.” seru Changmin yang tampak berlari kearahku dengan wajah kebingungan. Disodorkanya ponsel yang tengah digenggamnya namun dengan cepat segera kuanggukan kepalaku dan menatap sahabatku tersebut dengan tatapan penuh arti.

“Kurasa aku tidak bisa menjelaskan segalanya saat ini.” ucapku dan sembari memakai topi hitam yang berada dalam genggamanku semenjak tadi. Kulangkahkan kakiku kembali dengan cepat setelah mendapati anggukan singkat yang diberikan oleh member DBSK tersebut.

Kuedarkan pandanganku mencari audy hitam milikku dihalaman samping Sment building.Tampak beberapa wartawan tengah menunggu dengan kamera ditangan mereka diluar gerbang. Segera kupasang masker penutup wajahku dan berlari dengan cepat menuju mobil yang tengah terparkir tak jauh dari tempatku berdiri saat ini. Kilaan-kilatan cahaya kamera serentak menghujamku dengan tanpa ampun saat para wartawan yang semenjak tadi berkumpul disekitar area gedung menyadari sosok yang tiba-tiba keluar dan berlari dari pintu samping Sment building.Segera kututup pintu mobil dan menguncinya dari dalam. Detik berikutnya, kunyalakan mesin mobil tersebut dan menekan klakson 2 kali sebagai tanda bagi para petugas keamanan untuk membuka pintu gerbang yang kini terlihat tampak sibuk menghalangi para wartawan yang masih berusaha mencari tahu siapa sosok yang baru saja keluar dari gedung dihadapan mereka. Tanpa menunggu lebih lama lagi segera kujalankan audy hitamku saat gerbang telah terbuka dan segera membuat para wartawan berlari menyeruak masuk dan mengerumuni audy hitamku yang kini berjalan amat lambat karena hambatan tersebut. Bukan hal mudah untuk bisa keluar dari kungkungan para wartawan yang kelihatannya sama sekali tidak mau menyerah sebelum mendapatkan segelintir informasi yang bisa mereka jual. Dapat kulihat kedua petugas keamanan terlihat kewalahan mengatasi kekacauan dihadapan mereka saat ini. Segera kuinjak pedal mobil dengan keras saat pada akhirnya audy hitam milikku berhasil keluar dari halaman dan menjalankannya dengan kecepatan tinggi untuk menghindari kejaran paparazzi.

 

30 minutes later. . .

Kuatur nafasku yang kini tengah terengah-engah karena baru saja berlari menaiki tangga darurat. Kuulurkan jemari tanganku dan segera menekan kombinasi nomor yang merupakan password pintu dihadapanku.

“Ne, eomma! Gwenchana, kurasa sebentar lagi aku akan segera pulang.” ucap Heyna melalui sambungan telepon. Kutatap yeoja yang sama sekali tidak menyadari keberadaanku saat ini. Segala ingatan tentang kejadian dimasa lampau mendadak silih berganti memenuhi kepalaku. Senyuman seorang anak perempuan yang terlihat lugu saat menatap sebuah pelangi. Sosok seorang yeoja yang tengah meringguk kedinginan didalam lift. Dan sorot mata kesepian yang terpancar jelas dikedua bola mata seorang yeoja yang tengah memberi makan seorang anak anjing. Segalanya terjadi tanpa pernah kuketahui jika ketiga sosok tersebut merupakan satu sosok yang sama. Satu sosok yang masing-masing memiliki ruang dihatiku. Satu sosok yang membuat jantungku berdebar tidak normal setiap menatapnya. Dan satu sosok yang membuatku menyadari akan  makna cinta, takdir dan harapan.

“Eotthokeh. .” gumam Heyna setelah meletakkan kembali gagang telepon diatas meja  dihadapannya. Raut cemas terpatri jelas diwajah cantiknya

PDVD_068

 

Kulangkahkan kakiku mendekati sosok yang kini segera berbalik dengan terkejut saat ia menyadari suara langkah kaki seseorang dibelakang punngungnya. “Kyuhyun-ah,. .” ucap Heyna namun segera terhenti saat dengan cepat kurengkuh sosok yeoja dihadapanku tersebut kedalam dekapanku. Cukup lama kami terdiam dalam posisi tersebut.

Mianhae, karenaku sekarang kau dan oppa-deul harus mengalami kesulitan dengan manajement kalian.” lirih Heyna. Segera kulepaskan dekapanku dan menatap sosok dihadapanku yang kini tengah menunduk. Kuulurkan tanganku dan segera mengusap lembut puncak kepalanya. Aku tahu pasti jika sosok dihadapanku tersebut selalu bisa merasa lebih baik saat sebuah usapan lembut membelai kepalanya.

“Jangan khawatir, segalanya baik-baik saja. Aku pasti akan membawamu keluar dari semua ini. Bukankah kita telah ditakdirkan bersama? Karena itu, jangan takut, tetaplah berdiri disampingku. Anggap saja semua yang terjadi saat ini adalah sebuah game yang sedang kita mainkan. Seperti biasa, kita pasti mampu melewatinya dan menyelesaikannya. Benar begitu bukan, nona labil?” ucapku sembari tersenyum lembut untuk menenangkan sosok dihadapanku saat ini.

“Tapi, apa yang terjadi saat ini tidak semudah seperti saat kita menyelesaikan sebuah level game. Sebuah game yang kita mainkan tidak akan pernah melibatkan perasaan orang lain. Tidak menyakiti ataupun menghancurkan keberadaan orang disekeliling kita saat kita berualang kali memainkannya agar bisa memenangkan permainan tersebut.” ucap Heyna yang kini tengah memandang sayu padaku. Aku tahu pasti bagaimana perasaannya saat ini, anak itu akan selalu memikirkan perasaan orang-orang disekelilingnya. Selalu mendahulukan perasaan serta kepentingan mereka dan mengesampingkan perasaanya sendiri. Selalu memilih untuk menanggung segalanya seorang diri daripada harus melihat orang-orang yang disayanginya menderita. Kuulurkan kedua tanganku dan mengenggam erat kedua bahu mungil yeoja dihadapanku.

“Na-ya, kau melupakan satu hal. Bukankah seorang pemain selalu memiliki pendukung? Seorang pendukung yang hadir tanpa pernah kita minta dan akan ikut bersorak bersama kita saat kita berhasil memenangkan permainan. Mereka jugalah yang akan ikut mengeluhkan kebodohan kita saat berulangkali kita mengalami kegagalan. Tapi, dibalik keluhan serta sindiran mereka selalu terselip kata-kata penguat, nasihat serta harapan-harapan mereka agar kita bisa kembali bangkit dan menyelesaikan permainan yang sejak awal telah kita mulai. Sama halnya dengan apa yang telah kita alami saat ini. Jangan mengangap mereka sebagai korban karena apa yang telah kita lakukan. Jadikan mereka sebagai keyakinan serta kekuatanmu. Jangan mengkhawatirkan apakah segala hal yang kita lakukan akan membuat orang disekeliling kita merasa tersakiti ataupun terluka. Tapi fikirkanlah bagaimana cara agar kita tidak membuat mereka yang telah menggulurkan tangan dan berdiri bersama kita merasakan kekecewaan karena kita memilih menyerah sebelum berusaha. Karena itu, tetaplah berdiri tegar dan tersenyum. Berdirilah dan terus melangkah menapaki jalanan terjal dihadapan kita. Tetap bersabar dan berusaha sampai suatu saat nanti keyakinan serta ketegaran kita akan menghantarkan kita pada sebuah pintu keluar bernama kemenangan. Sebuah pintu yang akan membawa kita mangapai mimpi dan harapan kita. Sebuah pintu yang akan dipenuhi oleh mereka yang selama ini mendukung dan menantikan keberhasilan kita.” kutatap lekat-lekat sosok yang kini tampak tertegun memikirkan ucapanku barusan.  “Percayalah, segalanya akan bisa kita raih.” lanjutku seraya kembali tersenyum untuk menguatkan hati sosok dihadapanku.

“Maukah kau berjanji satu hal padaku?” ucap Heyna. Aku segera mengangguk sebagai respon dari pertanyaanya. “ Berjanjilah untuk tidak pernah membiarkan dirimu terlibat dalam hal yang berhubungan dengan kakekku. Segera beritahu aku jika ada suruhan kakekku menemuimu ataupun terjadi hal yang tidak wajar padamu. “aku terdiam mendengar permintaan Heyna. Aku tahu pasti masalah yang akan kami hadapi setelah ini. Dan aku tahu pasti jika keberadaan  sosok yang amat mendominasi kehidupan Heyna tersebut pasti tidak akan tinggal diam setelah apa yang terjadi hari ini. Tapi, apapun yang terjadi aku tidak akan pernah melibatkanya. Aku tidak akan pernah bisa melihatnya merasa bersalah dan sedih. Sudah cukup baginya merasakan segala hal yang selama ini menekan serta menghujamnya. Aku tidak akan pernah membiarkannya kembali merasakan segalanya. Jika dia berfikir dengan tubuh mungilnya ingin melindungiku maka dia salah. Bukan dia yang harus melindungi dan melawan semua ini. Tapi aku, akulah yang akan melindunginya apapun yang terjadi kedepan.

“Yaksokhe?” ucap Heyna sekali lagi. Kuanggukkan kepalaku perlahan untuk membuat yeoja dihadapanku merasa lega dan lebih tenang.

Yaksok!”

Good boy!” ucap Heyna seraya menepuk-nepuk puncak kepalaku dan tersenyum lembut. Seperti biasa, yeoja-ku tersebut selalu pandai menyembunyikan perasaannya bahkan disaat genting seperti ini dengan harapan agar orang-orang disekelilingnya tidak merasa khawatir padanya.

“Apakah kepalaku terlihat amat sexy sampai membuatmu tidak tahan untuk tidak menepuknya?” balasku yang segera membuat senyuman yang sebelumnya tersungging diwajah cantik Heyna segera hilang. Heyna segera berdecak seraya mengeleng-gelengkan kepalanya.

“Apakah berpisah denganku membuat kadar kenarsisanmu melampaui batas diatas normal karena terlalu merindukanku, Tuan labil?” cibir Heyna.

“Mwo? Terlalu merindukanmu? Bukankah kaulah yang terlalu merindukanku hingga membuatmu kabur dari acara pertunanganmu? Akui saja bahwa Lee Heyna sangat mencintai Cho Kyuhyun.” balasku yang segera membuat yeoja dihadapanku mengangga lebar dan tampak ingin menelanku bulat-bulat.

“Cih, bermimpilah sesukamu Tuan labil!” cibir Heyna dan segera melangkah melewatiku namun dengan cepat segera kutarik pergelangan tangannya dan segera menciumnya. Kurasakan tubuh Heyna yang berusaha memberontak namun terlalu lemah untuk bisa melawan kungkunagan kedua tanganku yang mendekapnya. Perlahan namun pasti yeoja dalam dekapanku tersebut menghentikan aksi berontaknya hingga akhirnya ia membalas ciumanku dan menumpahkan perasaan rindu diantara kami berdua. Cukup lama kedua bibir kami saling bertautan hingga dengan tiba-tiba Heyna melepaskan tautan tersebut dan segera menunduk menyembunyikan wajahnya.

“Jangan pernah pergi lagi. Suatu saat nanti, aku pasti akan membawamu kembali menatap hamparan pelangi dan membuatmu kembali tersenyum lepas seperti saat itu.” ucapku seraya melepas topi hitam yang kukenakan dan segera  memakaikannya dikepala Heyna.

“Saranghae, anak pelangiku!”

*Kyuhyun Pov End*

 

20:19 KST At Heyna Apartementh. . .

*Heyna Pov*

Gwenchana, kau tak perlu mengantarkanku sampai kedalam.” ucapku seraya melepas sabuk pengaman. Kubuka segera pintu audy hitam yang kutumpangi sesaat setelah melihat namja disampingku mengangguk.

“Na-ya!” kuhentikan gerakanku saat hendak keluar dari mobil dan kembali menatap namja disampingku.  “Apakah kau juga mau berjanji satu hal padaku?” lanjut Kyuhyun yang segera kurespon dengan anggukan singkat. “Berjanjilah akan segera memberitahuku jika kau menerima teror ataupun perlakuan tidak wajar karena pemberitaan tentang kita setelah ini.” aku terdiam sesaat, namun detik berikutnya segera kuanggukan kepalaku agar namja disampingku bisa  sedikit bernafas lega.

“Kau tak perlu khawatir, bukankah kau tahu yeoja seperti apa aku?” balasku seraya kembali melangkah keluar. “ Baiklah, kurasa aku harus segera masuk kedalam. Kasihan eomma, saat ini beliau pasti tengah menungguku.” lanjutku. Kututup segera pintu mobil dihadapanku sesaat setelah namja didalam audy hitam tersebut kembali mengangguk dan tersenyum.

 

Kuamati audy hitam yang kini perlahan meluncur meninggalkanku dihalaman depan gedung apartement yang menjadi tempat tinggalku. “Kyuhyun-ah, kau boleh berusaha melindungiku dengan seluruh tenagamu. Kau boleh saja mengorbankan seluruh apa yang kau miliki bahkan jika itu adalah mimpimu. Tapi, tidak bagiku. Aku tidak akan pernah membiarkan hal tersebut terjadi, aku akan selalu melindungi dan menjaga pancaran sinarmu. Aku tidak akan pernah membiarkan bintang yang selalu menerangi malamku harus meredup dan jatuh karenaku. “ ucapku dalam hati dan tanpa menunggu lama segera kulangkahkan kakiku memasuki bangunan megah dibelakangku.

 

“Na-ya!” seru eomma seraya berjalan menghampiriku dengan raut cemas yang terpatri jelas diwajahnya. Aku bisa membayangkan hari seperti apa yang baru saja dilalui oleh wanita yang telah melahirkanku tersebut. “Gwenchana? Apakah kau baik-baik saja? Apakah orang suruhan kakekkmu melukaimu ataupun Kyuhyun?” tanya eomma-ku seraya memeriksa seluruh tubuhku. Kupeluk segera sosok dihadapanku untuk menenangkannya.

Gwenchana, aku baik-baik saja.” hela nafas lega segera terhembus dari mulut eomma-ku. “Eomma mianhae, jeogmal mianhae. Karenaku, pasti hari ini eomma telah mengalami hari yang sulit. Karenaku pula pasti hari ini eomma terpaksa harus menahan sakit dengan kata-kata kasar dari haraboeji.”lanjutku. Kurasakan belaian lembut dipuncak kepalaku.

“Na-ya, kau adalah harta yang paling berharga dalam hidup eomma. Kau adalah hal yang tidak akan pernah eomma biarkan terjatuh dan menangis. Karena itu, apapun yang terjadi eomma akan selalu melindungimu. Kata-kata kasar ataupun ancaman tidak akan pernah bisa menghentikan eomma untuk melindungi kebahagianmu. Jangan khawatir, tetaplah berdiri dan tersenyum.” kulepaskan pelukan diantara kami dan kembali menatap sosok wanita yang kini tengah tersenyum lembut padaku.

“Eomma, Minho apakah dia. .” ucapku pelan namun segera terhenti saat melihat eomma-ku yang tengah mengangguk.

“Anak itu kembali kedalam ruangan dan mengatakan pada kedua orang tuanya bahwa ia ingin menghentikan rencana pertunangannya denganmu setelah beberapa saat pergi. Kurasa, Jihyo berhasil datang tepat waktu dan berhasil menghentikannya.”

“Jihyo?”

Ne, eomma segera menghubunginya sesaat setelah kau pergi. Eomma rasa dialah satu-satunya yang bisa menghentikan dan meredam amarah Minho.” jawab eomma. Aku segera menunduk. Bisa kubayangkan bagaimana perasaan Minho saat itu. Apakah aku telah membuatnya kembali merasa terkhianati seperti yang pernah ia rasakan dahulu? Dan Jihyo, bagaimana dengannya? Apakah dia baik-baik saja, aku tahu pasti bagaimana perasaanya pada Minho. “ Lebih baik kau segera istirahat. Tidurlah dan fikirkan segalanya besok. Percayalah, segala hal pasti memiliki jalan keluar.” lanjut eomma seraya kembali membelai puncak kepalaku.

 

 

Kuhela nafas panjangku dan segera duduk dibangku meja belajarku. Kutatap dua sosok remaja didalam bingkai foto yang menghiasi mejaku berdampingan dengan potretku bersama Heejin dan eomma.

mikki_and_chi_hoon_by_xiewin-d3i89za

“Ho-ya, Hyo-ya, mianhae, jeongmal mianhae. Apakah aku telah menjadi sahabat buruk bagi kalian? Aku selalu berjanji akan  melindungi kalian dan tidak akan pernah membiarkan siapapun menyakiti kalian. Tapi, bagaimana bisa justru aku sendiri yang menyakiti kalian. Karenaku, kalian terpaksa menahan rasa sakit dan mengalah. Apakah aku masih pantas berdiri disamping kalian dan menyebut diriku sebagai sahabat setelah ini?” lirihku.

Dddddddrrrrrrrtttttttttt . . .

Aku segera tersadar dari lamunanku saat kurasakan meja yang menjadi tumpuanku bergetar saat ponsel milikku yang berada diatas meja tersebut bergetar. Segera kuraih LG VU II milikku dan membelalak terkejut saat mendapati 12 panggilan tak terjawab dari Jihyo dan beberapa pesan darinya.

From : Hyo-ya

“Na-ya, kenapa kau tidak mengangkat teleponku? Neo eoddiya? Apakah kau baik-baik saja? Potretmu bersama Kyuhyun-oppa telah menjadi treading topic di beberapa situs jejaring sosial. Apa yang terjadi?

 

From : Hyo-ya

“Na-ya, apakah kau baik-baik saja? Kusarankan jangan membuka dan mencoba membaca sedikitpun pemberitaanmu dan Kyuhyun-oppa. Kurasa ada seseorang yang mengenalmu dan membocorkan identitasmu. Jangan khawatir, aku akan menggunakan kecerdasan otakku untuk masuk ke akun orang itu! Hubungi aku jika kau sudah merasa lebih tenang.

 

From : Hyo-ya

“Na-ya, apapun yang terjadi hari ini, jangan biarkan hal tersebut membuatmu  berfikir bahwa kau saat ini telah menjadi sahabat yang buruk bagiku ataupun Minho.Jangan menjadikan dirimu sebagai penyebab dari seluruh kekacauan ini. Kau juga berhak meraih kebahagianmu dan harapanmu. Karena itu, jangan menyalahkan dirimu. Kau tahu, aku akan selalu ada dan berdiri disampingmu. Bukankah kita teman?

LEE HEYNA FIGHTING!”

 

Butiran air mata segera jatuh membasahi pipiku. Jihyo, dengan mengabaikan seluruh perasaanya ia memilih untuk tetap berdiri disampingku. Selalu datang dan membuatku menjadi lebih kuat seperti yang selama ini selalu ia lakukan. Merengkuhku dan mengenggam erat tanganku dan tidak pernah meninggalkanku meskipun aku telah menyakiti perasaanya dan menjadi sahabat yang buruk baginya. Tanpa menunggu lama segera kutekan rangkaian nomer yang telah kuhafal diluar kepalaku.

 

May, 7th 2013 at Heyna Apartement PH Floor. . .

“Segera hubungi aku jika kalian menemukan hal ganjil ataupun melihat beberapa sosok mencurigakan disekitarnya!” ucapku pada seorang bodyguard yang secara diam-diam kusewa jasanya untuk melindungi Kyuhyun sejak 4 hari lalu saat kembali kakekku mengancam akan melakukan apapun yang menghalangi rencananya.

“Keurae, pastikan selalu keselamatannya!” lanjutku dan segera menekan tombol off pada layar LG VU II milikku.

“Aku pasti akan melindungimu.” gumamku seraya meraih topi hitam yang tergeletak diatas meja belajarku dan segera mengenakannya. “Lee Heyna, kau pasti bisa menghadapinya.” gumamku kembali untuk menguatkan perasaanku yang terasa bercampur aduk saat ini. Takut, khawatir, tegang semuanya bercampur menjadi satu. Aku tahu pasti segalanya tidak akan berjalan mudah setelah ini. Kuraih ransel biru milikku dan segera melangkah keluar.

 

At Yongjin House. . .

“Apakah aku bisa bertemu dengan kakekku?” tanyaku pada sosok laki-laki yang tengah membungkukkan tubuhnya kepadaku.

“Silahkan ahgassi segera ke atas. Saat ini, sajjangnim telah menunggu anda diruang kerjanya.” jawab Jinwoon ahjusshi. Segera kulangkahkan kakiku menaiki tangga yang akan membawaku menuju ruang kerja kakekku yang berada dilantai 2.

Kuketuk pintu kayu besar dihadapanku dan menunggu beberapa detik seraya menghela nafas panjang dan segera memutar kenop pintu. Suasana suram seakan dengan segera menyerbuku saat kedua kakiku mulai melangkah memasuki ruangan besar dibalik pintu kayu tersebut. Kuedarkan pandanganku mencari sosok yang tidak tampak duduk dimeja kerjanya seperti biasanya. Mataku segera terhenti saat menangkap sosok yang kini tengah berdiri memunggungiku dan memilih menatap pemandangan diluar jendela.

Haraboeji. .” ucapku pelan mengawali pembicaraan kami. Kutatap sosok dihadapanku yang sama sekali tidak menggubrisku. “Haraboeji, mianhamnida. Mianhamnida karena telah mempermalukan kakek dihadapan keluarga Jung. Na. .” lanjutku namun segera terhenti saat sosok dihadapanku kini telah membalikkan tubuhnya dan menatap tajam kearahku.

“Apakah dengan kata maaf mampu menyelesaikan segala kekacauan yang telah kau buat? Apakah dengan alasan-alasan tidak logis yang akan kau ucapkan bisa membuat kehormatan keluarga kita kembali? Lee Heyna, apakah kau ingin menguji kesabaran kakek?” kuremas kedua tanganku untuk menghentikan getaran yang segera menjalar diseluruh tubuhku karena perasaan takut. “ Apakah kalian ingin mencoba bermain-main denganku lagi?JAWAB KAKEK NA-YA!”

Kupaksakan wajahku tetap menatap sosok dihadapanku dan tidak menunduk sama sekali seperti biasa yang akan segera kulakukan saat sorot mata tajam tersebut menghujamku.

“Kau, kau adalah satu-satunya harapan yang kumiliki. Satu-satunya pewaris yang kuharapkan dapat mempertahankan martabat serta kehormtan kita setelah 19 tahun lalu eomma-mu menghancurkannya dengan prilaku bodohnya! DAN SEKARANG APA YANG KAU LAKUKAN! KABUR DIHARI PERTUNANGANMU DAN MENJADI HEADLINE UTAMA DISEMUA SURAT KABAR!” teriak kakekku seraya menghempaskan beberapa surat kabar dengan kasar ke lantai. “APAKAH BELUM CUKUP BAGIMU MEMPERMALUKAN KAKEK DIHADAPAN KELUARGA JUNG DAN SEKARANG KAU MEMBUAT NAMA KELUARGA KITA MENJADI PERBINCANGAN ORANG-ORANG? APAKAH KAU SAMA SEKALI TIDAK BISA MEMIKIRKAN APA AKIBAT YANG AKAN TERJADI KARENA ULAH BODOHMU! JAWAB KAKEK, NA-YA!”

Haraboeji, mianhamnida. Jeongmal mianhamnida. Aku tahu bahwa permintaan maafku saat ini terlalu berat untuk bisa kakek terima. Tapi, jika seandainya kita bisa kembali dihari kemarin aku akan tetap melakukan hal yang sama, begitu pula jika suatu saat nanti haraboeji melakukan hal yang sama dan memaksaku berpisah dengannya. Aku. .”

*Plakkk. . .

Sebutir air mata segera meleleh diatas pipiku saat sebuah tamparan kasar dari kakekku menyapu pipi kananku dengan keras. Sekuat tenaga kutahan perasaan sedihku yang hampir tidak bisa tertahan karena tindakan kasar yang dilakukan haraboeji padaku untuk pertama kalinya.

“Haraboeji, jika beribu tamparan bisa membuat haraboeji memaafkanku dan merestui hubunganku dengannya. Maka, lakukanlah sampai kakek merasa puas.”

“KAU! Tidak seharusnya aku membiarkanmu tinggal bersama eomma-mu jika pada akhirnya kau tumbuh menjadi seorang pembangkangnya! Dan tidak seharusnya aku terlalu bermurah hati dan membiarkan namja itu mendekatimu dan mengisi kepalamu dengan khayalan-khayalan mustahilnya! Dan sekarang kau ingin kakek memaafkanmu, merestui hubungan kalian? Keurae, lakukan semua sesukamu. Satu hal yang perlu kau ingat, kakek tidak pernah main-main dengan ucapan kakek. Meskipun bagi kalian sebuah lampu lebih mampu membuat kalian tersenyum lega dan menghapus segala kegelapan dihadapan kalian Tapi, kalian melupakan satu hal. Bukan hanya karena energi penyokongnya telah habis lantas lampu tersebut akan mati. Ada banyak cara membuat sinar lampu tersebut segera lenyap. Salah satunya dengan menjatuhkannya. “ kedua bola mataku segera membelalak karena ancaman yang dilontarkan haraboeji. “Menjatuhkannya dengan keras hingga menjadi kepingan pecahan yang tidak mungkin kembali dapat dipersatukan lagi. Dan jika kalian beranggapan bisa menggantikannya dengan yang baru maka dengan mudah lampu baru tersebut akan kembali hancur dengan sekali hentakkan.” lanjut Haraboeji yang kini benar-benar membuat tubuhku gemetar karena merasakan ketakutan yang luar biasa. Bukan suatu hal yang mustahil bagi beliau untuk melakukan tindakan seperti yang ia kemukakan mengingat kecelakaan yang pernah dialami Kyuhyun beberapa bulan silam. Kembali kuremas kedua telapak tanganku untuk menghentikan getaran disekujur tubuhku saat ini.

“Haraboeji, sebuah tangan boleh saja berencana menghembaskan keberadaan lampu tersebut dengan sekali ayunan. Tapi, kakek juga melupakan satu hal. Akan ada tangan lain yang segera menyelamatkan lampu tersebut disaat sebuah tangan ingin menghempaskannya hingga pecah berkeping-keping. Akan ada sebuah pelindung yang akan senantiasa menjaga agar lampu tersebut tetap aman ditempatnya. Tetap bersinar dan menerangi kegelapannya.” balasku yang segera membuat sosok dihadapanku membulatkan kedua bola matanya yang tampak murka saat ini.

“Jadi, kau ingin berkata jika kau ingin mencoba menantang kakekmu? Bagus sekali, Na-ya!” ucap kakekku dengan nada pelan yang justru berkali-kali lipat membuatku semakin merasa ketakutan. Kutundukkan kepalaku dan segera kugigit ujung bibirku untuk menahan perasaan takutku saat ini. Segalanya akan berakhir sia-sia jika aku menyerah dan melepaskan kembali segalanya saat ini. Segalanya selalu berakhir dalam pilihan yang sulit. Memilih melepaskan segalanya kembali agar sosok Kyuhyun bisa tetap berdiri dan tidak kehilangan sinarnya dan mengecewakan semua orang yang telah ikut tersakiti karena telah mengorbankan diri mereka demi membantu kami. Atau sebaliknya, tetap berdiri bersama Kyuhun dengan segala hal yang sewaktu-waktu dapat membuatnya kehilangan sinarnya tanpa kuketahui. Menapaki jalanan terjal serta dinding yang tinggi yang belum dapat kuketahui dengan pasti apakah suatu saat kami bisa melewatinya dan menjadi pemenang.

Gambaran wajah mereka tiba-tiba silih berganti dikepalaku. Senyum serta harapan mereka terngiang ditelingaku membentuk sebuah tameng yang membantuku menampik segala rasa takutku saat ini. Perlahan namun pasti kembali kuangkat kepalaku dan menatap lurus sosok dihadapanku.

“Haraboeji, apakah kakek tahu hal apa yang diucapkan nenek padaku sesaat sebelum meninggal? Jagalah selalu kakekmu, kembalikan senyuman yang telah lama hilang dari wajahnya. Senyuman yang membuat nenek yakin jika ia bukanlah sosok seburuk yang kita lihat. Berbagai hal telah membuatnya menjadi pribadi yang keras, tapi melaluimu nenek yakin kau bisa mengubah segalanya. Berjanjilah pada nenek untuk selalu menjaganya dan mengembalikan sosok hangat yang telah lama hilang tersebut.” ucapku yang segera membuat wajah dihadapanku perlahan berubah dan detik berikutnya segera berbalik memunggungiku. “Haraboeji, mungkin aku bisa mengungkapkan beratus-ratus kekecewaanku pada kakek saat ini. Tapi, segalanya akan segera meluap saat aku berada tepat dihadapan kakek. Apakah kakek tahu apa penyebab semua itu terjadi?”sebutir air mata kembali menetes diatas pipiku.  “Karena aku sangat menyayangi kakek, teramat menyayangi kakek hingga teramat sulit bagiku untuk menolak segala apa yang kakek inginkan. Aku tidak pernah bermaksud melawan ataupun menentang kakek. Seberapa keras kakek berusaha memisahkan kami ataupun melakukan hal yang buruk padanya. Tapi aku tahu, jauh didalam hati kakek berteriak untuk tidak melakukan segalanya. Seperti yang pernah nenek katakan padaku, kakek bukanlah orang seburuk itu. Karena itu aku akan menunggunya, menunggu sampai kepingan kecil didalam hati kakek perlahan membesar dan mengembalikan sosok hangat dan penuh kasih sayang. Aku akan menuggunya meskipun hal tersebut dapat membuatku merasakan sakit bahkan terluka. Aku akan menunggunya dan berusaha mati-matian melindungi segala hal berharga tersebut. Eomma, Kyuhyun, teman-temanku dan untuk sebuah kepingan kecil  yang berada jauh didalam hati kakek. Aku akan menunggunya hingga saat pada akhirnya aku bisa memenuhi janjiku pada nenek.” kami berdua saling terdiam dalam fikiran masing-masing.

“Mungkin dalam sebuah penantian akan membutuhkan waktu yang lama. Membuat kita tersiksa bahkan tak jarang menghempaskan kita kedalam lubang yang gelap. Tapi, bukankah sebuah lubang tetap memiliki jalan keluar? Segalanya akan dapat kita raih dengan sebuah keyakinan dan ketegaran. Ketegaran akan selalu menyokong tubuh kita untuk tetap berdiri dan melangkah kedepan. Sedangkan keyakinan akan menghantarkan kita pada jalan keluar dari lubang yang gelap tersebut hingga pada akhirnya kita mampu meraih apa yang kita nantikan. “ kutatap sosok dihadapanku yang masih terdiam dan memunggungiku. “Na, aku akan tetap berdiri dan membuktikan segalanya. Suatu saat nanti aku pasti bisa mengembalikan segalanya dan meraih segalanya yang kunantikan. Senyuman kakek, eomma, gelak tawa diantara kalian berdua dan punggung hangat kakek yang amat kurindukan untuk bisa kepeluk seperti saat aku masih kecil.”

Haraboeji, sekali lagi aku minta maaf. Jeongmal mianhamnida, aku pasti akan mempertangung jawabkan semua kekacauan yang telah kulakukan.”lanjutku sembari membungkuk singkat dan segera melangkah keluar meninggalkan sosok kakekku dalam diam.

 

1 Hours later. . .

“Joomin ahjushi, apakah aku bisa bertemu dengan Nyonya Jung?” ucapku pada seorang pelayan dikediaman Minho yang kini tampak mengangguk dan mempersilahkanku masuk kedalam bangunan megah dihadapanku.

“Kau, untuk apa kau datang kemari!” ucap Min-ah dengan sinis saat melihatku melangkah memasuki rumahnya. “Apakah meninggalkan kakakku dihari pertunangannya belum cukup membuatmu puas dan sekarang kau ingin mengumumkan pada semua orang bahwa kau telah menjalin hubungan dengan Cho Kyuhyun?Aku tak menyangka seseorang yang selalu dielu-elukan oppa-ku tak lebih dari seorang yeoja pegkhianat!” lanjut Min-ah yang kini tengah menatapku dengan tajam dari atas anak tangga rumahnya.

“Jung Min-ah, hentikan ucapanmu! Bersikaplah sopan pada orang yang lebih tua darimu!” kutolehkan kepalaku segera mencari sumber suara yang baru saja kudengar. Kubungkukan tubuhku segera saat kedua bola mataku menatap sosok wanita yang tengah melangkah menghampiriku.

“Mwo? Memperlakukanya dengan sopan? Setelah semua yang telah ia lakukan kemarin, apakah yeoja dihadapan eomma harus kita perlakukan dengan sopan? Shireo!” sanggah Min-ah dengan nada sinis. Kuremas kedua tanganku untuk menahan rasa sakit yang saat ini telah menghujamku. Aku tahu, segalanya akan terjadi seperti saat ini. Dan aku tahu, segalanya tidak akan semudah seperti membalikkan tangan. Tapi segalanya akan kutahan , segalanya akan kuterima sebagai konsekuensi dari pilihan yang telah kutentukan.

” Apakah eomma tahu bagaimana menderitanya Minho-oppa saat ini? Apakah eomma tahu bagaimana perasaan Minho-oppa selama ini? Kurasa kalian tidak akan pernah tahu mengingat kalian berdua selalu tidak pernah ada disaat kami membutuhkan kalian. Oppa, sedikit demi sedikit membuka hatinya hingga pada akhirnya ia menemukan hal yang dapat membuatnya tertawa lepas. Hal yang amat dianggapnya berharga dan ia percayai. Kau, apakah kau tahu bagaimana perasaan kakakku yang selama ini selalu menunggumu? Menunggu agar suatu saat kau melihat kedalam hatinya?” dengan kasar Min-ah menunjukku dengan jari telunjuknya.” Kau apakah kau bisa merasakan bagaimana sakitnya saat kau terkhianati oleh orang yang selama ini kau percayai?”

“MIN-AH! Hentikan ucapanmu dan segera masuk kekamarmu!” potong Minho-eomma dengan nada tajam.

“SHIREO! JIKA DARI AWAL KAU HANYA AKAN MENYAKITI PERASAANYA KENAPA KAU MENYETUJUI PERTUNANGAN DIANTARA KALIAN! APAKAH KAU FIKIR. .”

“MIN-AH!” aku segera menoleh menatap sosok namja yang kini tengah berdiri tepat didepan pintu. Jung Minho melangkah cepat dan melewatiku tanpa meliriku sedikitpun. Perasaan takut serta merasa bersalah segera meluap disekujur tubuhku saat sosok yang ingin sekali kutemui tersebut tidak menghiraukanku sama sekali.

“Geumanhae!” ucap Minho yang kini telah tepat berhadapan dengan dongsaeng-nya. Perlahan Min-ah mulai melangkahkan kakinya menaiki anak tangga tanpa sepatah katapun dan meninggalkan kami bertiga.

“Maaf, kurasa saat ini aku sedang tidak ada waktu untuk menemuimu.” ucap Minho pelan tanpa sedikitpun membalikkan tubuhnya dan segera melangkah menaiki tangga dihadapannya. Rangkaian kata yang amat singkat tersebut terasa amat menyayat hatiku dan merobohkan dinding pertahananku. Kugigit ujung bibirku sebagai usaha terakhir untuk menahan air mata yang hampir jatuh menetes dikedua pipiku.

“Kurasa saat ini dia belum siap menemuimu. Bibi harap kau mau bersabar, dan memaafkan segala ucapan Min-ah. Anak itu hanya terlalu amat menyayangi kakaknya.” ucap sosok wakita yang kini tengah tersenyum lembut padaku.

Eommonim, apakah aku masih pantas menerima kebaikan hati anda seperti saat ini setelah apa yang kulakukan? Jeongmal mianhamnida, aku tahu. . .”

“Minho pasti akan segera kembali padamu.” potong wanita dihadapanku. “Seperti kata Min-ah, selama ini aku dan suamiku sering meninggalkan mereka karena urusan bisnis keluarga kami. Dan tidak pernah ada disaat mereka membutuhkan kami. Karena kesalahan kami, sekarang kedua anak tersebut menjadi pribadi yang angkuh. Namun, perlahan sifat buruk Minho menghilang saat ia duduk dibangku SMP. Nada sinis serta tatapan tajam yang sebelumnya selalu akrab dengan hidupnya berganti dengan senyuman hangat dan celoteh riang. Dan semua berubah karena ia menemukan seseorang yang mampu mengubahnya. Seseorang yang amat ingin kuucapkan terima kasih karena telah mengajarkan sebuah makna kehidupan pada anakku.” lanjut wanita dihadapanku sembari meraih tangan kananku dan mengenggamnya dengan erat. “Na-ya, terima kasih karena kau telah hadir dikehidupan anakku. Jangan menyalahkan dirimu atas segala hal yang terjadi saat ini. Aku tahu kau bukanlah gadis yang buruk, namun sebaliknya. Tenanglah, Minho akan baik-baik saja. Anak itu pasti akan segera sembuh dan bangkit kembali. Eommonim yakin akan semua itu.“ kuulurkan tangan kiriku dan ikut mengenggam kedua jemari lembut wanita dihadapanku. Kuanggukan kepalaku seiring dengan butiran air mata yang pada akhirnya jatuh menetes dikedua pipiku.

“Eommonim, kamsahamnida. .”

*Heyna Pov End*

 

At Sment Building 2nd Floor. . .

*Author Pov*

*Brakkk. . .

Gebrakan keras segera menyambut seorang namja yang kini tengah berdiri diambang pintu ruangan atasannya. Nampak pemilik manajemen artis yang tersohor di Korea Selatan tersebut terlihat murka dan mengepalkan kedua tangannya diatas meja kerjanya. Beberapa surat kabar serta majalah berserakan dihadapannya.

“Kau bisa melihat hasil dari kebodohanmu?” ucap Sooman dengan nada menusuk seraya menatap tajam sosok Kyuhyun yang kini melangkah mendekat. Dipandangnya sebuah surat kabar yang tengah dihiasi fotonya bersama Heyna yang tengah berpelukan dihalaman depan gedung Sment. Entah informasi dari mana yang telah membocorkan identitas Heyna sehingga pagi ini ia menemukan pemberitaan bahwa berbagai infotainment serta surat kabar telah marak memperbincangkan nama yeoja chingu-nya dan keluarganya.

“Aku tidak mau tahu, segera akhiri hubungan kalian dan persiapkan dirimu untuk melakukan konferensi press untuk mengklarifikasi kesalahpahaman tersebut!” lanjut Lee Sooman sembari melempar sebuah surat kabar pada Khuhyun.

“Tapi segala hal yang terjadi bukanlah sebuah kesalahpahaman. Segalanya adalah fakta, dan kumohon pada anda. Jangan memaksaku melepaskan kembali sesuatu yang amat berharga bagiku. Sesuatu yang akan membuatku sulit bernafas jika ia tidak berdiri disampingku. Aku berjanji akan menyelesaikan segalanya dan kembali membanggakan manajement ini.” balas Kyuhyun yang segera membuat kedua bola mata Lee Sooman membelalak tajam.

“Apa kau sadar dengan hal yang baru saja kau katakan? Apa kau fikir perusahaan yang bekerja bersama kita akan memaklumi scandalmu dan tetap memakaimu sebagai icon mereka? CHO KYUHYUN APAKAH KAU TAHU SUDAH BERAPA PERUSAHAAN YANG MEMBATALKAN KONTRAK KERJASAMA MEREKA DENGAN KITA KARENA ULAHMU! APAKAH KAU TIDAK MEMIKIRKAN TEMAN-TEMANMU?” teriak Lee Sooman segera meluapkan kemarahannya. Kyuhyun terdiam meresapi perkataan gurunya tersebut. Ia tahu jika beberapa schedule-nya bahkan schedule Super Junior dibatalkan karena pemberitaan tentang dirinya yang marak terjadi sejak kemarin malam. Dan segalanya semakin menegang saat identitas gadis yang tertangkap kamera bersamanya terbongkar. Posisi Heyna sebagai pewaris tunggal seorang konglomerat dan tokoh dalam dunia kesehatan yang cukup berpengaruh di Korea dan disegani membuatnya mendapat celaan dan gunjingan. Tak sedikit nitizen yang mangatakan hal buruk tentangnya maupun Heyna. Mereka terang-terangan berkomentar bahwa dirinya merupakan pihak ketiga yang telah menganggu hubungan yang terjalin diantara pewaris Lee Yongjin dan pewaris tahta Jung’s Corp. Seperti yang telah ramai diberitakan sebelumnya bahwa pertunangan diantara mereka akan segera terjadi dalam waktu dekat. Namun, sebuah fotonya yang tengah berpelukan bersama Heyna dianggap sebagai suatu penghianatan. Perusak sesuatu yang seharusnya berjalan dan berakhir bahagia. Dan karena itulah beberapa perusahaan memilih membatalkan kontrak mereka yang memiliki kaitan denganku untuk menghindari kekuasaan yang dimiliki Jung’s Corp yang bisa sewaktu-waktu menghancurkan saham dan usaha mereka.

“Meskipun begitu, aku tetap akan berdiri pada pendirianku. Mimpi serta harapanku tidak akan bisa dengan mudah hancur karena apa yang terjadi saat ini. Sejak awal menapaki jalan ini, aku tahu pasti kesulitan apa yang akan kutemui didepan. Karena itu, aku akan melawannya dan tetap bertahan. Aku menyanyi bukan karena mencari ketenaran. Aku menyanyi karena aku ingin semua orang akan merasa terhibur saat mendengarnya. Membuat mereka melupakan kesedihan serta kesulitannya. Menyampaikan perasaanku pada setiap pendengar agar mereka bisa mengerti akan sebuah makna kehidupan dan membuat mereka tetap bertahan dimasa-masa sulitnya. Dan aku tahu, mereka yang selalu mendengarkan suaraku tidak akan pernah meninggalkanku.” balas Kyuhyun. Kedua pasang mata namja dalam ruangan tersebut saling manatap tajam seakan ingin mejatuhkan mental masing-masing sosok dihadapannya. “ Apapun yang terjadi, aku tidak akan pernah melepaskannya.” lanjut Kyuhyun seraya membunggkuk singkat dan segera melangkah keluar meninggalkan sosok gurunya yang masih membelalak tajam.

“Baiklah, kau tidak memberiku pilihan lain Kyuhyun-ah. Jika aku tidak bisa menghentikan niatmu, maka akan kugunakan cara lain untuk membuatmu berhenti berkhayal.” desis Lee Sooman seraya meraih gagang telepon diatas meja kerjanya.

“Apakah kau sudah berhasil mendapatkanya?” ucap Lee Sooman pada seseorang diujung sambungan telepon.

“Baiklah, segera hubungi anak itu dan sampaikan padanya jika Lee Sooman ingin menyapanya secara pribadi!” lanjut pemilik Sment intertainment tersebut dan segera meletakkan kembali gagang telephone.

“Jika aku tidak bisa memaksamu, maka akan kubuat yeoja yang kau cintai itu untuk memaksamu menghentikan semua kekacauan ini!”

 

At Yongjin Medical University. . .

“ Lee Heyna, palli angkat teleponmu!” gumam Jihyo seraya menatap sekumpulan wartawan yang tengah berdiri diluar gerbang Yongjin Medical dan Yongjin Medical University sejak tadi pagi. Terbongkarnya identitas Heyna sebagai yeoja yang tengah berpelukan dengan Kyuhyun dihalaman depan Sment Building membuat para wartawan menuggu yeoja pewaris dari bangunan yang ia tapaki saat ini untuk mendapatkan penjelasan darinya. “Yak, kenapa sedari kemarin anak itu susah sekali dihubungi.” lanjut Jihyo seraya kembali mengintip dari balik tembok. Ia sengaja bersembunyi karena untuk menghindari kumpulan wartawan yang tadi pagi mencoba mengorek informasi darinya karena seseorang mahasiswa secara tidak sengaja mengatakan bahwa ia mungkin bisa mendapatkan keterangan darinya mengingat kedekatannya dengan Heyna maupun Minho.

“Kim Jihyun, tak akan kubiarkan kau hidup dengan tenang setelah ini! Akan kubuat kau menyesal dengan tindakan yang telah kau lakukan!” desis Jihyo sembari meremas ponsel dalam genggamannya. Jihyo berhasil mencari tahu siapa orang pertama yang membocorkan sosok Heyna dan menyebarkannya pada situs jejaring sosial miliknya dengan meng-upload foto-foto Heyna dan membandingkannya dengan sosok yang tertangkap kamera tengah berpelukan dengan Cho Kyuhyun.  Ditambah dengan hal buruk yang ia tulis di akun-nya tentang hal-hal buruk mengenai Heyna. Suara ramai tiba-tiba terdengar dari balik tembok yang ia sandari. Segera Jihyo keluar dari persembunyiannya saat melihat sosok sahabatnya yang tengah kewalahan ditengah-tengah para wartawan yang mengerumuninya. Dengan langkah cepat Jihyo segera menerobos kumpulan wartawan tersebut dan meraih lengan Heyna. Beberapa petugas keamanan segera datang dan membantu saat mereka menyadari bahwa pewaris dari bangunan tempat mereka bekerja tengah bergumul dengan sekelompok wartawan yang sama sekali tidak mau melepaskannya dan berkali-kali mengarahkan kamera serta microphone padanya.

“Lee Heyna-shi, apakah benar anda menjalin hunbungan dengan Cho Kyuhyun?”

“Lee Heyna-shi, apakah benar Cho Kyuhyun merupakan orang ketiga dalam hubungan anda dengan pewaris Jung Corp?”

“Lee Heyna-shi, apakah setelah ini pertunangan anda dengan pewaris Jung’s Corp akan tetap berlangsung? Bagaimana dengan saham keluarga anda? Apakah peristiwa tersebut akan berdampak buruk bagi bisnis kelurga anda?”

Berbagai pertanyaan saling bersahutan membuat sosok yeoja ditengah kerumunan tersebut tampak kewalahan dan hanya bisa menunduk dan berusaha sekuat tenaga agar bisa segera keluar dari kungkungan tersebut.

“Na-ya, palli!” seru Jihyo dan segera menarik lengan Heyna saat pertugas keamanan berhasil memberikan celah pada mereka berdua untuk bisa segera melepaskan diri dari kungkungan para wartawan. Dengan cepat Heyna dan Jihyo segera berlari tanpa menggubris tatapan penasaran serta mencela para mahasiswa lain yang tengah menyaksikan kejadian dihalaman universitas mereka.

“Haaahhh…haaaaahhh…haaahhh…”kedua yeoja yang merupakan sahabat baik tersebut tampak terengah-engah seraya bertumpu diatas lutut mereka. Semburat merah tampak jelas dikedua wajah yeoja tersebut. Bisikan beberapa mahasiswa yang melintas dihadapan mereka terdengar silih berganti. Tak jarang terdengar sindiran yang cukup jelas untuk bisa didengar kedua yeoja yang kini masih terdiam. Jihyo melirik sosok sahabat disampingnya yang terlihat sekali amat tertekan saat ini. Ia tahu pasti hari seperti apa yang telah dilewati sahabatnya semenjak tadi pagi. Ia bisa menebak dari sorot mata Heyna yang tampak seoalah kehilangan sinarnya. Tanpa menunggu lama Jihyo segera membuka ransel miliknya dan mengeluarkan ponsel serta earphone dari dalamnya. Tanpa permisi ia segera memasangkan earphone tersebut dikedua telinga Heyna yang tampak terkejut dengan tindakan yang tengah dilakukan sahabatnya.

“Jangan dengarkan apapun! Jangan mendengar apapun selain ucapanku saat ini!” ucap Jihyo. Heyna terdiam menatap sahabatnya yang kini tengah menatap tajam beberapa mahasiswi yang tengah berbisik tak jauh dari tempat mereka berdiri. “Mungkin saat ini aku sama sekali tidak bisa memberikanmu nasihat ataupun jalan keluar dari semua yang terjadi. Tapi, setidaknya kau masih memilikiku. Jangan takut, aku akan selalu mengenggam tanganmu. Berdiri bersamamu hingga akhir, seperti janji yang pernah kita ucapkan.” ucap Jihyo seraya menekan tombol play pada layar ponselnya. Alunan musik yang tidak asing bagi kedua yeoja tersebut segera terdengar nyaring dikedua telinga Heyna. Menyampaikan sebuah hal yang ingin diingatkan oleh sahabatnya. Sebuah lagu yang selalu ia dengarkan bersama sahabatnya yang akan segera menguatkan hatinya disaat ia tengah terjatuh. Sebuah lagu yang menjadi awal dari persahabatan indah diantara ia, Jihyo dan Minho.

Breakway (#Original Song By Kelly Clarcson)

♪Grew up in a small town And when the rain would fall down

I’d just stare out my window

Dreamen of what could be And if I’ll end up happy

I would pray


Trying hard to reach out But when I tried to speak out

Felt like no one could hear me Wanted to belong here

But something felt so wrong here

Sooo I pray

I could breakaway


I’ll spread my wings

And I’ll learn how to fly

I’ll do what it takes till I touch the sky

I’ll make a wish

Take a chance

Make a change

And breakaway


Out of the darkness and into the sun

But I won’t forget all the ones that I love

I’ll take a risk

Take a chance

Make a change

And breakaway


Wanna feel the warm breeze Sleep under a palm tree

Feel the rush of the ocean

Get onboard a fast train Travel on a airplane

Far away, and break away


I’ll spread my wings

And I’ll learn how to fly

I’ll do what it takes till I touch the sky

and i’ll make a wishTake a chance

Make a change

And breakaway


Out of the darkness and into the sun

I won’t forget all the ones that I love

Gotta take a riskTake a chance

Make a change And breakaway


Buildings with a hundred floors

Swinging ’round revolving doors

Maybe I don’t know where they’ll take me

But.. gotta keep moving on,moving on

Fly away, Breakaway


I’ll spread my wings

And I’ll learn how to fly

Tho it’s not easy to tell you goodbye

Gotta take a risk

Take a chance

Make a change

And breakaway


Out of the darkness and into the sun

But I won’t forget the place I come from

Gotta take a riskTake a chance

Make a change

And breakaway♪

“Kepakan kedua sayapmu dan terbanglah. Yakinlah bahwa kau mampu mengapai langit yang kau impikan. Ambil segala resiko dan kesempatan dihadapanmu. Buatlah perubahan dan buktikan kau mampu meraih segalanya. Mengapai mimpi serta harapanmu dan bersinar terang. “ ucap Jihyo saat dirasanya alunan nada yang ingin diperdengarkannya pada sosok dihadapannya telah berhenti. “Kau pasti bisa melewati semuanya. Seperti biasa, kau pasti bisa menakhlukan segala hambatan dihadapanmu.” lanjut Jihyo. Kembali sebutir air mata menetes dipipi Heyna saat dilihatnya semua orang disekelilingnya yang telah tersakiti karena dirinya amat mengkhawatirkannya dan mendukungnya. Meraih tangannya dan mengengam tanganya erat agar tidak terjatuh. Berdiri disampingnya dan membantunya melawan segala hal sulit dihadapannya.

Seulas senyum lembut menghiasi wajah Jihyo untuk menenangkan hati sosok dihadapannya. Diulurkan jemarinya untuk mengusap butiran air mata dipipi sahabatnya dan tanpa menunggu lama segera merengkuhnya dalam pelukan.

“Hyo-ya, gomawo. Jeongmal gomawo chingu-ya!”

*Author Pov End*

 

May, 11th 2013 At Yongjin Medical. . .

*Heyna Pov*

Kulangkahkan kakiku dengan cepat menyusuri koridor rumah sakit. Beberapa mata nampak mencuri pandang kearahku saat aku melintas dihadapan mereka. Bisikan diantara pengunjung rumah sakit tak jarang terdengar cukup keras hingga bisa terdengar dikedua telingaku.

“Bukankah itu yeoja yang telah berpelukan dengan Kyuhyun-oppa? Angkuh sekali! Lihat saja caranya berjalan. Apa karena ia kaya lantas bisa bebuat seenaknya.” bisik seorang remaja yang tengah duduk dikursi tunggu yang tidak jauh dari tempatku berdiri didepan lift.

“Ne, karenanya sekarang Kyuhyun-oppa dan Oppa-deul lainnya mengalami kesulitan dengan manajement mereka. Beberapa kontrak mereka dengan perusahaan dibatalkan karena perusahaan tersebut takut dengan kekuasaan yang dimiliki Jung’s Corp! Benar-benar yeoja yang tidak tahu diri! Aku tidak akan pernah setuju jika Kyuhyun-oppa harus bersanding dengan yeoja pengkhianat sepertinya! Kasihan sekali Jung Minho, kudegar mereka juga telah bersama sejak SMA. Benar-benar tidak tahu malu!” sambung yeoja disebelahnya yang semakin lama terdengar semakin keras hingga kini dapat kurasakan semua mata manatapku. Kusunggingkan senyumku dan tetap berdiri ditempatku dengan tenang. Bukan kali pertama aku harus mendengar komentar pedas serta kecaman dari orang-orang sejak  scandal-ku dengan Kyuhyun menjadi berita utama disetiap surat kabar dan infotainment.

“Lee Heyna ahgasshi, apakah anda baik-baik saja?” ucap seorang perawat disampingku yang merupakan asistenku dirumah sakit. Kutatap yeoja yang berumur 4 tahun lebih tua dariku dan tersenyum lembut padanya.

Gwenchana. Hal seperti itu tidak akan mampu memukul mundur diriku!” jawabku dan segera melangkah memasuki lift yang telah terbuka dihadapanku. Kutatap dua yeoja yang kini masih melihatku dengan tatapan mencela. Kusunggingkan senyumku dan menatap lurus kearah mereka hingga tatapan diantara kami menghilang karena pintu lift yang tertutup.

 

Dddddrrrrrrtttttttt. . .ddddrrrrttttttt. .. .

Gerakan tanganku yang tengah membubuhkan tanda tangan dibeberapa dokumen yang semenjak tadi siang kutekuni segera terhenti saat kurasakan sebuah getaran didalam saku jas putihku. Kukeluarkan LG VU II putihku dan segera membuka sebuah pesan dari seseorang yang hampir 4 hari tidak bisa kutemui karena paparazzi yang selalu mengikuti gerakannya dan gerakanku.

From: Cho Kyuhyun

“Apakah kau masih dirumah sakit? Pukul berapa kau kembali? Aku ingin bertemu denganmu dan memastikan bahwa kau masih baik-baik saja dan tidak mematahkan semua lengan para wartawan yang mengejarmu mengingat yeoja seperti apa kau ini, Nona labil! Kekekekeek:p

Jam berapa kau akan pulang, aku akan menjemputmu.

 

Aku tersenyum getir membaca pesan dari namja chingu-ku tersebut. Cho Kyuhyun, sampai saat ini namja tersebut masih berpura-pura dan selalu mengatakan padaku bahwa ia baik-baik saja dan tengah disibukkan dengan schedule-nya sampai-sampai tidak ada waktu baginya memikirkan scandal yang diberitakan awak media saat ini. Padahal, bukan suatu rahasia lagi jika beberapa perusahaan yang sebelumnya membuat kerjasama dengan manajement-nya segera membatalkan kontrak secara sepihak karena tidak ingin lagi menggunakan profil Kyuhyun sebagai icon mereka mengingat kekuasaan yang dimiliki Jung’s Corp. Tapi namja tersebut tetap bersikeras dan selalu terdengar ceria menutupi kebohonganya. Aku tahu pasti jika saat ini ia lebih banyak di dorm daripada menjalani schedule-nya. Bahkan dibeberapa acara musik Kyuhyun tidak ikut tampil. Dan untuk mengimbangi permainanya maka seperti biasa aku akan ikut tersenyum mendengar celotehnya. Tertawa mendengar deklarasi kenarsisannya.Dan mengatakan bahwa aku baik-baik saja. Sebaik dirinya saat ini, aku tahu pasti bahwa apa yang kuucapkan tersebut tidak akan dengan mudah dipercayai namja tersebut mengingat beberapa komentar pedas serta kecaman yang banyak tersebar di situs jejaring sosial serta internet mengenai diriku yang ia baca.

Aku tersenyum kembali dan segera memainkan jemariku diatas layar LG VU II putihku. Namun gerakan tanganku segera terhenti saat tiba-tiba sebuah panggilan masuk dari nomer yang tidak kukenal membuat ponselku kembali bergetar. Tanpa menunggu lama segera kutekan tombol answer.

“Yoboseyo. .”

“Apakah saya bisa berbicara dengan Lee Heyna-shi?” jawab seseorang diujung sambungan tersebut yang segera membuat jantungku berdebar. Sebuah firasat buruk mendadak menjalar disekujur tubuhku.

“Ne, saya sendiri.” balasku.

“Annyeonghaseyo, maaf jika telepon saya menganggu anda. Lee Sooman imnida. Saya rasa anda pasti tahu siapa saya.” debaran dijantungku segera bertambah cepat saat mengetahui siapa pemilik suara diujung sambungan telepon tersebut.

“Apakah kita bisa bertemu? Saya rasa saya terlampau tidak sopan karena sama sekali belum menyapa anda mengingat scandal diantara anda dan salah satu artis yang berada dalam naungan saya telah menyebabkan kekacauan pada kehidupan anda.” lanjut Lee Sooman. Aku terdiam sesaat sampai pada akhirnya aku berani mengambil keputusan mengingat apa yang pernah disampaikan Jihyo beberapa saat lalu.

“Ah, ne.” balasku singkat.

“Apakah malam ini anda bisa meluangkan waktu anda. Jika anda bersedia, setelah ini saya akan mengirimkan alamat dimana kita bisa bertemu.”

“Ne, anda kirimkan saja alamatnya. Saya akan menemui anda setelah urusan saya selesai.”jawabku dan segera meletakkan LG VU II putihku setelah mendengar salam dari sosok diujung sambungan tersebut.

“Kurasa aku bisa menebak sapaan seperti apa yang hendak diberikannya padaku.” gumamku seraya mengernyitkan kedua alisku. Dengan cepat segera kulanjutkan kembali kegiatanku yang sempat tertunda.

 

To : Cho Kyuhyun

“Mianhae, kurasa kau tidak perlu menjemputku. Setelah ini aku harus menghadiri makan malam dengan para petinggi universitas. Aku akan menghubungimu begitu urusanku sudah selesai.

PS: Tenang saja, aku masih bisa berfikir waras dan tidak akan menganiaya orang lain. Sifat evilku hanya diperuntukkan untuk namja dengan tingkat kenarsisan diatas normal sepertimu!”

 

19:56 KST At Chungdong Restaurant. . .

Kulangkahkan kakiku mengikuti seorang pelayan yang akan membawaku menemui sosok yang sore tadi menelephonku.

“Silahkan, ahgasshi.” ucap pelayan tersebut seraya memberikan tanda padaku untuk segera masuk kedalam sebuah ruangan VIP dihadapanku.

“Aku segera melangkah masuk saat pintu dihadapanku terbuka dan menampilkan sosok namja yang kurasa adalah asisten pribadi dari Lee Sooman.

“Selamat malam, Lee Heyna-shi!” sapa Lee Sooman segera seraya membungkuk singkat padaku diujung meja didalam ruangan ini. Aku segera membungkuk membalas salam pemilik Sment tersebut.

“Annyeonghaseyo, Lee Heyna imnida!” ucapku memperkenalkan diri. Aku segera duduk pada kursi dihadapanku saat sosok dihadapanku memberikan tanda padaku untuk segera duduk dikursi yang telah ia sediakan.

“Suatu kehormatan bagi saya bisa bertemu dengan cucu tunggal dari Profesor Lee Yongjin.” lanjut Sooman seraya tersenyum padaku.

“Suatu kehormatan pula bagiku karena bisa bertemu dengan musisi hebat seperti anda.” balasku seraya tersenyum pula.

“Jadi, apakah scandal akhir-akhir ini menganggu kegiatan anda? Mianhamnida karena harus membuat anda terjebak dalam hal yang tidak mengenakkan ini.” ucap Sooman seraya meneguk segelas anggur dihadapannya. Aku terdiam mencerna maksud dari ucapan sosok dihadapanku tersebut.

“Apakah anda mengundangku malam ini untuk membujukku melepaskan Kyuhyun?” ucapku to the point yang segera membuat sosok dihadapanku tampak sedikit terkejut.

“Kurasa, saya bisa melihat kemiripan pada diri anda dengan professor Lee yang terkenal sangat berani dalam memgungkapkan segala hal dan tentu saja teramat pandai.” aku tersenyum simpul merespon ucapan Lee Sooman. “ Seperti apa yang anda katakan, apakah menurut anda dengan tetap mempertahankan hubungan diantara kaian berdua akan membuat Kyuhyun tetap mampu bersinar? Kurasa anda pasti sudah mendengar pemberitaan bahwa banyak perusahaan memutuskan kontrak kerjasama mereka dengan manajement kami akibat scandal diantara anda dan Kyuhyun. “ lanjut Lee Sooman yang kini tampak serius. “Bagi orang seperti anda, meraih sebuah mimpi bukanlah hal sulit. Dengan kekayaan yang anda miliki, anda mampu mendapatkan apa yang anda inginkan dengan mudah. Kekuasaan, mimpi, dan kebahagiaan. Tapi, tidak bagi anak itu. Kyuhyun seperti halnya anak didikku lainnya yang mengapai uluran tangganku dengan harapan dapat mewujudkan mimpi merek. Bukan dengan mudah mereka dapat berdiri dipanggung mereka saat ini. Usaha keras, keringat serta tangis tak jarang mengiringi langkah mereka agar bisa berdiri diatas panggung impian. Apakah anda ingin membuat mimpinya hancur? Apakah anda tega melihat sinarnya perlahan meredup? Saya yakin orang secerdas anda bisa menentukan pilihan yang tepat.” aku terdiam seraya menunduk memikirkan seluruh ucapan sosok dihadapanku yang terdengar seperti tamparan keras untukku. Aku tahu pasti bahwa sosok dihadapanku hanya menginginkan yang terbaik bagi karir serta mimpi Kyuhyun. Tapi, apakah aku harus sekali lagi menghianati janjiku dan memilih melepaskannya agar bisa tetap bersinar?

“Anda tidak perlu memutuskannya saat ini. Saya akan menunggu keputusan anda. Lee Heyna-shi, kumohon lepaskan anak itu.”

 

21:12 KST at Heyna apartementh PH Floor. . .

Kutatap sosok Kyuhyun yang tengah memandang kosong pemadangan diluar jendela apartementku. Raut lelah terpancar jelas diwajahnya yang tampak semakin kurus.

bic-14

Kusunggingkan senyumku saat menangkap sosok yang kini tengah melangkah menghampiriku.

“Apakah eommonim belum kembali?” ucap Kyuhyun seraya duduk disampingku

“Ne, mungkin sebentar lagi eomma pulang. Kyuhyun-ah apakah. . .” ucapanku segera terhenti saat dengan cepat Kyuhyun menatapku dan memberiku tanda untuk tidak melanjutkan pertanyaanku.

Nan gwenchana, jangan khawatir. Aku tidak menemukan hal yang tidak wajar ataupun suruhan kakekmu.” ucap Kyuhyun menenangkanku. Kutundukkan kepalaku mengingat kondisi diantaraku dan haraboeji yang belum juga membaik sejak terakhir kali aku menemuinya. Seolah ingin menghindariku, haraboeji selalu menolak saat aku ingin menemuinya. Aku tahu pasti jika sampai saat ini kakekku belum bertindak apapun mengingat aku menyewa beberapa bodyguard yang kuperintahkan untuk selalu melindungi Kyuhyun. Dan menurut laporan mereka, sampai saat ini tidak ada hal ganjil yang mereka temui selain sekumpulan paparazzi yang banyak menguntit kemanapun Kyuhyun pergi.

“Lalu, bagaimana denganmu? Apakah kau baik-baik saja? Apakah banyak. .”

Nan gwenchana, sama halnya denganmu. Aku baik-baik saja.” potongku segera seraya tersenyum dan menatap lurus kedepan.

“Mianhae, karenaku kau terpaksa menahan sindiran serta kecaman dari beberapa pengemarku dan orang-orang disekitarmu. Aku tahu kau bukanlah yeoja lemah yang akan menangis dan jatuh hanya karena sebuah sindiran dan kecaman dari mereka. Tapi aku tidak bisa melihat hal tersebut ditujukan padamu. Bahkan, beberapa kali kau terkena lemparan telur dan aku sama sekali tidak bisa melindungimu.” lanjut Kyuhyun. Kutatap namja disampingku yang kini terlihat menunduk karena merasa bersalah dengan beberapa insiden lemparan telur yang kudapatkan beberapa hari ini.

Yoon Jong Shin Ft. Kyuhyun - Late Autumn (늦가을) MV [English subs + Romanization + Hangul] HD.mp4_snapshot_02.45_[2013.04.08_05.40.13]

“Jika segala sindiran , kecaman dan lemparan telur yang diarahkan padaku bisa membuatku tetap berdiri bersamamu dan melangkah mengapai mimpi kita. Maka aku akan menerimanya. Apakah kau lupa dengan segala hal yang pernah kau katakan padaku? Katamu, kita harus bersabar dan berusaha sampai suatu saat nanti keyakinan serta ketegaran kita akan menghantarkan kita pada sebuah pintu keluar bernama kemenangan. Sebuah pintu yang akan membawa kita mangapai mimpi dan harapan kita. Sebuah pintu yang akan dipenuhi oleh mereka yang selama ini mendukung dan menantikan keberhasilan kita. Karena itu jangan mengkhawatirkanku, bukan masalah bagiku harus mendapatkan sindiran, kecaman bahkan teror dari orang-orang yang membenciku. Aku akan menahannya dan tetap melangkah kedepan. Mengapai harapan dan membuat semua orang disekeliling kita yang telah berkorban dapat tersenyum bahagia. Aku tidak akan pernah lagi membiarkan siapapun menghalangiku, bahkan jika orang tersebut adalah Lee Sooman sonsaengnim.” ucapku yang segera membuat kedua bola mata Kyuhyun membulat karena terkejut.

“Sonsaengnim menemuimu? Apa yang dikatakannya? Apakah ia memaksamu untuk melepaskanku? Lee Heyna kumohon jangan memikirkan ucapannya. Percayalah kita pasti mampu melewati semua ini.” ucap Kyuhyun cepat. Kutatap namja yang tampak teramat khawatir saat ini. Kusunggingkan senyumku dan segera melepas topi hitam dari kepalaku dan memandangnya.

“Kyuhyun-ah, kau tahu pada awalnya aku sempat berfikir untuk menyerah dan melepaskanmu. Ucapan Lee Sooman sonsaengnim cukup mampu mempengaruhiku dan membuatku berfikir keras. Aku tahu jika apa yang dikatakannya itu benar. Bukan hal mudah bagimu untuk dapat berdiri ditempatmu saat ini. Tidak sedikit keringat yang kau kucurkan dan air mata yang menetes mengiringi perjuanganmu meraih semua hal tersebut. Kau merasakan sakit, terluka, dan tak jarang terjatuh. Namun demi sebuah mimpi kau berusaha bangkit kembali dan meraih segalanya. Memberikan segala hal terbaik yang kau miliki untuk membuat semua orang yang mendengarkan lagumu akan tersenyum bahagia dan memberikan semangat bagi mereka. Dan teramat berat bagiku untuk membuatmu berada dalam kondisi yang akan mampu membuatmu terjatuh kembali. Membuat sinarmu perlahan meredup diatas panggung yang dengan susah payah dapat kau raih. Aku yang kemarin mungkin akan memilih melepaskan segalanya dan kembali menyerah seperti jawaban yang pernah kuberikan pada Donghae-oppa dahulu. Memilih melepaskanmu jika suatu saat hubungan diantara kita diketahui public dan membuat kontreversi. Tapi, segala hal yang pernah kauberikan padaku seakan-akan berteriak bersamaan menyerukan agar aku jangan melepaskanmu. Topi ini, tuan teddy bear, mantel hitam milikmu, gelang pemberianmu serta sosok anak laki-laki yang tengah tersenyum lugu saat memandang hamparan pelangi disampingku yang tiba-tiba memenuhi kepalaku. Segalanya seolah bersatu menyerukan dua buah kata padaku. Dua buah kata yang seharusnya kufikirkan sejak awal kita bersama. Dua buah kata yang aku yakini akan mampu merubah segalanya. Kepercayaan dan pantang menyerah. Menghadapi kesulitan sama halnya disaat kita harus mengerjakan ujian disekolah. Kita harus terpaksa mengulang ujian tersebut berkali-kali jika kita belum bisa lulus dan melampaui standar nilai kelulusan. Sama halnya dalam menghadapi kesulitan, kita tidak akan pernah bisa keluar dari kesulitan tersebut jika kita meneyrah ditengah jalan. Suatu hari, hal tersebut pasti akan menghampiri kita kembali dan menguji kita. Terus berulang sampai kita dapat menyelesaikannya. Dan itulah yang kita alami, dahulu kita memilih menyerah dan melepaskan segalanya. Sampai pada akhirnya takdir kembali mempertemukan kita dan menguji kesungguhan kita dengan hal yang sama. Menguji apakah kita layak untuk tetap berdiri berdampingan dan mampu melewati segalanya. Dan sebuah kepercayaan adalah kunci terakhir agar kita mampu meraih segalanya. Kita tidak akan bisa melangkah lebih jauh kedepan jika kita tidak bisa saling mempercayai kemampuan masing-masing. Kita hanya akan membuat diri kita berada ditempat yang sama karena saling mengkhawatirkan. Karena itu, mulai saat ini percayalah padaku. Seperti saat kau pernah memintaku untuk mempercayaimu. Percayalah bahwa aku mampu menghadapi segalanya. Jangan mengkhawatirkanku dan lakukanlah peran kita masing-masing. Kita tidak akan pernah membuat perubahan jika kita tidak mengambil tindakan dan hanya saling memikirkan serta saling mencemaskan. Yang perlu kita lakukan adalah saling percaya dan melangkah. Aku akan baik-baik saja. Dan aku juga percaya bahwa tidak akan ada hal yang bisa menjatuhkan seorang Cho Kyuhyun dan membuat sinarnya redup. Meskipun sulit, aku percaya jika ia akan bisa menghadapi segalanya. Aku percaya bahwa ia kan segera bangkit meskipun akan banyak hal yang menghempaskannya kedalam lubang yang gelap. Aku percaya bahwa ia akan tetap mampu berdiri tegar dan tersenyum disampingku.” kutatap sosok disampingku. Sebuah senyum lembut kini menghiasi wajahnya yang semula terlihat muram.

Good girl.” ucap Kyuhyun seraya menepuk-nepuk puncak kepalaku dengan lembut.

“Apakah kepalaku terlalu sexy sehingga membuatmu tidak tahan untuk tidak menepuknya?” ucapku asal seraya tersenyum saat melihat sosok dihadapanku yang kini menadadak mengangga lebar setelah mendengar penuturanku. Namun, detik berikutnya senyum evil miliknya yang hampir berbulan-bulan tidak kulihat secara langsung menghiasi wajah tampannya.

“Apakah kau ingin tahu bagian mana pada dirimu yang tampak jauh lebih sexy sehingga membuatku tidak tahan untuk tidak menciumnya?” ucap Kyuhyun dan dengan cepat segera mengecup singkat bibirku dan kembali menyunggingkan senyum penuh kemanangannya.

“YAK, MATI KAU AHJUSHI MESUM!”

*Heyna Pov End*

 

May 15th 2013 at Seoul International Middle School. . .

*Author Pov*

Seorang namja tampak menyusuri halaman belakang gedung sekolah yang menyimpan banyak sekali kenangan berharga semasa ia masih menjadi siswa disekolah tersebut. Minho segera duduk dan menyandarkan tubuhnya disebuah pohon maple yang selalu menjadi tempat favoritnya menghabiskan waktu disekolah dan menyingkir dari beberapa siswa yang selalu memgekornya karena status keluarganya.

“Na-ya, mianhae. Bukan karena aku membencimu, tapi karena aku sama sekali tidak memiliki keberanian untuk menemuimu setelah apa yang kulakukan padamu dan Jihyo. Apakah aku masih pantas menjadi seorang sahabat bagi kalian.” lirih Minho seraya menatap sebuah balkon dilantai 2 gedung dihadapannya. Sebuah tempat yang selalu digunakan oleh Heyna untuk menghabiskan waktu istirahatnya dengan membaca buku diatas bangku yang terletak tepat bersandar didinding balkon tersebut. Ingatan Minho akan sosok yeoja yang sering ditatapnya secara diam-diam sebelum ia mengenal dekat dengan dirinya sampai pada akhirnya mereka menjadi sahabat tiba-tiba muncul dalam benaknya. Sosok Heyna yang tengah tersenyum terpatri jelas dalam ingatannya.

 

“Sebenarnya, aku sudah lama menyukaimu sejak kita belum saling mengenal. Aku sering menatapmu dari bawah.” lanjut Minho seraya tersenyum miris.” Tapi,sekarang aku sadar jika segalanya tidak akan dapat kuraih. Aku sadar jika aku tidak akan pernah bisa memaksakan sebuah perasaan.”

Ddddrrrrrttttttt. . .ddddrrrrtttttttt. . .

From : Hyo-ya

“Ho-ya, neo eoddiya? Apakah kita bisa bertemu? Jangan terus bersembunyi dan memendam segalanya seorang diri. Kau tahu, kau masih memiliki seorang sahabat yang akan selalu ada untukmu. Aku dan Na-ya masih menunggumu. Akan terasa aneh bagiku dan Na-ya saat tidak mendapati sosokmu disamping kami. Jangan tenggelam terus  kedalam kesalahanmu. Bangkitlah dan segera berdiri disampingku dan Heyna. Tersenyum dan saling mengengam erat tangan kita masing-masing. Cepatlah kembali, Na-ya ia sangat membutuhkanmu saat ini.

 

Minho tampak terdiam cukup lama menatap layar ponselnya. Sahabat, adalah seseorang yang amat berarti dalam hidupnya. Dan ia tahu bahwa menjadikan Heyna dan Jihyo sebagai sahabat baiknya adalah sebuah pilihan yang tepat. Seberapa buruk kelakuannya, seberapa besar kesalahnya hingga menyakiti hati kedua yeoja tersebut, tapi tak pernah sekalipun salah satu diantara mereka membencinya. Tidak pernah salah satupun dari mereka menghempaskannya dan meninggalkannya seorang diri. Mereka akan selalu datang dan menggulurkan tangan mereka padanya disaat ia tengah terjatuh. Dan selalu memaafkan kesalahannya dan menganggapnya sebagai seorang sahabat berharga.

Detik berikutnya, Minho segera bangkit. Hela nafas panjang terhembus dari mulutnya. Perlahan namun pasti sebuah senyum simpul kembali menghiasi wajah tampannya mengiringi derap langkahnya.

“Tunggulah, aku pasti akan berdiri disamping kalian!”

 

11:23 KST At Yongjin Medical University. . .

“Sajjangnim, Heyna ahgasshi menuggu anda diluar. Apakah anda mau menemuinya?” ucap Jinwoon pada sosok yang sama sekali tidak meliriknya dan tetap menyibukkan dirinya dengan lembaran-lembaran dokumen diatas meja kerjanya.

“Bukankah kau sudah tahu jawabanku?” jawab Yongjin dingin.

“Tapi sajjangnim, Heyna ahgasshi sanagt ingin menemuimu. Saya merasa kasihan harus melihat wajah Heyna ahgasshi yang terlihat amat sedih dan kecewa karena anda menolaknya setiap hari.” ucap Jinwoon yang segera membuat sosok dihadapannya segera menatap tajam padanya.

“Apakah aku perlu mengatakan padamu dua kaili lebih keras jika aku tidak ingin menemuinya!” seru Lee Yongjin yang segera membuat Jinwoon menundukkan kepalanya. Bukan pilihan tepat bagi Jinwoon untuk membujuk majikannya yang masih diliputi amarah sampai saat ini. “Katakan pada anak itu aku tidak akan menemuinya sampai ia mau memperbaiki kesalahanya dan menuruti perintahku!” lanjut Yongjin dengan nada tajam. Tanpa menunggu lama, Jinwoon segera membungkukkan tubuhnya dan melangkah keluar.

“Ahjusshi, bagaimana? Apakah haraboeji mau menemuiku?” tanya Heyna segera saat dilihatnya sosok sekertaris pribadi kakeknya melangkah keluar dari dalam ruangan  dihadapan mereka.

Mianhamnida, sajjangnim saat ini tidak bisa menemui anda. Saya rasa beliau tengah sibuk dengan proyek pembangunan Rumah sakit baru di Makpo.” jawab Jinwoon menutupi kenyataan yang sebenarnya. Bertahun-tahun menjadi orang kepercayaan Lee Yongjin membuatnya amat mengenal pribadi masing-masing majikannya. Dan ia tidak akan tega jika harus mengatakan hal yang sebenarnya pada sosok dihadapannya. “ Saya rasa, mungkin anda bisa kembali menemuinya setelah sajjangnim pulang dari Makpo. Udara segar disana mungkin dapat menenangkan fikiran beliau.” lanjut Yongjin. Heyna tersenyum kecut mendengar penuturan sosok dihadapannya.

“Ne, kurasa apa yang anda katakan benar. Baiklah, aku harus segera kembali kekelas.” ucap Heyna seraya mengendikan kepalanya.

“Heyna ahgasshi, bersabarlah. Saya yakin dengan kesabaran dan ketegaran anda suatu saat dapat membuka hati sajjangnim. Karena saya amat mengenalnya, beliau bukanlah sepenuhnya sosok dingin dan otoriter seperti yang kita lihat dari luar. Sajjangnim, beliau memiliki sisi hangat. Karena itu, bersabarlah dan berjuanglah ahgasshi.” kembali Heyna tersenyum dan segera menganggukan kepalanya.

“Ne, aku tahu tentang semua hal itu. Dan aku pasti akan tetap bersabar menunggu sampai aku bisa mengembalikan senyuman hangat kakekku” segera Jinwoon membungkukan tubuhnya mengiringi kepergian cucu majikannya.

“Ahgasshi, berjuanglah!”

 

13:34 KST. . .

*Prakkkkk. . .

Heyna segera menghentikan langkah kakinya saat sebuah benda tiba-tiba menghantam bahu kirinya. Bau amis segera tercium olehnya saat menyadari jaketnya berlumur telur yang kini menetes-netes di lengan kirinya. Segera seluruh mata yang semenjak tadi sibuk dengan urusan mereka masing-masing menatapnya dengan penasaran. Heyna menghela nafasnya dan segera menyungingkan senyumanya. Yeoja tersebut segera mengambil sapu tangan dari dalam saku jaketnya dan membersihkan pecahan telur dari bahu dan lengan kirinya. Namun gerakannya segera terhenti saat kembali dua buah telur menghantamnya dan tepat mengenai kepala dan punggungnya. “Lee Heyna, jangan kalah! Tetap tersenyum dan segera melagkah!” ucap Heyna pelan dan dengan segera kembali membersihkan tubuhnya dari tetesan-tetesan telur.

“NA-YA AWAS!” Heyna segera berbalik mencari sumber suara yang baru saja meneriakan namanya. Detik berikutnya sosok yeoja segera merengkuhnya.

“Hyo-ya, apakah kau baik-baik saja?” tanya Heyna segera saat dilihatnya sisi kanan kepala sahabatnya yang terkena lemparan telur karena berusaha melindunginya.

“Yak, kau ini bodoh atau apa! Bukan kau seharusnya yang bertanya, tapi aku! Apakah kau baik-baik saja?” ucap Jihyo seraya membersihkan pecahan telur dari rambutnya. Segera ia mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru halaman Yongjin Medical University mencari pelaku insiden pelemparan telur pada sahabatnya.

“YAK, CEPAT KELUAR KALAU KALIAN BERANI! AKU TIDAK AKAN MELEPASKAN KALIAN JIKA AKU BERHASIL MENEMUKAN KALI. .” teriakan Jihyo segera terhenti saat beberap telur kembali mengujamku dan Jihyo secara bersamaan. Bisikan ramai segera terdengar dari seluruh mahasiswa yang menyaksikan kami berdua yang tengah dilempari telur.

“Arrggghh. .seru Jihyo saat sebuah telur tepat mengenai wajahnya dengan keras.

“HENTIKAN! SIAPA YANG MENGIJINKAN KALIAN MELUKAI KEDUA SAHABATKU!” sebuah teriakan terdengar keras dari sosok namja yang kini tengah mendekap tubuh Heyna dan Jihyo.

“Ho-ya. .” ucap Heyna dan jihyo bersamaan saat melihat sosok Minho yang kini tengah merengkuh tubuh mereka kedalam pelukannya dan menjadi tameng bagi mereka. Bersamaan Heyna dan Jihyo segera melepaskan tubuh mereka dari namja tersebut.

“Berapa kali sudah kukatakan, kalian berdua tidak akan aman jika tidak berada didekat namja tampan sepertiku!” ucap Minho seraya tersenyum. Perlahan namun pasti gurat-gurat bahagia segera menghiasi wajah mereka bertiga.

*Pletak. . .

Mwo, namja paling tampan?” ucap Heyna seraya tersenyum.

Namja paling narsis itu lebih tepat!’ sambung Jihyo. Serentak ketiga sosok tersebut terkekeh satu sama lain.

“Ho-ya, jeongmal bogoshippo chinggu-ya.” ucap Heyna dan Jihyo bersamaan dan segera memeluk sosok dihadapan mereka ditengah puluhan pasang mata yang kini tengah tertegun menyaksikan pemandangan dihadapan mereka.

“Nado, bogoshippo chingu-ya.”

 

16:14 At Lee Yongjin House. . .

“Sajjangnim, semua telah siap. Anda bisa berangkat sekarang.” ucap Jinwoon pada majikannya yang tengah duduk dimeja kerjanya sembari memandang foto mendiang istrinya.

“Baiklah, aku akan segera keluar.” ucap Yongjin singkat. Mendadak pintu diruangan tersebut terbuka dan menampilkan sosok Lee Eunji.

Aboeji, bisakah kita bicara?” ucap Eunji seraya berjalan menghampiri sosok ayanhya. Ditatapnya sosok Jinwoon sebagai tanda agar sekertaris pribadi ayahnya tersebut segera meninggalkan mereka berdua. Tanpa menunggu lama, Jinwoon segera membungkuk dan melangkah keluar meninggalkan ayah dan anak tersebut.

“Hal apa yang ingin kau bicarakan?” ucap Yongjin dingin tanpa memandang sedikitpun sosok putrinya. Eunji segera kembali melangkah mendekati sosok ayahnya. Dilaur dugaan, putri tunggal dari Lee Yongjin tersebut segera berlutut tepat dihadapan sosok ayahnya. Kedua bola mata Yongjin segera terbelalak saat menyaksikan tindakan putrinya.

Aboeji, jebal. Geumanhae, biarkan Heyna memilih jalan yang diinginkannya. Na-ya, ia sangat menyayangimu. Ia tidak pernah sekalipun membencimu meskipun aboeji selalu menekannya. Aku tahu, segala hal yang aboeji lakukan semata demi kebahagian Heyna. Seperti apa yang terjadi padaku 20 tahun silam. Aku tahu, jika apa yang aboeji lakukan dahulu semata demi kebahagianku. Dan aku tahu pula alasan apa yang membuat aboeji amat membenci Junsu.” Yongjin segera menatap sosok putrinya. “Tapi, bukankah segala hal tidak bisa selalu dilihat dari satu sisi? Meskipun seseorang terlahir dari keluarga yang tidak baik, tapi bukan berarti kondisi tersebut pasti mempengaruhinya. Walaupun ia tidak memiliki segala kemampuan yang kita inginkan, tapi dia tetap memiliki sebuah ketulusan. Dan hal tersebut membuatku ingin selalu berada didekatnya, bersamanya sehingga membuatku lupa akan tanggung jawab serta orang-orang disekelilingku yang mencemaskanku. Appa, tahukah kau jika aku sangat meyayangimu? Terlalu menyayangimu hingga membuatku  selalu bertingkah menentangmu? Aku hanya terlalu malu, terlalu malu karena telah mengecewakanmu dan eomma. Terlalu menyesal karena telah membuat seseorang yang selalu kuanggap sebagai sosok yang kuidolakan harus menanggung malu karena kecerobohanku. Aku merasa sangat malu karena tidak bisa sedikitpun mewujudkan mimpi serta harapan yang dahulu appa dipercayakan di kedua bahuku. Appa, bisakah kita memulai segalanya dari awal? Bisakah kita hidup dengan tenang seperti layaknya sebuah keluarga? “ sebutir air mata menetes dipipi Eunji mengiringi permintaannya. Yongjin segera membalikkan tubuhnya dan tetap terdiam.

“Bisakah aku kembali mendapatkan pelukan hangat dari appa? Bergelanyut manja dan tertawa riang bersama appa seperti dahulu? Seperti disaat appa selalu berlari dari pintu dan segera mengendongku, mengacak gemas rambutku dan selalu membisikkan kata-kata harapan dan pujian padaku? Bisakah aku mendapatkannya kembali?” derai air mata jatuh tanpa henti dari kedua pelupuk mata Eunji. Seperti sebuah bendungan yang bocor karena tak kuasa lagi menahan beban yang selama ini dipendamnya. Sebuah perasaan rindu yang selalu disimpannya dan diabaikannya. Lee Yongjin tetap berdiri dan terdiam,tak sedikitpun sosok laki-laki tua tersebut menoleh dan membalas ucapan putrinya. Dalam benaknya kini berkecamuk berbagai hal.

Appa, kembalilah. Kembalilah seperti sosok yang selalu tampak hebat dimataku, dimata Heyna dan dimata setiap orang yang mengenal dekat dengan appa. Na-ya, biarkan dia merasakan apa yang selama ini diharapkannya dapat terwujud. Merasakan kebahagian sebuah keluarga utuh yang selama ini tidak pernah dimilikinya. Merasakan kasih sayang darimu sebagai pengganti seorang appa yang selama ini tidak pernah didapatkanya. Merasakan sebuah suasana makan malam bersama yang selama ini selalu diharapkannya dapat terwujud. Sebuah mimpi sederhana yang selama ini selalu ingin ia gapai.” keheningan kembali menyelimuti kedua makhluk dalam ruangan tersebut. Beberapa saat kemudian Lee Yongjin mulai melangkahkan kakinya dan melewati sosok putrinya tanpa sedikitpun memandangnya.

Appa, jebal. .” lirih Eunji yang seraya menatap punggung ayahnya yang perlahan meninggalkanya dalam kepedihan. Tanpa berkata sepatahpun Yongjin tetap berjalan menuju pintu dan meninggalkan sosok putrinya yang kini tengah menahan isak tangisnya.

 

“Jinwoon-ah, suruhlah ibu Han membuat coklat hangat untuk Eunji.” ucap Yongjin pelan tanpa menatap sedikitpun sosok disampingnya. “Aku akan menunggumu dimobil!”lanjut Yongjin seraya kembali melangkah. Jinwoon masih berdiri ditempatnya menatap punggung majikannya yang perlahan menjauh dari pandangannya. Raut terkejut terpatri jelas diwajahnya. Secangkir coklat hangat seolah mengingatkannya pada sosok laki-laki berwibawa yang selalu duduk disamping seorang gadis kecil yang tengah meminum secangkir coklat hangat disaat ia tengah menangis. Secangkir coklat hangat yang akan segera laki-laki itu berikan agar sebuah senyuman kembali menghiasi wajah manis anaknya. Perlahan sebuah senyuman menghiasi wajah laki-laki yang selama ini selalu ikut merasakan kepedihan serta kekacauan yang terjadi dalam keluarga dimana ia mengabdi. Tanpa menunggu lama, Jinwoon segera beranjak dari tempatnya dengan sebuah senyum bahagia.

 

“Sajjangnim, bukankah itu Heyna ahgasshi?” ucap jinwoon pada sosok yang tengah duduk dikursi belakang. Kedua bola mata Yongjin segera mengikuti jari telunjuk sekertarisnya. Yongjin menatap sosok cucu tunggalnya yang kini tengah berdiri dibawah pohon seraya membersihkan sesuatu dari lengannya yang terlihat seperti tetesan telur. Beberapa detik kemudian kedua mata Yongin segera membulat saat dilihatnya sebuah telur kembali menghantam cucunya tepat diwajahnya.

“Sajjangnim, apakah sebaiknya saya turun dan menolong Heyna ahgasshi?” ucap Jinwoon sembari membelokkan kemudi mobil yang tengah dikendarainya menuju sosok gadis yang kini tengah mengusap sebelah matanya yang terkena lemparan telur.

“Berhenti, tetap ditempatmu!” ucap Yongjin yang segera membuat Jinwoon menghentikan usahanya mendekati sosok cucu tunggal majikannya.

“Tapi, sajjangnim Heyna-ahgashi..”Jinwoon segera menghentikan ucapannya saat sebuah tangan sosok dibelakangnya terangkat sebagai tanda agar ia tidak melanjutkan ucapannya.

“NA-YA!” Yongjin segera mengedarkan pandangannya mencari suara yang baru saja menyerukan nama cucunya. Tampak sosok namja dengan balutan jas berlari dari dalam mobil yang berhenti tepat didepan mobilnya. Kembali kedua mata Yongjin membulat saat melihat sosok laki-laki yang dahulu pernah mendominasi fikiran putrinya tampak menghampiri Heyna dengan wajah cemas.

“Na-ya, apa yang terjadi? Kenapa tubuhmu penuh dengan telur? Apakah seseorang telah berbuat buruk padamu?” tanya Kim Junsu pada yeoja dihadapannya yang kini segera menggelengkan kepalanya dan tersenyum lembut. Raut dingin yang sebelumnya menghiasi wajah Yongjin perlahan memudar.  Sorot mata penasaran terpancar jelas dikedua bola matanya.

“A..ani, baru saja aku terjatuh karena tersandung dan menyebabkan telur-telur yang baru saja kubeli terlempar keatas dan jatuh kembali tepat mengenai tubuhku hehehehe. .” jawab Heyna.

“Benarkah? Apakah kau tidak terluka?” tanya Junsu kembali seraya meneliti sosok dihadapannya.

“Ani, aku sama sekali tidak terluka. Sonsaengnim tidak perlu khawatir.” balas Heyna seraya melambaikan kedua telapak tangannya.

“Sonsaengnim? Begitukah hubungan mereka selama ini? Apakah laki-laki itu sama sekali tidak bisa mengenali sosok putri kandungnya sendiri?” ucap yongjin dalam hati. Entah perasaan apa yang tengah dirasakan cucunya yang tengah berjuang melawan perasaanya saat ini.

Appa, nugu?” ucap seorang yeoja seraya berjalan menghampiri sosok Junsu dan Heyna.

“Yuri-ya, kemarilah! Appa akan memperkenalkanmu dengan murid kesayangan appa!” jawab Junsu seraya melambaikan tangannya pada yeoja yang kini tampak penasaran.

Annyeonghaseyo, Lee Heyna imnida!” ucap Heyna dengan senyum mengembang diwajahnya.

“Ahhhh, bukankah kau yeoja yang digosipkan dengan Kyuhyun-oppa? Ne, kurasa itu benar-benar kau? Eonni-ya, apakah kau benar-benar menjalin hubungan dengannya?” ucap Yuri dengan wajah antusias. Heyna hanya tersenyum lembut menjawab pertanyaan yeoja dihadapannya.

“Yuri-ya, kau tidak boleh bertanya hal pribadi pada seseorang yang baru saja kau temui. Terlebih jika hal tersebut bisa menyinggung perasaan orang tersebut.” tegur Junsu pada putrinya.

“Ahh mianhae, aku lupa.” ucap Yuri seraya tersenyum renyah yang segera membuat Junsu mengacak gemas kepala putrinya.

Yongjin terperanjat ditempat duduknya saat melihat cucunya yang tengah berusaha sekuat tenaga tetap tersenyum saat melihat pemandangan dihadapannya. Senyum serta ketegaran Heyna bagaikan sebuah tamparan keras baginya. Seperti guyuran air dingin yang disiramkan pada kepalanya untuk membuatnya segera tersadar dan membuka kedua matanya. Segala ingatan tentang masa lalu segera silih berganti hinggap dikepalanya. Sosok Eunji kecil yang selalu tertawa ceria saat menyongsongnya. Sosok Heyna dan Heejin yang selalu berlari riang mengejarnya agar bisa bergelanyut dipunggungnya. Sosok Heyna yang tengah menangis dihadapnnya karena sifat diktatornya. Sosok Eunji yang tengah berlutut dan memohon padanya. Segalanya seoalah menghujamnya dan memaksanya untuk kembali memikirkan segala akibat dari hal dilakukannya. “Begitu menderitakah kalian selama ini? Apakah semua hal serta pemikiranku selama ini bukan memberikan kalian kebahagian namun sebaliknya? Apakah sebegitu egoisnya aku selama ini hingga sama sekali tidak bisa melihat kepedihan kalian?” lirih Yongjin dalam hati. Ditatapnya sosok Heyna yang kini tengah melambaikan tangannya dengan riang pada dua sosok yang berada dalam sebuah mobil dihadapannya. Hela nafas  segera terhembus dari mulut Heyna saat mobil dihadapannya telah melaju dan meninggalkannya seorang diri.

“Lee Heyna, Fighting!” ucap Heyna seraya kembali tersenyum dan melangkah menyusuri trotoar. Sorot pedih terpancar jelas dikedua bola mata Yongjin saat menyaksikan ketegaran cucunya.

“Jinwoon-ah, apakah selama ini segala yang kulakukan salah? “ ucap Yongjin pelan yang segera membuat sosok didepannya memalingkan wajahnya dan tersenyum lembut padanya.

Sajjangnim, saya tahu pasti jika segala hal yang anda lakukan semata demi kebahagian orang-orang yang anda sayangi. Tapi, saya rasa cara yang anda gunakan salah. Sebuah kebahagian tidak bisa diukur dengan prestasi, status, harta maupun kekuasaan. Dan semua hal tersebut terbukti disaat saya menyaksikan segala usaha dan perjuangan dari Eunji dan Heyna ahgassi. Berdua, mereka saling mempercayai dan mendukung. Melalui belaian, senyuman hangat, kepercayaan dan dukungan yang masing-masing mereka berikan merupakan cara mereka menunjukan kasih sayang mereka. Dengan hal sederhana seperti itulah yang justru dapat membuat mereka berdua tersenyum bahagia. Tetap tersenyum bahkan ditengah tekanan dan kepedihan mereka. Seperti sebuah ketegaran yang telah ditunjukan Heyna ahgasshi beberapa saat lalu. Sebuah hal yang bahkan saya sendiri tidak yakin mampu melakukannya.” ucap Jinwoon seraya mendudukan kepalanya. Yongjin terdiam sesaat meresapi ucapan sosok orang kepercayaanya. Baginya, segala hal yang selama ini lakukan adalah hal yang diyakininya mampu membuat orang-orang yang disayanginya bahagia. Tapi, sebuah pemandangan yang baru saja disaksikannya serta ucapan dari Jinwoon seolah membuka kedua matanya. Meneriakkan peringatan padanya, dan menampar keras wajahnya. Ia sadar jika selama ini segala hal yang dilakukannya salah. Segalanya sama sekali tidak pernah membuat orang-orang yang disayanginya bahagia, segalanya hanya membuat mereka tertekan dan menderita. Namun, tidak pernah sekalipun orang-orang yang menjadi korban keegoisannya tersebut membenci dan meninggalkanya. Mereka selalu berusaha mengalah bahkan menunggunya dengan sabar, menunggu agar suatu saat hatinya bisa terbuka dan melihat segalnya dengan sudut pandang yang berbeda. Bukan dengan keegoisan melainkan dengan sebuah kepercayaan dan kasih sayang.

“Jinwoon-ah, berikan ponselku!” ucap Yongjin setelah terdiam cukup lama. Segera pemilik Yongjin Medical tersebut meggerakan jemarinya diatas layar ponselnya mencari sebuah nama yang selama ini selalu ia rindukan kehadirannya.

“Eunji-ah, ini appa. Apakah akhir pekan ini kau memiliki waktu luang ?” ucap yongjin dengan nada suara yang terdengar jauh berbeda dari nada suaranya yang selalu terdengar dingin selama ini.

“Apakah kau dan Na-ya mau menemani appa mengunjunggi makam eomma-mu setelah appa kembali dari Makpo? Setelah itu, kurasa kita juga bisa menikmati makan malam bersama di restaurant favoritmu dipinggir pantai.” seulas senyum hangat perlahan menghiasi wajah tua Yongjin sesaat setelah mengucapkan rangkaian kata yang ingin disampaikannya pada putrinya.

“Dan kurasa, kau bisa mengajak anak itu. Dengan begitu kurasa suasana akan terasa lebih ramai dan tentunya akan membuat Heyna bahagia.” Jinwoon segera kembali menjalankan mobil dan tersenyum lega saat mendengar perbincangan majikannya saat ini. Pada akhirnya, harapannya dapat melihat keluarga yang telah meraih tangannya dapat berkumpul kembali telah terwujud.

“Jinwoon-ah, kurasa setelah ini aku akan menikamti masa tuaku dengan tenang dan bahagia.”

Ne, saya yakin akan hal itu sajjangnim!”

 

May, 20th 2013 at Sment Building. . .

“ Kyuhyun-ah, aku tidak bisa melihatmu terus seperti ini. Karena itu, fikirkanlah kembali! Segalanya kulakukan demi kebaikanmu, dan kurasa Nona Lee akan mengerti. Seandainya-pun kalian tetap menjalani hubungan kalian kurasa hal tersebut tidak akan mudah. Ingatlah, kalian berdua berasal dari dua dunia yang berbeda. Percayalah, suatu saat nanti kau akan mengerti dengan apa yang kumaksud. “ ucap Lee Sooman seraya menepuk bahu namja dihadapannya. Kyuhyun terdiam seraya menundukkan wajahnya. “ Sekarang kembalilah dan persiapkan dirimu. Konferensi pers akan diadakan pukul 10 pagi besok. Dan aku sudah menyuruh orang untuk menyampaikan hal tersebut pada Nona Lee, dan kurasa ia sudah menentukan pilihannya.” lanjut Yongjin. Tanpa sepatah katapun Kyuhyun segera membungkukkan tubuhnya dan melangkah keluar.

 

“Apakah untuk dapat berdiri bersama maka dua orang harus berasal dari dunia yang sama? Sonsaengnim, kurasa pendapatmu kali inipun salah. Akan kubuktikan padamu jika sebuah keyakinan dapat merobohkan dinding keras yang membatasi dua dunia yang  berbeda tersebut!” ucap Kyuhyun dalam hati. Kedua sudut bibir Kyuhyun segera membentuk sebuah senyuman. Dengan langkah mantap, namja tersebut kembali manapakkan kakinya.

“Lihatlah, aku pasti akan membuktikannya!”

 

May, 21th 2013 at Shin’s Hotel. . .

“ Ingat, kalian cukup mengatakan jika apa yang terjadi saat itu hanya sebuah kesalahpahaman. Hal tersebut sebenarnya adalah adegan video klip untuk album terbaru kalian mendatang dan semata untuk mendongkrak popularitas kalian! Jangan katakan hal apapun jika kalian tidak tahu harus menjawab apa, aku akan segera menjawabnya untuk kalian!” ucap Lee Sooman pada dua sosok yang kini tengah berdiri dihadapannya dalam balutan busana formal. “ Sekarang, bersiaplah sbentar lagi konferensi pers akan segera dimulai!” lanjut Yongjin seraya melangkah lebih dulu meninggalkan dua makhluk yang kini tengah tersenyum satu sama lain.

“ Kesalahpahaman? Menaikan popularitas? Kurasa hyung-deul akan  tertawa terbahak-bahak saat jika mendengarnya.” ucap Kyuhyun pelan seraya menyunggingkan senyum evilnya. “ Kurasa, mereka  semua perlu mengetahui setan seperti apa yang mereka ajak bermain saat ini.” lanjut Kyuhyun yang membuat senyum evil menghiasi sosok disampingnya. Berdua, Heyna dan Kyuhyun segera melangkahkan kakinya menuju sebuah pintu kayu besar dihadapan mereka.

PDVD_240

“Kau siap?” ucap Kyuhyun seraya menatap yeoja disampingnya. Dengan mantap Heyna segera menganggukan kepalanya.

Ne, aku siap sejak dari awal aku memutuskan untuk memilihmu.” balas Heyna.

“Mungkin segalanya akan terasa berkali lipat lebih berat saat ini, beratus-ratus lebih menekan kita. Dan beribu-ribu membuat kita berdua merasa sakit. Tapi, bukankah memang seperti itu aturan permainan takdir? Memberi kesempatan pada kita untuk bertemu,menguji keyakinan kita dan tak jarang membuat kita jatuh pada lubang yang gelap. Dan segalanya akan terus berulang selama kita tidak mampu menyelesaikannya. Karena itu, mari kita selesaikan permainan tersebut dan keluar sebagai pemenang!” serentak sebuah senyuman segera menghiasi kedua wajah makhluk tersebut. Seolah mampu merasakan hati dan mendengar pikiran mereka masing-masing,  jemari kedua sosok tersebut segera bertemu dan saling mengenggam erat.

PDVD_245

Jangan takut, aku tidak akan pernah lagi membiarkan tanganmu terlepas dari genggamanku” lanjut Kyuhyun.

“Keurae, begitupula denganku. Aku tidak akan pernah membiarkanmu terlepas dari gengamanku.” balas Heyna.

“Berdua, kita akan melawan segalanya dan meraih mimpi kita.”

“Menapaki bukit terjal dan merobohkan dinding terkeras sekalipun.”

“Selalu bersama, saling melindungi dan mempercayai.”

“Sampai saatnya sang takdir memisahkan kita dalam damai.”

Ne, I Promise!” ucap Kyuhyun seraya mempererat genggamanya pada jemari Heyna.

I Promise!” ucap Heyna. Bersama, kembali sebuah senyum menghiasi kedua sosok tersebut mengiringi terbukanya pintu besar dihadapan mereka

PDVD_242

Kilatan lampu blitz dari kamera segera menghujani kedua sosok tersebut. Dengan langkah pasti, Kyuhyun dan Heyna memasuki pintu dihadapan mereka. Sebuah pintu yang akan menguji keyakinan, kepercayaan, ketegaran dan keberanian mereka. Sebuah pintu yang harus mereka takhlukan untuk mengapai mimpi dan harapan mereka.

 

PDVD_249

Persamaan, bukanlah kunci dari segalanya. Dan perbedaan, bukanlah penghancur dari segalanya. Cinta tidak terbangun dari sebuah persamaan, tapi dari dari dua hal berbeda yang saling mengisi kekurangan satu sama lain. Bukan sebuah kepasrahan akan sesuatu dan pengorbanan yang mampu membawa kita terbang dan mengapai bintang dilangit. Tapi, kepercayaan, keyakinan, ketegaran dan keberanianlah yang akan membawa kita meraih segalanya. Menghancurkan pintu baja sekeras apapun, dan dinding batu tertinggi sekalipun. Menghantarkan kita pada sesuatu yang menunggu kita diujung usaha kita. Pada sesuatu yang selama ini menguji kesungguhan dan kelayakan kita. Sesuatu yang akan bertepuk tangan atas keberhasilan kita dan menyatakan pada kita bahwa kita pantas untuk berdiri ditempat tersebut.

Takdir, akan selalu mempertemukan dua hati yang kuat dan melindunginya sampai suatu saat ia memisahkannya dalam damai.

tumblr_lorh70uwzp1qms5lpo1_500

 

 

END.

 

Arrrrrgggggggghhhhhhhhhh#teriak sekenceng-kencengnya ama abang epil.

Finnaly, selesai sudah FF series pertama yang author buat^^. Jeongmal, jeongmal,jeongmal gomawo untuk seluruh reader yang selama ini selalu setia membaca dan mendukung FF ini. Meskipun terkesan lebay bin alay,tapi dari dalam lubuk hati author yang paling dalam amat sangat berterima kasih atas segala hal yang pernah reader berikan selama ini. Tanpa dukungan dan semangat dari reader-deul author gak akan mampu menyelesaikan cerita ini.

Semoga, melalui tulisan author yang bisa dianggap aneh bin ancur ini dapat menghibur serta memberikan pesan yang baik bagi reader sekalian.

Fiuh#lap keringet pakai tangan abang ikan#plak.

Oke, seperti janji author setelah ini kalian tidak akan kehilangan kisah aneh dan ancur dari duo epil tersebut. Akan banyak kisah lainnya tentang mereka yang terangkum dalam format baru. Nah, kira-kira kehidupan seperti apakah yang akan duo epil tersebut lakoni dalam KYUHEYNA AFTER STORY?

“Nantikan pula yach HAERA (Donghae-Sora) Couple dalam “TELL ME YOUR WISH” only on Kyuheyna_World.

Kamsahamnida#Deep Bow

By. Sazshika_Devya

 

 

 

 

 

Advertisements

179 thoughts on “{My Perfect Girlfriend Or My Perfect Rival?!} The Last Part # PROMISE YOU

  1. Hwe e e e. . .
    Bingung mau bilang apa tho o or! ! !
    Aduh jand! !
    Ini ff d buat Drama aja a a a a! ! !
    Pasti lebih keren! !
    Ff’a aja udah bgus. . Kya gni!
    Pkoknya K E R E N
    d tunggu After Story a. . .
    Jangan lama lama

    • gomawo…yuk dibuat drama siapa yang mau daftar jadi pemeran Heyna wkwkwwkwkwkwkwkwk
      yang jelas author jadi sutradaranya hahahaahah#plak

  2. Huaa..udh tamat ya,, daebak, bner2 daebak,, tp msh bkin pnasaran sm yg akn duo evil lakukan d acr perscont’ny, jgn2 stlh acara itu Lee Sooman jantungan lagi kekeke^^
    Ada after story’ny ya?? Smg lbih daebak and gokil, dan yg pzt m0ga cpt publis,, dan Hae story’ny jg m0ga cpt publis, pnasaran jg sm kisah cinta si abang ikan ini,,
    wookie deh, poko’ny d tnggu next storynya^^ fighting!!

  3. Arggghhhhhhhhhh *lap air mata* …. eonniii kauuu kejaaaaaaaaaammmm karna malam” begini membuatku menangis tertahannn 😥 #huuaaaaaaaaaaaaa *bari usek usek lantaiii …
    sumpaaaahhhhh feelnya nyampe banget ,, emosinyaaaa ,, rasa kepercayaan persahabatann itu ,, kesellnyaaaa ,, deg-degannyaaa .. merindingnya saat baca bait tiap bait tulisannnya ,, cara penyampaiannya sampe banget ga berbelit” jugaa arrggghhhh eonniii *DAEBAAKK
    aku benar” mencintaimu eonnii #cipok basah
    dan akhirnya *sambil sujud syukur .. haraboeji akhirnya luluh juga dengan melihat semua ketegaran dan kekuatan heynaa ,, dann envy banget dengan kehidupan heyna yang memliki sahabat , namja chingu , eomma dan orang” yang disekelilingnya yang setia memberikan semangat dan dukungan untuknya .. *HEYNA ABANG EMBEN FIGHTINGG*
    eonniii .. pokoknya ” I WANT MOREEEEEEE …………
    butuh dan sangat butuh kelanjutannyaaa ,, *eonnii harus tanggung jaawab pokoknyaaaaaaaaaaaa …..
    *jeongmal saraghae eonni :* *wink*

    • jeongmal gomawo saeng^^
      ditunggu yach kelanjutannya segera menyusul kok, akan ada after story dengan format scene…so stok cerita duo epil masih banyak kok^^

  4. Huaaaaaaaa…. T^T
    akhirnya tuh kakek sadar juga.. *eh
    keren thoooor.. keren puuuooolll..
    tapi endnya nggantung thor… -_-
    tapi gapapa lah..
    kan ada next storynya.. ^_^
    ditunggu ditunggu ditungguuuu…
    hehe..

  5. Ya ampuuunnn Pad endingx pun NgeganTung huuufftt… Nunggu lgi deh…

    Untk minho… Sp blng dia yg prtma ktmu hyena ..hahhahaah ksihan

  6. Eonni, u emg bener2 daebakkkkkk
    Ak g bsa blang ap2 lgi, in bner2 kren bgt
    Ak pnasaran pas konferensi pers mreka pada ngmong ap
    Ga sbar bt bca after story ny ni . . . .

  7. yah..yah.. thor!! 😦 Tega banget! masak gantung gitu! Padahal aq msih pngin ngrti gimana selajutnya… apalagi yg pas kakeknya ngajak makan bareng, aku pngn tau! uuhh~ Happy ending sih, tapi aku kurang puas sama endingnya.. -_-

    kalo ada, after story nya yahh~ XD

  8. author ini daebak banget !!! aku suka bgt sm ff ini, kenapa gak dijadiin buku aja thor? pasti laku keras deh bukunya. gak sabar nih nunggu ff selanjutnya dari author… author DAEBAK!!! 🙂

  9. Aish, eonni-ya knapa endingny di saat” gak tepat? padahal penasaran bnget sma konferensi pers’ny -___-
    kira” si duo epil itu bkalan bilang apa ya? :/

    gomawo eon, dari ff ini aku bnyak blajar ttg arti dri sebuah persahabatan, pengorbanan, keyakinan dan penantian n jga msih bnyak lgi sih^^. hah, pkoknya Daebakk bnget deh eon^^ gak brasa kalo ff ini udah ending 😦
    tapi gpp lah msih ada after story’ny 😀
    Sangat penasaran dan ditnggu pake bnget eon after storynya^^

    dan untuk Heyna harabeoji….
    Akhirnyaaaaa dapat hidayah juga kekekek 😀
    *potong tumpeng sma abang kyupil*

  10. Author neo jeongmal daebak 😀 aku suka banget kata2nya dan tentunya ceritanya juga hehe pasti kalo di jadiin drama polingnya tinggi hehe terus semangat yaaaa bikin ff yang lainnyaaa thorr oke oke aku tunggu karya lainnya FIGHTING^^

  11. WHOAAAAAH, sudah last part. Aq suka ending.a author. Waiting for next sequel n other FF.

    Oh, ea author, aq yum punya fb n twitter author. Boleh g kalau aq theu n add fb & twitter.a. Hee 🙂

    Last, always DAEBAK for author 🙂

    • Gomawo….^^
      Twitter-nya bisa langsung di follow dari blog ini…kalo ol pake pc…kalo gak bisa add @deVyaAaa011288
      ato fb bisa langsung di search Kyuheyna Sazshika Devya

  12. ga sengaja nemuin ff ni.
    5 hari aq baca dri part 1 smpe akhir.
    mian thor, krna pnsaran jlan crita slanjut.a, aq jdi ga smpet komen d part” sbelum.a

    huwaa.. daebak dah .
    ff ni kena bget, isa munculin bnyak xpresi saat ngbaca.a
    smpe b’urai air mata

    sequel sequel ^^

  13. ceritanya mengharu biru
    TOP banget pokoknya menguras air matA
    feelnya dapet banget
    teruslah berkarya ditunggu hasil karya selanjutnya
    fightiiing
    🙂

  14. Hueeeee….>,<
    Kurang puas sama ending'a thorrr,Blom jelas kyuhyun sm heyna akhirnya Gmna stelah konferensi pers,Truz kim junsu jg Blom tw klo sbener'a heyna tuh anak dia..
    And klo bisa buat minho sm jihyo Jd pacaran ajj kaya'a seru tuh,tp btw overall Udh bagus pokok'a daebak jjang buat author *tebarbunga
    Pokok'a harus ada after story'a ya thorrr
    Udh lah kaya'a pendapat n saran aq segitu aja..
    Keep writing thorrr hwaiting ^^,
    #tebarkolorsiwon byeeeeeeeee…

    • eeheheheh gomawo for comment,..after story dah terbit kok…langsung aja baca KyuHeyna_scene #! It’s Me^^
      setelahnya masih berlanjut dalam format scene dengankonflik yg ringan n menghibur ^^

  15. Neomu Neomu Daebakk thor FFnya huhuhu *teriak GJ bareng Minho aja deh xD
    Kirain aku pas sebelum ff ini end mau nyeritain Minho sama Jihyo jadian .. Pasti Bahagia Semua tuh .. Minho membuka hati untuk orang lain walopun cintanya tidak terbalas oleh Heyna tapi disisi lain ada Jihyo yg mencintainya ..
    and Jihyo mendapatkan balasan cinta yg slama ini dipendamnya ..
    Keren kan ?? (?)
    abis pres conpres (?) gmna tuh ceritanya ?
    yah author mah ga di ceritain T.T
    Saking histeris + kaget atas jawaban dua magnae evil itu apakah Lee Soo Man sampe ga kuat membelakakan matanya yg akhirnya matanya ikut keluar ?? #Plakk xD
    *terus gmna cerita bang fishy ama tunangannya itu ?? jadi selama ini yg tau hubungan mereka cuman bang kyu and heyna aja ? ga rame ah thor >_< (pundung)
    Tapi sumpah deh ini ff bener bener D.A.E.B.A.K !! Jjang !! Sugoi !! Keren !!
    Aku suka banget permainan Katanya itu loh ,,
    Ga Lebe ko ^^ malah asik buat di baca ^^
    Feelnya dapet banget !!
    Apakah ff ini benar2 end ? atau ada sequelnya ?
    tapi sequel lanjutin cerita ini bukan ff baru yg cuman sama main castnya aja ??

    Mianhae coment cuman secuil gini thor .. abis napsu ^^ *plakk

    Sekalian juga coba bikin ff mini di comentar post ff orang .. *plakk
    tapi saya juga masih wajar coment segini dari pada ntar saya dirajam karena comentnya lebih panjang dari ffnya ^^ *pllaakk again -_-
    Saya juga menghargai author bikin ff ini yg 1 partnya aja panjang banget .. tapi aku puas banget juga bacanya ..
    jadi saya juga mencoba menghargai author dengan berkomentar ya author ?? (^_^)

    – Akhir kata saya ucapkan maaf bila ada salah salah kata atas coment saya , sekali lagi saya ucapkan ff ini bener bener D.A.E.B.A.K + Kalo bisa and wajib bisa(maksa) ada Sequelnya lagi + Aku tunggu karya karya author selanjutnya ^^

    Author Fight !! 🙂

    • huaaaa…ini comment terpanjang yang pernah author dapat^^
      jeongmal gomawo reader daebak^^
      cerita ttg setelah pres confres udah author keluarin di Kyuheyna_scena#1 its me(udah baca belum) baru aja tgl kelima author keluarin..itu after story dari ff ini…jadi jgn khawatir masih banyak kok cerita ttg abang evil dengan alur yang masih berhubungan dengan ff sebelumnya^^ untuk cerita minho n Jihyo bisa ditunggu juga di KyuHeyna_scene berikutnya^^

  16. JJANG..DAEBAAAAKKKKK..#TEBAR KEMBANG 7 RUPA
    finally..akhir’a kelar jg dan ini part k-2 yg bkin aq keluar air mata..ckckkckckck
    ditnggu sequel’a chingu-ya coz ending’a rada gantung menurutku..hehe #Plakk *reader gak tw diri*

    pkok’a ditnggu sequel merekaaaa..
    truz jg disequel’a dilampirin konferensi pers mreka yaa..#NGAREP

  17. huwee sequel dong thor… rada gantung dikit…….. ffnya keren.. feelnya dapet. banyak kutipan yg bisa diambil. mulai dari cinta,persahabatan,kekeluargaan. ah keren banget lah pokoknya

  18. waaa waa waa# tepukk tangan bwt authour…..
    gilee krenn bgtz nie ff thour,, nyesekk.. smua feelx dpat… sneng dgn alurx, konflikx ngena bgtz.. bngung mwu ngmo ap lgi,, pkokx daebakk~~~~~

  19. Fuihh…akhrnya bsa kebka jga 🙂
    Yeah,tpi aq ktnggln crta tpi msh bleh coment kan eon? 😀 ..

    Btuh wktu yg lma utk slsai bca nih fanfic crtanya pnjang bingit *kekek 🙂

    Pershbtn mrka bnr” menakjubkan,rela mengrbnkn prsaan dmi kbhgiaan shbtnya,.andaikan aq bsa pnya shbt sprt mrt pasti akn trsa indh

    Dan Perjuangan perjuangn cnta mrka bnr” keren… Aq bri 100 jmpol tuk eon..
    Wooaa Krya eon bnr” Baaaguuss Bangeeet 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s