(My Perfect Girlfriend Or My Perfect Rival?!) Part 15) # Choice. . .

Pic Part 15

Title                             : (My Perfect Girlfriend Or My Perfect Rival?)

                                            Part 15  #  Choice. . .

Author                       : Sazshi                       

Main Cast                 : Cho Kyuhyun

: Lee Heyna

Another Cast         : All member Suju Lainnya, Lee Eunji (oc), Park Jia (oc), Shin Heera (oc),  Go Minji (oc), Hwang Jihyo (oc), Cho Minhye (oc), Kim Nana, (oc), Jung Minho (oc), Han Sora(oc)

Genre                          : Romance, Comedy and Family

Rating                         : PG 15

Leght                           : Continue

“Apakah kau tahu bagiku kau seperti sebutir apel? Terkadang akan terasa manis namun tak urung  juga akan terasa asam. Tapi, meskipun mengetahuinya aku tak pernah berhenti untuk terus merasakannya berulang kali. Bagiku, mengenalmu seperti memakan sebutir apel. Walaupun aku tahu tidak selamanya apel yang kumakan tersebut akan terasa manis tapi aku ingin tetap memakannya dan mengulanginya berkali-kali. Aku tidak akan pernah lelah dan jera untuk kembali memakannya. Karena aku tahu, disetiap rasa asamnya tetap akan terselip sekilas rasa manis didalamnya.”  -Cho Kyuhyun.

 

“Hal terindah bagiku adalah disaat aku pernah mengenalmu, kau seperti sebuah bintang yang bersinar menerangi setiap malamku. Tapi aku sadar, aku tidak bisa berbuat egois dengan meraihnya dan membuat sinarnya redup karena terjatuh. Bagiku, aku ingin melihat bintang tersebut selalu bersinar. Karena itu kuharap kau dapat terus bersinar dan semakin bersinar karena aku akan selalu melihatmu dari jauh.”- Lee Heyna.

*Author Pov*

“Keluarlah, jangan berpura-pura tidak mengerti dengan maksudku! Aku sudah tahu kau mengikutiku sejak tadi pagi!” ucap Heyna sembari menatap tajam sosok yang berada didalam mobil tersebut.  Pintu mobil tersebut mendadak terbuka dan memperlihatkan sesosok laki-laki dalam balutan jas hitam yang kini berdiri berhadapan dengan Heyna.

“Annyeonghaseyo, Lee Heyna ahgasshi!”ucap namja separuh baya tersebut seraya membungkukkan badannya dengan sopan.

Nuguseyo?” tanya Heyna singkat dengan tatapan tajam. Namja tersebut tersenyum sembari menunjukan sebuah kamera SLR dengan santai.

Mianhamnida karena telah menganggu waktu pribadi anda! Jung Kwanghee imnida. Anda pasti bisa menebak apa profesi saya bukan?” jawab namja bernama Jung Kwanghee tersebut sembari kembali memamerkan kamera SLR-nya.

“Kau. . .”

Ne, saya seorang wartawan! Tapi, jangan berfikir saya adalah wartawan biasa yang bekerja disebuah perusahaan broadcasting. Saya wartawan yang biasa  berkerja dibawah perintah orang yang berani membayar saya dengan mahal!” kedua bola mata Heyna segera membelalak setelah mendengar penjelasan namja dihadapannya. Segala spekulasi segera muncul dikepalanya tentang kondisi yang tengah ia hadapi saat ini.

“Mungkinkah. . .”ucap Heyna terputus saat dilihatnya namja tersebut tersenyum penuh arti dihadapannya.

“Saya tidak akan heran jika cucu tunggal seorang professor ternama seperti anda dapat segera memahami dan menemukan jawaban atas pertanyaan anda sendiri. Benar bukan begitu, Lee Heyna ahgasshi?” kembali Heyna membelalak tajam pada sosok laki-laki dihadapannya tersebut

“Sejak kapan? Sejak kapan kau membuntutiku?” tanya Heyna.

“Sejak tanpa sengaja orang yang menyewa jasaku memergoki kalian disebuah lobi apartement elit yang banyak dihuni oleh kalangan idol.” jelas Jung Kwanghee.

“Silahkan masuk kedalam, ahgasshi! Saya rasa sekarang anda ingin segera bertemu dengan orang yang membayar saya.”  Masih dengan tatapan tajamnya Heyna segera melangkah kedalam mobil. Ia tahu pasti saat ini ia tidak memiliki pilihan apapun selain mengikuti saran namja tersebut, karena bagaimanapun juga perkataan namja tersebut benar.

“Aku harus mencari jawaban untuk semua ini.” ucap Heyna dalam hati.

“Jung Kwanghee-shi!” Namja bernama Kwanghee tersebut segera melirik sosok yeoja yang baru saja memanggilnya.

Ne, apa anda ingin mengatakan sesuatu ahgasshi?” jawab Jung Kwanghee. Seulas senyum tiba-tiba menghiasi wajah Heyna.

“Dari perkenalan singkat anda sebelumnya aku bisa menilai dengan mudah orang seperti apakah anda. Kuperingkatkan sekali padamu, jangan pernah mencari kesempatan untuk menambah pendapatanmu dengan menjual foto hasil bidikanmu selama ini. Aku tidak akan segan-segan membalas semua perbuatanmu, Jung Kwanghee-shi! “ desis Heyna sembari menatap tajam kedua bola mata yang tampak dari kaca spion yang kini terlihat terbelalak mendengar penuturan yeoja muda dikursi belakang.

“Kau bilang wartawan? Cih, jangan pernah menganggap remeh kata-kataku! Aku tidak akan segan-segan membalas siapapun yang berani melukai orang-orang yang kusayangi, bahkan jika orang tersebut adalah seorang dictetive swasta licik sepertimu!”

*Author Pov End*

 

16:46 KST  Oktober, 23 2012 at Lee Yongjin room. . .

*Heyna Pov*

“Na-ya, tidak biasanya kau berkunjung tanpa memberitahu dahulu pada kakek. Apakah ada sesuatu?” ucap kakekku yang tampak terkejut dengan kedatanganku. Kubungkukkan tubuhku dengan singkat dan segera melangkah mendekati sosok kakekku tersebut yang kini tampak tersenyum lembut padaku.

Haraboeji, mianhamnida karena aku tidak jujur padamu dan sengaja menyembunyikan hubunganku dari kakek.” ucapku mengawali perbincanganku sore ini. Tampak ekspresi kakekku yang segera berubah menjadi datar sesaat setelah mendengar ucapanku.

“Aku rasa kakek mengerti dengan apa yang kumaksudkan, untuk itu aku harap kakek menghentikan usaha kakek untuk membuntutiku!” lanjutku . Seulas senyum tampak kembali menghiasi wajah kakekku. Dengan perlahan beliau bangkit dari kursi kerjanya dan melangkah mendekatiku.

“Kau memang cucuku, Na-ya! Aku tidak akan heran jika kau bisa dengan jeli menemukan orang suruhanku.” ucap kakekku sembari menepuk singkat bahu kananku yang terasa seperti hantaman yang sangat berat bagiku saat ini. “ Keurae, kakek akan segera menyuruh detective itu berhenti membuntutimu. Tapi, dengan satu syarat!” dapat kurasakan jantungku berdebar amat kencang saat ini. Aku tahu, aku tahu pasti kemana arah pembicaraan kakekku setelah ini.

Haraboeji, aku mohon pada kakek jangan lakukan apapun padanya. Dan aku mohon berikan aku waktu untuk menyelesaikan masalahku sendiri.” ucapku pelan, saat ini bagiku yang terpenting adalah melindungi orang-orang yang kusayangi. Bagaimanapun juga aku tidak akan pernah bisa menang melawan keegoisan kakekku.

“Tentu saja, tentu saja kakek akan memberikanmu waktu Na-ya. Tapi sesuai yang kakek katakan sebelumnya padamu, kau akan mendapatkan kesempatan tersebut dengan syarat jika kau mau mengikuti perintah kakek!” kutundukkan kepalaku dan menatap nanar lantai dibawahku. Lee Heyna, bagaimana kau bisa sebodoh ini. Kau sudah tahu bagaimana nantinya akibat dari hubunganmu dengan namja itu. Tapi, kenapa kau masih membiarkan perasaanmu mengalahkan logikamu. Sekarang apa yang akan kau lakukan?Kau hanya akan melukai dirimu sendiri dan perasaanya. Dan semua itu karena keegoisanmu, keegoisanmu karena menginginkan kebahagian dengannya. Kutahan emosiku sekuat mungkin agar tidak meledak dan menyulut amarah kakekku saat ini. Kurasakan kedua tangan kakekku kembali memegang kedua bahuku.

“Na-ya, aku tahu saat ini kau pasti sangat membenci kakek. Tapi ketahuilah, segalanya kakek lakukan demi kebaikanmu. Kakek tidak ingin kau bernasib sama seperti eomma-mu. Kau adalah satu-satunya harapan kakek, Haraboeji mohon padamu jangan mengecewakan harapan kakek seperti eomma-mu 20 tahun lalu.”

Entahlah aku sama sekali tidak tahu harus berbuat dan berkata apapun saat ini. Yang terbersit dalam otakku saat ini hanyalah sosok namja yang hampir satu tahun ini menghiasi hari-hariku dengan caranya yang unik dan bagaimana cara agar aku bisa melindunginya. Apakah aku akan sanggup melupakannya? Dan apakah ia akan memaafkanku suatu saat nanti? Mianhae, jeongmal mianhae Kyuhyun-ah. Kurasakan sebutir air mata menetes dipipiku namun dengan cepat segera kuhapus dan kembali kuangkat kepalaku hingga kini berhadapan tepat dengan wajah haraboeji yang tengah berjongkok dihadapanku.

“Ne, aku akan menuruti perintah kakek!”

Oktober, 25 2012 at Heyna apartement PH floor. . .

Eomma, apakah saat ini sedang mati lampu?” seruku dari kamar saat gagal menghidupkan lampu kamarku. Tampak eomma bergegas mendatangiku sembari mengendong Kora dalam pelukannya.

“Tentu saja tidak, bukankah kau masih bisa mendengar suara siaran berita yang sedang eomma tonton saat ini?” jawab eomma dengan ekspresi kebingungan. “Na-ya, tidak biasanya kau berfikir lambat seperti ini. Apakah kau terlalu lelah dengan putaran ujianmu kemarin? Ataukah ada hal yang menganggumu saat ini?” kutepuk keningku begitu mendengar penjelasan eomma-ku barusan.

“Ah ne, kenapa aku bisa sebodoh ini?” gumamku singkat sembari menatap lugu eomma untuk menyembunyikan kegugupanku karena merasa takut jika eomma berhasil mengetahui masalahku saat ini.

“Kurasa lampu ini pasti rusak!” gumamku kembali untuk mengalihkan perhatian.

 

*Teeetttttttttttt. . . .tettttttttttttt. . . .

Tiba-tiba saja ekspresi eomma tampak kegirangan sesaat setelah mendengar bel pintu apartement kami berdering. Dengan langkah riang eomma segera menuju pintu apartement dan segera kuikuti karena penasaran.

Eomma, nuguseyo?Apakah eomma mengundang teman eomma?” tanyaku sembari mengekor beliau. Eomma hanya tersenyum sembari menyerahkan Kora kedalam pelukanku dan segera melanjutkan langkahnya menuju pintu. Entah mengapa tiba-tiba saja jantungku berdebar tak beraturan. Sebuah spekulasi tiba-tiba muncul dikepalaku. Tampak eomma tengah berbicara pada sosok diluar melalui intercom.

Nuguseyo?” seru eomma.

Ommonim, selamat malam!” bulu kudukku segera berdiri begitu mendengar suara balasan dari sosok yang kini tengah berada diluar pintu apartement kami. Apa yang dilakukan setan itu malam-malam didepan pintu apartemenku?

Aigoo, menantuku tersayang kebetulan sekali kau datang kemari.” seru eomma begitu membuka pintu apartement yang kini menampakkan sosok raja setan itu yang tengah tersenyum genit pada eomma-ku. Cih, benar-benar membuatku mual!

Ommonim, nuguseyo? Apakah itu perawat hewan peliharaan anda? Kulihat ia tidak menyukai kehadiranku saat ini?” kulayangkan death glare pada namja yang kini tampak tersenyum evil kearahku.

Mwo? Perawat hewan peliharaan? Jaga mulutmu, Tuan labil! Kau mau mati hah?” sahutku. Tampak baik setan itu maupun eomma tengah terkekeh melihatku yang berhasil masuk kedalam perangkap mereka. Cih, sebenarnya apa yang sudah diberikan setan itu sehingga bisa membuat eomma-ku sangat menyukainya bahkan menganggapnya seperti anaknya sendiri.

Omo, kau membuatku takut Nona muda!” sahut Kyuhyun. Cih, dasar namja genit. “Jangan besar kepala, Na-ya! Asal kau tahu, aku kemari untuk memenuhi undangan makan malam mertuaku tersayang.” lanjut Kyuhyun sembari menoleh kearah eomma-ku dan memberikan senyuman terbaiknya.

Eomma, kenapa kau mengundang setan ini makan malam? Kurasa eomma akan menyesal nantinya karena mengundangnya!” ujarku.

Wae?” ucap Kyuhyun dan eomma secara bersamaan.

“Tentu saja, karena dia setan! Jika seorang setan masuk kedalam rumah kita bukankah itu akan mendatangkan kesialan? Coba eomma fikir baik-baik bagaimana nantinya jika nanti anak eomma ini tidak akan mendapatkan calon suami yang baik dan tampan karena kesialan yang merundung kita?” jelasku dengan wajah lugu.

Aigoo, itu tidak mungkin bukankah sudah jelas eomma nantinya akan mendapatkan menantu yang baik dan tampan? Bukankah Kyuhyun ini anak yang tampan?” sahut eomma-ku yang diikuti dengan anggukan setuju dari namja setan disebelahnya.

“Justru karena itu, apakah hal tersebut tidak termasuk salah satu kesialan bagi kita? Apakah eomma tidak bisa membuka mata eomma? Perhatikan baik-baik, namja disamping eomma itu adalah seorang raja evil. Sama sekali tidak baik dan tampan! Aigoo, kenapa aku sungguh sial seperti ini?” keluhku sembari memutar tubuhku dan melangkah menuju kamar.

Aigoo, kurasa tidak ada salahnya jika aku dan Na-ya segera meresmikan hubungan kami di altar eommonim.” kuhentikan langkahku segera begitu mendengar kalimat yang baru saja dilontarkan oleh Kyuhyun.

“Yak, apa maksudmu hah?” seruku sembari melempar death glare padanya. Dengan senyum evilnya namja tersebut perlahan menghampiriku.

“Bukankah kau sendiri baru saja meresmikan hubungan kita? Apa kau sudah lupa dengan kata-katamu barusan? Justru karena itu, apakah hal tersebut tidak termasuk salah satu kesialan bagi kita? Apakah eomma tidak bisa membuka mata eomma? Perhatikan baik-baik, namja disamping eomma itu adalah seorang raja evil. Sama sekali tidak baik dan tampan! Aigooo kenapa aku sungguh sial seperti ini? Bukankah dari kalimatmu barusan bisa ditarik sebuah kesimpulan jika kau sudah menerimaku sebagai calon suami? Aigoo, kenapa uri Na-ya menjadi begitu bodoh seperti ini?” kulihat eomma tengah terkekeh sembari mengeleng-gelengkkan kepalanya.  Tak jauh beda dengan Kyuhyun yang kini tengah tertawa puas melihatku yang tengah terpojok.

“Apakah sekarang kau bermaksud untuk menyerangku dengan buas seperti kemarin?” tanya Kyuhyun disela tawa renyahnya. Kuambil nafasku dalam-dalam untuk menenangkan emosiku yang sudah hampir meledak saat ini.“Wae? Apakah kau takut eomma-mu akan memarahimu? Assa, akhirnya aku bisa membuatmu bertekuk lutut Lee Heyna!” lanjut Kyuhyun sembari mengacak singkat kepalaku dan kembali melangkah menuju eomma yang masih terkekeh riang menyaksikan aksi adu mulut diantara kami berdua. Kau salah Cho Kyuhyun, kujamin kau tidak akan keluar dari pintu apartementku dengan rambut yang utuh seperti semula.

“YAK,  MATI KAU CHO KYUHYUN!” teriakku dan dengan segera berlari kearahnya dan menjambak rambutnya.

“YAK, LEE HEYNA KAU MAU MATI HAH?” teriak Kyuhyun sembari berkutat dengan kedua tanganku yang kini mengenggam erat ujung-ujung rambutnya dengan ganas.

“SHIREO, KAU YANG MEMULAI MAKA KAU HARUS MENERIMA AKIBATNYA!” balasku tak mau kalah dan dengan ganas kini mulai mengigit tangan namja setan tersebut.

Aigoo, Na-ya! Hentikan jagi, bagaimana ini apa yang harus eomma lakukan?” seru eomma-ku yang kini terlihat amat terkejut dengan tindakanku. Bagi eomma ini adalah kali pertama beliau melihat tindakan anarkisku seperti sekarang.

“EOMMONIM, SELAMATKAN AKU! AAAAARRRRRRRRRRGGGGHHHHHHHH!” kupererat jambakanku hingga membuatnya berteriak kesakitan.

*Byuuuuuuuuuuurrrrrrrrr. . .

“EOMMA!” teriakku sembari memisahkan diri dari namja yang kini tampak terbatuk-batuk karena baru saya terkena guyuran air dingin.

“Astaga, baru kali ini eomma melihat pasangan seperti kalian. Kalian benar-benar mirip sekali dengan Tom and Jerry!” ucap eomma-ku sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. “Sudah, hentikan tingkah kekanakan kalian berdua dan segera keringkan tubuh kalian. Bukankah hari ini kita akan makan malam bersama? Kurasa bibi Jang sudah selesai menyiapkan hidangan.” lanjut eomma sembari mengeringkan rambut Kyuhyun dengan handuk yang sengaja langsung dibawanya.

Eomma, kenapa eomma membantunya mengeringkan tubuh? Anak eomma itu aku!” ucapku dengan wajah memelas.

“Na-ya, bukankah tamu itu adalah raja? Kau segeralah masuk kekamarmu dan ganti pakaianmu jagi! Ayo menantuku, eomma akan meminjamkanmu pakaian ganti. Eomma rasa masih menyimpan beberapa contoh desain dari butik.” lanjut eomma sembari meninggalkanku dengan mulut mengangga lebar karena terlalu shock. Cho Kyuhyun, neon jeongmal nappeun namja!

1 Hour later. . .

“Yak, apa yang kau lakukan! Letakkan kotak itu sekarang juga!”seruku saat mendapati Kyuhyun yang tengah mengangkat kotak berisi benda berharga milikku. Tampak Kyuhyun yang tengah meletakkan kembali kotak yang beberapa jam lalu sempat kukeluarkan dari lemari saat  ingin melihat beberapa kenangan manis yang disimpan oleh beberapa benda didalamnya.

“Ini lampunya!” lanjutku seraya mengulurkan sebuah bohlam lampu pada Kyuhyun yang kini atas permintaan eomma bersedia membantuku untuk menganti lampu kamarku yang tengah mati. Dengan cekatan Kyuhyun mulai menganti lampu tersebut.

Assa, bagaimana kau pasti berfikir bahwa namja chingu-mu ini sangat hebat bukan?” ucapnya sembari tersenyum evil diatas kursi belajarku.

“Cih, hanya karena kau bisa menganti lampu yang mati tidak akan membuat orang berfikir jika kau itu orang yang hebat Tuan labil! Justru aku akan heran jika seorang namja tidak bisa melakukan hal sederhana seperti itu!”balasku sembari meraih kotak rahasiaku dan dengan segera memasukkannya kedalam lemari.

“Aku jadi merasa penasaran dengan isi kotak itu, boleh kutahu apa isinya?” tanya Kyuhyun yang kini tengah turun dari kursi dan segera menekan tombol steker untuk melihat apakah hasil kerjanya baru saja telah berhasil.

“Kau mau tahu?” ucapku sembari tersenyum evil padanya. Tampak Kyuhyun yang kini tengah mengangguk singkat dan segera duduk dikursi belajarku setelah berhasil membuat lampu dikamarku kembali hidup sehingga menerangi ruang kamarku.

“Kau tahu, kotak itu berisi kenanganku dengan cinta pertamaku!” jawabku singkat dan segera duduk diatas ranjang yang berhadapan dengan namja setan tersebut. Nampak kedua mata Kyuhyun tengah menyipit saat mendengar jawabanku barusan.

“Yak, kau tidak seharusnya menyimpan benda seperti itu saat kau sudah memiliki namja chingu yang sangat tampan sepertiku Nona labil!” ucapnya sembari melemparkan death glare padaku.

“Cih, itu hakku Tuan labil! Dan berhentilah bertingkah seakan-akan kau sangat menyukaiku seperti itu!” ucapku dan segera bangkit namun segera kembali terduduk saat tangan kekar tersebut menarikku dengan paksa. “YAK, kau mau memulai pertengkaran lagi denganku hah?” desisku. Namun kulihat Kyuhyun sama sekali tidak menggubrisnya dan kini tengah menatapku dengan ekspresi serius.

“Apakah salah jika aku memang sangat menyukaimu? Apakah kau tidak suka jika aku sangat menyukaimu?” ucapnya dengan nada serius yang sukses membuatku terdiam karena terkejut. “Na-ya, sampai kapan kau mau bertingkah seolah-olah kau tidak tahu akan perasaanku ataupun perasaanmu sendiri?” lanjutnya.

Kutatap lekat-lekat kedua mata dihadapanku tersebut. “Cho Kyuhyun tahukah kau jika sudah lama aku menyadari perasaan sukaku padamu? Dan tahukah kau  jika aku sangat menyukaimu sama sepertimu? Tapi, apa yang sekarang bisa kulakukan? Apakah aku harus mendahulukan keegoisanku yang kemudian hanya akan menghancurkanmu? “ ucapku dalam hati. Kupaksakan seulas senyum merekah dikedua sudut bibirku untuk mengelabuinya.

“Yak, ada apa denganmu? Apakah kau benar-benar Cho Kyuhyun raja setan namja chingu-ku?” ucapku sembari meraba keningnya dengan wajah kebingungan. “Apakah makanan tadi telah membuatmu kehilangan jati dirimu? Sejak kapan Cho Kyuhyun yang tidak pernah mau mengalah padaku mendadak mengakui kekalahannya seperti ini?”lanjutku sembari tersenyum evil.

“Yak, neon jeongmal! Tidak bisakah kau melihat situasi yang sangat bagus tadi? Bukankah seharusnya semua gadis akan terharu dengan kalimat seperti itu?” seru Kyuhyun yang kini kembali melemparkan death glare-nya padaku. “Ah, benar bagaimana gadis setan sepertimu bisa terharu dengan kata-kata seperti itu? Sudah jelas hal tersebut tidak akan bisa mengelabuhimu, kau kan bukan gadis normal!” lanjutnya sembari tersenyum evil dan segera bangkit meninggalkanku yang kini tengah geram dengan ucapannya.

“Kau harus bisa mengendalikan perasaanmu, Na-ya!” lirihku segera setelah sosok Kyuhyun sudah melangkah keluar dari pintu kamarku. “Wae, mengapa kau mengatakan hal yang justru membuatku semakin sulit untuk melepaskanmu? Apa yang harus kulakukan, Kyuhyun-ah?”

“Kau cukup mengantarku sampai  di sini, Nona labil! Apakah 3 jam belum cukup membuatmu menuntaskan kerinduanmu padaku sampai-sampai kau ingin mengantarkanku sampai tempat parkir?” kulirik namja yang kini pasti tengah tersenyum evil dibalik masker penyamarannya.

“Cih, silahkan bermimpi Tuan labil! Kau fikir siapa yang membuatku harus mengantarkanmu keluar apartement seperti ini hah? Bukankah kau sendiri yang mengeluh dihadapan eomma jika aku adalah seorang tuan rumah yang amat buruk karena tidak mau mengantarkan tamunya saat pulang?” cibirku.

Ara, aku hanya bercanda! Na-ya, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?” ucap Kyuhyun yang entah mengapa terdengar serius.

Wae, apakah ada masalah?” balasku penasaran.

“Kau, apakah kau percaya denganku?” tanya namja dihadapanku yang entah mengapa membuat jantungku tiba-tiba berdebar kencang.

“Apa maksudmu?” jawabku dengan binggung.

“Dengar, seperti yang telah kukatakan padamu berulang kali. Aku mempercayaimu, Na-ya! Aku percaya jika kau adalah gadis yang kuat. Karena itu, jangan pernah mengalah dengan keadaan. Berjuanglah sekuat tenagamu. Tidak akan pernah ada hal yang sia-sia saat kita sudah berusaha sekuat tenaga untuk meraihnya. Jangan pernah takut, dan kumohon belajarlah untuk mempercayaiku!” jelas Kyuhyun dan segera membuka masker yang tengah menutup separuh wajahnya dan mengecup singkat keningku.

“Segeralah naik ke atas, dan perhatikan langkahmu baik-baik. Jangan sampai kau terjatuh karena terlalu memikirkanku Nona labil!” lanjutnya sembari terkekeh pelan.

“Cih, terserah apa maumu Tuan labil!” seruku dan segera berbalik meninggalkan namja yang kini masih terkekeh diatas undakan tangga darurat. Kuhentikan langkahku setelah keluar dari pintu tangga darurat. Berbagai spekulasi segera kembali muncul di otakku.

“Apa maksud dari perkatannya barusan? Mungkinkah ia tahu mengenai haraboeji?”gumamku pelan. Tiba-tiba saja sebuah perasaan takut muncul dibenakku.

“Apa, apa yang harus kulakukan?”

 

Oktober, 28 2012 at Seoul International Highschool. . . .

“Ya, apa yang Sukbin sonsaengnim inginkan darimu? Apakah ia memintamu untuk membacakan pidato perpisahan nanti?” tanya Jihyo dengan antusias begitu aku keluar dari ruang guru.  Kuanggukan kepalaku sebagai jawaban dari pertanyaan sahabat baikku tersebut. “Assa, kalau begitu kau harus menyiapkan pidato yang lain daripada yang lain Na-ya! Tunjukkan pada seluruh warga sekolah jika kita memang berbeda haahahahahahaha!” lanjut Jihyo kegirangan.

*Pletakkkk. . .

“Ya, jangan merusak saat-saat terakhir kita disekolah! Sebagaimana labilnya kita, tetap saja jangan sampai merusak upacara terakhir kita disekolah kita tercinta. Kau juga pasti berfikir seperti itu bukan, Na-ya?” ucap Minho tanpa memperdulikan Jihyo yang nampak kesakitan karena jitakannya barusan.

“Aish, justru karena itu bukankah kita harus meninggalkan kenangan yang tidak mungkin dapat dilupakan bagi sekolah kita?” sambung Jihyo tak mau kalah.

“Ya, apakah segala kenakalan kita selama ini tidak bisa dihitung sebagai kenangan yang tidak mungkin terlupakan bagi sekolah kita? Hwang Jihyo, ingat nama kita bertiga berada dalam urutan teratas daftar siswa yang paling banyak menerima hukuman disekolah! Apakah kau masih ingin membuat foto kita bertiga terpampang didinding koridor sebagai generasi pembuat onar di sekolah?” tampak Jihyo tengah mencerna penjelasanku barusan. Kulirik Minho yang kini tiba-tiba segera berlari kecil sembari memberikan tanda padaku jika ia hendak menerima telepon penting dan tidak ingin diganggu. Saat ini ia mulai belajar terjun di bisnis keluarganya.

“Na-ya, apakah kau tidak merasakan perubahan sikap Minho 1 bulan terakhir ini padamu?” tanya Jihyo tiba-tiba yang membuatku kebingungan.

“Apa maksudmu, Hyo-ya?” tanyaku. Kulihat Jihyo yang kini tengah menatapku dengan serius yang sangat kontras dengan ekspresinya beberapa saat lalu.

“Aku rasa kau tidak mungkin tidak mengerti dengan maksud pertanyaanku barusan, Na-ya! Bukankah kau siswa dengan kepandaian yang menakjubkan? Kuberitahu satu nasihat untukmu, Na-ya! Segera tentukan pilihanmu atau kau hanya akan membuat dirimu terjebak ditengah-tengah arus yang hanya akan membuat semua pihak merasa tersakiti! Walaupun salah satu dari mereka nantinya akan merasa terluka, tapi memang seperti itulah aturan mainnya. Jangan membuat salah satu diantara mereka merasa memiliki harapan, chingu-ya! Kau tahu, itu terlalu menyakitkan jika suatu saat mereka menyadari jika harapan tersebut hanyalah harapan kosong!” mataku membelalak saat mendengar nasihat yang baru saja dilontarkan oleh Jihyo. Tepat seperti kata-katanya barusan. Aku tidak bodoh sampai-sampai aku tidak pernah menyadari bagaimana perasaan Minho terhadapku, dan Jihyo sekarang telah menyadari hal tersebut pula.

Ara, dan satu nasihat pula untukmu Hyo-ya! Jangan selalu menahan perasaanmu, kau juga berhak meraih kebahagianmu. Bukankah kau selalu menasehatiku untuk tidak pernah menahan perasaanku? Lalu bagaimana denganmu? Apakah kau juga akan mengubur perasaanmu itu dalam-dalam tanpa pernah mencoba meraihnya? Aku tidak perlu menjelaskan lebih jelas maksud perkataanku barusan, kurasa siswa pandai sepertimu juga pasti mengerti maksud nasihatku!” balasku yang kini sama halnya sepertiku membuat yeoja dihadapanku membelalak karena terkejut. Kuulurkan jemariku untuk mengenggam telapak tangan sahabat baikku tersebut.

“Na-ya, sejak kapan? Sejak kapan kau menyadarinya?” tanyanya pelan tanpa memandangku sedikitpun.

“Sejak kau menangisi Minho yang tengah terbaring kritis saat kecelakaannya 3 tahun lalu.” jawabku.”Hyo-ya, kumohon jangan mengalah karena diriku. Kau juga berhak mendapatkan kebahagianmu chingu-ya.” lanjutku. Jihyo masih terdiam dan sama sekali tidak menatapku. Kulepaskan gengamanku dan segera beralih memeluknya. Aku tahu selama ini pasti ia selalu memendam dalam-dalam perasaan sakitnya karena perasaan Minho terhadapku. Jihyo, ia adalah sosok sahabat yang sangat baik dan berharga bagiku. Semua orang tidak akan pernah menyangka jika dalam sosok kecilnya yang selalu terlihat ceria ternyata selalu memendam rasa sakitnya dan mengubur dalam-dalam perasaan iri maupun cemburunya karena tidak ingin menyakiti hati kedua sahabatnya dan bersikukuh untuk mengalah dan lebih memilih mengorbankan kebahagiannya sendiri.

“Hwang Jihyo, neon jeongmal daebak! Mianhae chingu-ya, jeongmal mianhae!” biskku pelan. Dapat kurasakan kedua tangan Jihyo membalas pelukanku.

“Kau tidak salah, Na-ya! Keadaan yang membuat kita terjebak dalam hal ini. Dan karena kita sama-sama saling menyayangi dan tidak menginginkan orang yang kita sayangi merasa sakit. Bukankah kita sama, ratu setan?” balas Jihyo. Kulepaskan pelukan diantara kami dan kutatap wajah bulat yeoja dihadapanku. Secara bersamaan sebuah tawa keluar dari mulut kami.

Jihyo-ya mianhae, karena sudah membuatmu menderita selama ini. Aku janji, kali ini aku akan membantumu meraih kebahagianmu chingu-ya!” janjiku dalam hati.

“Ya, apa yang kalian berdua lakukan? Apakah ini yang disebut syndrome menjelang kelulusan? Beberapa orang berkata jika kau akan menjadi sedikit tidak waras saat mendekati upacara kelulusan karena perasaan was-was jika harus berpisah dengan sahabat baikmu! Jangan khawatir ladies, aku tahu kalian pasti merasa takut jika tidak akan bisa melihatku setiap hari nantinya. Tenanglah, kalian tidak akan kehilangan sahabat kalian yang tampan ini. ”

*Pletakkkkkkk. . .

Secara bersamaan baik Jihyo maupun aku dengan gemas menjitak kepala namja yang kini tengah meringis kesakitan diantara kami berdua.

“Jangan bermimpi, Jung Minho-shi!” ucapku bersamaan kembali dengan Jihyo. Detik berikutnya kami berdua kembali tertawa renyah satu sama lain yang membuat namja diantara kami tampak kebingungan.

“Aish, terserah kalian berdua dayang-dayangku! Kajja, aku sudah tidak bisa menahan lapar!” sahut Minho sembari merangkul bahuku dan Jihyo dan segera menyeret kami berdua dengan riang.

“Ne, kajja!”

*Heyna Pov End*

 

Oktober, 30 2012 at Incheon airport. . . .

*Kyuhyun Pov*

Waeyo? Kenapa sejak pagi wajahmu kau tekuk seperti itu, Kyu?” ucap Donghae yang baru saja menghampiriku dan duduk segera disebalahku.

Ani, aku hanya sedang malas saja!” jawabku tanpa memandang hyung-ku tersebut dan kembali menekan tombol call pada  layar ponselku. “Cih, sebenarnya apa sih yang dilakukan anak labil itu sampai-sampai beberapa hari ini sama sekali tidak membalas sms dan mengangkat teleponku!” gerutuku. Seditik kemuadian namja disampingku tampak terkekeh pelan sembari mengacak rambutku dengan gemas.

Aigoo,jangan bilang kau seharian menekuk wajahmu karena diacuhkan oleh anak itu?” ucap Donghae. Kulirik hyung-ku tersebut dan tanpa mengubrisnya kembali kumainkan jemariku diatas layar LG VU II putihku.

To : Evil Yeoja!

“Yak, neo eoddiya? Kenapa kau sama sekali tidak membalas pesanku dan mengangkat teleponku hah? Hubungi aku segera begitu kau membaca pesanku!”

PS: Apakah kau baik-baik saja? Apakah terjadi masalah lagi dengan appa-mu lagi?

“Kyu, apakah kau masih ingat dengan ucapan Sora 2 bulan lalu?” bisik Donghae tiba-tiba yang segera membuat wajahku menoleh memandangnya dengan tatapan binggung.

“Maksudmu?” balasku singkat.

“Heyna haraboeji, apakah kau sudah memikirkan rencana jika suatu saat beliau ingin memisahkanmu dengan cucu tunggalnya?” entah mengapa ucapan Donghae membuat sebuah perasaan takut menjalar ditubuhku.

“Kenapa kau menanyakan hal tersebut, hyung?

“Entahlah, hanya saja aku merasa kakek Heyna adalah orang yang mampu melakukan apa saja demi mewujudkan keinginannya! Aku khawatir jika nantinya beliau tidak menyetujui hubungan kalian dan ingin menjauhkan cucunya darimu.”  Kau salah hyung, semenjak hari itu rasa takut  selalu muncul menjelang aku ingin menutup kedua mataku untuk melepas lelah. Berbagai kekhawatiran selalu mengangguku. Tapi apa, apa yang harus kuperbuat? Aku tahu pasti bahwa Heyna tidak akan mungkin mau berbagi hal yang menurutnya hanya akan membuat orang-orang disekelilingnya merasa khawatir ataupun sedih.

“Kau tahu, 2 hari kemarin Sora memberitahuku tentang suatu hal. Dia memberitahuku jika beberapa hari ini Na-ya sering terlihat di rumah sakit maupun universitas milik kakekknya. Tidak biasa bagi Heyna untuk sering mengunjungi kakekknya karena Sora tahu pasti jika hal tersebut akan membuat Lee Eunji-nim merasa khawatir. Bahkan, ia terlihat mengikuti segala aktivitas kakeknya. Dan kemarin tanpa sepengetahuan Na-ya, Sora melihatnya tengah duduk melamun disalah satu sudut perpustakaan universitas. Tampak jelas jika ekpsresi Na-ya saat itu amat tertekan.  Dan yang membuatku semakin khawatir adalah pesan singkatnya kemarin malam.” Jantungku berdetak semakin kencang saat mendengar penjelasan hyung-ku tersebut.

“Apa yang dikatakannya?” tanyaku segera.

“Na-ya dia mengirim pesan yang aneh, dia bertanya pada Sora apakah tidak lelah baginya menjalani hubungan secara sembunyi-sembunyi denganku selama ini? Dan dia juga berkata jika ia mulai merasa lelah menjalin hubungannya denganmu!” kuremas jemariku begitu mendengar kalimat terakhir yang dibisikkan oleh Donghae-hyung. Apa, apa maksud ucapan anak labil itu? Apakah ia bermaksud ingin mempermainkan perasaanku!

“Apakah kau tidak merasa aneh dengan perilaku dan pesan yang dikirimkan Na-ya tersebut?” bisik Donghae kembali. Tiba-tiba sebuah spekulasi muncul dikepalaku yang beberapa detik lalu sempat ingin meledak karena emosi. Tunggu, Na-ya apakah dia sengaja melakukan ini? Pada awalnya ia sering terlihat dirumah sakit dan universitas milik kakeknya. Memang benar jika dia ingin menjadi Dokter, tapi kurasa ia bukanlah tipe anak yang mau menggunakan kekuasaan kakeknya untuk dapat meraih apa yang diinginkannya. Dan kenapa ia sering mengikuti aktivitas kakeknya sedangkan hal tersebut ia ketahui akan membuat eomma-nya merasa khawatir? Dan juga mengapa ia mengirimkan pesan tersebut pada Sora? Apakah ia bermaksud agar Sora memberitahukannya pada Donghae yang jelas akan sampai ditelingaku cepat atau lambat.

Hyung, kurasa aku mengerti dengan apa yang kau maksud. Na-ya, ia sengaja mengirimkan sms itu untuk Sora dengan harapan Sora akan memberitahukannya padamu dan sampai akhirnya kedua telingaku ini mendengarnya melaluimu. Satu kesimpulan yang bisa kutarik dari kondisinya saat ini. Kurasa kakeknya sudah mulai bertindak!” baik Donghae dan aku saling berpandangan penuh arti. Kurasa sekarang aku mengetahui alasan dari perubahan sikap anak itu beberapa hari ini.

“Sekarang apa rencanamu?” tanya Donghae kembali. Aku terdiam beberapa saat hingga pada akhirnya teringat dengan kata-kataku sendiri beberapa saat lalu saat tengah bersama anak labil itu.

“Aku akan membuatnya mempercayaiku sebagaimana aku mempercayainya,Hyung! Kurasa hanya itu yang bisa kulakukan saat ini, aku tahu pasti bagaimana sifat anak itu! Ia akan merasa takut jika orang-orang disekitarnya merasa sakit dan terluka karenanya. Karena itu aku akan membuatnya mempercayaiku bahwa aku akan baik-baik saja meskipun seberapa berat nantinya tekanan yang akan menghantamku kedepan. Hanya itulah satu-satunya cara meyakinkannya!” namja disampingku tersebut tampak mengangguk merespon ucapanku.

Kajja, kurasa pesawat kita akan segera tinggal landas!” ajak Donghae saat seruan petugas bandara mengumumkan penerbangan tujuan Korea-Taiwan yang akan segera berangkat melalui pengeras suara. Segera kumainkan jemariku kembali pada layar ponselku dan mengetik sebuah pesan singkat untuk yeoja yang memenuhi fikiranku saat ini.

To : Ratu Evil!

“ Na-ya, seperti yang pernah kukatakan padamu 1 minggu lalu? Percayalah padaku, apapun yang terjadi percayalah padaku. Percayalah bahwa aku akan baik-baik saja. Karena itu, jangan mengkhawatirkanku.”

Kulangkahkan segera kedua kakiku setelah menekan tombol send dilayar LG VU II putih milikku.

“Na-ya, kumohon bertahanlah. Jangan sampai keadaan memaksamu untuk menyerah!”

*Kyuhyun Pov End*

 

20:23 KST at Heyna room. . .

*Heyna Pov*

From : CKH

“ Na-ya, seperti yang pernah kukatakan padamu 1 minggu lalu? Percayalah padaku, apapun yang terjadi percayalah padaku. Percayalah bahwa aku akan baik-baik saja. Karena itu, jangan mengkhawatirkanku.”

Untuk kesekian kalinya kubaca pesan yang siang tadi dikirimkan oleh Kyuhyun padaku. “Apakah ini berarti Sora eonni sudah memberitahukan isi smsku pada Donghae-oppa?” gumamku sembari tetap menatap layar LG VU II putihku. “Semoga Kyuhyun bisa dengan cepat membaca situasiku saat ini. Dan jika memang ia pandai seharusnya ia segera menjauh dariku!” lanjutku. Kurebahkan diriku diatas ranjang dan mulai memandang nanar langit-langit kamar .

“Bagaimana aku bisa memilih untuk mempercayaimu jika hal tersebut hanya akan membuat dirimu terluka? Apakah sampai sekarang kau belum bisa memahami bagaimana sifatku? Cho Kyuhyun, aku tidak akan pernah membuat orang lain terluka karenaku lagi. Sudah cukup bagiku hidup dengan perasaan bersalah pada Heejin-oppa, aku tidak akan sanggup jika hal buruk menimpamu karenaku nantinya. Tidak akan pernah, aku tidak akan pernah membuat orang yang kusayangi terpaksa menderita karenaku lagi.” ku coba untuk memejamkan mataku namun sia-sia saja. Dalam benakku saat ini penuh berisi tentang berbagai macam kekhawatiran yang semakin lama semakin membuatku merasa sulit untuk bernafas.

“Na-ya, apakah kau sudah tidur jagi?” kutegakkan kembali tubuhku dan segera melangkah menuju pintu kamarku dan membukanya.

Wae, eomma?” tanyaku. Segera eomma melangkah kedalam kamarku dan duduk diujung ranjang.

“Na-ya, apa yang terjadi diantaramu dan kakekkmu? Eomma mendengar dari Han ahjumma jika beberapa hari ini kau sering mengunjungi kakekkmu dan mengikuti aktifitasnya. Apakah kau. . .” ucapan eomma-ku segera terputus begitu aku menganggukan kepalaku sebagai jawaban dari segala pertanyaannya tersebut.

Wae, Na-ya? Apakah kau sudah memikirkannya baik-baik? Jagi, jangan pernah mengorbankan mimpimu! Kau pantas dan berhak untuk meraih mimpimu! Kau tidak harus menuruti. .”

“Karena aku menginginkannya!” potongku segera seraya melangkah menghampiri eomma yang tampak amat terkejut dengan keputusanku. “ Eomma, percayalah aku melakukannya bukan karena aku lebih memilih haraboeji. Aku memilihnya karena kurasa memang inilah jalanku. Bagaimanapun, aku tidak bisa melepaskan tanggung jawabku sebagai cucunya. Haraboeji, membutuhkan bantuanku.” lanjutku. Eomma mianhae, aku tahu keputusanku ini pasti membuatnya merasa tersisih. Tapi aku tahu pasti bagaimanapun juga eomma pasti akan paham dengan keputusanku tersebut.

“Na-ya, mianhae. Mianhae, jagia. Semua karena eomma, karena eomma kau harus menangung tanggung jawab tersebut. Eomma tahu kau anak yang baik sayang. Tapi, fikirkanlah baik-baik. Eomma hanya tidak mau kau menderita karena sifat diktator kakekmu.” kutarik kedua sudut bibirku untuk membentuk senyuman dengan harapan dapat menenangkan perasaan khawatir eomma-ku saat ini.

“Ne, eomma tak perlu khawatir. Aku sudah memikirkannya jauh sebelum ini. Dan kurasa memang inilah jalan terbaik diantara kita bertiga.”

Mianhae, Na-ya!” lirih eomma dan segera merengkuhku dalam pelukannya.

“Eomma mianhae, mianhae karena telah membohongimu!” lirihku dalam hati.

“Tumbuhlah menjadi wanita yang kuat, Na-ya! Seberapa berat nantinya langkahmu ingatlah bahwa eomma akan selalu ada untuk memelukmu putriku!” kupererat pelukanku pada sosok malaikat pelindungku selama ini.

Gomawo, jeongmal gomawo eomma. Lihat saja, Lee Heyna putri eomma pasti akan tumbuh menjadi wanita yang lebih kuat dari sekarang. Karena itu eomma tak perlu khawatir padaku, aku pasti akan baik-baik saja!”

November, 3rd 2012 at Geum The Traditional Restaurant. . .

Kulirik sosok kakekku yang kini tengah berbincang dengan Jinwoon ahjusshi. Hari ini haraboeji menyuruhku untuk menemaninya menikmati makan malam disalah satu restautrant kelas atas. Tapi entah mengapa aku mencium sebuah rencana lain yang menyangkut diriku. Kuraih tas tangan yang dipilihkan oleh beberapa pelayan butik yang secara khusus telah menutup tokonya untuk beberapa jam atas permintaan haraboeji agar kami bisa membeli gaun yang pas untuk kukenakan malam ini. Kukeluarkan LG VU II putihku dan segera mengecek apakah ada pesan atau panggilan masuk untukku.

Beberapa saat kemudian terdengar ketukan dari pintu ruangan VIP yang kami tempati saat ini. Dengan sigap Jinwoon ahjusshi segera berdiri dan membuka pintu tersebut.

Sajjangnim, pelayan memberitahukan bahwa tamu undangan anda sudah tiba saat ini dan menunggu dilobi restaurant.” jelas Jinwoon ahjusshi.

“Ah, akhirnya mereka sampai. Suruh pelayan untuk segera menghantarkan mereka kemari!” perintah kakekku sembari tersenyum memandangku.

Na-ya, kemarilah kakek akan memperkenalkanmu dengan putra kolega kakek! Dia adalah seorang pemuda dengan segudang prestasi! Dan saat ini ia sudah mulai terjun dalam bisnis keluarganya. “ Tepat, tepat seperti dugaanku. Sekarang aku tahu alasan mengapa kakek ingin melihatku berpenampilan feminim dan elegan seperti saat ini.

Kupaksakan untuk tetap tersenyum selembut mungkin agar tidak menyakiti hati kakekku. Beberapa detik kemudian pintu dihadapanku terbuka perlahan dan menampakan sosok namja yang segera membuat kedua bola mataku membelalak. “Kau……”ucapku terhenti begitu sosok namja dihadapanku tersebut kini melemparkan senyum khasnya padaku.

chihoon3

“Terima kasih untuk memenuhi undangan makan malamku, Jung Jaeha-shi.” ucap kakekku sembari mempersilahkan kedua tamunya untuk duduk ditempat yang sudah disediakan.

“Sebuah kehormatan bagiku bisa memenuhi undangan anda, Profesor!” balas laki-laki separuh baya yang kini duduk berhadapan dengan kakekku.

“Apakah ini putramu?” lanjut kakekku. Kutatap namja yang kini tengah berdiri dan membungkukkan tubuhnya singkat kepada kakekku.

Annyeonghaseyo, Jung Minho imnida!” kenapa harus Minho, kenapa harus Minho yang muncul diruangan ini saat ini. Apa yang harus kulakukan? Dan bagaimana dengan Jihyo? Bagaimanapun juga aku harus bisa membujuk Minho untuk membatalkan rencana ayahnya dan kakekku.

“Senang bertemu denganmu, Minho-shi! Kudengar kau juga bersekolah di Seoul International Highschool, jadi apakah kau mengenal cucuku?” kurasakan belaian lembut kakekku dibahuku. Dengan segera aku bangkit dari kursiku dan membungkuk singkat pada dua sosok namja dihadapanku.

Annyeonghaseyo, Lee Heyna imnida!” ucapku pelan dan segera kembali duduk dan menatap penuh arti pada namja dihadapanku yang tak lain adalah sahabat baikku tersebut.

“Tentu saja, bagaimana saya tidak mengenal cucu anda yang adalah siswi nomer satu di sekolah bahkan diseluruh Korea Selatan.” jawab Minho yang kini membalas tatapanku.

“Jadi, apakah kalian saling mengenal?” ucap laki-laki dewasa dihadapan kakekku yang tak lain adalah ayah dari sahabatku tersebut.

Ne, kami saling mengenal. Aku dan Na-ya adalah teman sekelas, dan lebih dari hal itu kami berdua bersahabat baik!” jawab Minho yang membuat mataku membelalak karena terkejut. Apa, apa maksud Minho mengakui semuanya dihadapan kedua orang dewasa dalam ruangan ini?

“Benarkah? Bagaimana bisa terjadi kebetulan seperti ini?” seru kakekku sembari tersenyum senang. “ Aigoo, kurasa kita tidak perlu lagi berusaha mendekatkan mereka berdua Jaeha-shi!” lanjut kakekku yang terlihat amat senang sekali saat ini.

“Kurasa juga begitu, Profesor! Bagaimana bisa terjadi kebutulan seperti ini, apakah ini yang dinamakan jodoh?” aku hanya bisa terdiam dan menundukkan kepalaku sementara dua orang dewasa dalam ruangan ini tengah bersorak gembira karena keberhasilan mereka.

Kuambil kembali ponsel dalam tas tanganku dan segera mengetikkan pesan singkat pada namja yang bisa menjawab segala pertanyaan yang berkecamuk dalam benakku saat ini.

 

To : Master of Playboy :p

“Kutunggu penjelasanmu, chingu-ya!”

Kembali kuangkat wajahku begitu menekan tombol send dan kembali menatap dengan tatapan penuh arti pada namja dihadapanku. Minho-ya, jebal jangan membuat situasi diantara kau, Jihyo dan aku bertambah rumit!

2 Hours later. . .

“ Haraboeji, apa maksud haraboeji?” ucapku segera begitu kedua tamu undangan makan malam kakekku tersebut meninggalkan ruangan VIP di restaurant bertaraf international yang kami sewa saat ini. Tampak haraboeji yang segera menoleh kepadaku dan memperlihatkan ekspresi herannya.

“Apa maksudmu, Na-ya? Kakek tidak mengerti dengan apa yang kau maksud?” jawab haraboeji seraya menegak anggur dalam gelas dihadapannya.

Haraboeji, Minho dia sahabat baikku. Tidak bisakah jika bukan dia?” pintaku.

“Na-ya, bukankah itu sangat bagus? Dengan begitu kakek menjadi bertambah yakin jika pilihan kakek tersebut baik untukmu. Kau sudah mengenalnya, jadi kakek bisa menjamin jika anak itu memiliki kepribadian yang baik. Dan bukankah kau sudah berjanji akan menuruti perintah kakek?” kutatap sosok laki-laki tua dihadapanku dengan pandangan miris.

“Haraboeji, aku tidak lupa dengan janjiku tersebut. Tapi. . .” ucapku terputus saat tiba-tiba kudapati tatapan tajam dari haraboeji-ku.

“Tapi apa, Na-ya?” sanggah kakekku. Kutundukan kepalaku segera untuk menghindari tatapan menuntut dari kakekku saat ini.

Haraboeji, kumohon kali ini saja biarkanlah aku menentukan jalan hidupku! Jebal, aku akan menuruti segala permintaan kakek tapi untuk tidak yang satu ini.” ucapku pelan. Bagaimanapun aku tidak bisa membiarkan rencana ini terjadi. Akan banyak orang yang terluka karenaku nantinya. Bagaimana dengan Jihyo, aku tidak akan pernah bisa merampas sesuatu yang berharga baginya. Sudah cukup selama ini Jihyo mengalah dan memendam perasaannya karenaku. Apakah aku harus melukai sahabatku yang selama ini selalu meraih tanganku dan memelukku saat aku terjatuh? Kurasakan gerakan disamping tempatku duduk. Kulihat haraboeji segera bangkit dari kursinya dan merapikan setelan jasnya.

“Baiklah, kakek tidak akan memperpanjang obrolan kita malam ini. Fikirkanlah baik-baik, Na-ya! Ketahuilah, segalanya kakek lakukan demi kebaikanmu. Dan dikedua bahumu inilah kakek menaruh harapan besar kakek! Ingat segala sesuatu pasti memiliki konsekuensi, cucuku! Kau sendiri yang akan menentukan bagaimana nasib teman idol-mu tersebut.” edua bola mataku segera membelalak begitu mendengar kalimat yang terlontar dari mulut kakekku. Kenapa harus pilihan tersebut yang ada untukku. Apa yang harus kulakukan? Aku tidak akan bisa memilih salah satu diantara mereka. Jihyo, Kyuhyun mereka adalah dua orang yang berharga untukku.

“Heejin-oppa, tolong aku!”

 

*Heyna Pov End*

22:32 at Suju dorm 11th floor. . .

*Kyuhyun Pov*

“Kau mau kemana, Kyu?” seru Sungmin-hyung saat melihatku melangkah kearah pintu dorm kami.

“Aku ingin menghirup udara segar sebentar, hyung!” balasku tanpa menoleh dan segera memakai sepatu kets putihku. Kuraih gagang pintu dan segera membukanya. “ Hyung, aku pergi!” seruku dan segera menutup pintu dihadapanku. Kunaikan masker hingga menutup rapat setengah wajahku. Malam ini aku berencana mendatangi yeoja yang hampir 1 minggu ini membuatku gila karena mengkhawatirkannya.

Kupercepat langkahku begitu pintu lift dihadapanku terbuka yang saat ini membawaku ke area basement gedung apartement yang kutinggali. Kuhampiri audy hitam yang terparkir diantara dua audy putih  milik Eunhyuk dan Leeteuk-hyung tersebut.

“Cho Kyuhyun-shi!” kubalikkan segera tubuhku saat tiba-tiba terdengar sapaan dari arah belakang. Tampak seorang laki-laki paruh baya dalam setelan jas hitamnya membungkuk singkat padaku.

Nuguseyo?” ucapku pelan. Sosok dihadapanku tersebut melangkah pelan menghampiriku sembari tersenyum. Siapa orang ini? Entah mengapa aku mendapat firasat buruk karena kedatangannya.

“Cho Kyuhyun-shi, maaf jika aku sudah menganggu istirahat anda! Senang bertemu anda, perkenalkan nama saya Kang Jinwoon. Saya adalah sekertaris pribadi merangkap kepala pelayan dikediaman Tuan Lee Yongjin.” kedua mataku segera membelalak begitu mendengar perkenalan singkat dari sosok dihadapanku saat ini.

“Anda..” ucapku terputus saat kulihat Jinwoon ahjusshi segera mengangguk singkat padaku.

Ne, saya yakin pasti anda tidak asing dengan nama majikan saya yang tak lain adalah kakek dari yeoja yang saat ini tengah menjalin hubungan dengan anda secara sembunyi-sembunyi.” jelas Jinwoon ahjusshi.

“Apa maksud kedatangan anda, ahjusshi?” tanyaku segera.

“Saya rasa anda pasti sudah dapat menebak kedatangan saya malam ini.” Balasnya sembari kembali menyunggingkan senyuman. “Sajanggnim mengirim saya untuk memperingatkan anda secara langsung agar segera menjauhi Lee Heyna ahgasshi!” lanjutnya dan segera menoleh kearah mobil hitam yang terparkir tak jauh dari tempat kami berdiri berhadapan saat ini. Seorang namja yang berusia tak jauh dari sosok dihadapanku segera keluar dari dalam mobil sembari membawa sebuah koper.“Sajjangnim juga memintaku untuk menyerahkan hadiah yang ia kirimkan untuk anda.” ucap Jinwoon ahjusshi dan segera memberikan tanda pada namja disampingnya yang segera  membuka koper yang ia bawa dan menggulurkannya padaku. Secarik cek kosong dengan tanda tangan pemiliknya tergeletak didasar koper tersebut, dan disampingnya tergeletak foto Heyna bersamaku yang entah kapan berhasil mereka ambil.

pic part

“Apa maksud anda?” ucapku sembari memandang tajam sosok dihadapanku tersebut.

“Seperti yang sebelumnya saya sampaikan, Tuan Lee Yongjin ingin agar anda segera menjauh dari Lee Heyna ahgasshi! Dan karena itu, sebagai imbalan sajjangnim memberikan anda cek kosong yang bisa anda isi sesuka hati anda. Apakah penjelasan saya ini sudah bisa anda mengerti?” jawab Jinwoon ahjusshi. “ Jika anda pandai, anda akan segera mengambil cek ini dan segera menjauh dari kehidupan Lee Heyna ahgasshi. Akan sangat disayangkan jika seniman berbakat seperti anda harus kehilangan sinarnya dipanggung karena kesalahan yang anda buat  sendiri. Anda tentunya tidak ingin kehilangan karir anda bukan?” kedua mataku kembali membelalak saat mendengar ancaman dari Kang Jinwoon. Kurasa kata-kata dan kekhawatiran Donghae-hyung benar adanya. Lee Yongjin-nim adalah sosok yang bisa menggunakan segala cara untuk mencapai keinginannya. Tiba-tiba terlintas dalam kepalaku sosok Heyna yang tengah tersenyum lembut padaku. Apakah saat ini dia baik-baik saja? Apakah kakekknya tengah menekannya?

Mianhamnida, maaf jika membuat anda kecewa. Sampaikan pada Lee Yongjin-nim bahwa saya  tidak bisa menerima hadiah yang beliau kirimkan.” ucapku yang segera ditanggapi sebuah senyuman dari sosok yang tengah berhadapan denganku saat ini. “Dan sampaikan pula pada beliau bahwa bagaimanapun juga aku tidak akan pernah membiarkan orang lain menghancurkan mimpi yang tengah susah payah kuraih dan sampai kapanpun aku tidak akan pernah melepaskan Heyna! Seberapa keras usaha anda memisahkan kami berdua hal tersebut akan sia-sia! Na-ya, dia adalah bagian dari diriku dan tidak akan kubiarkan siapapun mengambilnya dariku!” kubungkukan segera tubuhku dan melangkah menuju audy hitamku meninggalkan dua laki-laki dewasa tersebut dalam diam.

23:15 KST at Maple Garden’s. . .

To: Evil Yeoja!

“Apakah kau masih terjaga? Jika ya keluarlah sebentar. Kutunggu di taman dekat apartementmu sekarang.

Segera kutekan tombol send pada layar LG VU II putihku dan kembali menyandarkan tubuhku pada pohon maple yang biasa menjadi tempatku bertemu dengan Heyna secara diam-diam selama ini.

Drrrrrrttttttttt. . .ddddrrrrrrrttttttt. . .

Kubuka segera sebuah pesan yang baru saja masuk diponselku.

 From: Evil Yeoja!

“Arasseo!

Beberapa menit kemudian tampak sosok seorang dalam balutan jaket hitam berjalan kearahku. Na-ya, tanpa sedikitpun menatapku ia ikut berdiri bersandar pada pohon maple disampingku. Yeoja itu pasti sekarang tengah berusaha sekuat tenaga menyembunyikan perasaan tertekannya padaku.

“Na-ya, apakah kau sudah makan?” ucapku tanpa berfikir panjang. Dapat kurasakan pandangan heran dari yeoja disampingku yang ternyata tepat seperti tebakanku. Kutolehkan kepalaku hingga kini kedua mata kami saling menatap. Kusunggingkan sebuah senyum lembut sembari merogoh benda yang sengaja kubeli beberapa saat lalu dan segera mengulurkannya pada sosok disampingku yang segera menerimanya dengan ekspresi kebingungan.

“Makanlah, kurasa beberapa hari ini kau sering lupa makan sampai-sampai gundukan dipipimu itu terlihat menyusut saat ini.” lanjutku seraya membelai pelan puncak kepala yeoja chingu-ku tersebut. “Jangan takut nona labil, aku tidak menaruh racun dalam apel tersebut.” tampak Heyna yang terkini masih terdiam dan menunduk memandang apel pemberianku.

“Na-ya, jangan takut dan tetaplah berdiri tegar. Percayalah, kau pasti bisa melewati segalanya. Bukankah kau Lee Heyna yeoja yang hebat dan pantang menyerah?”

“Kyuhyun-ah, kau tidak mengerti. .” ucap heyna pelan padaku pada akhirnya setelah terdiam cukup lama. Kuturunkan tangan kananku yang sebelumnya membelai pelan puncak kepala yeoja dihadapanku tersebut dan beralih meraih tangan mungilnya. “Kau tidak tahu bagaimana. .”

Ara, nan ara! Karena itu seperti apa yang kuminta padamu sebelumnya. Percayalah padaku, kau hanya perlu belajar mempercayaiku Na-ya! Asalkan kau mempercayaiku aku pasti akan baik-baik saja.” potongku segera yang kini membuat yeoja dihadapanku kembali menundukan kepalanya. Aku tahu pasti bagaimana perasaannya saat ini. Jauh dilubuk hatinya ia sangat ingin berkata jika ia mempercayaiku, tapi keadaan memaksanya untuk diam dan tidak bergerak pada pilihannya. Na-ya, ia bukan orang yang sanggup melukai hati orang lain karena itu aku yakin yang bisa dilakukannya saat ini hanyalah menunggu.

“Apakah kau tahu bagiku kau seperti sebutir apel? Terkadang akan terasa manis namun tak urung  juga akan terasa asam. Tapi, meskipun mengetahuinya aku tak pernah berhenti untuk terus merasakannya berulang kali. Bagiku, mengenalmu seperti memakan sebutir apel. Walaupun aku tahu tidak selamanya apel yang kumakan tersebut akan terasa manis tapi aku ingin tetap memakannya dan mengulanginya berkali-kali. Aku tidak akan pernah lelah dan jera untuk kembali memakannya. Karena aku tahu, disetiap rasa asamnya tetap akan terselip sekilas rasa manis didalamnya.”  perlahan Heyna menegadahkan kepalanya kembali dan menatapku dengan tatapan sayu.

Wae, kenapa kau mau melakukannya? Apakah kau benar-benar namja yang bodoh seperti yang kukatakan padamu selama ini? Kenapa kau lebih memilih memakan sebutir apel yang jelas-jelas tidak bisa kau ketahui dengan pasti akan terasa manis ataupun asam? Bukankah masih banyak buah lainnya yang menjanjikan rasa manis yang jelas akan membuatmu lebih senang saat memakannya? Cho Kyuhyun, neon jeogmal paboya?” lirih Heyna yang kini terlihat berjuang menahan agar air mata dikedua matanya tidak jatuh.

“Kau benar, aku memang bodoh! Tapi, jikalau aku memiliki pilihan lainnya aku akan tetap memilih apel tersebut dan menjadi orang yang bodoh. Dan aku tidak akan pernah menyesali kebodohanku karena sudah memilihnya. Kau tahu kenapa? Karena aku sangat menyukai apel itu!” ucapku yang kini membuat Heyna kembali menundukan kepalanya karena tak kuasa menatap kedua mataku. Aku tahu pasti sangat sulit baginya saat ini untuk tetap bertahan dan menjalani segalanya denganku. Tapi satu hal yang membuatku yakin untuk tetap berdiri disampingnya. Na-ya, ia membutuhkanku sebagai tempatnya bersandar.

“Jangan khawatir, kita pasti bisa melewatinya. Bukankah kita pasangan yang lain dari pasangan lainnya? Bagaimana mungkin seorang raja dan ratu evil akan menyerah pada keadaan? Na-ya, percayalah padaku! Tetaplah berdiri bersamaku dan menyelesaikan semuanya. Kita pasti bisa melewatinya.” ucapku untuk menenangkan hati yeoja chingu-ku yang pasti tengah amat tertekan saat ini.

“Bagaimana, bagaimana jika haraboeji melukaimu?” ucapnya pelan. Kurengkuh tubuh mungil dihadapanku tersebut dan mengecup singkat puncak kepalanya.

“Aku akan baik-baik saja, Na-ya! Percayalah aku akan baik-baik saja selama kau mempercayaiku. Karena itu kumohon percayalah padaku.” balasku. Dapat kurasakan kedua bahu mungil dalam pelukanku tersebut bergetar karena pada akhirnya kalah dengan butiran air mata yang sejak tadi dilawannya dengan sekuat tenaga agar tidak turun membasahi kedua pipinya.

“Menangislah dan segera kembali menjadi sosok Lee Heyna seperti yang selama ini kukenal.” bisikku sembari mempererat dekapanku utuk menyalurkan kehangatan pada sosok dalam pelukanku yang terasa dingin saat ini. Na-ya, seperti janjiku. Aku akan selalu berdiri disampingmu untuk menjadi sapu tangan yang akan menghapus air matamu dan menjadi sandaran serta memelukmu saat kau jatuh terpuruk!

*Kyuhyun Pov End*

 

November, 4th 2012 at Seoul International Highschool. . .

*Author Pov*

“ Seorang yeoja muda tampak berlari melintasi halaman sekolah yang tinggal beberapa saat lagi  akan ia tinggalkan untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Heyna segera mengedarkan pandangannya begitu memasuki ruang kelasnya yang masih tampak sepi. Merasa tidak menemukan sosok yang ingin segera ia temui saat ini segera Heyna menuju bangkunya dan meletakkan ransel biru miliknya dengan lesu. Sedetik kemudian ia segera bangkit kembali dan melangkah keluar saat beberapa detik lalu dilihatnya sebuah ransel hitam milik sahabatnya tergeletak diatas bangku disamping kanannya. Kembali Heyna mengedarkan pandangannya mencari sosok yang ingin dimintainya penjelasan atas segala hal yang terjadi kemarin malam diantara mereka berdua. Tiba-tiba kedua bola mata milik siswi nomer satu di Seoul International Highschool tersebut berhenti pada sosok yang kini tengah berdiri bersandar disamping jendela yang berada disudut lorong lantai 3 sekolahnya.

CD16.DAT_snapshot_21.10_[2013.02.14_06.17.28]

Segera Heyna menghampiri sosok sahabatnya tersebut secara perlahan. Tanpa memalingkan wajahnya, Minho tetap terdiam saat mengetahui sosok Heyna yang kini tengah berdiri bersandar berhadapan dengannya.

PDVD_145

“Apakah kau ingin meminta penjelasan atas apa yang terjadi pada kita kemarin malam?” ucap Minho yang kini menolehkan kepalanya dan menatap  yeoja dihadapannya yang tampak terdiam sembari menatapnya dengan tatapan sayu.

“Jelaskan padaku, Ho-ya? Ada apa dengan semua ini? Apakah kau sudah mengetahui rencana kakekku dan ayahmu sebelumnya?” tanya Heyna. Tampak Minho yang kini tengah menyungingkan senyum lembut yang amat kontras dengan ekspresi sahabatnya yang tampak begitu tertekan saat ini.

Ne, aku sudah mengetahuinya semenjak 2 bulan yang lalu!” jawab Minho yang membuat kedua bola mata Heyna membelalak karena terkejut.

“Kau sudah tahu dan kau sama sekali tidak memberitahukannya padaku?Ya, Tuan Jung apa maksudmu? Seharusnya kau segera memberitahuku sehingga kita tidak perlu terjebak dalam rencana kedua orang dewasa tersebut!” ucap Heyna kembali.  Seulas senyum yang sebelumnya menghiasi wajah tampan namja yang merupakan pewaris Jung Corp tersebut segera menghilang dan berganti dengan ekspresi serius.

“Karena aku menginginkannya!” ucap Minho.

“Apa maksudmu, Ho-ya?”

“Karena aku menginginkan perjodohan ini!” ulang Minho kembali yang semakin membuat sosok yeoja dihadapannya kembali membelalak karena terkejut.

“Ho-ya.. .” ucap Heyna terputus saat tiba-tiba dilihatnya kedua bola mata namja dihadapannya tampak sayu saat ini.

“Na-ya, sekali saja. Aku mohon padamu sekali saja untuk melihat sosok lain disampingmu yang selama ini menunggumu! Aku yakin kau pasti mengerti dengan apa yang kumaksud.” ucap Minho pelan sembari mengulurkan tangannya dan memegang kedua bahu Heyna.

“Minho-ya, mianhae. Mianhae, chingu-ya! Bagaimanapun juga aku tidak bisa melanjutkan rencana perjodohan ini, bagiku kau sudah kuanggap seperti saudara. Kumohon, hentikan rencana ini.” lirih Heyna.“Minho-ya, bagaimanapun aku tidak akan bisa menjalani rencana ini denganmu! “

Wae, apakah karena namja itu? Apakah kau sangat menyukainya? “ sanggah Minho sembari melepaskan cengkeramannya dikedua bahu sahabat baiknya tersebut yang kini segera memalingkan wajahnya untuk menghindari tatapan menuntutnya. “Bolehkah aku bertanya dua hal padamu?” lanjut Minho. Dengan ragu Heyna menganggukan kepalanya secara perlahan dan menatap nanar sosok namja dihadapannya tersebut. “Apakah sama sekali tidak tersisa sedikit ruang dihatimu untukku? Apakah jika perjodohan ini tetap berlangsung kau akan membenciku?” Heyna terdiam mendengar pertanyaan sahabatnya tersebut. Sulit baginya jika harus melukai hati sahabat baiknya tersebut dan disamping itu ia tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Minho ataupun membencinya jika perjodohan diantara mereka benar-benar terjadi. Bagaimanapun hal tersebut adalah hasil rencana kedua keluarga mereka, bukan Minho.

“Ho-ya, aku. . .” ucap Heyna kembali terputus saat dengan cepat jari telunjuk Minho menyentuh ujung bibirnya.

Ara, aku tahu kau sama sekali tidak bisa menjawab pertanyaanku tersebut bukan? Aku teramat mengenalmu Na-ya. Karena itu selama kau tidak bisa mencari jawaban dari pertanyaanku tersebut maka aku akan setia menunggumu. Menunggu sampai setidaknya kau bisa memberikan sedikit ruang dihatimu untukku. Bukan sebagai sahabat, tapi sebagai seorang namja.”  seperti orang yang terperangkap Heyna hanya bisa berdiri terdiam. Baginya saat ini segalanya terasa semakin menekannya. Segalanya selalu terasa tidak pernah adil baginya?

“Kenapa aku harus selalu membuat orang-orang disekitarku terluka karenaku?” lirih Heyna dalam hati. Tanpa sepengetahuan kedua sosok yang kini masih berdiri berhadapan, sepasang bola mata lain tengah memandang kearah mereka dengan tatapan sedih.

“Hwang Jihyo, berhentilah berharap dan lupakan segera sosok namja bernama Jung Minho tersebut dari kepalamu! Kenapa aku sebodoh ini, sudah jelas aku tidak akan bisa meraihnya. Kenapa aku masih memaksakan diri mengharapkannya memandangku? “ lirih Jihyo dan segera melangkah perlahan meninggalkan kedua sahabatnya seraya tersenyum miris.

*Author Pov End*

 

*Heyna Pov*

Kubasuh segera wajahku untuk menghilangkan sisa air mata yang beberapa saat lalu mengalir deras dari kedua bola mataku. Kutatap nanar pantulan sosokku dalam cermin dihadapanku saat ini.

Song_Ji_Hyo_301

“Lee Heyna bertahanlah, kau pasti bisa melewatinya. Kau hanya cukup berusaha sekuat tenaga. Dan ingat kau masih memiliki namja labil itu yang akan berdiri disampingmu sampai akhir!” gumam Heyna untuk menyakinkan dirinya sendiri.

“Kau sudah datang?” segera kubalikkan tubuhku saat mendengar suara yang tak asing bagiku tersebut. Tampak Jihyo berjalan menghampiriku dan segera memutar keran dihadapannya.

“Ah, ne.” jawabku singkat. Entah mengapa saat ini aku merasa sangat takut menatap kedua bola mata sahabat baikku tersebut. Aku merasa menjadi seorang penghianat yang telah merampas kebahagian orang yang selama ini selalu baik dan mengalah padaku.

“Na-ya, bagaimana hubunganmu dengan Kyuhyun-oppa?” ucap Jihyo pelan yang segera membutku menoleh menatapnya yang kini balas menatapku sembari tersenyum lembut.

“Baik, kami baik-baik saja.” balasku dan kembali menundukkan wajahku untuk menghindari tatapannya.

“Ada apa denganmu? Apakah ada hal yang kau sembunyikan dariku? Kenapa sejak tadi kau sepertinya menghindari tatapanku?” tuntut Jihyo yang membuatku kini merasa tersudut. “ Na-ya, bagaimanapun kau tidak bisa menyembunyikan apapun dariku Nona muda. Apakah kau lupa dengan gelarku sebagai miss paparazzi disekolah ini?” lanjut Jihyo sembari bersandar pada dinding toilet yang kebetulan saat ini tengah kosong.

“Jihyo-ya, aku. . .”

“Berjuanglah, Na-ya! Pilihlah apa yang menurutmu menjadi solusi terbaik. Dan ingatlah kau masih memiliku sebagai sahabat baikmu yang akan setia mendengarkan keluh kesahmu.” Kuangkat segera kepalaku dan menatap sosok yeoja yang kini tengah tersenyum lembut padaku. Mungkinkah Jihyo sudah mengetahuinya dari Minho?

“Jihyo-ya, apakah kau. . .”

Ara, nan ara Lee Heyna. Karena itu kumohon jangan membuat dirimu semakin tertekan karena mementingkan perasaanku. Bukankah sudah kukatakan padamu bahwa aku sudah menyerah sejak lama?” jelas Jihyo.

“Hwang Jihyo, kumohon jangan mengalah karenaku.Bukankah kau memintaku untuk terus bertahan. Aku akan bertahan, Hyo-ya! Karena itu kumohon kau juga jangan menyerah. Kita bertiga pasti bisa keluar dari masalah ini.” ucapku berusaha meyakinkan Jihyo.  Kembali Jihyo tersenyum lembut padaku dan segera mengulurkan kedua tangannya dan memelukku.

“Na-ya, bagiku kau dan Minho adalah hal indah yang selamanya akan tersimpan dalam hati dan ingatanku. Karena itu aku akan menjaganya, aku akan selalu menjaga senyum kita bertiga. Tidak mengapa jika aku tidak bisa mendapatkan hati Minho. Aku sudah cukup bahagia bisa mengenal kalian berdua dan bersahabat dengan kalian. Apapun hasil akhir dari keputusanmu percayalah jika aku tidak akan pernah menyalahkanmu ataupun membencimu, Na-ya. Kau, Minho selamanya aku akan mendukung apapun pilihan kalian.” Aku terdiam meresapi rangkaian kata yang keluar dari bibir sahabatku tersebut. Bagaimana mungkin aku bisa melukai sahabat sebaik dirimu Jihyo. Tidak akan pernah, Hyo-ya! Lihat saja, aku pasti bisa bertahan. Baik kau, Minho maupun Kyuhyun aku akan mempertahankan kalian semua.

*Heyna Pov End*

 

At Suju dorm 11th floor. . .

*Kyuhyun Pov*

Yoboseyo!” ucapku segera setelah menekan tombol answer sebuah panggilan yang tidak kukenal nomernya sebelum ini.

“Annyeonghaseyo, Kyuhyun-oppa! Aku Hwang Jihyo, sahabat Lee Heyna apakah kau masih mengingatku?” kedua alisku segera mengernyit saat mendengar penjelasan dari yeoja diujung sambungan telepon tersebut. Jihyo? Ada apa dia menghubungiku? Dan bagaimana ia bisa mengetahui nomer ponselku?

Ah, ne aku ingat! Wae?” balasku segera.

“Apakah aku bisa bertemu dengan oppa? Ada hal penting yang ingin kubicarakan dengan oppa, ini mengenai Heyna.” kembali kedua alisku mengernyit saat mendengar penuturan yeoja yang merupakan sahabat baik yeoja chingu-ku tersebut.

“Apakah terjadi sesuatu pada, Na-ya?”

“Ani, hanya saja ada hal penting yang ingin kusampaikan pada oppa! Jika oppa memiliki waktu, bisakah oppa menemuiku malam nanti?”

“Keurae, kurasa aku bisa menemuimu setelah pukul 11 malam nanti Kau tinggal mengirimkan alamat tempat dimana kita akan bertemu Jihyo-shi.” jawabku setelah beberapa saat menimang-nimang kemungkinan yang akan terjadi jika aku tidak menemui sahabat baik Na-ya tersebut.

Kamsahamnida, oppa! “ ucap Jihyo dan segera mematikan sambungan diantara kami.

“Apa yang anak itu inginkan dengan menemuiku? Apakah ada hal yang terjadi pada Heyna tanpa sepengetahuanku? Apakah kakekknya tengah menyulitkannya saat ini?”

23:11 KST at Han River. . .

Kulangkahkan kakiku ditengah udara malam yang terasa dingin saat ini. Kuedarkan pandanganku mencari sosok yang mengenakan mantel biru sepanjang lutut disekitar pepohonan dipinggir Sungai Han. Tiba-tiba kedua bola mataku menangkap sosok yang tengah berdiri dibawah pohon cemara besar tak jauh dari tempatku berdiri saat ini.

“Jihyo-shi.” sapaku pelan yang segera membuat yeoja dihadapanku tersebut tampak terkejut dan segera membungkukkan tubuhnya kearahku. “ Mianhae, apakah aku sudah membuatmu menunggu lama?” tanyaku yang segera direspon dengan gelengan kepala dari yeoja yang kini tampak tersenyum kepadaku.

Ani, aku juga baru saja sampai. Apakah schedule oppa sudah selesai?” tanya  Jihyo seraya mengosok-gosokkan kedua telapak tangannya yang berbalutkan sarung tangan berwarna putih.

Ne, baru saja selasai!” jawabku. Tampak Jihyo yang tengah mengangguk-anggukan kepalanya.

“Apakah kalian selalu bertemu ditengah malam seperti ini juga? Maksudku, oppa dan Heyna?” tanya Jihyo kembali. Kuanggukan kepalaku sebagai balasan dari pertanyaan yeoja dihadapanku tersebut. “Kurasa Heyna sangat menyukai oppa sampai ia bersedia menjalani hubungan seperti ini.” lanjutnya yang kini perlahan melangkahkan kakinya menyusuri sungai Han. Kuikuti langkah kecil yeoja didepanku tersebut. Apa sebenarnya yang ingin disampaikan anak ini?

Oppa, apakah oppa tahu jika Na-ya tengah dijodohkan oleh kakekknya?” kuhentikan langkahku saat mendengar kalimat yang baru saja meluncur dari bibir yeoja didepanku tersebut. Perlahan Jihyo membalikkan tubuhnya sehingga kembali berhadapan denganku. “Dan apakah oppa tahu siapa namja yang dijodohkan dengannya?” lanjut Jihyo yang kini tampak terlihat sedih.

Nugu?” ucapku pelan. Terlihat Jihyo menghela nafas panjang.

“Minho, Jung Minho! Sahabat baikku dan Na-ya!” kedua mataku segera membelalak saat mendengar jawaban dari Jihyo. “ Minho, ia sudah lama menyukai Heyna. Dan Heyna tahu pasti tentang bagaimana perasaan Minho terhadapnya. Oppa, apakah aku boleh bertanya satu hal padamu?” kembali kuanggukan kepalaku untuk menjawab pertanyaan yeoja dihadapanku tersebut. “Apakah, oppa sangat menyukai Na-ya?” kutatap lekat-lekat sosok Jihyo yang entah mengapa terlihat sangat sedih saat ini yang sangat kontras dengan sikap cerianya yang selalu diceritakan oleh Na-ya padaku.

“Na-ya, bagiku ia seperti seorang kekasih,teman,kakak, adik, bahkan ibu. Ia selalu memiliki caranya sendiri untuk menunjukan perasaanya. Kami selalu meributkan hal-hal kecil yang pada akhirnya membuat perdebatan diantara kami berdua. Tapi, sesengit apa pertengkaran diantara kami pada akhirnya kami akan selalu kembali mencari satu sama lain. Apakah kau tahu apa alasannya?” ucapku pada yeoja yang tengah berdiri terdiam mendengarkanku. “Karena kami saling membutuhkan satu sama lain. Akan terasa kurang jika kami tidak saling berdiri berdampingan dan saling melengkapi. Seperti dua buah magnet yang berbeda kutub, kami akan saling tarik-menarik agar selalu bisa berdekatan.” lanjutku seraya menatap pemandangan Sungai Han dimalam hari.

“Jadi, pada intinya oppa sangat menyukainya. Benar begitu bukan?” tanya Jihyo yang kini mengikutiku memandang pemandangan didepan kami.

“Sangat, aku sangat menyukainya!” balasku seraya kembali menatap yeoja yang saat ini masih terlihat sedih seperti sebelumnya.

Oppa, apa kau tahu bagaimana menderitanya dan tertekannya Na-ya saat ini? Dan semua ini karena kita. Apakah oppa tega melihatnya menderita berlarut-larut seperti ini? Na-ya, ia berada ditengah-tengah pusaran yang kurasa sudah mencapai batas dimana ia sanggup untuk menahannya.”

“Apa maksudmu, Jihyo-shi?” sahutku segera karena merasa penasaran.

“Apakah oppa tahu jika Minho adalah namja yang disukai Heyna sebelum pada akhirnya ia memilih mengalah dan menyerah karenaku? Heyna, dia mengenal Minho lebih dahulu sebelum mengenalku. Mereka berdua bersahabat baik sejak kami duduk di bangku kelas 2 SMP.  Sampai pada akhirnya aku ikut bergabung bersama mereka berdua dan menjadi sahabat yang tak terpisahkan. Walaupun mereka berdua tidak pernah mengungkapkannya, tapi aku bisa merasakan perasaan hangat diantara mereka berdua. Bagi Na-ya, Minho seperti sosok kakak, teman dan namja yang ia butuhkan. Ia akan segera kembali tersenyum dan melupakan masalahnya saat kembali bertemu dan bercanda dengan Minho. Mereka akan saling mencari jika tidak melihat sosok mereka satu sama lain. Dan aku, akulah penyebab hati salah satu diantara mereka  memilih mengubur dalam-dalam perasaanya karena tidak ingin melukaiku. Aku selalu mengira jika Na-ya melakukan hal tersebut karena tidak ingin merusak persahabatan diantara mereka. Sampai pada akhirnya beberapa hari lalu aku mengetahui kebenaran yang selama ini tidak pernah kuketahui. Na-ya, ia tahu jika aku juga menyukai Minho. Karena itu ia memilih mengalah dan membuang jauh-jauh perasaanya untuk memberikan kesempatan bagiku meraih kebahagianku.” jelas Jihyo yang kini entah mengapa membuat jantungku berdebar aneh.

Oppa, bagi Na-ya kau adalah sosok yang dapat membuatnya kembali merasakan makna cinta dan kasih sayang yang sempat ia kubur dalam-dalam sebelumnya. Aku bisa merasakan kesunnguhan perasaan Heyna padamu. Tapi, kurasa lebih baik oppa melepaskan Na-ya!” kedua mataku segera membelalak tajam pada sosok dihadapanku.

“Apa maksudmu?” ucapku tajam pada sosok yang kini tengah menatapku dengan tatapan nanar.

Oppa, kumohon lepaskan Na-ya! Dia adalah orang yang paling menderita ditengah pusaran ini. Berusaha bertahan menahan tekanan dari haraboeji-nya. Ia terkunci diantara pilihan-pilihan yang memberatkannya. Memilih tetap berdiri bersamamu agar membuatku bahagia dengan berbagai konsekuesnsi yang harus ia terima dari kakekknya yang tentu saja tidak akan membiarkan kalian bersama. Atau memilih melaksanankan perjodohan dengan Minho dan melukai perasaanku serta perasaan oppa? Apakah oppa bisa mengerti bagaimana perasaannya saat ini? Berat baginya untuk menanggung semua ini. Na-ya, ia sudah cukup menderita selama ini. Apakah oppa tega membiarkannya menahan beban seberat ini? Bukankah oppa menyayanginya? Lepaskan dia agar dia bisa bernafas. Walaupun sakit baginya, tapi aku yakin ia dapat segera sembuh dan kembali tersenyum. Minho pasti bisa membantunya melewati segalanya.” aku terdiam meresapi rangkaian penjelasan Jihyo. Begitukah? Apakah berat bagi Heyna untuk tetap berdiri disampingku?

Oppa, kuharap oppa bisa mengerti! Na-ya, bantu ia memutuskan pilihannya! Hanya oppa yang bisa menyelesaikan segala masalah yang kini tengah membebaninya!” lanjut Jihyo dan segera membungkuk singkat padaku dan berjalan meninggalkanku dalam diam. Kuambil ponselku yang kini terasa bergetar disaku jaketku.

Minnie calling. . .

Kutekan tombol reject dan menatap nanar sosok yeoja yang menjadi wallpaper pada layar ponselku.

gallery_00003-1

“Apakah seberat itu bagimu jika tetap berdiri disampingku? Na-ya, mianhae. Jeongmal mianhae.

*Kyuhyun Pov End*

 

November, 5th 2012 at Yongjin Medical University. . .

*Heyna Pov*

“Kau sudah datang?” ucap Haraboeji singkat seraya bangkit dari kursi kerjanya dan berjalan menghampiriku yang saat ini tengah berdiri ditengah ruangan pribadi milik kakekku.

“Apakah ada yang ingin haraboeji rundingkan denganku?” tanyaku pelan. Kurasakan tangan haraboeji merangkul bahuku dan menuntunku menuju sofa merah yang berada tak jauh dari meja kerjanya.

“Duduklah, ada yang ingin kakek tunjukkan padamu.”  kutatap sosok kakekku yang kini tengah melangkah menuju meja kerjanya dan mengeluarkan sebuah buku yang tampak seperti catalog dari laci meja kerjanya.

“Pilihlah, kakek ingin kau sendiri yang memilih tempat yang akan kau gunakan untuk menyelengarakan pesta pertunanganmu 3 bulan lagi Na-ya!” mataku segera membelalak mendengar penjelasanku kakekku tersebut.

Haraboeji, apa maksudmu?” seruku yang sama sekali tidak digubris oleh kakekku yang kini tetap asyik membuka lembaran-lambaran buku yang memperlihatkan berbagai bangunan mewah. “Haraboeji, jebal. . .” lanjutku. Segera sosok laki-laki tua dihadapanku tersebut menghentikan gerakan tangannya dan menatapku tajam.

“Na-ya, bukankah kau sudah berjanji untuk menuruti perintahku?” ucap haraboeji seraya menutup dengan keras buku dihadapannya.

Haraboeji jebal, aku akan menuruti apapun permintaan kakek tapi tidak dengan Minho!”lirihku seraya membalas tatapan tajam sosok dihadapanku. “Kumohon jangan memaksaku melakukan hal yang membuatku melukai orang-orang yang selama ini selalu menyayangiku.” lanjutku.

“Baiklah, jika begitu terserah padamu. Kakek rasa saat ini tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan!” seru haraboeji dan segera bangkit dari sofa dan melangkah keluar meninggalkanku. “Dan satu hal yang perlu kau ingat! Segera putuskan hubunganmu dengan namja bernama Cho Kyuhyun tersebut! Kakek tidak pernah main-main dengan ucapan kakek, segera tepati janjimu!” lanjut haraboeji tepat sebelum melangkah keluar dari pintu ruangan pribadinya. Kuremas kedua jemariku untuk menahan perasaan sakitku saat ini.

*Drrrrrttttttttttttttttt . . . .ddddrrrrrrrrrrrrrrttttttttttt. . .

Kurogoh segera saku celana jinsku dan segera mengeluarkan ponsel yang beberapa detik lalu bergetar.

From : CKH

“Apakah kau sudah makan? Na-ya, ingatlah untuk selalu menjaga kesehatanmu. Kau terlihat lebih manis jika kedua pipimu tampak penuh :p Jangan sampai seorang calon dokter sepertimu justru terlihat seperti seorang pasien kekekekekeke.

PS : Lakukan segalanya sesuai kata hatimu, aku akan selalu mendukung apapun keputusanmu.

“Aaaaaaaarrrrrrrrrrrrrhhhhhhhhhhhhhhhh!” teriakku meluapkan segala perasaan sesak didadaku saat ini. Butiran air mata perlahan mulai menetes dikedua pipiku. “ Kyuhyun-ah, tolong aku..jebal..”keremas dadaku menahan luapan emosi yang terasa ingin kembali meledak. Segalanya terasa seperti sebuah kebuntuan. Aku jatuh terjebak dan tidak tahu sama sekali jalan keluar. Inikah konsekuensi dari segala sikap egoisku karena ingin memiliki sebuah bintang yang bersinar dilangit? Memaksakan diri untuk mengapainya namun pada akhirnya hanya akan membuat sinar bintang tersebut redup.

 

05.17 KST November, 6th 2012 at Heyna room. . .

Drrrrrrrrrttttttttttttt. . .dddddddddrrrrrrrrtttttttt. . .

Tangan kananku perlahan bergerak meraba-raba ranjang untuk mencari ponselku yang tengah bergetar saat ini membuat jedua bola mataku kembali terbuka saat beberapa jam lalu aku bisa  memejamkannya.

Sora Eonnie calling. . .

“Yoboseyo!” sapaku segera setelah menekan tombol answer seraya bangkit dari posisi tidurku dan berganti duduk bersandar pada bantal.

“Na-ya, cepat kerumah sakit sekarang! Kyuhyun dia. . .”

“Wae, eonni? Apa yang terjadi padanya?” potongku segera. Dapat kurasakan kesadaranku segera kembali terkumpul saat sebelumnya rasa kantuk masih menguasaiku. Jantungku berdetak kencang sekali saat ini.

“Kyuhyun dia mengalami kecelakaan pagi tadi saat dalam perjalanan menuju scedulenya. Mobilnya terbalik karena menghantam trotoar! Kudengar dari petugas polisi yang beberapa saat lalu ikut menyusul kerumah sakit berkata bahwa ada yang dengan sengaja memotong kabel rem mobilnya!” segalanya tiba-tiba terasa berputar bagiku. Kurasakan tubuhku gemetar hebat setelah mendengar pemberitahuan mengejutkan dari sahabat baikku semenjak kecil tersebut.

Na-ya, apakah kau masih disana? Apakah kau masih mendengarku?” seru Sora eonni diujung sambungan telepon diantara kami.

“Ne, a…aku masih mendengarmu eonni! Bagaimana, bagaimana keadaannya saat ini?” tanyaku tergagap seraya meremas jemari-jemari tanganku untuk menghentikan getaran hebat yang kini menguasaiku.

“Molla, dokter piket penggantiku saat ini tengah memeriksa keadaanya. Aku tidak tahu pasti bagaimana kondisinya karena kebetulan sudah kembali keruanganku saat ambulance membawanya ke ruang UGD.”

“Eonni-ya, jebal bantu aku melihat bagaimana kondisinya saat ini? Aku, aku tidak mungkin bisa melihatnya! Terlalu riskan bagiku mendatanginya, akan banyak wartawan serta para fans-nya diarea rumah sakit.” pintaku dan segera bangkit dari ranjang dan menyambar pakaian dari dalam lemari.

“Keurae, kurasa juga begitu! Tenanglah, Na-ya. Eonni akan segera mencari tahu bagaimana kondisinya. Dan satu hal nasihatku. Jangan berbuat gegabah, Na-ya! Tenangkan dirimu dan kuasai emosimu. Aku tahu pasti apa yang ada dalam fikiranmu saat ini. Tetaplah berkepala dingin dan jangan memancing emosinya jika kau tidak menginginkan hal yang menimpa Kyuhyun kembali menimpanya lagi!” kuhentikan langkahku dan segera terduduk lemas dilantai kamarku. Kuatur nafasku yang menderu tak beraturan sebelumnya.

“Aratchi? Sekarang, tunggulah kabar dari eonni dan berdoalah agar anak itu baik-baik saja!” lanjut Sora-eonni.

“Arasseo, eonni-ya. Kutunggu segera kabar darimu!” tangan kananku yang semula mengengam ponsel segera merosot kebawah setelah sambungan telepon diantaraku dan Sora-eonni terputus. Hanya satu hal yang sekarang tampak jelas dalam kepalaku. Haraboeji, ia sudah mulai bertindak! Tanpa berfikir panjang kembali aku berdiri seraya mengenakan mantelku dan berlari meninggalakan kamarku.

Aku segera berlari melintasi halaman megah kediaman kakekku dan menekan bel pintu berulang kali. Tanpa mengubris sapaan dari pelayan dikediaman kakekku tersebut segera aku kembali berlari menuju ruangan yang kuyakini dimana kakekku tersebut kini berada. Kuketuk segera pintu kayu dihadapanku yang tak berapa lama perlahan terbuka dan menampakan sosok Jinwoon-ahjusshi yang segera membungkuk saat mengetahui sosok yng tengah berdiri dihadapannya.

“Heyna-ahgasshi, tidak biasanya anda berkunjung sepagi ini? Apakah anda sudah tidak ada kegiatan disekolah?” sapa Jinwoon ahjusshi yang hanya kurespon dengan tatapan tajam sebagai tanda agar dia segera memberiku jalan agar segera dapat masuk untuk meminta penjelasan dari sosok yang telah dilayanninya selama lebih dari 20 tahun tersebut. Seakan mengerti dengan maksudku, Jinwoon ahjusshi segera menyingkir dan mempersilahkanku masuk kedalam ruangan.

Tampak sosok haraboeji yang tengah duduk didepan meja kerjanya sembari memandang selembar kertas yang nampak seperti sebuah foto.

“Haraboeji, katakan padaku! Apa semua ini perbuatanmu?” ucapku segera setelah berdiri tepat dihadapan meja kerja kakekku tersebut. Dengan segera kakekku tersebut melempar kertas yang sebelumnya ia pegang dan memperlihatkan potret Kyuhyun yang kurasa baru saja didapatkannya dari detective suruhannya yang aku yakini ada ditempat kecelakaan pagi tadi.

ckh

Tampak sosok Kyuhyun yang tengah tersungkur pingsan diatas aspal dengan kondisinya yang tampak berantakan.

“Haraboeji, jebal hentikan semuanya. Aku janji akan menuruti semua perintahmu! Aku akan menerima perjodohanmu dan segera meninggalkan Kyuhyun. Karena itu, karena itu kumohon jangan melakukan apapun lagi padanya! Jebal. .” ucapku segera seraya berlutut dihadapan sosok kakekku yang kini perlahan bangkit dan menghampiriku. Kurasakan kedua bahuku kini bergetar kencang saat kurasakan kedua tangan kakekku memegang kedua bahuku.

“Bukakankah kakek sudah berkata padamu bahwa kakek tidak pernah main-main dengan ucapan  kakek? Kau yang sudah membuat kakek bertindak seperti itu, Na-ya!” ucap haraboeji seraya menatapku tajam.

“Aku akan menuruti perintahmu, kumohon jangan melukainya. Jangan melakukan apapun padanya.” lirihku kembali.

“Keurae, kakek pegang janjimu! Segera selesaikan segalanya dan penuhi janjimu! Putuskan hubungan kalian segera!” sebutir air mata segera meleleh dipipiku mengiringi kalimat yang dilontarkan kakekku. Sejak awal aku tahu jika aku tidak pernah memiliki pilihan.

“Kyuhyun-ah, mianhae..mianhae karena aku mencintaimu! Karena rasa cintaku justru membuatmu terluka. Jeongmal mianhae aku tidak bisa tetap bertahan dan berdiri disampingmu. Bintang sepertimu terlalu indah dan nyata untuk kumiliki, karena aku hanya akan membuat sinarmu perlahan meredup dan menghilang. Jika mencintaimu hanya membutmu kehilangan segalanya maka aku akan memilih untuk melepaskanmu. Jeongmal mianhae karena aku tidak bisa menepati janjiku untuk mempercayaimu.” lirihku dalam hati dan kembali membiarkan butiran-butiran air mata kembali jatuh membasahi kedua pipiku.

“Na-ya, ada apa denganmu?” seru Jihyo segera begitu mendapatiku tengah berdiri diruang tamunya dengan berbalutkan mantel yang menutup sebatas lututku. Kutundukkan segera wajahku karena tak kuasa menatap sosok orang akan tersakiti karena diriku.

“Jihyo-ya, mianhae. . .”lirihku.

“Na-ya, ada apa denganmu?” jangan membuatku khawatir, apakah kau baik-baik saja?” ucap Jihyo seraya meraih tanganku dan mengengamnya.

“Jihyo-ya, kau boleh membenciku dan memakiku karena menjadi seorang sahabat yang buruk. Mianhae, mianhae karena aku tidak bisa menepatiku janjiku. Aku tidak memiliki pilihan lain, aku. .”ucapku terhenti saat sosok dihadapanku tersebut segera merengkuhku dalam pelukannya.

“Ani, kau tidak perlu minta maaf Na-ya! Ini bukan salah siapapun, dan kau sama sekali tidak salah! Berjuanglah Na-ya, tetaplah berdiri tegar! Jangan biarkan keadaan membuatmu selamanya terpuruk. Kau tidak salah Na-ya, dan kau bukanlah sahabat yang buruk. Kau dan Minho adalah sahabat terbaik yang pernah kumiliki. Ingat, apapun pilihanmu aku akan tetap mendukungmu dan membantumu melewati segalanya.” kembali butiran air mataku menetes deras “Menagislah Na-ya, dan kembalilah menjadi Lee Heyna sahabat baikku yang selalu terlihat tegar! Kau pasti bisa segera kembali sembuh, dan tersenyum bersamaku dan Minho seperti sedia kala.”

Segala emosi yang sebelumnya kutahan dan hanya keluar menjadi butiran-butiran air mata segera meluap menjadi isakan-isakan keras dalam rengkuhan erat sahabat baikku. Begitu buruknya diriku karena menerima kebaikan disaat aku dengan jelas telah melukai orang tersebut. Begitu buruknya diriku karena menjadi seorang sahabat yang merebut kebahagian yang selama ini diimpikan oleh sahabatku sendiri. Dan segalanya semakin buruk disaat aku tidak bisa memenuhi janjiku pada sosok yang selama ini selalu mengalah dan merangkulku. Jihyo-ya jeongmal mianhae.

*Heyna Pov End*

 

At Yongjin Medical VIP room 3rd  floor. . .

 

*Kyuhyun Pov*

Kembali kutekan tombol call pada layar ponselku saat untuk kelima kalinya tidak menerima jawaban dari yeoja yang tengah kuhubungi saat ini. Mendadak pintu kamar rawatku terbuka dan menampakan seorang yeoja yang tak asing bagiku.

“Bagaimana keadaanmu? Apakah kau baik-baik saja?” ucap Han Sora seraya duduk dikursi sebelah ranjangku.

Ne, aku baik-baik saja. Sora-shi, apakah Heyna tahu tentang kecelakaanku?” tanyaku segera. yeoja yang merupakan tunangan Donghae-hyung tersebut. Sora segera mengangguk singkat menjawab pertanyaanku.

“Na-ya tahu, dan untuk itulah aku kemari menemuimu! Kyuhyun-shi, apakah kau masih akan memaksa untuk melanjutkan hubungan kalian? Apakah kau bisa melawan segala kekuasaan kakek Heyna? Beliau bisa melakukan apapun untuk mencapai keinginannya.” aku terdiam mendengar rangkaian kalimat yang dilontarkan sosok yeoja sahabat Na-ya tersebut. Kuremas selimut yang tengah menutup separuh tubuhku tersebut dan memandang nanar pemandangan diluar jendela ruang inapku.

“Na-ya, apakah dia baik-baik saja saat ini? Katakan padanya agar tidak lupa makan dan menjaga kesehatannya. Apakah kau bisa membantuku menyampaikan hal itu padanya? Anak itu tidak mengangkat teleponku dari tadi.” ucapku pelan sembari memaksakan seulas senyum merekah dikedua sudut bibirku.

Arasseo!” jawab Sora dan segera bangkit dari kursi. “ Kyuhyun-shi, apakah kau percaya dengan kekuatan harapan?Kau dan Na-ya, kalian berdua terlihat mirip satu sama lain. Meskipun jika kalian harus terpisah nantinya, tapi aku yakin kalian berdua akan segera bisa kembali berdiri tegar.  Dan pada saat itu jangan pernah lelah untuk berharap, karena sebuah keyakinan membuat harapan yang kau miliki akan terwujud. Kau hanya perlu bersabar dan berusaha sampai pada akhirnya kalian bisa meraihnya.” kutatap nanar sosok yeoja yang kini tengah melangkah meninggalkanku. Satu hal yang dapat kutangkap dari nasihat Sora beberapa saat lalu. Kurasa aku harus mengambil keputusan, aku tidak bisa seterusnya berdiam dan melihat sosok yang kusayangi menderita seorang diri dan kehilangan senyuman yang selama ini selalu berhasil membuatku merasa lebih baik saat melihatnya.

“Na-ya, aku akan mengembalikan senyuman ceriamu kembali. Mungkin inilah solusi terbaik dari segala hal yang berpusar diantara kita.”

 

November,7th 2012 At Suju dorm 11th floor. . .

Kutatap sosok yang kini perlahan melangkah memasuki kamarku. Dalam diam Heyna segera duduk dikursi yang berhadapan dengan ranjangku.

“Bagaimana keadaanmu? Apakah kau baik-baik saja?” ucap Heyna pelan seraya berusaha memaksakan seulas senyum merekah dikedua sudut bibirnya.

“Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja!” balasku seraya tersenyum lembut membalasnya.

“Bagaimana dengan dirimu? Apakah kau makan dengan teratur?” lanjutku yang segera direspon dengan anggukan singkat dari yeoja dihadapanku.

“Kyuhyun-oppa, aku. . .”

Ara. .”potongku segera. Aku tahu pasti dengan apa yang akan dikatakannya padaku, bahkan seorang Lee Heyna yang selalu tak mau mengalah dan menghormatiku sebagai sosok yang lebih tua darinya kini tengah memanggilku dengan sebutan oppa.

” Apakah kau ingat dengan jawaban yang kau berikan pada Donghae-hyung saat ia memberikan pertanyaan padamu tentang apa yang kau laukukan saat nantinya hubungan kita diketahui oleh publik dan menimbulkan sebuah kontroversi yang dapat berdampak buruk bagi karirku beberapa bulan lalu saat kau dan para ahjumma labil mengadakan kompetisi? Kurasa hal tersebut tidak ada bedanya dengan kondisi kita saat ini. Kau berkata jika hal itu terjadi, kau tidak ingin bertindak egois demi kebahagianmu semata. Katamu,suatu hubungan itu terbangun dari dua komitmen yang sama dan tidak saling merugikan diantara dua belah pihak. Suatu masalah tidak akan pernah terpecahkan jika tidak ada yang bersedia mengalah. Dan kau lebih memilih untuk melepaskannya karena kau tidak ingin melihatnya kehilangan cita-cita yang telah diraihnya dengan susah payah hilang karenamu.” ucapku mengingatkan kejadian beberapa bulan silam yang membuatku merasa bahagia karena memiliki yeoja sempurna seperti dirinya. Heyna masih terdiam dan memandangku dengan tatapan sayu. Entah berapa banyak air mata yang telah ditumpahkannya sebelum ini hingga menyisakan bekas bengkak dikedua pelupuk matanya yang nampak jelas saat ini.

“Mianhae, jeongmal mianhae…karenaku oppa. . .”ucap Heyna terputus saat dengan segera kuulurkan jari telunjukku dibibirnya untuk menghentikan usahanya meminta maaf padaku.

“Jangan meminta maaf, kau sama sekali tidak bersalah! Salahkulah karena tidak bisa melindungimu.” kembali kusunggingan senyumku untuk menenangkannya. “Apakah kau tahu jawaban apa yang akan kuberikan untuk pertanyaan Donghae-hyung tersebut?” lanjutku. “Bagiku, menjalani hidup sebagai seorang publik figure adalah sebuah pilihan. Pilihan yang kuimpikan dapat kuraih, bukan untuk sebuah popularitas tapi karena sebuah impian agar suatu saat nanti melalui lagu-laguku aku bisa menghibur dan menginspirasi siapapun yang mendengarnya. Dan jika suatu saat sebuah kontroversi membuat karirku terancam aku tidak akan pernah melepaskan seseorang yang terlibat kontroversi tersebut bersamaku. Karena aku yakin, public tidak akan menilai apa yang kulakukan sebagai hal yang salah. Sama halnya seperti mereka, aku juga seorang manusia yang tentu saja tidak bisa hidup sendiri.” jelasku. Kuhela nafasku perlahan dan meraih tangan Heyna yang terasa dingin saat ini. “ Tapi, sama seperti apa yang kau katakan. Kita tidak bisa memaksakan kegoisan kita yang pada akhirnya hanya akan membuat salah satu diantara kita menderita. Karena itu aku akan melepaskannya, aku akan melepaskannya agar ia bisa kembali tersenyum. Bagiku, senyumanya merupakan obat yang paling mujarab yang pernah kutemui. Aku akan segera merasa kembali baik saat melihat senyuman tersebut. Kembalilah tersenyum dan terbang dengan kedua sayapmu, Na-ya.” sebutir air mata segera jatuh dipipi yeoja dihadapanku yang membuat dadaku terasa sesak saat ini.

YouTube - ‪[HD] - Taeyeon Feat The One - Like a Star MV (18 Nov_ 2010)‬‏.flv_snapshot_00.17_[2013.02.14_04.57.12]

“Na-ya, ulljima! Bukankah Lee Heyna adalah yeoja yang kuat?” lirihku seraya menahan sekuat tenaga air mataku sendiri yang hampir jatuh seperti halnya yeoja dihadapanku.

Ulljima, segalanya akan segera membaik. Aku yakin kau akan segera bisa kembali tersenyum. Berdirilah tegar dan raihlah mimpimu.” lanjutku seraya mengulurkan tanganku dan membelai lembut puncak kepalanya.

Oppa, mianhae..”  lirih heyna seraya menunduk menahan isak tangisnya.

Saat ini aku ingin sekali merengkuhnya kedalam pelukanku. Tapi, kutahan sekuat tenaga agar tidak membuatnya semakin berat meninggalkanku dan sama halnya denganku.

“Kita pasti akan baik-baik saja, kau dan aku pasti akan baik-baik saja. Bukankah kita berbeda dari pasangan lainya? Hapus air matamu dan keluarlah dengan sebuah senyuman. Tunjukkan pada semua jika Lee Heyna adalah yeoja yang berbeda. Lee Heyna adalah seorang yeoja yang tegar dan kuat, aratchi?” Heyna hanya bisa menganggukan kepalanya ditengah isak tangis yang ditahannya dengan telapak tangannya.

 TEARS

“Hal terindah bagiku adalah disaat aku pernah mengenalmu, kau seperti sebuah bintang yang bersinar menerangi setiap malamku. Tapi aku sadar, aku tidak bisa berbuat egois dengan meraihnya dan membuat sinarnya redup karena terjatuh. Bagiku, aku ingin melihat bintang tersebut selalu bersinar. Karena itu kuharap kau dapat terus bersinar dan semakin bersinar karena aku akan selalu melihatmu dari jauh.” ucap Heyna. Kuremas kedua jemariku untuk menahan perasaanku yang hampir tak tertahankan saat ini. “Oppa, jaga diri oppa baik-baik! Buktikan jika oppa adalah idol yang paling hebat seperti yang oppa sombongkan selama ini, ne?” kuanggukan kepalaku segera untuk menjawab yeoja yang kini segera menghapus air mata yang masih mengalir dikedua pipinya dan berusaha menyungingkan senyuman.

Oppa, annyeong. .” lanjut Heyna seraya mengulurkan tangannya. Perlahan kuulurkan tanganku dan menjabat tangannya. “Berjanjilah bahwa oppa akan hidup dengan baik, ne?”

Ne, dan berjanjilah untuk segera kembali tersenyum ceria.” sahutku. Bersamaan kedua sudut bibir kami memaksakan sebuah senyuman.

“Annyeong, Na-ya! Annyeong, nae perfect girlfriend. . .” lirihku dalam hati seraya memandang sosok yeoja yang kini perlahan berbalik meninggalkanku.  Sebutir air mata yang sebelumnya kutahan sekuat tenaga akhirnya mengalir dipipiku mengiringi kepergian sosok malaikatku tersebut.

YouTube - ‪[HD] - Taeyeon Feat The One - Like a Star MV (18 Nov_ 2010)‬‏.flv_snapshot_03.45_[2013.02.14_05.02.20]

“Kyuhyun-ah, apakah kau tidak ingin mengejarnya? Apakah kau memilih menjadi pengecut dan membiarkan Heyna pergi seperti ini? Bukankah kau mencintainya?” seru Eunhyuk segera yang tiba-tiba berlari masuk kedalam kamarku.  Kubaringkan tubuhku seraya meraih selimut dan segera menutupkannya disekujur tubuhku.

Hyung, aku lelah! Biarkan aku istirahat sebentar!” ucapku.

“Hyuk, biarkan Kyuhyun sendiri! Jangan menganngunya saat ini, bagaimanapun itu adalah keputusannya dan kita harus menghormatinya.” ucap Donghae-hyung. Kurasakan sebuah tepukan lembut dibahuku. “ Kyuhyun-ah, kau akan baik-baik saja! Segeralah kembali seperti biasa, ne!” kembali air mataku menetes. Aku tahu, aku pasti akan kembali baik. Karena aku telah berjanji padanya akan menjadi bintang yang paling bersinar sehingga suatu saat bisa memancarkan sinarku sampai ketempat anak itu. Dan membuatnya tidak perlu bersusah payah untuk selalu mendongak menatapku dari jauh. Aku pasti akan lebih bersinar dari sekarang, tunggulah sampai saat itu Na-ya!

*Kyuhyun Pov End*

 

*Epilog. . .

“Na-ya apa yang terjadi padamu? Kenapa seluruh tubuhmu basah kuyup seperti ini, jagi?” seru Eunji begitu dilihatnya sosok putrinya yang baru saja melangkah ke dalam ruang kerjanya diikuti sekertaris Kim yang tampak membawakan sebuah handuk.

“Apa kau kehujannan? Astaga tubuhmu panas sekali, Na-ya! Sekertaris Kim, segera beritahu Jongshin untuk menyiapkan mobilku! Aku akan segera membawa Na-ya kerumah sakit!” perintah Eunji seraya meraih handuk dari tangan sekertarisnya dan mulai mengeringkan tubuh Heyna yang tampak gemetar saat ini.

“Omma, tolong aku . . .tolong aku agar aku bisa menghilangkan rasa sesak ini. .” ucap Heyna ditengah isak tangisnya yang membuat Eunji menghentikan  gerakan tangannya dan menatap terkejut sosok putrinya.

“Na-ya, apa yang terjadi?”

“Eomma, ottoekeh? Jebal . .” sosok yeoja tersebut segera jatuh saat tiba-tiba semua hal disekelilingnya berubah menjadi gelap.

 

“Na-ya!”

 

TBC.

 

 Okay, author gak mau banyak comment di Chapter ini (Author takut dirajam reader karena dah bikin ni couple pisah #kaburrrrrrrrrrr

Please Don’t Be Silent Reader and See U in Next Chapter^^

Kamsahamnida # Bow

140 thoughts on “(My Perfect Girlfriend Or My Perfect Rival?!) Part 15) # Choice. . .

  1. Kyaaa…. Apa ini thor..
    Knapa jadi seperti ini.. Wae, Waeyoooo…
    Kenapa kau membuat suamiku menderita sepert ini…..
    Oppa cup..cup…cup..cup.. sini ma akyu aja yah.
    Aku jamin lo ma aku kamu bakalan bahagian selamanya..

    #Plak maaf thor, sedikit sedikit lebaiiii..

    Annyeong author kece, jumpa lagi ma aku readers yang paling cetar memhana badai halilintar..ulllaaalllaaa terpampang nyata, siapa lagi kalau bukan istri sah dan ibu kandung dari anak2 cho kyuhyun.. Ige mwoya, ni ff da di post dari tgl 16 dan aku baru baca tgl 25… Hadewwww ga update banget si aku jadi oranggg… Author masih ingat ma aku kan.. Awas loh thor, kalo ga ingat ma aku.. Readers yg paling cetar membahana..wkwkwkwkwkwkwm
    #Readers sarap…

    Thor ni makin berasa aja konfiknya.. Ga nyangka lo kyu bakal secepat itu ngerelain heyna, soalnya dia kan cinta mati ma heyna… Kasian heyna harus berada diantara pilihan yang sulittt 😦 😦 😦

    #Readers sok melow…wkwkwkwkwkwkwk

    Thor BTW tuh kakeknya heyna bunuh aja.. Trus dicincang2, lalu tebarin ke sungai han biar jadi makanan ikan di sono..
    Sumpah, gedeg banget aku ma kakeknya heyna.. Dasar haraboji tua. Pokoknya harus happy ending yah thorr.. Part ini nyesek bnget.. Fellnya dapet.. Pokoknya TOP bgt dah buat author…

    Ternyata benar dugaanku selama ini, lo namja yang bkal di jodohin ma heyna itu minho.. *Biasa jiwa detektifkukan ceter banget*
    Plak readers makin sarap bin geje….

    Ga sabar buat nunggu next captnya thor.. Pokoknya ffmu makin hari makin bagus thor. Typonya pun ga ada.. SEMPURNA…
    Ciusss dehhh…

    Oke akhirkata aku mau ngucapin maaf karna dah nyampa di blogmu yang makin hari makin ceter, secetar orangnya..wkwkwkwkw

    Annyeonggg…
    *Lambai2 breng danggko*

    • aigooo author jadi serasa baca teaser ff waktu baca ni comment….puanjannggggggg euy hehehehehehehe^^
      selamat comment anda adalah comment terpanjang pada blog ini wkwwkwkwkwkwkwkwkkwkw#plak
      kalo mau bunuh ntu kakek tua silahkan tapi jangan Minho-nya yach^^
      Minho imut buat author ja hahhaahahahaha^^

  2. wuaa… tuh kakek gila, bunuh aja yuk rame-rame.. geregetan deh jadi nya.. brani ama buat kyu-ku kecelakaan, lama-lama gue bunuh tu orang BTW, daebakk thor.. ini crita slalu buat aku penasaran ama ending nya.. pokonya author jjang!! *peluk hangat dariku*

    • jinjja? jeongmal gomawo reader daebak^^
      Silahkan dibunuh ntu kakek…banyak reader yang ikutan nyincang kok hehehehehehehehe asal jangan minho yach yang dibunuh hehehehehe^^
      Silahkan menunggu part selanjutnya yach^^
      #peluk hangat juga dari author^^

    • fb pribadi tidak dipublikasikan^^ coz juga jarang dibuka^^ pake twitter aja bisa langsung di follow
      kalo FB yang sering dipake yang khusus buat ngiklan ff^^ search aja kyuheyna^^

  3. Sumpeh part ini bikin berderai air mata,, stlh di part sebelum’ny di bikin kesel sm ke’egoisan si tua bangka *plakk di tabok Heyna Haraboji* sm Minho, lalu ksel jg sm Jihyo yg nyruh Kyu ngelepas Heyna, ga nyangka di bag.akhir bkal nangis darah kaya gni,, emng udh nebak pzt bkal da perpisahan, tp bnr2 g nyngka kalo efek’ny nymp bkin sy nangis d tngah malam gni,, pko’ny bner2 daebak, feel’ny ajiiip bngt,,

    Mian br komen d part ni stlh puas ng0brak ngabrik ni blog, maklum trlanjur pnasaran,, jd’ny bc kbut shari dgn mengabaikan komen, bkn mksd hati jd silent read. tp krn jiwa penasaran sy yg mnggebu gebu, jd sy nekat abis bc lngsung lari *hehe* Tp biar agak sopan dkit jd sy tinggalin 1 jejak lg di part ni, stlh sblm’ny sy tnggalin d part 8,, wokki deh sy m0 lanjutin nangis2’ny
    hiks..hiks.. Oh ya jgn lupa next part’ny segera publis Thor, udh pnasaran nih! Yesungmin lah babay^^

  4. Ahh bener kan thor si minho namja nya hahaha.
    Ahh sedih bgt part inii. Ngena bgt feelnya.
    Cara penulisan, bahasa, konflik, alur udh keren banget. TOP TOP TOP!!!

  5. ARGGGHH..chingu kau harus bertanggung jawab karna udah buat aq menangis..hiks..hiks..
    sediiihhhhhhhhhh..T_T

  6. Part2 awal bikin cengar cengir.. Begitu sampe prt 1 bikin nyesek.. Yaampuuunn.. Daebak.. Daebak.. Bener2 berhasil bikin hati berasa diremes2.. Reader bener2 berasa masuk ke cerita dan hasilnyaa..huwaaaaa tanggung jawab ini tisu habis sekotak

  7. oke part 15 kelar,,, #ambil tisu lap inguzz..
    nyesek bgtz thourr,, gilee… daebak ff u.. bahsax mudah d fahami n feelx dpat bgtz. waaa~~~ serasa jd naya n kyu oppa…

  8. aaaaaaaarrrgh~
    Kenapa mereka pisah:'(
    Yak. .kakeknya diktaktor baanggett si!!..
    Huwaah eonni Ceritanya kereenn~~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s